Sekitar tiga hari yang lalu, kebetulan waktu saya untuk menggunakan internet tidak terbatas seperti biasanya, maka saya pun menyempatkan diri untuk chatting dengan adik saya – sambil juga blogwalking ke beberapa blog. Dan mendaratlah saya ke salah satu blog, milik kawan yang sekaligus teman sekantor adik saya – perempuan. Dia selalu menjadi orang yang bersemangat dan dengan hangat menjawab setiap pertanyaan nggak penting dari survey-survey iseng saya; contohnya, untuk tulisan ini dan ini.
Dan dalam blognya, ada hal yang membuat saya berkata “Lho?” – yang satu adalah tautan ke sebuah blog lain yang bertuliskan ‘hubby’
Lho? Dia sudah menikah, kah?
Saya berniat untuk mengiriminya SMS, setelah selesai online. Untuk mengkonfirmasikan kesimpulan saya. Ada satu fakta lagi dalam blog tersebut yang membuat saya yakin akan kesimpulan saya : entry berisi hasil USG.
Berhubung saya sedang chatting dengan adik saya, maka saya tanya “Dek, si Bo Derek teh udah merit ya?”
(Maaf, perempuan itu kekeuh, jika sewaktu-waktu dia menjadi responden survey, atau menjadi sumber inspirasi entry saya, ia mau namanya disebut sebagai : Bo Derek)
Adik saya, yang cueknya setengah mati, cuma menjawab : ‘Ga. Tapi ga tau juga tuh, siapa tau nikah diem-diem.’
Jawaban yang sangat nggak jelas.
Akhirnya saya mengiriminya SMS : ‘Siah, merit meuni teu bebeja!’ (Sunda : Lo, nikah kok nggak bilang-bilang.). Balasan saya dapatkan malamnya, ketika saya sedang rapat koordinasi dengan kawan-kawan di sini.
Memang orang hamil harus nikah,ya Kke?
Heh?
Saya mengernyitkan kening membaca SMS darinya. Gara-gara itu, saya mulai menyimpulkan banyak hal tentang kondisi sang kawan.
Akhirnya saya jawab : ‘Tergantung, kalau ceweknya mau dan siap, nikah aja. Kalau tidak mau dan mampu hidup sendiri ya jangan. Kalo emang nggak siap punya anak dan nikah, ya anak kasihin ke orang.’
Saya pikir itu jawaban ‘terbaik’ – tidak sok moralis nan menyudutkan tapi sekaligus juga melarang perbuatan aborsi. Saya merasa sangat bijaksana begitu mengirimkan SMS tersebut.
‘Apa yang membuat lo mikir gue udah nikah atau gue hamil?’
Tanyanya lagi, melalui SMS tentunya. Nah dari sini saya mulai merasa ada yang nggak bener. Untuk urusan hamil, walaupun saya tidak menyebutkan bahwa saya berpikir dia hamil (jadi bisa ngeles,gitu), tapi jawaban saya mengarah ke sana.
‘Pertama, gue liat tautan hubby di blog lo, trus liat entry USG lo.’
Sejurus kemudian, saya mendapat balasan.
Hahahhaaha… kagak, gue belum married dan gue ga lagi hamil, hubby itu cowok gue – dan USG itu hasil test kesprod gue.
Sialan.
Iya ya? Kenapa juga saya berpikir bahwa selalu ada korelasi antara USG dan kehamilan dan menempatkan seolah-olah hanya itu hubungannya? Padahal saya juga pernah di USG, sewaktu mengalami keluhan soal menstruasi jaman dulu. Dan waktu itu, seorang teman (mungkin) melihat dan menyebarkan gosip bahwa saya hamil. Dulu, saya tertawa-tawa mendengar teman yang kecepetan nyimpulin ini – tapi sekarang, saya sendiri yang kecepetan nyimpulan. Grmbl.
Dan saya juga terlalu buta untuk urusan kedokteran, sehingga nggak bisa melihat fakta-fakta dari hasil USG tersebut bahwa dia hamil. (Tapi pembelaan diri saya adalah : saya nggak pernah sekolah kedokteran, saya nggak pernah di-USG dalam keadaan hamil dan saya juga nggak pernah benar-benar memerhatikan hasil USG di entry blog ibu-ibu hamil)
Saya jadi merasa seperti orang-orang kebanyakan yang melihat segala sesuatu yang terlihat secara kasat mata – lalu memroses kesimpulan sendiri dan – yang parah, merasa yakin akan kesimpulan tersebut, tanpa konfirmasi. Untuk yang terakhir untung saya masih berusaha mengonfirmasikan kesimpulan saya pada Neneng Bo Derek.
Seperti pramuniaga yang membuntuti dengan curiga anak jalanan super dekil yang masuk ke dalam supermarket dan sedang melihat-lihat barisan permen sambil berbisik-bisik pada rekannya “Jagain tu anak, jangan sampai ngambil sesuatu'. Seperti staff developer ril estat tidak memandang sebelah mata orang yang tidak berkendaraan pribadi dan lebih memilih melayani pertanyaan orang yang datang dengan mobil mewah.Seperti orang tua kolot yang melarang seorang pria bertattoo, atau berambut gondrong atau beranting memacari putri mereka (ini seriusan masih ada! Haha), seperti orang tua-orang tua pria yang membuat sang putra panik memaksa pacarnya untuk melepas anting selain sepasang yang di telinga dan menutupi tattoo-tattoo pacarnya, ketika hendak temu camer (ini juga masih ada. Serius!)
Bodohnya. Padahal apakah memang anak jalanan superdekil tersebut akan mencuri? Apakah orang yang tidak berkendaraan pribadi tersebut pasti tidak membeli satu unit rumah (dan sebaliknya, apakah orang yang datang dengan mobil mewah pasti akan membeli)? Apakah pria bertattoo, berambut gondrong dan beranting itu pasti bajingan tak bermasa depan? Apakah perempuan bertindik-selain-sepasang-di telinga dan bertattoo itu bukan perempuan baik-baik dan berpendidikan baik?
Satu lagi, apakah karena Bo Derek menuliskan tautan ‘hubby’ dan mempublikasikan entry hasil USG kesprod-nya, berarti ia hamil? (lu ga hamil beneran kan? Hahahah)
Oh satu lagi deh, apakah karena kenyataan bahwa sofianblue dan d14na -yang mengcopy dua dari entry saya tampak saling berkomentar dalam blog masing-masing dan mereka memiliki template yang sama, sudah pasti bahwa sofianblue dan d14na adalah orang yang sama?
Anyway, melalui entry ini, saya ingin menertawakan kebodohan saya yang menyimpulkan bahwa Bo Derek hamil.
Secara khusus saya juga meminta maaf untuk sofianblue karena saya memang sempat menyimpulkan sesuatu, tapi salahnya, saya juga sempat melontarkan pernyataan yang menimbulkan banyak pihak berpikir buruk.
Benar atau tidak kesimpulan saya terhadapnya, seharusnya tidak saya lontarkan ke publik tanpa konfirmasi pada yang bersangkutan – atau tanpa investigasi mendalam yang menghasilkan bukti akurat.
Komentar dari sofianblue membuat saya sangat belajar, bahwa menyimpulkan sesuatu kecepetan itu berbahaya apalagi melontarkan kesimpulan yang kecepetan itu pada publik. Dan juga saya belajar untuk tidak menganggap ringan semua hal, lebih ‘serius’ serta berpikir panjang dalam menghadapi segala sesuatu. Grmbl. Tololnya saya.
Dan. HA! Gebleeeek! Sekarang saya baru mengerti, maksud dari komen konversasi yang ini. Monica Wijaya yang dulu pernah mengcopy blog saya (selama setahun, duh, antara saya yang tolol atau apa, kok bisa ya sampai nggak tahu?) dan d14na dua-duanya secara tampilan memang bagus. :P (dasar pria-pria!)
Gitu kan? Atau saya kecepetan nyimpulin lagi, To, Pi, Pik?
Comments (14)
Makanyaaaa, lo kalo mu ngapa2in dipikir duluuuu, jangan asaaaaal, udah gede kok kelakuan kayak gini....
*jadi inget, siapa ya yang pernah ngomong gini ke elo?*
hahahahah...
tapi gue respek sama lo, selalu berani minta maaf dan tampil membereskan kekacauan yang lo buat sendiri. Kagak ngeles-ngeles. :D
Posted by nella | 18 juli 2008 09:21
Posted on 18 juli 2008 09:21
Ceu, yang gw pelajarin sih ya, jangan ember! hahahaha. Sesuatu yang sifatnya masih dugaan, seharusnya tidak dibagi pada siapapun, karena pada akhirnya akan jadi justifikasi. Bo, eike juga udah kirim pesen ke ybs.
Posted by Popi | 18 juli 2008 09:40
Posted on 18 juli 2008 09:40
setiap manusia bisa kilap mbak, saya juga sering kilap malah.... :D
yang penting semuanya sudah dapet jalan keluar n' pemecahannya. walaupun kemaren saya juga sempet terbakar dan untungnya pemadam cepet dateng
Posted by SyalMerah | 18 juli 2008 10:27
Posted on 18 juli 2008 10:27
Waaah... pantesan banyak yg tertipu dikirain gw belum married. Habis gw gak pernah manggil suami gw dengan "hubby".. hehehe...
*damn! Jangan2 gw disangka beranak 2x tanpa nikah ya... secara gw selalu nyebutnya "BapaknyaImaNara" doang... ;)
Posted by -may- | 18 juli 2008 10:35
Posted on 18 juli 2008 10:35
Berarti gw banyak nipu orang juga dong, dengan memasang link pacar yang dinamai Hubby? hehehehehe
Posted by Popi | 18 juli 2008 13:37
Posted on 18 juli 2008 13:37
nella:
husyah! jangan ingetin gue soal itu :))
popi:
syip. :)
syalmerah:
iya, semoga masalahnya ga semakin meribet :)
maynot:
Kenapa ga pake hubby aja bu? Kan kalo misalnya mo punya lima anak, nyebutnya ga panjang jadi bapaknya ImaNaraBudiWatidst,hihihih..
Popi:
emang ada yang kecepetan nyimpulin juga?:D
Posted by okke | 18 juli 2008 16:38
Posted on 18 juli 2008 16:38
Jadi hubby-nya si Derek itu pria bertato?
Posted by Dodol Surodol | 18 juli 2008 17:33
Posted on 18 juli 2008 17:33
Dodol Surodol : Hahahahhahahahahahaha. Ya! bertato. Tulisan tatonya "ABC". Telor asin kaleeeee :p
Posted by Popi | 18 juli 2008 17:46
Posted on 18 juli 2008 17:46
aduh, terkutuklah desk baru saya ini. yang membuat saya ketinggalan banyak hal. hahahaha
gue mesti bolak-balik ngeklik halaman tautan supaya ngeh apa yang sebenernya terjadi :D
Posted by atta | 18 juli 2008 19:58
Posted on 18 juli 2008 19:58
Makasih mbak, atas penjelasannya.
saya teramat hormat dan respek pada mbak okke, yang dengan cepat bisa meluruskan persoalan ini. sekali lagi terimakasih.
saya juga minta maaf jika ada tutur kalimat saya yang kurang enak dibaca. karena saya bukan penulis layaknya mbak okke. mungkin saya harus belajar banyak dari mbak okke.
saya pikir, saya mulai menjadi penggemar mbak okke neh.. tulisannya oke. bener-bener okke.
thx.
Posted by blue | 18 juli 2008 23:07
Posted on 18 juli 2008 23:07
Dodol: Atau, mungkin si Derek yang bertato, jadi ortu hubby-nya ga setuju?
Posted by JJ | 18 juli 2008 23:14
Posted on 18 juli 2008 23:14
Dodol: Atau, mungkin si Derek yang bertato, jadi ortu hubby-nya ga setuju?
Posted by JJ | 18 juli 2008 23:15
Posted on 18 juli 2008 23:15
Ngomongin tato ABC,
http://darkfolkloreart.wordpress.com/tattoo/
Ada Minyak Tawon segala.
Posted by Dodol Surodol | 19 juli 2008 21:46
Posted on 19 juli 2008 21:46
dodol & Jenny:
jadi, si derek bertato, sehingga setiap mau ketemu camer disuruh nutup2in semua tatonya. Terus pacarnya si derek, juga bertato jadi orang tua derek nggak suka. Puas? hahaha.
Popi:
bukannya tatonya gambar sendok-garpu terus tulisannya 'selamat menikmati' ?
atta:
:)) sibuk ya neng sekarang?
sofian:
:)
dodol:
bussseeeet :))
Posted by okke | 20 juli 2008 11:17
Posted on 20 juli 2008 11:17