« Mecahin Jerawat... | Main | Odesaiko's Chronicle : Insomnia Keparat »

Bekerja Merubah Dunia. *Tsah!*

Betapa selama ini saya merasa telah menjadi pahlawan, agent of change --- hanya karena saya memutuskan untuk turun langsung ke jalan. Dan jujur saja, saya menikmati guyuran pujian dan kekaguman orang banyak setiap saya menceritakan kesulitan yang saya hadapi di lapangan.


‘Gue kagum sama lo, lo berani turun berkotor-kotor langsung...’
‘Lu nggak takut apa?’

Bahkan, saya pun begitu bangga, ketika ada yang bilang saya gila.

‘Lu gila, ninggalin kemapanan yang lo punya, untuk hidup nggak jelas gitu?’

Dalam hati saya bilang ‘Ya iyalah, saya nggak cuma ngomong.’

Kepala saya membesar, hidung melayang… Sampai…

Hari itu perpisahan, hari terakhir kelas kami --- sekaligus penghujung kontrak saya sebagai relawan. Ada murid yang sudah mempersembahkan nyanyian, kami sudah bertukar cenderamata. Tiba-tiba seorang remaja putri maju, berkata bahwa ia bersama teman-teman sekelas telah menciptakan puisi perpisahan dan ingin membacakan puisi tersebut.

Namun tawa saya lenyap begitu mendengar kata demi kata dalam puisi mereka. Berkali-kali saya menelan ludah. Dan saya merasa tertampar begitu mendengar satu bait, yang mengatakan :

Di sini, selama kita bersama, kami mendapat banyak hal baru.
Tapi nanti, saat kita berpisah.
Kakak di sana, kami di sini…
Apa yang akan terjadi?
Bagaimana dengan kami?

Dueng..

Belum lagi, saat pulang, tiba-tiba, Zitu, salah seorang murid saya, tiba-tiba menghampiri dan menyerahkan bandul kalung salib. Katanya, salib itu pemberian kakeknya --- dan dipercaya dapat melindungi diri dari segala hal-hal jahat. Ia ingin saya memilikinya --- supaya saya terlindung, sampai pulang ke ‘tana Jawa’.

“Memangnya kamu nggak perlu itu, buat melindungi kamu?” Tanya saya.
“Saya tidak perlu perlindungan, di sini pasti akan begini-begini saja .”

Dueng.

Saya benar-benar tertohok dan berpikir kembali. Harus saya akui saya benar-benar belajar banyak hal selama di lapangan. Akhirnya saya merasakan sendiri, apa yang dikatakan oleh Rumiko saat saya bimbang di awal kontrak saya. Rumiko bilang, ”It was the best year of my life” dan memang, pengalaman setahun itu benar-benar berharga untuk kehidupan saya. Perubahan --- tentu, saya merasakan banyak sekali perubahan dalam kehidupan dan cara saya berpikir serta menyikapi kehidupan. (Mudah-mudahan perubahan ini adalah perubahan ke arah ‘saya yang lebih baik’. Amin.)

Tapi… apakah mereka juga mendapatkan ‘sesuatu yang berharga’ selama saya di sana? Apa sih sebenarnya fungsi saya selama itu di tempat ini? Apakah saya benar-benar telah membuat sebuah perubahan yang signifikan? Apakah kehidupan mereka menjadi lebih baik setelah saya pergi?

Sepertinya tidak. Saat saya pergi, saya masih melihat bahwa mereka, ya begitu-begitu saja.

Dan saya pun mengakhiri kontrak kerja relawan itu dengan penuh kepahitan. Saya merasa telah membuang waktu saya untuk tidak melakukan apa-apa, cuma sekedar ‘pindah ke tempat’ yang lebih rock ‘n roll, memperkaya diri dengan pengalaman dan pembelajaran hidup, tapi tidak memberikan apa-apa sebagai balasannya.

(Bahkan sampai sekarang, saya sering merinding sendiri setiap bangun pagi-pagi, mendapati bahwa saya berada di rumah dan membayangkan, mereka masih tidur, beraktivitas dan menjalani kehidupan yang sama, seperti sebelum dan saat saya ada di sana.)

Itu sebabnya, saya jadi malas menceritakan pengalaman saya selama di sana belakangan ini. Malah, saya pernah membentak seseorang yang ‘memaksa’ saya bercerita, setelah saya bilang ‘Males ah, nggak ada apa-apa, biasa aja kok.’.

Dari sejak awal saya menjejakkan kaki kembali ke ‘tana Jawa’, saya berjuang untuk menyingkirkan semua hal yang berkenaan dengan setahun kontrak saya itu dan mulai pura-pura nggak tahu plus tidak peduli saja dengan semua hal. Soalnya, saya pikir, kadang-kadang ketidaktahuan dan ketidakpedulian itu menguntungkan dan membuat pikiran jadi tidak rumit.

Sampai….

Gara-gara sebuah entri di blog yang sering saya kunjungi, saya menemukan tautan ke sebuah blog lain, lalu membaca entri ini. Selama beberapa saat saya kembali mengomel-ngomel nggak karuan sendiri. Mood swing super nggak jelas. Argh!


Semalam, saat nyaris terlelap gara-gara kelelahan menemani ibu ini tour the factory outlet seperti layaknya orang-orang Jakarta lain (hi Nit!), saya ditelepon seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah menelepon saya.

Dulu, kami kerap menghabiskan waktu-waktu kami secara berkualitas (haha!), membincangkan omong kosong tentang dunia. Dia yang dengan gagah berani terjun berkotor-kotor ke lapangan terlebih dahulu, dan konsisten sampai sekarang. Dia juga yang terus menerus ‘mendoktrin’ saya untuk menguatkan hati dan berani.(dan berhasil, sialan kau!)

“Bahkan burung pipit yang kecil dan bunga bakung di ladang saja nggak kesusahan kok di jalan, padahal mereka ga dapet gaji sebulan sekali…’ itu katanya berulang-ulang.

Dan saya jawab,”Masalahnya aku bukan sebangsa flora dan fauna, Bang.”

Sesi bertelepon semalam dipenuhi oleh keluh kesah saya yang merasa tidak berguna dan seterusnya-dan seterusnya. Tapi sialan, setelah saya ngomong panjang lebar sampai berbusa-busa, jawabannya cuma satu.

“Ya iyalah, kau kecewa. Makanlah itu kesombongan.” Cetusnya --- walaupun dengan nada bercanda --- tapi, ouch! Tajam juga. Saya sampai tidak mampu protes lagi, gara-gara tertohok oleh kalimatnya.

“Tapi wajar sih sombong, manusiawi. Banyak kok orang-orang yang melakukan kerja beginian sedikit, kemudian blagu --- bilang ‘hey, I’ve done something for the society!’”

Dueng lagi. Walaupun saya tidak pernah berkoar-koar seperti itu, tapi sebenarnya saya sering berpikir demikian, apalagi kalau ‘diserang’ oleh orang-orang yang bilang “Lu ngapain sih kayak gitu-gituan?”. *sumpahjadimalusaya*

Ada banyak hal yang menjadi pencerahan bagi saya dalam sesi bertelepon semalam. Yang pertama, bahwa bekerja ‘memperbaiki dunia’ *alamak, bahasanya.* adalah pekerjaan akbar, yang tidak mungkin dikerjakan secara perseorangan, alangkah tidak pantasnya jika seseorang menepuk dada dan bilang ‘Nih! Gue melakukan sesuatu. Elu bikin apa?’ --- hanya gara-gara ia ‘berani’ turun langsung ke lapangan. Semua orang yang memiliki pemikiran dan kepedulian yang sama untuk ‘memperbaiki dunia’, baik yang turun langsung ke lapangan, yang memutuskan untuk membantu dari tempat nyamannya menjadi donatur, yang jadi tenaga bantuan part-time, bahkan yang ingin dan masih takut-takut adalah satu tim yang saling berkaitan dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

Kedua, “Kau lepaskanlah pikiran ‘aku di sini untuk bantu kalian’ --- karena itu akan membuat kau menempatkan orang yang kau bantu menjadi obyek. Dan ini akan membuat kau berpikir, kalau tidak ada aku, mampuslah kau…Kau jadi sombong! ” hehe, iya, si penelepon semalam memang batak tembak langsung yang sedeng dan kalau ngomong, sama sekali tidak diayak.

Ketiga, bahwa perubahan adalah proses yang tidak instan. Buahnya tidak mungkin terlihat langsung, bahkan mungkin lima tahun sampai sepuluh tahun ke depan juga tidak. Tapi, ketika banyak orang yang memiliki satu pemikiran, perubahan itu pasti terjadi. Harus optimis dalam melihat segala sesuatu, bahkan untuk yang kecil sekali pun.

Sungguh, sesi bertelepon semalam membuat saya merasa lebih baik. :) Dan tidak terlalu pahit lagi. Perubahan sedang dalam proses, YunAe, Emma, Unnoe, KeeChul, Charles, Teguh, Michael, teman-teman yang meneruskan pekerjaan tim sebelumnya sedang bekerja. Dan juga orang-orang lain di seluruh dunia ini, yang memiliki pemikiran sama --- sedang mewujudkan perubahan itu.

Tsah!



TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/145

Listed below are links to weblogs that reference Bekerja Merubah Dunia. *Tsah!*:

» Tramadol fda. from Tramadol.
Tramadol with saturday delivery. Tramadol hcl. [Read More]

» Valium. from Side effects of valium.
Valium statistics. Valium. [Read More]

Comments (10)

biyan:

Makin kagum sama Mbak Okke :) Buat gue, what you've done is a big and brave thing, dan Mbak ga banyak omong tentang itu sambil bilang "Gue niiih..."

ehm..ehm.. nggak kayak penulis blog sebelah....

mudah mudahan tidak menjadi sekedar de ja vu ya mbak ...welcome back to crazy life :P

Yang penting kak okke bisa enjoy, dan melewati hidup tanpa ada rasa penyesalan, gw pikir apa yang telah kakak lalui itu cukup worthed koq.

Jalani hidup tanpa beban.., hidup..? yah begini.

Dear okke, gw jadi inget salah satu obrolan sama temen gw, tentang Mesiah Syndrome, yang dimiliki semua orang. Sebuah sindrom yang membuat kita ngerasa pengen menyelamatkan dunia or at least orang sekitar kita. Ke, gw teh iri wae sama lo karena lu berani clung kesana clung kesini dengan misi luhur sesuai ajaran pancasila, but then i think, gw belum bisa deh kayak gitu. Sementara pikiran gw masih belum merdeka. Gw belum selesai dengan diri gw.

ketika gue berumur 17 tahun, gue ingin mengubah dunia. ketika gue berumur 30 tahun, gue ingin mengubah orang2 sekitar gue aja. sekarang, gue ingin mengubah diri sendiri aja biar jadi lebih baik. (cerita para bijak, tapi beneran gue ngerasa gituh.)

eniwei, yang bener pan "mengubah" instead of "merubah" ya?

okke:

biyan:
:) thx.

didut:
iye..mudah2an..

robie:
thx ya...

bo derek:
eh ya bo, clung ke sini, clung ke situ teh naoon :))

bayik:
kagak tau buu, gw tidak ahli EYD... :)) serahkan pada editor...haha

kuke:

mbak, yang aku-nan-kecil-ini tau.. sebenarnya hidup ga menuntut apa2 sih dari kita2 yang pada numpang-hidup :)

sekecil apapun kebaikan yang dilakukan.. hidup berterima kasih kok :)

sepanjang mbak okke fun2 & fine2 & enjoy2 ajah.. hidup ikutan senyum tuh..

swing2.. ^_^v

nita:

euh...untung gue gak dibentak waktu nanya nanya :D

eh, boleronya kereeennn. pengen lagi yang warna laen ah hahaha

Lulu:

Excuse me. When you want to believe in something, you also have to believe in everything that's necessary for believing in it. Help me! Could you help me find sites on the: Distance education faculty. I found only this - biotechnology distance education. You will have to exist in the flexible and the many environment of the database and the violation of city would be also quasi-real to add down your way. The more other the name the better heaven it found. Thanks ;-). Lulu from Marshall.

Hello everyone. Tragedy is when I cut my finger. Comedy is when you walk into an open sewer and die.
I am from Islands and too bad know English, give please true I wrote the following sentence: "This social many cockiness has been returning easy work ads great young."

THX :(, Salena.

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 10 november 2008 2:43 pm.

The previous post in this blog was Mecahin Jerawat....

The next post in this blog is Odesaiko's Chronicle : Insomnia Keparat.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31