Mi The Wandering Soul : Turn Your Lights Down Low*

Setelah menunda semalam, akhirnya aku membulatkan tekad untuk menghampirinya. Di sinilah aku. Di depan sebuah tattoo parlor. Walaupun sudah berulang kali aku bertanya pada beberapa orang, dari anak SMU yang sedang menunggu datangnya bis Trans-Jogja, tukang ojek, tukang becak, sampai mbak-mbak berjilbab yang kebetulan berpapasan denganku, tapi aku tak kunjung merasa yakin dengan alamat yang diberikan Nadine padaku.

Oh tunggu. Aku berusaha memikirkan, apa sebenarnya yang membuat aku tidak yakin. Letak tempat yang disebutkan, atau… keberadaan dia di tempat itu?

Mungkin karena yang kedua.Akan sangat tidak lucu jika ternyata ia sudah tak ada di sana.

Kuhempaskan nafas. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ah sudahlah, kalau aku terus begini, mungkin sampai malam aku akan terus berdiri di luar.

Aku berjalan ragu-ragu masuk.

“Siang, Mbak…” sapa seorang pria tinggi kurus bertattoo.
“Eh, siang…”
“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya ramah. Mungkin ia menyangka aku adalah calon klien tattoo parlor ini.
“Uhm… saya…” aku terdiam sejenak,”..nyari Dharma. Ada?”

Pria tersebut mengerutkan kening.”Dharma?”

Oh shit. Kalau pertanyaan selanjutnya adalah: ‘Dharma siapa?’, maka aku hanya bisa memamerkan cengiran terlebarku, karena…sumpah aku tidak tahu nama lengkap orang yang kucari ini. Kami terlalu sibuk mengobrol waktu itu — oh, berciuman juga…

Continue reading

Mi, The Wandering Soul : Kenyataan Mungkin Menyakitkan, Tapi…

“Terima kasih karena telah terbang bersama kami. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.” Kata-kata lembut tersebut keluar dari bibir bergincu coklat muda mengkilat milik pramugari pesawat yang membawaku mencapai Surabaya.

Aku tersenyum.Kuhela nafas sebelum melangkahkan kaki keluar dari pintu kabin, sambil membopong carrier dan ransel laptopku.

Kulangkahkan kaki terburu, langsung menuju keluar bandara, tidak mengikuti gerombolan penumpang yang akan mengambil bagasi – karena barang bawaanku adalah yang kubawa.

Udara panas tak berangin Surabaya langsung menerpa kulitku. Tujuanku adalah Yogyakarta, di ponsel telah tertera sebuah alamat yang diberikan Nadine, tapi aku belum berhasil memutuskan apa yang akan kupergunakan untuk mencapai kota gudeg tersebut. Beberapa orang pria langsung menghampiriku. Menawarkan jasa transportasi.

“Travel Mbak, ke Malang?” Tanya salah seorang dari mereka.

Aku menggelengkan kepala. Kupicingkan mata, tampak sebuah bus DAMRI yang menuju terminal pasar Turi.

Apa aku naik bis saja ya?

“Travel Mbak? Ke Jogja? Langsung ke tempat tujuan.” Seru pria lainnya.

Hmm… mungkin ini lebih mudah. Aku telah memiliki alamat, tidak perlu memikirkan apa pun, tinggal duduk, dan (mungkin) tertidur, lalu sampailah tujuan.

Tapi….

Continue reading

Simple Life Tuh Yang Gimana,Sih?

Sebagai penggila kopi, tiga minggu yang lalu adalah masa terberat saya *ratu drama mode set on*. Waktu itu saya sedang berada di Lospalos, yang kebetulan tempat yang saya dan team saya tinggali masih menggunakan kayu bakar untuk memasak apa pun,termasuk air. Demi mencegah memasak air bolak-balik untuk hal-hal yang membutuhkan air panas, misalnya meminum kopi, maka kami memasak air panas sejak pagi dan ditempatkan di dalam termos.

Tapi nggak tau kenapa, air yang dimasak selalu tidak cukup, selalu habis jelang maghrib, sedangkan serangan minum kopi saya, selalu setelah makan malam. Itu benar-benar membuat frustasi *more ratu drama set on*. Kenapa? Karena proses untuk memasak air panas itu ribet : dimulai dari mencari kayu bakar (yang lucunya, kenapa setiap saya ingin membuat air panas, persediaan kayu selalu habis?), menyalakan api, menjerang air – dan itu belum cukup, mengambil air juga dari sumber air, yang kalau ditotal jendral, waktu yang dibutuhkan sekitar 1 jam sendiri. Gila, setiap membayangkan proses panjang tersebut, saya mendadak malas minum kopi. Apalagi kalau membayangkan semua proses panjang itu harus dilakukan di malam yang gelap dan dingin banget.

Kalau sudah demikian, saya dan Lisa, salah seorang rekan Jerman yang juga peminum kopi, hanya tinggal berpandang-pandangan sambil tersenyum asem. Betapa saya membayangkan enaknya di rumah, mau minum kopi, air panas saya dapatkan dari dispenser, tidak sampai 5 menit beres.

Continue reading

Surat Terakhir

“Apaan sih? Ga lucu!” Itu adalah reaksi pertama saya, tanggal 5 September 2007, saat mereka menyuruh saya menulis surat terakhir yang akan dikirimkan pada keluarga, jika saya mati. Memang sebelumnya sudah diperingatkan, bahwa keputusan yang saya ambil untuk bekerja sebagai relawan di daerah rawan konflik ini berisiko tinggi – tapi saat itu, saya masih pikir, “Lha kan Timor Leste.” – yup, masih Timor Leste, kalau ada apa-apa, dekat dengan repoeblik, lagipula, keadaannya tidak sekeras daerah-daerah layanan lain organisasi kami, tidak seperti Bapak ini, yang dengan gilanya memutuskan Afghanistan sebagai daerah layanan. Tapi ya itu, ini adalah salah satu dari aturan, mau di mana pun daerah layanan wajib namanya menulis surat macam ini.

Kami diberi waktu selama 24 jam untuk menulis, sekaligus juga untuk berpikir, sebelum penandatanganan kontrak.

Tidak mudah menulis surat macam ini. Sumpah. Karena dalam proses menulis, saya tidak hanya menulis, tapi terkondisikan dengan perasaan bahwa saya memang sudah pasti akan mati.

Continue reading