« Inget-inget Temen. | Main | Mi The Wandering Soul : TRUTH HURTS? »

Tidak Berpihak Itu Tidak Mudah.

23 hari lagi, maka tepat sudah setahun saya hidup bareng dengan banyak orang. Bukan cuma dengan sesama relawan, tapi juga dengan masyarakat lokal, karena tempat kami tinggal berada di sebuah bairo (desa) yang antar rumah ke rumah tidak berbatas. Semua orang bisa masuk keluar rumah dan menongkrong bersama :D.

Jangan tanya berapa banyak konflik yang kami hadapi. Banyak. Bahkan hal kecil macam kebiasaan seseorang menyetel musik rohani atau Britney Spears pagi-pagi dengan keras (haha, kontradiktif kan?) saja bisa membuat saya ingin berkonflik menimbulkan konflik. Belum lagi kebiasaan-kebiasaan lain, macamnya bertanya letak suatu benda berulang-ulang sebelum mencari, cara memasak, pinjam meminjam barang dan seterusnya. Belum lagi kesalahpahaman dengan geng pemuda. Dengan tetangga, juga. Seru.

Tapi sejauh ini, konflik yang kami hadapi, selalu bisa diselesaikan sendiri. Belum sampai membutuhkan pihak ke-tiga yang berperan sebagai mediator. Jadi belum separah sampai pihak-pihak yang berkonflik tidak mau berkomunikasi terbuka dan saling mengerti dan menerima.

Saya pernah menjadi saksi proses penyelesaian konflik besar yang sebenarnya terjadi sudah cukup lama, akibat permasalahan politik. Cara yang dipergunakan adalah mediasi, yaitu ada pihak ke-tiga yang menjadi mediator agar kedua belah pihak bisa berkomunikasi terbuka. Di situ saya begitu mengagumi orang-orang yang berperan sebagai mediator. Gila aja, lho – menjadi pihak yang berada di tengah dua pihak besar yang berkonflik, nggak kebayang, salah strategi sedikit pasti hancur-hancuran.

Dari sana saya melihat bahwa menjadi seorang mediator harus memiliki sikap objektif, netral atau tidak memihak dan tidak menghakimi.

Ada kecenderungan orang untuk melihat segala sesuatu dari ‘kulit’ saja, lalu menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar dari apa yang dicernanya. Nah, menjadi mediator yang baik – benar-benar harus melepas penilaian seperti itu; mereka justru harus berpikir, bahwa segala sesuatu ada alasannya – seseorang melakukan satu hal, pasti ada alasannya. Mediator justru harus mampu mendorong ke-dua belah pihak untuk merasakan ‘berjalan dengan sepatu’ pihak lain – sehingga masing-masing pihak bisa melihat bagaimana situasi sebenarnya dari sudut pandang pihak lain, untuk menimbulkan pengertian di antara keduanya. (ini boros amat kata ‘pihak’, ya?)

Duluuuuu banget, saya pernah terpaksa berada dalam posisi demikian, sumber konfliknya sih sepele : cowok (ha! Males ga sih?). Untuk bersikap tidak berpihak bagi saya saat itu susah jenderal! Saya pun memiliki kesulitan untuk melepaskan sikap ‘menilai dari yang kelihatan’. Saat itu, dengan mudah saya terjebak, menghakimi bahwa si anu salah dan si ini korban, sebelum mendengar alasan-alasannya. Cuma saya masih berusaha untuk tidak terlalu kelihatan memihak, karena sikap keberpihakan bisa membuat perpecahan – kalau saya berpihak pada salah satu, tentu akan menimbulkan rasa terabaikan dan ketidaksukaan dari yang lain. Betapa nggak adilnya itu.

Sayangnya, masalah ini berlarut-larut dan saya tidak punya persediaan kesabaran yang memadai; jadi end upnya, saya mengomel: “Tolol banget sih brantem karena beginian. Mending cowoknya bagus. Ini cuma gitu doang gitu lho! Heran!” Lalu saya pun pergi.

Hasilnya?

Saya jadi tidak dekat dengan keduanya.

Mereka berdua?

Saya nggak tahu gimana caranya, tapi mereka berekonsiliasi dengan sendirinya, berbulan-bulan kemudian. Hihihi. Mungkin sadar, bahwa pria yang dimaksud memang nggak segitunya. :D

Gila lah. Sepertinya saya masih belajar banyak untuk bisa menjadi mediator yang baik – lha wong untuk bersikap tidak berpihak (bagi saya) susahnya Mak! Jangan ditanya.

Contohnya, terlepas dari masalah mediasi, jika ada kawan yang menceritakan masalahnya dengan orang lain, sekeras apa pun saya berusaha untuk melepas sikap memihak, tapi selalu ada kecenderungan untuk berpikir “Ih, orang itu kok gitu sih sama temen gue? Tega-teganya”.

Padahal ada banyak ‘padahal’ yang seharusnya bisa menahan saya untuk tidak memihak:
(1). Padahal kenal dengan orang yang bermasalah dengan kawan saya pun tidak. (2). Padahal saya tahu, bersikap berpihak itu sumber masalah. (3). Padahal, saya juga tahu, ada kemungkinan orang, menceritakan masalahnya pada orang lain; untuk mendapat dukungan atau pembenaran – dan menegaskan bahwa ia adalah korban. (4) Padahal saya juga tahu, ada kemungkinan, seseorang menceritakan masalahnya dengan mengkorting atau justru membonuskan fakta, untuk mendapatkan reaksi (mendukung) yang diharapkannya. (5).Padahal lagi, saya juga tahu dalam konflik, semua pihak adalah korban, korban keadaan. Saya dilarang bersikap bahwa korban hanya salah satu pihak saja.

Susah banget,lah. Namanya juga teman. Dan pertemanan itu kan sering menimbulkan perasaan solider yang membabi buta, seperti zamannya tawuran SMU dulu, ketika pipi kanan temanmu ditampar, tamparlah kembali pipi kiri pelaku. *halah* - padahal tahu masalah sebenarnya pun tidak.

Sepertinya, untuk saya, masih jauh jalan untuk menjadi mediator. The true peacemaker. Selama saya masih belum bisa menghilangkan kecenderungan untuk memihak.

(Eh, kayaknya Andri Senter– nyong Kupang teman saya, kalau membaca istilah ‘the true peacemaker’ dalam entri ini, akan ketawa ngakak karena alasan-alasan sektoral. Hey, Kaka Nyong! Kuliah aman ko? Lu pi balajar sana, jang online terus,o!)


Sebuah tulisan yang dibuat saat sedang membuat modul training bertema Conflict Resolution – dan setelah membaca sebuah entry memihak, yang mengewer-ewer masalah orang di blog. Masyaolo. Dasar (udah) ibu-ibu!

Foto diambil dari corbis

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/118

Comments (4)


just wondering kalo ada yg buka jasa blogger mediator, soalnya aku pikir makin byk aja yg berdebat tapi hanya membaca dari salah satu sisi saja :D
anyway nice post
*teringat mantan kerjaan di comdev .. hiks*

Aku pernah jadi mediator sarat konflik. Ya, lagi-lagi masalah cinta. Tapi mau gimana lagi, namanya juga temen yang nyari pertolongan. Meskipun punya sedikit pikiran, kalo temen gue putus ama tuh cewek, mungkin gue bisa pdkt. He..he..

Salut mbak Okke

kayaknya saya barusan jadi mediator cinta nih mba okke.
buat raffy, hayoo jangan ambil kesempatan dalam kesempitan, haha!!

tree:

mediator.....
ada pengalaman nih tante...
Penginnya sih temanku mau ambil aku jadi mediator... eh tapi aku milih jadi MEDIA-TOR... beralih dari wasit menjadi wartawan inftnmt.... he he he... dapat isu,poles sedikit,sebar isu,dapat dah!!!! uangnya dan orangnya...
aku matre sih dan juga haus cinta kasih!!!

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 04 juli 2008 10:34 am.

The previous post in this blog was Inget-inget Temen..

The next post in this blog is Mi The Wandering Soul : TRUTH HURTS?.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31