« Mi, The Wandering Soul : Kenyataan Mungkin Menyakitkan, Tapi... | Main | 13 Tahun »

Mi The Wandering Soul : Turn Your Lights Down Low*

Setelah menunda semalam, akhirnya aku membulatkan tekad untuk menghampirinya. Di sinilah aku. Di depan sebuah tattoo parlor. Walaupun sudah berulang kali aku bertanya pada beberapa orang, dari anak SMU yang sedang menunggu datangnya bis Trans-Jogja, tukang ojek, tukang becak, sampai mbak-mbak berjilbab yang kebetulan berpapasan denganku, tapi aku tak kunjung merasa yakin dengan alamat yang diberikan Nadine padaku.

Oh tunggu. Aku berusaha memikirkan, apa sebenarnya yang membuat aku tidak yakin. Letak tempat yang disebutkan, atau… keberadaan dia di tempat itu?

Mungkin karena yang kedua.Akan sangat tidak lucu jika ternyata ia sudah tak ada di sana.

Kuhempaskan nafas. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ah sudahlah, kalau aku terus begini, mungkin sampai malam aku akan terus berdiri di luar.

Aku berjalan ragu-ragu masuk.

“Siang, Mbak…” sapa seorang pria tinggi kurus bertattoo.
“Eh, siang…”
“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya ramah. Mungkin ia menyangka aku adalah calon klien tattoo parlor ini.
“Uhm… saya…” aku terdiam sejenak,”..nyari Dharma. Ada?”

Pria tersebut mengerutkan kening.”Dharma?”

Oh shit. Kalau pertanyaan selanjutnya adalah: ‘Dharma siapa?’, maka aku hanya bisa memamerkan cengiran terlebarku, karena...sumpah aku tidak tahu nama lengkap orang yang kucari ini. Kami terlalu sibuk mengobrol waktu itu -- oh, berciuman juga...

“Dia barusan pulang sebentar. Mbak tunggu aja.”
“Oh..”
“Silahkan duduk Mbak.” Ia menunjuk sebuah kursi di sudut ruangan.
Thanks.” Aku duduk dan mengamati ruangan yang tampak menyenangkan ini. Catnya yang berwarna-warni mengingatkanku pada… mungkin sebuah taman kanak-kanak. Ah tidak, kurang ramai. Tidak ada poster-poster abjad atau nama-nama benda di dindingnya.

Seperti… oh, mungkin seperti ruang tunggu dokter anak. Kuraih salah satu majalah perjalanan yang terletak di meja dan berusaha untuk membacanya. Namun aku tidak mampu berkonsentrasi. Pada akhirnya yang kulakukan hanyalah melihat-lihat gambar beberapa tempat yang pernah kukunjungi.

“Dhar.. ada yang nyari.”

Suara itu bagaikan tanda bagi seluruh organ tubuhku untuk bergerak lebih aktif. Jantungku berdebar berkali-kali lipat. Nafasku memburu. Tanganku mendingin. Aku mendongak. Tampak seorang laki-laki, bertubuh tegap, cukup tinggi, tapi tidak setinggi orang yang pertama kali menyapaku.

“MI!” Ia tampak terkejut.
“Hai.” Aku berusaha untuk tenang, tapi suaraku malah bergetar. Norak.

Ia berjalan menghampiri, dan aku pun berdiri. Ia mengangkat tangannya lalu mengacak-acak rambutku,”Kemana aja lo,Nyet.” Serunya.

“Elo yang ke mana aja, Babon!” balasku sambil meninju bahunya.

….

Aku dan Dharma baru saja selesai menikmati makan malam bersama. Semuanya masih sama seperti dulu. Kami mengobrolkan banyak hal, saling melontarkan kekonyolan yang pasti akan dikembangkan dan diperbuas sehingga membuat kami tertawa sampai sakit perut dan menjadi perhatian sejuta umat.

“Lo tuh siapa sih?” tanya Dharma tiba-tiba setelah tawa kami akibat mengembangkan lelucon fantasi tukang pijat reda.
“Maksud lo?”
“Gue kayak udah kenal lo lama banget.”

Aku terdiam. ‘Gue juga.’Sahutku dalam hati.

Aku dan Dharma menyusuri jalan Malioboro, menuju ke penginapanku. Pertokoan telah tutup, trotoar dipenuhi oleh peti-peti yang dibungkus terpal yang kuduga berisi barang dagangan milik penjual yang lapaknya memenuhi Malioboro jika hari terang. Jalanan sudah tidak ramai, hanya ada beberapa orang lalu lalang. Para tukang becak yang biasanya terlalu bersemangat memaksa wisatawan untuk menaiki becak mereka kebanyakan sudah lelap dalam becak masing-masing.

Namun berbeda dengan keadaan di jalan besar, begitu aku membelok, menuju hostel kami, suasana cukup ramai, ada sebuah café sederhana di ujung jalan yang masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan.

“Ini café baru ya?” tanyaku. Seingatku dulu, sewaktu sering melakukan perjalanan ke Yogya dan menginap di tempat ini, café tersebut belum ada.
“Baru enam bulan. Kapan lo terakhir ke mari?”
“Hm, tahun 2005.” Aku menyeringai.
“Oh Pantes ”

Tiba-tiba Dharma menarikku masuk ke dalam.Hampir sebagian besar tamu-tamu yang datang adalah bule. Alunan musik yang sangat menggoda terdengar dari sebuah band bernuansa reggae yang sedang tampil, sekelompok anak muda berwajah sangat Indonesia, Jawa tepatnya. Mereka bergaya seperti para Rastafarian. Aku percaya bahwa rambut dreadlock itu bukan karena mereka mengharamkan potong rambut seperti Bob Marley yang penganut Rastafari. Mereka hanya ingin bergaya.

Beberapa orang menyapa Dharma.

Wah, rupanya Dharma bukanlah orang asing di tempat ini. Ia sempat memperkenalkanku dengan beberapa tamu bule di sana, lalu tanpa memerdulikanku, langsung bergabung dalam keramaian. Aku tertinggal, tapi tidak begitu berminat juga untuk melebur. Aku benci keramaian.

Bolak-balik aku melirik ke arah arloji. Sudah jauh lewat tengah malam.

“Dharma!” aku memanggil laki-laki itu dengan suara agak keras, mengalahkan alunan musik. Dharma terlihat sedang asyik mengobrol dengan bule berambut gondrong, berkaus kutung dan bercelana pendek di salah satu sudut, lengannya berhiaskan rajah salib yang besar. Berusaha keras, menelusup di antara bule-bule lain yang berdiri dan bergoyang mengikuti alunan musik reggae, kudekati Dharma. Tapi terlambat, sebelum aku sempat menggapainya, beberapa orang telah mendorong Dharma untuk naik ke atas panggung kecil tempat pemain band bermain.

Huh!

Ia langsung menuju panggung tanpa canggung, meraih mic.

“Ini buat Mi, yang di sana” serunya menggaung melalui speaker.

Aku terkejut.

Orang gila! Dharma sakit jiwa!

Berusaha keras aku bersembunyi di antara badan para tamu yang cukup besar dan menjulang. Aku mengintip dari balik bahu seorang bule yang gendut. Terlihat Dharma sedang menyipitkan mata, menelusuri tamu satu persatu, untuk mencari aku, tentunya.

“Nah itu dia, sok ngumpet. Lagu ini buat lo.” ia berkata sambil menunjuk ke arahku.

Orang sinting!

Rasanya ingin masuk ke dalam tanah saja, ketika semua mata memandang ke arahku sambil tersenyum-senyum.

Kulihat Dharma membisikkan sesuatu pada pemain band. Dan mengalunlah intro sebuah lagu yang sangat kukenal.


Turn your lights down low
And pull your window curtains;
Oh, let Jah moon come shining in -
Into our life again,
Sayin': ooh, it's been a long, long (long, long, long, long) time;
I kept this message for you, girl,
But it seems I was never on time;
Still I wanna get through to you, girlie,
On time - on time.
I want to give you some love (good, good lovin');
I want to give you some good, good lovin' (good, good lovin').
Oh, I - oh, I - oh, I,
Say, I want to give you some good, good lovin' (good, good lovin'):
Turn your lights down low;
Never try to resist, oh no!
Oh, let my love come tumbling in -
Into our life again,
Sayin': ooh, I love ya!
And I want you to know right now,
I love ya!
And I want you to know right now,
'Cause I - that I -
I want to give you some love, oh-ooh!
I want to give you some good, good lovin';
Oh, I - I want to give you some love;
Sayin': I want to give you some good, good lovin':
Turn your lights down low, wo-oh!
Never - never try to resist, oh no!
Ooh, let my love - ooh, let my love come tumbling in -
Into our life again.
Oh, I want to give you some good, good lovin' (good, good lovin').

Dharma beberapa kali menunjuk ke arahku, membuat beberapa orang ikut menoleh. Aku benci menjadi pusat perhatian. Aku berusaha untuk menelusup dan kabur dari cafe ini, tapi sulit. Semua orang seolah-olah memaksaku untuk tinggal dengan menghalangi jalan menuju pintu keluar.

Sementara Dharma dengan suara seraknya terus menyanyi, sembari menatapku dengan tatapan super jahil, beberapa kali ia menunjuk ke arahku, membuat setiap mata bolak-balik menoleh padaku sambil tersenyum-senyum.

Akhirnya aku hanya bisa pasrah, sambil mengacungkan tinjuku ke arah panggung.

Dharma tidak peduli, ia terus menyanyi, suaranya yang serak menggaung dari sound system cafe ini. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain bersidekap, berusaha menikmati lantunan Bob Marley favoritku.

Terlintas dalam benak ini, bahwa Dharma masih menginginkanku.
...
“Lo tuh sakit jiwa..” ucapku saat kami berjalan berdampingan menuju hostel tempat aku menginap. Dharma tidak menyahut, ia hanya cengar-cengir, sambil menyapa beberapa wajah yang sempat kulihat ada di dalam cafe tadi.

Angka digital yang tertera dalam arlojiku sudah menunjukkan pukul 3.45, benar-benar larut. Hostel tersebut telah remang, bahkan pintu depannya pun telah tertutup.

Aku dan Dharma menghampiri meja resepsionis, membangunkan resepsionis pria setengah baya yang lelap di tempat itu, menontonnya terbangun dalam keadaan kaget serta terbatuk akibat salivanya sendiri.

“Kunci,mas. Sorry ngebangunin” pintaku.

“Ini, Mbak” seru Bapak-bapak tersebut tanpa berusaha menutupi rasa sebalnya. Ia mengangsurkan kunci padaku.

“Matur nuwun, Pak.. selamat tidur lagi..”ucapku semanis mungkin. Ia hanya mendengus lalu kembali membungkus tubuhnya dengan sarung.

Aku menelusuri pintu demi pintu menuju kamar kami. Kubiarkan Dharma membuntutiku.

“Okay, sampai ketemu lagi..” aku berbalik dan membuka kamarku.

Tiba-tiba aku merasa, tubuhku didorong masuk ke dalam kamar dan pintu ditutup.

“Lo ngap...” protesku terhenti, Dharma membungkamku dengan ciumannya.

Otak kananku dan seluruh tubuh sangat mengizinkan Dharma berbuat ini, bahkan jujur saja, aku menikmatinya. Ia menyentuhku, mengalirkan perasaan seperti terkena sengatan listrik. Semua itu benar-benar membuatku merasa ringan, bebas.

Nafasku dan nafas Dharma memburu saling bersahutan.
Dapat kurasakan bahwa kami berdua merindukan saat seperti ini.

Ehm. Sudah dulu, mati ide. Atau ada yang mau memberi ide? :) Atau.. saya teruskan dengan cerita ala CCS aja gitu? *dumdidum*.

*Judulnya memang sengaja mengambil judul lagunya Om Bob.


TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/133

Comments (16)

eva:

ah yah, lagi asikasik baca sambil penasaran, sampe di kalimat 'sudah dulu, mati ide ...' langsung ngedrop, mbak :-D

ayoayo dilanjutkan, mbak *pembaca yang nda mau tau klo penulisnya lagi mati ide*

duh, settingan jogjanya, membuat sayah terkenangkenang, minus lagunya oom bob, danlainlain danlainlain *halah* :-P

dibukukan ajah, mbak okke! *ngarep* ;-)

Koen:

Hahhh? Okke? Mau diteruskan model CCS? Common-channel signalling? Mau jadi apa negeri ini? Bisa bobo semua pembaca.

roi:

Ngegantung gitu Ke
hehehehe

okke:

eva: hihihih.... yukkk, kita bukukan. Kapan ya enaknya? *lah kok jadi nanya...?*

koen: ah beda orang yang kerja di t****m mah.... (diriku sampai wikipediaing coba :D)

roi: hahahah... maab!

*nunggu lanjutannya* :P

enon:

idem sm didut.. :p

lilia:

lanjutin dong... atau di buku kan juga boleh. aku pasti menghunting buku mu terbaru nanti..

bo, salut gue, kke. top top. plok plok plok. lanjut aaahhh

dita:

Asiiikk... Ditunggu CCS nya!!

Popi:

Ah ini pasti diambil dari cerita sebenarnya heuehueheuheueheuheuehhhahahahahahahahah!

Jogja-pencarian-dan disanalah cinta


Yihhiiiiii

okke:

didut, enon & lilia : apa gw bikin sayembara menulis lanjutannya aja gitu? :))

melly: lanjut ala CCS? :D

dita : halah, bisi dicekal euy blog gw :D

popi: elu mah, gosyiiip aja. Konfirmasi dulu ateuh :))

iend:

wahahaaaa.... mbak okke kalo cerita bikin aku senyum2 sendiri.. cara penyampaiannya keren..
ajarin dunk...
hukhuk...
kapan ke jogja lagi?
main2
hubungin ajah aku Mbak...
kita makan ceker ayam deh kayak si Raditya dika juga.. makan ceker di solo jogja..
bahkan mas Crish simamora juga tergiur dan mengemailku
hahaha

echa:

apaann sich! lagi asik! baca ternyata sudah dulu.. hauhahahahaha

okke:

iend:
yuk, berburu ceker :P

echa:
hihihi, maak mbaf!

tidaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk...

akyu kentaaaang...

:mrgreen:

nita:

aaahh Okke! Kentang neeeeh!!

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 26 september 2008 12:42 am.

The previous post in this blog was Mi, The Wandering Soul : Kenyataan Mungkin Menyakitkan, Tapi....

The next post in this blog is 13 Tahun.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31