Setelah menunda semalam, akhirnya aku membulatkan tekad untuk menghampirinya. Di sinilah aku. Di depan sebuah tattoo parlor. Walaupun sudah berulang kali aku bertanya pada beberapa orang, dari anak SMU yang sedang menunggu datangnya bis Trans-Jogja, tukang ojek, tukang becak, sampai mbak-mbak berjilbab yang kebetulan berpapasan denganku, tapi aku tak kunjung merasa yakin dengan alamat yang diberikan Nadine padaku.
Oh tunggu. Aku berusaha memikirkan, apa sebenarnya yang membuat aku tidak yakin. Letak tempat yang disebutkan, atau… keberadaan dia di tempat itu?
Mungkin karena yang kedua.Akan sangat tidak lucu jika ternyata ia sudah tak ada di sana.
Kuhempaskan nafas. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ah sudahlah, kalau aku terus begini, mungkin sampai malam aku akan terus berdiri di luar.
Aku berjalan ragu-ragu masuk.
“Siang, Mbak…” sapa seorang pria tinggi kurus bertattoo.
“Eh, siang…”
“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya ramah. Mungkin ia menyangka aku adalah calon klien tattoo parlor ini.
“Uhm… saya…” aku terdiam sejenak,”..nyari Dharma. Ada?”
Pria tersebut mengerutkan kening.”Dharma?”
Oh shit. Kalau pertanyaan selanjutnya adalah: ‘Dharma siapa?’, maka aku hanya bisa memamerkan cengiran terlebarku, karena…sumpah aku tidak tahu nama lengkap orang yang kucari ini. Kami terlalu sibuk mengobrol waktu itu — oh, berciuman juga…
“Terima kasih karena telah terbang bersama kami. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.” Kata-kata lembut tersebut keluar dari bibir bergincu coklat muda mengkilat milik pramugari pesawat yang membawaku mencapai Surabaya.
Sebagai penggila kopi, tiga minggu yang lalu adalah masa terberat saya *ratu drama mode set on*. Waktu itu saya sedang berada di Lospalos, yang kebetulan tempat yang saya dan team saya tinggali masih menggunakan kayu bakar untuk memasak apa pun,termasuk air. Demi mencegah memasak air bolak-balik untuk hal-hal yang membutuhkan air panas, misalnya meminum kopi, maka kami memasak air panas sejak pagi dan ditempatkan di dalam termos.