Berawal dari dua buah entry ini dan yang ini. Dua-duanya milik perempuan berusia tiga puluhan (hehe!), dua-duanya adalah partner in crime saya.
Yang pertama, – Youfy, teman dari SD kelas tiga sampai SMP dan satu lagi, Mila, teman saat saya sedang menimba ilmu lagi di sini.
Entri yang pertama menceritakan tentang keterampilan merajut yang belakangan ini tampak digilai orang-orang, yang telah kami kuasai sejak SD. Proyek beres pertama saya adalah bando kuning, proyek beres ke-dua, kupluk bayi warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu, sisanya adalah proyek muluk macam rompi, sweater dan cardigan. Entry ini sekaligus, secara implisit, menceritakan betapa tidak tabahnya saya menyelesaikan proyek merajut besar. Jadi, makanya untuk rompi, sweater dan cardigan, saya sebut proyek muluk, karena benda-benda itu memang tidak pernah terselesaikan sampai sekarang. Mungkin saya memang berbakat jadi konseptor, merancang dan merencana, soal eksekusi serahkan pada para pekerja. (Ini memang pembenaran standar menutupi alasan sebenarnya : males)
Yang kedua, entrynya Mila, menceritakan bagaimana senasibnya kami menjadi mahasiswa-mahasiswa ‘termuda’ di kelas, di mana rekan-rekan lain bersemangat menuntut ilmu, duduk di depan, sedangkan kami masih membawa-bawa kelakuan mahasiswa S1 – nggak ketinggalan kabur ke kantin di tengah kuliah karena lapar dan keasikan ngobrol di sana sampai –tanpa sadar- jam kuliah habis.
Dua potongan kejadian yang pernah menjadi bagian dalam kehidupan saya, yang diceritakan oleh dua orang yang pernah bersilangan jalan dengan saya.
Gara-gara dua cerita itu, semua kejadian sehubungan dengan kegiatan merajut dan berkuliah benar-benar terputar kembali, dengan jelas di otak.
Saya ingat, bagaimana setiap istirahat waktu SMP, saya dan Youfy sibuk merajut, berlomba-lomba menyelesaikan proyek rompi, bagaimana (mantan) pacar pertama saya tiba-tiba sok minta diajari kemudian sukarela sok ikutan membantu; dan yang nyebelin, setiap selesai satu baris, ia mengelap tangannya yang berkeringat di hasil rajutan! Jadinya bagian putih rompi berubah jadi abu-abu. Saya juga ingat dengan jelas bagaimana irinya Youfy ketika pada pelajaran agama Islam – di mana saya tidak harus ikut – melanjutkan rajutan dalam kelas (dan berakhir diomeli guru agama karena dianggap mengganggu konsentrasi.)
Lalu, saya juga masih inget betul, ketika survey ke daerah Gurilaps Palabuhan Ratu dan sekitarnya, yang dijadikan contoh kasus proyek reservasi tempat wisata. Saya, Mila, dan dua teman lain merubah istilah Gurilaps menjadi Gurilem*. (By the way, Mil, Gurilaps itu Gunung, Rimba, Laut, Pantai dan Sungai, bukan sih?). Saya juga masih ingat bagaimana Mila banyak memotret sepanjang perjalanan survey, tapi ketika sampai kembali di Bandung, dengan wajah bersalah dia bilang
“Ehmm.. temen-temen, kabar buruk… filmnya nggak muter.”
*gubrags*,
Saya juga ingat saat anggota kelompok yang tua-tua itu sibuk-sibuk meribetkan mendiskusikan sampai sedetil-detil nggak pentingnya untuk project itu, kita sudah beres dan sibuk ngomongin “Mereka mikirnya ribet amat yaaa?” sambil ketawa-ketawa dan (benar-benar) makan Gurilem, sampai asma salah satu teman kami kambuh.
Saya jadi tersenyum-senyum sendiri mengingat itu semua.
Tapi kemudian, muncul banyak pertanyaan di kepala : apa kabar orang-orang lain yang pernah bersilangan jalan dengan saya ya? Ada 30 anak dalam kelas sewaktu SD, juga kurang lebih segitu untuk SD dan SMP. Ada ratusan mahasiswa di angkatan saya. Ada entah berapa orang-orang yang saya temui di pekerjaan, aktivitas ini itu, klab ini itu, temannya teman. Suaminya teman. Pacarnya teman. Istrinya teman. Ibunya teman. Anaknya teman Ibu. Anaknya teman Bapak. Anaknya..
Okay, okay, itu terlalu banyak, saya juga punya keterbatasan dalam memikirkan SEMUA orang yang pernah bersilangan jalan dengan saya. Saya persempit lagi, menjadi orang-orang yang pernah dekat dengan saya, yang pernah menghabiskan waktu-waktu yang berkualitas dengan saya (Ha? Berkualitas? :D)
Kok rasanya yang masih rutin saling kontak sehingga saya tahu perkembangan kehidupannya berjumlah…
Sebentar..
Ya ampun. Kurang dari dua puluh!
Pada akhirnya saya log in ke dalam akun friendster saya – menjelajah satu demi satu profil teman-teman lama.
Ada yang mendapat beasiswa dan sudah pindah ke salah satu tempat di dataran Australia sana. Ada yang baru punya anak. Ada yang jadi pengusaha butik online. Ada yang sudah cerai. Ada yang baru kehilangan ayahnya.. Ada yang ini – ada yang itu.
Waduh! Kemana saja ya saya?
Sudah lah, nggak usah dijawab, ini nggak bener-bener bertanya,kok.
….
Saya memang punya kecenderungan untuk autis, asyik dengan kesibukan sendiri. Padahal saya tidak pernah dengan sengaja bermaksud untuk mengabaikan teman lama – keautisan saya yang membuat saya demikian.
Memang sih, sekali dua kali saya sempat berpikir, mereka masih ingat saya nggak ya? Kalau sudah begitu, saya mulai mengontak mereka satu per satu. Biasanya ketika saya menghubungi mereka lagi, kami akan bernostalgia, dan itu membuat hati saya menghangat – mereka masih ingat saya. Seharusnya, setelah berkontak, nggak berhenti sampai di situ saja kan? Nah, seringnya saya mengulang perbuatan yang sama. Sekali mengontak, kemudian asyik dengan kesibukan sendiri, menghilang dan baru muncul, sebut saja tiga bulan sampai setahun ke depan. Kalian begitu juga nggak sih? Atau ini cuma masalah saya saja?
Satu malam, sekitar dua minggu yang lalu, saya ditelepon oleh seorang teman, salah satu yang masih sering berhubungan dengan saya.
“Kayaknya gue emang payah banget ya dalam menjaga pertemanan.” Kata saya di tengah-tengah pembicaraan.
Ternyata dia pun sama. Kami mengobrol ngalor ngidul ngulon ngetan, sampai pada satu kesimpulan bahwa berteman itu seperti hendak meraih ranking satu di masa SD, dibutuhkan belajar keras untuk mendapatkannya. Berteman itu bukan sekedar sering hang out bareng saja, tapi di dalamnya termasuk berkonflik, untuk mencapai kecocokan. Sampai satu titik di mana kami bisa mengerti, bertoleransi, sepikir bahkan – ini jarang sih, susah soalnya - kalau beruntung, merasa menjadi one soul in two bodies. Tapi untuk mempertahankannya, dibutuhkan usaha yang lebih keras lagi, lengah sedikit, raib.
Saya dan teman saya itu harus mengakui, bahwa semua orang yang pernah menjadi teman kami, sangatlah berjasa dalam membentuk diri kami, sehingga seperti sekarang ini. Jadi, seharusnya kami memberi penghargaan lebih buat mereka.
Sejak obrolan via telepon malam itu, sudah dua minggu ini, saya mulai menghubungi teman-teman lama. Ada yang masih nyambung, ada yang sudah tidak. Untuk yang nyambung, ternyata mereka hidup di lingkungan yang kurang lebih sama dengan saya.
Untuk yang tidak nyambung, wajar saja – kami sudah lama tidak bertemu dan sudah tidak berada dalam lingkungan yang keadaannya mirip , yang telah membentuk kami menjadi seperti sekarang ini. Apa yang disebut prioritas bagi mereka, saya anggap sebagai hal remeh temeh, dan apa yang saya anggap penting, mungkin dianggap konyol.
Tidak apa-apa. Saya senang sekali telah mengontak teman-teman saya. Mungkin saya akan ‘melatih’ diri saya untuk tidak terlalu ‘autis’ lagi. *mungkiiiin*
Yang jelas, saya benar-benar berterima kasih, karena mereka telah menjadi bagian dalam hidup saya.
Untuk Mila dan Youfy, terima kasih karena telah mengingat dan mengingatkan saya.
*Gurilem itu semacam penganan yang pedasnya ampun. Biasa disebut krupuk setan,atau kerupuk bondon. Yang saya nggak ngerti, memangnya setan atau bondon… pedas?
Comments (10)
Hey Ke,
trims juga sudah menjadi orang yang pernah bersilangan denganku dalam salah satu episode seru dalam hidupku...saat indah itu meninggalkan banyak kesan untukku...
walaupun sekarang kita sudah jarang bersilangan, i'm glad we still keep in touch by blogging and friendster...you (and other two girls) are always in my heart, no matter where u are and what u do, forever and ever...luv u =X
Posted by cmils | 01 juli 2008 14:17
Posted on 01 juli 2008 14:17
cmilswki: tsaaaah! :))
Posted by okke | 01 juli 2008 14:43
Posted on 01 juli 2008 14:43
hwah, satu lagi yang inspiratif dari mbak okke :-)
mengingat hubungan sayah dgn sahabatsahabat sejak tk sedang merenggang lantaran usaha bertahan yang saya rasa setimpang dan saya dgn semenamena berlaku egois,tak mau membalas sms dan mengangkat tilpun *curcol* maka postingan ini membuat sayah semakin bencibenci tapi rindu jua pada mereka, hiks :-(
perihal menghubungi teman kemudian menghilang sibuk dengan dunia sendiri, sayah pun begitu! dan sampe sekarang masih bertanyatanya kenapa, hehe :-D
*sepertinya komen ini kepanjangan deh, maap yah mbak :-)*
Posted by eva | 01 juli 2008 19:45
Posted on 01 juli 2008 19:45
Hehe.. Sama euy. Jangankan ama temen, ama keluaga (ortu, kakak, adek) juga jarang kontak. Lebih autis saya ya? :-P
Posted by Anis | 03 juli 2008 20:37
Posted on 03 juli 2008 20:37
eva & anis :
oh, leganya, bukan gue sendirian yang autis :D *lho, kok malah cari temen :D*
Posted by okke | 04 juli 2008 09:59
Posted on 04 juli 2008 09:59
misi mbak, mo numpang komen yang OOT, bisa yah? :-D
soal helm-helm-an ituh, disini jugah! malah waktu itu sempat ngeliat ada yang nyetir mobil pake helm! helm standard pula. astagah, ajaib! naek angkot bawa helm, di supermarket, di bank juga. klo liad orang pake helm di bank sering muncul perasaan horor sendiri : 'jangan2 mo ngerampok!' yah maap klo jadi berburuk sangka :-D di ATM pun, teteup ber-helm-ria, walopun pihak banknya udah ngasih pengumuman : 'saat menggunakan ATM mohon helm dilepas' huhuhu..
-hiyah, komennya panjang lagi, mbak *toenk* :$-
Posted by eva | 04 juli 2008 10:35
Posted on 04 juli 2008 10:35
eva:
atau, harus ada aturan lalu lintas : jika mengenakan helm tanpa motor akan ditilang.
Posted by okke | 04 juli 2008 11:15
Posted on 04 juli 2008 11:15
Blog membuat hidup saya bersilangan dengan Okke :)
Dan hey, suatu perjalanan ke Makasar membuat saya bersilangan pula dengan Youfy atau saya biasa panggil Mpoy.
Senang ya.. saling silang..
Posted by dita | 04 juli 2008 17:31
Posted on 04 juli 2008 17:31
Saya juga sering mengabaikan teman lama ... padahal kangen, hehehe ... confession.kom.
akhirnya sering terkaget- kaget sendiri dengan kabar terbaru dari mereka ..dan cuma bilang kok gw ga tau sih?:(
Posted by dien | 06 juli 2008 20:58
Posted on 06 juli 2008 20:58
jadi iri ma bos niy
baru aja reunian SD yang akhirnya dsambung dgn presentasi produk (bisnis pribadi)
[bingung iri yg soal reunian ato kmampuan bos memanfaatkan peluang bisnis] ;p
pokoknya iriiiiii
Posted by danny | 03 augustus 2008 18:01
Posted on 03 augustus 2008 18:01