Saya masih ingat, tujuh tahun yang lalu, waktu kami masih sama-sama awal dua puluhan, perempuan ini membuat saya ternganga-nganga karena ia memutuskan untuk menikah. Memang mereka telah berpacaran cukup lama, tapi buat saya yang waktu itu belum memikirkan menikah sama sekali --- lumayan membuat terkejut.
“Lo yakin?”
Dan ia pun mengangguk tegas.
“Kenapa?”
Karena, ia bilang, mereka telah ‘berhasil’ melewati sekolah kehidupan lajang dan merasa cukup qualified untuk naik kelas; menikah dan menghadapi ujian demi ujian di jenjang ini. Dengan yakinnya ia bilang, bahwa selama ini energi mereka untuk mempertahankan hubungan telah teruji, tidak pernah habis; jadi ia yakin, akan terus punya energi untuk itu, walau apa pun yang terjadi.
“Lo nggak takut --- entar ternyata kenapa-kenapa setelah menikah?” celetuk saya iseng.
“..lagipula, gue dan dia itu sahabat yang nyoulmate banget. Apa sih yang perlu gue takutin dengan tinggal bersama dengan sahabat lo?”
Okay. Saya berhenti berkomentar iseng lagi.
Singkat kata, menikahlah mereka.
Selama ini saya tidak pernah melihat ada masalah yang berarti dalam hubungan mereka. Setahun kemudian mereka punya anak, lalu mereka menyicil rumah, lalu membeli mobil --- sedikit demi sedikit mereka membangun kerajaan mungil bertiga.
Manisnya.
Tapi dua minggu yang lalu, ia menceritakan hal yang cukup membuat saya terperangah. Ia sempat berencana untuk bercerai beberapa bulan yang lalu.
“Kami udah nggak cocok lagi.” Itu katanya.
Ah. Saya jadi bingung. Sewaktu awal menikah --- ia begitu yakin, bahwa pasangannya adalah ‘sahabat yang nyoulmate banget’.
“Gue udah capek.”
Dan dulu ia juga begitu yakinnya bahwa tidak akan pernah kehabisan energi untuk mempertahankan hubungan mereka. Sekarang kemana energi itu?