Si Menikah
"Eh Mbak, saya ambil yang ini ya."
"Mas, tolong bungkus yang itu deh."
"Adududuh...bagus bangeeett! Beli gak beli gak beli gak."
Itu saya, selama sejam belakangan ini. Sudah ada tiga tas plastik warna warni berisi syal, kaos, dan celana jins. Oh dan jangan lupa ikat rambut, kan rambut saya sudah panjangan.
Dan sekarang saya sedang memegang sebuah rok terusan warna hitam (efek melangsingkan, jangan lupa) bergaris horisontal warna merah dan coklat.
Kenalkan, saya seorang perempuan ( yang selalu berusaha tampak lebih) muda (dari usia sebenarnya) , beranak satu dan bersuami satu.
Tidak kelihatan ya dari belanjaannya?
Itulah saya, sering amnesia membelikan apapun untuk anak dan suami, sementara untuk kepentingan koleksi sendiri tidak pernah absen.
Satu-satunya masa di mana saya tidak pernah melupakan keduanya adalah saat belanja bulanan.
Misalnya kemarin malam.
Saya dan suami mendorong-dorong satu trolley penuh berisi susu, sabun anak-anak, kaos singlet putih, beberapa pasang kaos kaki dua jenis ukuran, shaving cream, coklat, french fries, dan sebagainya dan sebagainya. Untunglah anak kami sudah tidak perlu diapers. Bukan apa-apa, mahal!
Lah tuh belum apa-apa saya sudah mikirin mahalnya. Padahal rok terusan ini harganya tiga kali lipat harga diapers.
Si Lajang
Dasar cewek. Atau mungkin dasar saya saja ya. Tujuan utama sih membeli pembalut, tapi saya nyangkut ke setiap gerai. Dari kopi instan sampai deterjen. Dari body lotion sampai barang pecah belah. Doh. Dan kadang tidak berakhir sampai cuma lihat-lihat saja, sedikit demi sedikit keranjang saya dipenuhi oleh benda-benda yang ketika saya masuk ke dalam supermarket tidak masuk dalam rencana beli!
Anyway, gang yang mendisplay rupa-rupa pembalut justru saya sambangi belakangan. Saya mengambil satu bungkus yang isinya 48. Biarin, biar sampai bulan depan.
"Jangan yang merk ini, Mas. Mahal. Yang merek itu aja."
Saya mendengar sebuah suara perempuan. Dengan gerakan tidak ketara saya melirik. Perempuan itu bersama seorang lelaki, sedang memilih-milih diapers. Mereka terlihat menarik satu merk, mengembalikannya lagi, mengambil merk yang lain, mengembalikannya lagi. Lalu mengambil dua merk dan membandingkannya.
Saya jadi penasaran.
Maka terambillah satu.
Buset. Mahal.
Lalu saya lirik keranjang belanjaan pasangan tadi --- berisi susu bayi, perlengkapan mandi bayi. Lalu ada beberapa alat rumah tangga. Lalu ada cairan sabun cuci piring, ada deterjen ada obat pel.
Spontan saya melihat isi keranjang saya.
Kripik-kripik. Body lotion yang sebenarnya saya sudah punya, tapi yang satu tinggal setengah. Kopi instan --- dua jenis rasa, satu mochacino satu vanilla latte. Cheek brush untuk membalurkan eye shadow pink muda di pipi. Bagus lho, wajah anda bakal tampak bercahaya.
.............