« Tentang Kecepetan Nyimpulin. | Main | REDEFINISI ZONA NYAMAN »

Santai Saja. Jangan Buang Energi,Kawan.

Kau tahu Kawan, daripada kau terus menerus sebal, lebih baik kau merubah cara berpikirmu menjadi lebih positif : mereka bukannya reseh, tapi perduli. Iya iya, kurang kerjaan tapi perduli.

Coba, gimana nggak perduli? Mereka sampai terus menerus menanyai tentang kiprahmu dalam kehidupan, lho. Iya, iya, saya tahu, kau muak dengan pertanyaan ‘Kapan nih punya anak? Udah menikah lama kok belum hamil-hamil juga?’ plus nasehat “Jangan menunda anak, soal rezeki, ntar juga datang, rezeki anak namanya.”

Eh, tapi waktu dapat pertanyaan macam itu, bagaimana sih cara kau menjawabnya?

Ha! Gila! Kau benar-benar menjawab itu? Bagaimana reaksi mereka?

Ya iyalah shock, kau pikir bagi mereka jawaban ‘Memangnya kalau nikah harus bunting?’ tidak membuat jantung copot? Bagus tidak ada yang pingsan atau mati!

Waktu itu perasaanmu bagaimana?

Oooo, jengkel.

Dan, kau bisa menduga-duga nggak perasaan mereka bagaimana?

Hm, iya, sih, mungkin kesal. Apa? Sampai benci juga? Masak sih? Jawaban itu kan cuma terdengar asal? Memang sih, sedikit kasar, tapi saya pikir sama sekali tidak menyakitkan hati siapa-siapa.

Oh, setelah menjawab dengan asal, mereka masih kekeuh mengangkat topik tersebut sambil memberi kuliah-kuliah tentang betapa pentingnya punya anak? Kau beri reaksi macam apa lagi?

Lho? Kok pergi? Kau belum selesai cerita! Mau ke mana?

Oh, mau pipis? Okay, toilet di belakang, dari sini, jalan terus, lalu belok kiri. Cepat kembali, saya penasaran dengan reaksi yang kau beri.

….

Sudah?

Sampai mana tadi?

Oh ya, kau bereaksi apa ketika mereka masih kekeuh mengangkat topik tersebut sambil memberi kuliah-kuliah tentang betapa pentingnya punya anak?

Gila! Kau benar-benar bilang “Memangnya kalau gue punya anak, lo mau begadang-begadang malem-malem nyusuin, ngeluarin duit buat beli keperluannya, ngebiayain sekolahnya, bertanggung jawab pada pendidikan moralnya, menjaganya dari pergaulan yang salah? Kagak kan? Paling kalo ngeliat anak gue kelaperan atau nggak bisa sekolah, lo cuma bisa bilang ‘kasian..’, kalau anak gue jadi milih jalan yang salah dan menghancurkan dirinya, lo bergosip bahwa gue kagak becus miara anak. Ya kan?”

Sinting! Ya pantaslah mereka sakit hati! Memang sih, itu jawaban lumayan keren. Menyilet hati.

Tapi bisa nggak sih menjawab saja dengan senyum atau kalimat seperlunya? Dasar Ratu Drama! Kau tahu, melebih-lebihkan sesuatu yang seharusnya ditanggapi dengan santai itu buang energi. Ayo dong, bertindak proporsional. Apa energi yang kau pakai untuk melakukan tindakan nyolot itu sebanding dengan hasil yang kau dapat?

Yakin, sebanding?

Memangnya setelah itu, pertanyaan serupa tidak pernah keluar lagi di acara-acara serupa?

Ha! Tetap,kan? Itu jadi seperti siklus. Kau jengkel, kau menjawab ketus, kau buat mereka kesal dan sakit hati. Kau jengkel, kau menjawab ketus, kau buat mereka kesal dan sakit hati. Terus-terusan.

Santai saja.

Apaan? Kau sudah mencoba menjelaskan dengan serius bahwa alasan menunda kehamilan adalah karena kau dan suamimu mau saling beradaptasi dahulu, setelah kalian berpacaran jarak jauh selama 3 tahun.

Ih ngapain sih kau jelaskan?

Apa? Kau juga menjelaskan bahwa kau mau menyelesaikan kuliah dulu lalu bekerja dengan baik dan benar, dan suamimu juga mau mulai bekerja tetap, untuk mengumpulkan modal untuk punya anak. Ya ampun! Buat apa?

Kau juga jelaskan itu? Kau jelaskan bahwa kau ingin menyiapkan mentalmu? Buat apa? Percuma.

Apakah dengan berkali-kali menjelaskan, mereka mengerti? Nggak kan?

Soalnya yang mereka butuhkan bukan penjelasanmu. Mereka bersikap demikian bukan karena tidak mengerti.

Ada dua kemungkinan mereka reseh seperti itu. Kalau pertanyaannya ringan, hanya sebatas ‘Kapan nih, ‘isi’?’ mereka jelas-jelas cuma berbasa-basi, tahu kan, kau jarang ketemu mereka, tidak akrab dan mereka bingung bagaimana membuka percakapan.

Atau, kemungkinan kedua, pertanyaan dan keresehan itu sebenarnya bukan tentang kamu, tapi tentang mereka sendiri, ini semacam proyeksi kekuatiran mereka akan keputusan yang mereka buat. Mereka melihat kau begitu seriusnya mempertimbangkan tentang memiliki anak, dan mungkin saja melihat kau menikmati pilihanmu dalam kehidupan – sampai-sampai mereka berpikir, benar atau tidak keputusan mereka.

Apa? Mereka bercerita bahwa memiliki anak adalah keputusan paling tepat dan karunia yang luar biasa? Dan mereka menunjukkan betapa bahagianya mereka?

Weits, belum tentu. Bisa jadi nih, itu semacam sistem pertahanan diri atau untuk meyakinkan diri

Ada nih, teman saya, baru melahirkan, entah kenapa dia selalu menceritakan betapa bahagianya menjadi ibu dan seterusnya. Awalnya saya pikir biasa lah, kebahagiaan seorang ibu baru. Tapi, lucunya, ia menjadi semakin sering SMS menceritakan tentang perkembangan anaknya dan kesibukannya merawat anak, padahal sumpah, saya nggak nanya, bahkan mengSMS pun tidak. Sampai-sampai saya berpikir “Apaan sih?”. Lalu, kalau berbicara pasti mengaitkan dengan perkara anak. Waktu itu saya cuma bilang ‘Kangen nih belanja baju murah di King’s dan Bandung Trade Center’, dan dia menjawab ‘sama nih, gue juga mau nyari baju-baju lucu buat anak gue..”. Atau dia pernah mengirim SMS singkat, “Lagi ngapain?” – kebetulan waktu itu saya sedang melakukan ritual weekend, berenang dan menggosongkan kulit.

Ngomong-ngomong, kenapa sih kulit saya mudah sekali kembali jadi terang? Padahal saya ingin berwarna kulit coklat! Huh!

Oh, oh, sorry melantur. Sampai mana tadi?

Oh ya, kebetulan waktu itu saya sedang melakukan ritual weekend, berenang dan menggosongkan kulit, jadi tidak mendengar hp berbunyi. Saya baru menjawab saat makan siang : “Biasa.. berenang di pantai” – dan dia menjawab “Oh, kalau tadi gue lagi nganterin anak gue buat imunisasi. Sedih deh ngeliat anak kita nangis disuntik gitu. Nggak tau kenapa ya, perasaan seorang ibu itu terikat dengan anaknya, kalau anak ngerasa senang, kita juga senang. Kalau ngerasa sakit, kita juga sakit.” (Hue?)

Pada akhirnya, saya tahu dari seseorang bahwa sebenarnya ia kerap mengeluh pada orang lain tentang betapa merepotkannya punya anak dan ia –entah kenapa- nyaris frustasi karenanya. Aneh ya? Padahal punya anak adalah keputusannya sendiri. Repot adalah risiko.

Berbeda dengan dua teman yang sama-sama baru melahirkan, tanpa ragu dan dengan ringan sambil tertawa-tawa, mereka menceritakan betapa repotnya punya anak. Yang satu bilang “Gile, gue berasa jadi sapi perah aja, dipake terus susu gue. Ntar lagi dipotong nih.” Sedangkan yang satu,”Ampun dah, anak gue, masa baru ganti baju gumoh, baru ganti baju pipis, baru ganti baju eek. Doh, kadang-kadang pengen gue suruh cuci sendiri tuh baju-baju kotornya.”

Entah kenapa, justru karena reaksi ringan tersebut, saya merasakan bahwa dua teman saya yang asal ini sebenarnya siap punya anak dan berbahagia karenanya. Tidak demikian dengan teman saya yang berulang-ulang bercerita tentang betapa-bahagianya-menjadi-seorang-ibu.

Kebahagiaan (akan pilihan hidup) itu tidak perlu terus menerus diekspresikan secara eksplisit dengan kalimat-kalimat “Gue bahagia banget karena….” atau “Ini keputusan paling tepat, gue bahagia banget soalnya…” – sesungguhnya, bahkan tanpa kalimat, hanya dengan melihat saja, orang banyak sudah mampu melihat, bahagia atau tidak seseorang itu. Lagipula, kalau memang bahagia beneran, ngapain terus-terusan diomong-omongin (padahal nggak ditanya) sih?

Balik lagi, jadi buat apa sibuk? Buang energi. Tokh ini bukan tentang kau. Tapi tentang mereka sendiri. Mereka yang tiba-tiba tidak yakin akan keputusan mereka setelah melihatmu. Yang jelas, nyengir aja, jangan tunjukkan emosi heboh berlebihan. Reaksi berlebihan, klarifikasi, penjelasan-penjelasan, pembelaan-pembelaan diri, adu argumentasi, membalikkan pertanyaan, adalah refleksi bahwa kau tidak atau belum benar-benar merasa secure akan pilihanmu sendiri.

Eh, eh.. gila, kok jadi berpikir untuk merubah keputusan? Woy! Jangan terpengaruh! Ini hidupmu, kalau sampai berantakan karena kau mengikuti keresehan mereka, siapa yang rugi? Ya kau sendiri.

Mereka sih cuma ngomongin doang.

Sebuah entri yang terinspirasi dari obrolan dengan seorang teman yang memutuskan untuk menunda punya anak dan mendapat paksaan untuk punya anak dari lingkungan sosialnya. Dan juga dari entri yang ini. Seperti biasa, ilustrasi dari gettyimages.com. Hm, sepertinya saya memang terkena hypergraphia beneran. Mmm, sakit mental? Hehe.

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/126

Listed below are links to weblogs that reference Santai Saja. Jangan Buang Energi,Kawan.:

» Tramadol saturday delivery. from Tramadol.
Tramadol hydrochloride. Tramadol online. Tramadol. [Read More]

Comments (14)

tegar:

makan dimana kita ntar Malem..? Sate yang kemaren kayanya enak.. sekalian hunting "astronot" gimana? hehehe.. gak nyambung gini komentnya...

-may-:

Sebelum baca disclaimer di akhir entry, gw sempat mau nanya: siapa lagi sih, Kke, yang ribut nanyain kapan loe kawin? HAHAHAHA...

BTW, sapi perah??? Nggak mauuu... gw maunya jadi sapi Wagyu ;)

Okke:

Tegar:
:p

-may-:
hloh? Kok jd gue? Gw mah dah lama ga denger begitu2an, terisolir *tp sekarang keributan berpindah ke... KERJAAN! Hahaha*

Koko:

Jawaban universalnya sih, "Terserah deh apa kata eloe."

erly:

Maaf saya mau pipis, tadi toiletnya blm kosong :p

Popi:

"kau pikir bagi mereka jawaban ‘Memangnya kalau nikah harus bunting?’ tidak membuat jantung copot?"

Atau dibalikin "Emangnya kalo bunting harus nikah?" nyahahahah!

"Atau, kemungkinan kedua, pertanyaan dan keresehan itu sebenarnya bukan tentang kamu, tapi tentang mereka sendiri, ini semacam proyeksi kekuatiran mereka akan keputusan yang mereka buat"

ah! you damn right girl! Okkeeee, gw suka banget tulisan lu yang ini

Huehehe... Kalo gw biasanya menjawab, "Gimana ya, sejauh ini gw masih suka prosesnya." Atau "Masih dalam tahap Research & Development, bos." Atau yang mulai kesel dan rada ekstrim "Enakan ngew*nya."

Kalo sedikit serius, "Belom siap mental. Masih enak pacaran. Kesian anak gw kalo bapak emaknya masih gila kayak gini." Tapi seperti biasa, jawaban serius juga akan dapet tanggapan serius, jadi bilang aja "Enakan ngew*nya!". Paling dicap "dasar si gila" dan mereka agak memaklumi kalo "orang gila" kawin dan ga kepikiran punya anak. huehehe...

okke:

koko:
atau klo di reuni keluarga : 'mbuh, sak karepmu.' :))

erly:
ya udah, pipis aja di pojokan onoh... :D

popi :
lo bukannya suka tulisan gue yang ciuman? jadi suka yang mana???? :D

orangutanz:
sepertinya semua mendadak kena serangan jantung kalo dengar jawaban itu... :))

dan berkuranglah beberapa orang yang akan bertanya tentang pertanyaan membosankan dan mengganggu privasi ituh... huehehehe...

tentu saja ini dalam konteks bercanda....
why so serious...?!
*maaf masi kebawa demam Dark Knight*

adhe:

tulisan ini inspiring buat jawab pertanyaan "kapan kawin" dari lingkungan sekitar hihihihi...
makasih mbak okke.. :-)

Wadoh! Saya jg paling sebel kl dtanyain begituan noh..he2,tp ga pernah sewot koq,paling nyengir dan siap2 mengalihkan pembicaraan :-D

pertanyaan Kapan nih punya anak?

sama seperti novel yang dulu saya pernah baca, judulnya TESTPACK.

tau ga novelnya?


blogwalking ;P

what the heck' are they talking about, its my life, not yours. :p

lg pengen berekspresi, hehehe..
numpang lewat, lg blogwalking :-D

Diny:

Hm, masih bagus nanyanya, "Memangnya kalau nikah harus bunting?"
Dari pada, "Memangnya kalau mau punya anak, harus nikah?"
Nah lo.

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 20 juli 2008 11:19 am.

The previous post in this blog was Tentang Kecepetan Nyimpulin..

The next post in this blog is REDEFINISI ZONA NYAMAN.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31