« Santai Saja. Jangan Buang Energi,Kawan. | Main | Seandainya Saya Jadi Dia.... »

REDEFINISI ZONA NYAMAN

Dulu, saya pernah menderita sindrom rumput tetangga lebih hijau, tapi tidak akut. Hanya kambuh sesekali, terutama jika melihat teman-teman yang pekerjaannya jalan-jalan melulu. Sementara saya, terjebak dalam aturan kantor yang hanya membolehkan saya cuti 12 hari dalam setahun. Tapi berhubung sebelum ‘bekerja dengan gedung yang jelas’….

….sebentar, sebelum saya lanjutkan, baiknya saya jelaskan dulu maksud dari ‘bekerja dengan gedung yang jelas’.

Jika anda, mendapati pertanyaan ‘Kerjamu apa?’ dalam kesempatan apa pun, setelah menjawab, maka anda akan menerima pertanyaan susulan : ‘Kantornya di mana?’

Nah, jika anda bisa menjawab dengan jelas nama kantor serta alamat, maka itu artinya anda ‘bekerja dengan gedung yang jelas’. Nah, kalau anda tidak bisa menjawab karena sebenarnya anda bekerja dari rumah atau anda freelancer di berbagai tempat – nah itu, artinya anda ‘bekerja dengan gedung yang tidak jelas’. Biasanya, pekerjaan dengan gedung yang tidak jelas akan banyak mengundang kerutan di jidat penanya, terutama jika yang bertanya adalah orang-orang yang berasal dari generasi sebelum kita.

Okay, kita lanjutkan. Sebelum ‘bekerja dengan gedung yang jelas’ saya sempat juga menjadi freelancer serabutan, jadi saya sadar sesadar-sadarnya, bahwa semua hal, tidak boleh dilihat dari yang enak-enaknya saja, selalu ada dua sisi – enak dan tidak enak. Ada risiko dan kesempatan. Saya sadar bahwa setidak enak-tidak enaknya memiliki pekerjaan saya (waktu itu), pasti ada hal enak yang bisa saya dapat, dan seenak-enaknya pekerjaan jalan-jalan melulu, pasti ada juga hal yang tidak enaknya.

Tapi sepertinya hal tersebut tidak disadari oleh seorang teman. Saya pikir ia adalah penderita sindrom rumput tetangga lebih hijau akut. Sejak saya memutuskan untuk resign dari kantor lama saya dan memilih pekerjaan seperti sekarang ini, ia selalu berkata “Duh, enak ya jadi elo, udah berhasil ninggalin zona nyaman lo.” – sampai sekarang, terakhir saat kami mengobrol melalui telepon weekend kemarin.

Awalnya, saya sering menjawab dengan celaan-celaan “Ya iyalah enak – idup gue rock ‘n roll abis, kagak jelas, dari jadwal sampe bayarannya. Rame, siah.” Atau, “Aduh, udah lama nih, gue nggak kesemutan karena kelamaan duduk di kursi kantor.”, atau,” Enaknya jam lima-an ngapain ya? Jalan ke pantai ah, nungguin sunset.”, atau “Biar mampus lo berkerak di kerjaan kayak gituan.” Atau… sejuta variasi celaan ngeselin dan belagu lainnya.

Tapi berhubung sampai sekarang ia selalu mengatakan itu, lama kelamaan saya jadi sebal. Pernah saya bilang pada yang bersangkutan : hidup kayak gini nih nggak segitunya, deh. Ya itu tadi, selain ‘kekacauan asyik’ yang saya hadapi sebagai kesempatan karena memilih jalan seperti ini, ada juga risiko saya harus menghadapi ‘kekacauan amit-amit’ sebagai risikonya.

Anyway, dalam perbincangan terakhir kemarin, ia mengeluhkan betapa ia sebal pada pekerjaannya yang sekarang.

“Kenapa nggak resign aja?” Tanya saya.

Menurutnya, ia takut.

“Lo tau dong, yang namanya zona nyaman kan adiktif, semenyebalkan-menyebalkannya tempat kerja gue, tapi gue mulai tergantung dengan kondisi dan situasi yang ada.”

Ini maksudnya, ia tergantung pada pemasukan rutin berjumlah sekian setiap bulan, fasilitas ini-itu, bonus ini itu, teman-teman kerja yang menyenangkan, dan semua kesempatan yang ada. Hal itu membuat ia terlena – dan malas untuk bergerak keluar dari sarang zona nyaman-nya. Saya bisa melihat bahwa ia juga ketakutan untuk menghadapi hal baru.

Saya sempat bilang padanya, bahwa sebenarnya kalau soal bertahan hidup, di mana saja kita bisa bertahan hidup, bahkan saya sempat mengutip kalimat bijak “Burung pipit yang terbang dan bunga bakung di ladang aja dipelihara dan bisa hidup…” (dan jawaban standar teman saya adalah : ‘Masalahnya gue bukan sebangsa unggas atau flora.)

Lalu saya meyakinkan dia, bahwa jagad raya itu benar-benar melindungi kita. Saya juga menegaskan bahwa yang namanya ‘rejeki musafir’ itu pasti ada. Bahkan saya beri juga contoh : Ketika saya berniat untuk setiap weekend berenang di pantai, bahkan di akhir bulan saat uang untuk transportasi menipis sehingga untuk mencapai tempat tujuan harus berjalan kaki 2 jam – eh, sebelum weekend, kadang-kadang saya mendapat rezeki, entah itu tiba-tiba mendapat uang transport dari LSM lokal partner yang meminta saya sebagai tenaga trainer, atau tiba-tiba ada teman yang membayar hutang, atau kalau pun tidak ada rezeki dalam bentuk seperti itu, di tengah jalan selalu ada orang yang mau memberi tumpangan untuk pergi ke tempat tujuan dan pulang. Ketika sedang lapar, tiba-tiba tetangga membawakan jagung hasil panen kebunnya. Ketika haus di tengah jalan dan tidak ada tanda-tanda perumahan atau orang yang menjual minuman di sekitar, tiba-tiba ada orang yang baru turun dari pohon kelapa dan rela membagikan kelapa muda hasil petikannya untuk diminum. Ketika kemalaman dan kehabisan kendaraan, tiba-tiba ada yang memberi tumpangan tinggal. Ini tidak selalu terjadi, tapi cukup sering.

Walhasil, sindroma rumput tetangga lebih hijau teman saya menjadi lebih parah. Ia tampak tersirik-sirik, sampai… saya mengeluarkan kalimat…

“Seriusan, rezeki musafir itu ada, gue yang tadinya takut dan mikir bisa survive apa enggak, akhirnya sekarang sangat menikmati hidup kayak gini, sampai-sampai setiap mikirin kalo gue hidup ga gini, gue ngeri sendiri. Nggak kebayang gue harus balik lagi kerja ‘normal’ kayak dulu.”

Dan dia pun terkekeh. Ia bilang : “Ha! Lu juga udah masuk dalam zona nyaman versi lo. Lo mulai tergantung dengan kondisi dan situasi yang ada, mulai kebiasa dan ini semua bikin lo malas untuk bergerak keluar dari sarang zona nyaman lo. Seperti gue, lo juga ketakutan untuk menghadapi hal baru.”

Saya tercenung, lalu merasa bahwa teman saya benar.

Selama ini definisi zona nyaman dalam benak adalah kondisi serba menyenangkan, bahagia, tenang dan tenteram di mana semua kebutuhan selalu terjamin.

Tampaknya, saya perlu meredefinisikan zona nyaman menjadi : kondisi yang tidak harus serba menyenangkan, bahagia, tenang dan tenteram di mana semua kebutuhan selalu terjamin. Zona nyaman hanyalah sebuah kondisi yang, dengan bermacam cara mampu membuat orang-orang ketagihan, stagnan dan malas mencari hal baru!

Semua bisa menjadi zona nyaman. Bukan hanya kondisi memiliki pekerjaan well-paid saja. kondisi kekeuh patah hati sehingga membuat teman-teman di sekelilingnya geregetan, kondisi berpacaran dengan bayi tukang merajuk, kondisi menjadi pengangguran dan dibiayai orangtua sampai gedhe tuo, kondisi tetap menjadi bodoh padahal kesempatan menuntut ilmu sedang terbuka – dan lain-lain.

Semua itu memiliki kekuatan magis atau hal adiktif tersendiri, yang membuat orang-orang di dalamnya malas beranjak.

Perlukah saya berkata pada diri saya sendiri : “selamat datang kembali di zona nyaman!” ?

Jelang keberangkatan ke Lorosae untuk terakhir kalinya (tahun ini).

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/127

Comments (18)

Popi:

Wah! lu ke timor lagi ke? lu nulis buku dong tentang petualangan lu ke berbagai tempat itu

wah berarti saia termasuk orang yang bekerja di 'gedung tidak jelas' dunks

Silverlines:

Komen nggak nyambung boleh ya 'kke?
Fotonya bikin kangen Timor ... :(

-may-:

Ya iyalah.. kalau loe masochist, maka zona nyaman loe adalah bersama orang yg gemar menyiksa :) Cuma selama ini zona nyaman diidentikkan dengan "serba enak" karena rata2 orang merasa nyamannya pada keadaan serba enak :) Kan sebagian besar orang tidak masochist.. hehehe...

BTW, sudah berakhir? Balik Timor lagi? Bakal jarang hypergraphia lagi dong ;)

adhe:

merenung...

sy kalo ditanya malah jwbnya "pengangguran" :P

okke:

popi:
yoi, masih minggu depan seh. :)

herdianto:
karena setiap ditanya "dimana kantornya" anda nggak bisa jawab? hehehe

silv:
makanya marii yuk yuk marii :)

-may-:
hypergraphia masih, di laptop aja.. tapi gw jadi hiperaktif bu, masa kemarin gue mandiin 8 anjing ibu kos gue? :))

adhe:
yak? dapat pencerahan?

didut:
pasti ini juga menimbulkan kerutan dijidat.

-may-:

Kalau mandiin anjing 8 ekor mah bukan hiperaktif. Mungkin Obsesif-Kompulsif... HAHAHAHA...

tris:

hmm..zona nyaman akan berbeda bagi setiap generasi.

mmm...zona nyaman.
biasanya klo dah mpe 3 th-an bertahan di 1 coy, kena deh tuh zona nyaman.

makanya g jadi kutu loncat. sblm 3 thn, evaluasi...nyamankah aku? hehehe.....

Menohok....
terima kasih tamparannya....


Wah! Tanggal 25! Rutinitas gajian yang menyenangkan!!!!!

tidak akut, kambuh sesekali
emm... itu kalo ga salah namanya kronis :D

b e n e r r r r . . .

zona nyaman itu adalah ketika kita sadar kalau kita tercukupi dengan ketidaksadaran kita [halah..]

lo gt saia ganti namanya zona PW aja dech :p

Halo,salam kenal mb Okke. I like this blog :D eniwei, jd penasaran ma Timor Leste, ada lowongan volunteer dokter g mbak? He3 :D

hmmm.jadi mikir juga, nih

timor lorosae... :) ke Ende dunk, mbak ^^; hehehe...

ternyata......semua kita sangt tergntung dgn zona aman!!!

termasuk dirikita yang mencari zona lain yang menurut kita mau keluar dari zona aman sebelumnya.....

dan akhirnya kita tiba di zona yang juga membuat kita nyaman......klo tidak kita juga tidak akan betah berlama2

manusia butuh kepada zona aman, walaupun kita sering mengingkarinya dan seolah menjauh dan keluar dari zona tersebut, tapi suatu kita juga akan berhenti pada zona aman lainnya.......

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 23 juli 2008 7:53 am.

The previous post in this blog was Santai Saja. Jangan Buang Energi,Kawan..

The next post in this blog is Seandainya Saya Jadi Dia.....

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31