Membicarakan Cataglottis
Entri ini untuk memenuhi permintaan ibu Brokolisehat, mumpung lagi hypergraphia.
Perempuan (saya, maksudnya) itu, sering menganalisa segala hal yang ada pada pasangan, untuk menguji apakah 267onship mereka berjalan baik-baik saja atau tidak.
Serius.
Perempuan punya standar-standar perilaku tertentu yang dipasang untuk menguji kualitas perasaan teman kencan padanya. Kalau tidak memenuhi standar, sebenarnya perempuan sudah merasa bahwa he’s not into her. Cuma, jeleknya, perempuan suka memungkiri; nggak jarang kalimat “Oh, teman kencan gue yang sekarang emang beda, anaknya cuek, nggak bisa disamain sama teman kencan-teman kencan gue sebelumnya.” akan dikatakannya berulang-ulang demi menenangkan diri sendiri
Ia akan terus demikian, sampai satu titik dia hampir merasa frustasi – dan membutuhkan opini kedua,ketiga, keempat, kelima bahkan seterusnya…
Kalau teman kencan kita jarang banget ngehubungin, kecuali untuk saat-saat genting, macamnya gue sakit, atau gue kejebak sesuatu, itu karena he’s not into me, atau he’s just plain lempeng?
Kalau sudah sampai titik demikian, SMS serupa yang di atas pun mulai disebarkan pada teman-teman perempuan lainnya, sambil berharap, bahwa semua menjawab : Itu karena dia lempeng aja, buktinya dia masih merhatiin lo pas saat-saat darurat.
Serius.
Anyway, sekali lagi, perempuan senang menganalisa segalanya, mulai dari frekuensi menelepon, gesture pasangan saat bersama-sama, cara menatap, cara menyentuh – bahkan juga dalam urusan melatih otot pengerut bibir yang bernama Orbicularis Oris, alias berciuman. Dalam kasus ini tentunya French kiss ya, yang sebelum dikenal dengan nama ini, memakai nama Cataglottis dari Cata yang artinya ‘bawah’ dan Glottis yang artinya ‘tenggorokan’.
Jika dilihat dari prosesnya, berciuman itu adalah sebuah proses komunikasi.
Dalam SMCR Communication Model, hal-hal yang terlibat dalam sebuah proses komunikasi adalah S (Sender), M(Message), C(Channel) dan R(Receiver).
Sender adalah pengirim pesan, Message adalah pesan yang hendak disampaikan, Channel adalah saluran atau cara menyampaikannya, yang biasanya menggunakan 5 panca indera (melihat, membaui, menyentuh, merasakan dan mendengar), sedangkan Receiver adalah sang penerima pesan.
Melalui berciuman, terjadilah proses komunikasi dengan channel yang menyeluruh. Yup, berciuman itu melibatkan aktivitas melihat, membaui, menyentuh, merasakan dan mendengar.
Melalui berciuman, semua orang yang terlibat di dalamnya bisa menyampaikan beragam pesan : I love you, I lust you, I need you, I want you, please don’t go, bahkan sampai I hate you please stay away from me. Melalui berciuman juga semua orang yang terlibat di dalamnya bisa menangkap berbagai pesan dari pengirim alias partner berciuman.
Ada beberapa teman perempuan yang mengatakan bahwa berciuman adalah mate assessment device. Hm, bisa jadi. Mungkin juga ini yang menyebabkan perempuan-perempuan sangat pemilih, mereka hanya bersedia berciuman dengan orang-orang yang dianggap prospektif sebagai pasangan.
“Lo ma dia ciuman?”
“Kagak.”
“Kok? Kan keren gitu orangnya?”
“Iye, keren-keren egosentris, ngomongin diri sendiri, males. Nggak minat lah gue.”
Atau
“Kagak lah, kagak ada chemistry gitu, mana mau gue ciuman..”
Bahkan ada juga yang pada akhirnya menjadikan ciuman sebagai tolok ukur perasaan teman kencannya.
“Gue tau perasaan dia ke gue gimana.”
“Dari mana?”
“Dari ciumannya. Ciumannya membuat gue merasa dicintai, disayangi – gue merasa cantik, gue merasa yadda yadda yadda…”
Atauu
“Gue tau dia masih sayang gue…”
“Dari?”
“Ciumannya…”
Atau..
“Keliatan banget dia menyesal karena kelakuannya..”
“Dia minta maaf langsung?”
“Nggak, tapi dia mencium gue, gue tau itu cara dia meminta maaf.”
Yup, ada kalanya perempuan merasa yakin bahwa hubungan mereka baik-baik saja setelah berciuman. Ketika yang terjadi sebaliknya, bingunglah mereka, ”Tapi… cara dia mencium gue….kok…”.
Gitu deeeeh.
Ciyeh.
Saya pernah mengirimkan sejumlah SMS, pada teman-teman perempuan dan laki-laki mengenai hal ini.
Pertanyaan saya kurang lebih, (1) Apakah arti sebuah ciuman buat anda dan (2) Apa yang anda harapkan dari pasangan anda melalui ciuman.
Jawabannya beragam, Untuk pertanyaan nomor satu : ada yang menjawab secara gamblang : Jujur? Sex. (dan harap dicatat, penjawab adalah pria.) dan ada yang menjawab bahwa berciuman adalah cara untuk mengekspresikan rasa sayang, cinta dan seterusnya terhadap pasangan (Ini perempuan). Ada yang muter-muter, sampai pada akhirnya tiba satu jawaban penyaluran hasrat (Ini pria dan perempuan yang menjawab). Ada juga yang menjawab, bahwa pertanyaan-pertanyaan saya adalah hal yang pribadi antar pasangan, bukan untuk disebarkan. Ooops, saya lupa kalau tidak semua orang bisa terbuka untuk masalah beginian. Maak, Mbaf, Desculpa, I am sorry. Punten.
Saya tahu bahwa pertanyaan saya kurang signifikan dan tidak mengarah ke apa yang saya mau. Akhirnya, saya pun mengirim SMS lagi : Apakah ciuman itu bisa menjadi ukuran perasaan (afeksi) anda pada partner berciuman anda?
Jawabannya?
Pria : bisa iya, bisa enggak. Belum tentu. Nggak lah. Ciuman ya ciuman, bisa berarti, tapi nggak selalu begitu juga.
Perempuan : Tentunya. 95% iya.
Jedeng.
Ketika saya menerima semua SMS tersebut, saya baru sadar, bahwa saya telah melupakan fakta bahwa dalam proses komunikasi lainnya pun sering terjadi kesalahan penyampaian pesan yang disebabkan oleh banyak faktor.
Jadi salah banget (perempuan-perempuan) kalau sampai menjadikan berciuman sebagai objek analisa perasaan pasangan padanya, karena hasilnya tidak selalu akurat.
Jadi inget line yang disebutkan oleh Faye pada Jimmy dalam film That Thing You do :
Jimmy, from now on, you stay away from me. I have wasted thousands and thousands of kisses on you. Kisses I thought were special because of your eyes and your smile and your lips and all your color and life. I thought that was the real you when you smiled. But now I know that you save it all for your songs. Shame on me for kissing you with my eyes closed so tight.
Ciyeh.
Berciuman itu rumit. Selain secara fisiologis melibatkan koordinasi 34 – 36 jenis otot, bisa menularkan penyakit – ehm, bukan HIV ya, jangan berpikir bahwa HIV bisa menular melalui saliva, walaupun di tahun 1997, memang ada perempuan yang terinfeksi HIV akibat berciuman thok.
Serius.
Tapi itu karena baik sang perempuan, maupun laki-laki pasangan berciumannya yang ODHA mengidap penyakit infeksi gusi dan keduanya memiliki luka terbuka di mulut. Jadi sang perempuan tertular melalui luka tersebut.
Eh sampai mana tadi?
Oh ya, selain secara fisiologis melibatkan koordinasi 34-36 jenis otot, bisa menularkan penyakit Mononucleusis dan herpes, juga sering menimbulkan miskomunikasi yang bisa menimbulkan frustasi.
BTW, trivia, ciuman bergairah bisa membantu membakar sampai 600 kalori perjam. Dan ciuman terlama yang pernah tercatat terjadi di kota New York pada tanggal 5 Desember 2001, antara Louisa Almedovar dan Rich Langley, yaitu berlangsung 30 jam, 59 menit dan 27 detik.
Kesimpulan : mereka telah membakar kurang lebih sampai 18600 kalori.
Huahahha, Anyis! Artikel sok oke dan sok analitis gini :D.



12 Responses to “Membicarakan Cataglottis”
Hahaha.. iya sok analitis! Ciuman ya ciuman aja. Dinikmati.
Tapi artikelnya oke kok. Membuktikan penulisnya expert. Expert dalam hal apa? Menulis ciuman. Haha.
Btw, gw masih buka kursus ciuman ga yah..
Cool Info, ke. Dilengkapi dengan sedikit reserach pula. Salute.
OOT, tiba-tiba koq tulisan di http://www.d14na.wordpress.com ini pernah kubaca, eh tak taunya memang pernah ta’ baca disini…
http://blog.sepatumerah.net/2008/04/ibu_1.html
entah maksudnya apa, tapi semoga tidak bermaksud untuk plagiat :)
Semoga, tante Okke, sehat selalu dan penuh berkat yah! :)
huhuhu…I like this post!
PAS banged sama temen cw yang baru ajah curhat, dan aku lagi baca ini…
langsung deh dia minta dikasih linknya, biar ajah dia suruh baca sendiri :D
hehehe…
bener-bener expert nih mbak okke
hehehe…
nice post anyway…
dita:
mau ngursusin siapa? anak smp udah jago2 sekarang.. masa anak sd? :))
Catlio:
inilah.. akibat hypergraphia…haha
simungil:
hm, mungkin… gw dan diana itu punya ibu yang sama, walaupun perasaan gue ga punya sodara yang namanya diana.. :))
si mungil lagi :
sip :)
adhe:
hahahah… expert paan :P
jadi kissin’ belum tentu punya arti?
Damn!
immie:
Oops :D
Mbak Okke, mau nambahin sedikit. Tidak semua perempuan ciuman dengan orang yang berprospek jadi pasangan. Saya pernah berciuman dengan seseorang karena saya suka dia, meski saya tau dia tidak akan jadi pasangan saya. Kenapa? Karena dia sudah punya pasangan. Gila? Tidak juga, selama tidak ada pihak yang merasa terpaksa. Btw, yang dibahas baru jawaban pertanyaan no. 1. Yang pertanyaan no. 2 nya belum. :-)
sephia:
tapi pake ‘hati’ kaaaan? dirimu tidak berciuman atas dasar iseng doang.. hehe…
huhuhu…
lust in loph
n ada yg bilang: cinta itu persahabatan plus seks (lha! kita ngomong ciuman aja y?!)
Heu…heu…heu…ponakan ku dah gede euy
Leave a Reply