« juni 2008 | Main | augustus 2008 »

juli 2008 Archives

01 juli 2008

Inget-inget Temen.

Berawal dari dua buah entry ini dan yang ini. Dua-duanya milik perempuan berusia tiga puluhan (hehe!), dua-duanya adalah partner in crime saya.

Yang pertama, – Youfy, teman dari SD kelas tiga sampai SMP dan satu lagi, Mila, teman saat saya sedang menimba ilmu lagi di sini.

Entri yang pertama menceritakan tentang keterampilan merajut yang belakangan ini tampak digilai orang-orang, yang telah kami kuasai sejak SD. Proyek beres pertama saya adalah bando kuning, proyek beres ke-dua, kupluk bayi warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu, sisanya adalah proyek muluk macam rompi, sweater dan cardigan. Entry ini sekaligus, secara implisit, menceritakan betapa tidak tabahnya saya menyelesaikan proyek merajut besar. Jadi, makanya untuk rompi, sweater dan cardigan, saya sebut proyek muluk, karena benda-benda itu memang tidak pernah terselesaikan sampai sekarang. Mungkin saya memang berbakat jadi konseptor, merancang dan merencana, soal eksekusi serahkan pada para pekerja. (Ini memang pembenaran standar menutupi alasan sebenarnya : males)

Yang kedua, entrynya Mila, menceritakan bagaimana senasibnya kami menjadi mahasiswa-mahasiswa ‘termuda’ di kelas, di mana rekan-rekan lain bersemangat menuntut ilmu, duduk di depan, sedangkan kami masih membawa-bawa kelakuan mahasiswa S1 – nggak ketinggalan kabur ke kantin di tengah kuliah karena lapar dan keasikan ngobrol di sana sampai –tanpa sadar- jam kuliah habis.

Dua potongan kejadian yang pernah menjadi bagian dalam kehidupan saya, yang diceritakan oleh dua orang yang pernah bersilangan jalan dengan saya.

Continue reading "Inget-inget Temen." »

04 juli 2008

Tidak Berpihak Itu Tidak Mudah.

23 hari lagi, maka tepat sudah setahun saya hidup bareng dengan banyak orang. Bukan cuma dengan sesama relawan, tapi juga dengan masyarakat lokal, karena tempat kami tinggal berada di sebuah bairo (desa) yang antar rumah ke rumah tidak berbatas. Semua orang bisa masuk keluar rumah dan menongkrong bersama :D.

Jangan tanya berapa banyak konflik yang kami hadapi. Banyak. Bahkan hal kecil macam kebiasaan seseorang menyetel musik rohani atau Britney Spears pagi-pagi dengan keras (haha, kontradiktif kan?) saja bisa membuat saya ingin berkonflik menimbulkan konflik. Belum lagi kebiasaan-kebiasaan lain, macamnya bertanya letak suatu benda berulang-ulang sebelum mencari, cara memasak, pinjam meminjam barang dan seterusnya. Belum lagi kesalahpahaman dengan geng pemuda. Dengan tetangga, juga. Seru.

Tapi sejauh ini, konflik yang kami hadapi, selalu bisa diselesaikan sendiri. Belum sampai membutuhkan pihak ke-tiga yang berperan sebagai mediator. Jadi belum separah sampai pihak-pihak yang berkonflik tidak mau berkomunikasi terbuka dan saling mengerti dan menerima.

Saya pernah menjadi saksi proses penyelesaian konflik besar yang sebenarnya terjadi sudah cukup lama, akibat permasalahan politik. Cara yang dipergunakan adalah mediasi, yaitu ada pihak ke-tiga yang menjadi mediator agar kedua belah pihak bisa berkomunikasi terbuka. Di situ saya begitu mengagumi orang-orang yang berperan sebagai mediator. Gila aja, lho – menjadi pihak yang berada di tengah dua pihak besar yang berkonflik, nggak kebayang, salah strategi sedikit pasti hancur-hancuran.

Dari sana saya melihat bahwa menjadi seorang mediator harus memiliki sikap objektif, netral atau tidak memihak dan tidak menghakimi.

Ada kecenderungan orang untuk melihat segala sesuatu dari ‘kulit’ saja, lalu menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar dari apa yang dicernanya. Nah, menjadi mediator yang baik – benar-benar harus melepas penilaian seperti itu; mereka justru harus berpikir, bahwa segala sesuatu ada alasannya – seseorang melakukan satu hal, pasti ada alasannya. Mediator justru harus mampu mendorong ke-dua belah pihak untuk merasakan ‘berjalan dengan sepatu’ pihak lain – sehingga masing-masing pihak bisa melihat bagaimana situasi sebenarnya dari sudut pandang pihak lain, untuk menimbulkan pengertian di antara keduanya. (ini boros amat kata ‘pihak’, ya?)

Duluuuuu banget, saya pernah terpaksa berada dalam posisi demikian, sumber konfliknya sih sepele : cowok (ha! Males ga sih?). Untuk bersikap tidak berpihak bagi saya saat itu susah jenderal! Saya pun memiliki kesulitan untuk melepaskan sikap ‘menilai dari yang kelihatan’. Saat itu, dengan mudah saya terjebak, menghakimi bahwa si anu salah dan si ini korban, sebelum mendengar alasan-alasannya. Cuma saya masih berusaha untuk tidak terlalu kelihatan memihak, karena sikap keberpihakan bisa membuat perpecahan – kalau saya berpihak pada salah satu, tentu akan menimbulkan rasa terabaikan dan ketidaksukaan dari yang lain. Betapa nggak adilnya itu.

Sayangnya, masalah ini berlarut-larut dan saya tidak punya persediaan kesabaran yang memadai; jadi end upnya, saya mengomel: “Tolol banget sih brantem karena beginian. Mending cowoknya bagus. Ini cuma gitu doang gitu lho! Heran!” Lalu saya pun pergi.

Hasilnya?

Saya jadi tidak dekat dengan keduanya.

Mereka berdua?

Continue reading "Tidak Berpihak Itu Tidak Mudah." »

08 juli 2008

Mi The Wandering Soul : TRUTH HURTS?

Ini sudah bulan ke-lima aku tidak mengetahui keberadaannya. Namun bedanya dengan dulu, aku sama sekali tidak berusaha untuk mencarinya lagi. Sungguh, aku menikmati bayanganku sendiri tentang hubungan aku dan dia. Saking menikmatinya, aku sampai ketakutan untuk menghadapi kenyataan.Bukankah kenyataan itu tidak selalu sesuai dengan bayangan?

Semua itu membuat aku berusaha berkonsentrasi sepenuhnya pada pekerjaanku, Kucurahkan seluruh perhatianku pada semua murid-murid kelasku. Terkadang, keinginan dan rasa penasaran itu mengusik – tapi selalu, dengan sekuat tenaga kucoba untuk menghilangkannya.

Sampai satu saat, Nadine, sahabatku tiba-tiba memberi tahu bahwa ia akan mengunjungiku.

Dan di sinilah aku, di bandara Comoro, Dili, menjemput Nadine. Aku memicingkan mata mencari sosok sahabatku di antara para penumpang serta penjemput yang berada di mulut pintu keluar bandara. Pesawat yang ditumpangi Nadine sudah mendarat sekitar 30 menit yang lalu, tapi entah kenapa, sosok perempuan ceking itu belum tampak juga.

“Mi! Helloooo?”

Continue reading "Mi The Wandering Soul : TRUTH HURTS?" »

10 juli 2008

Mengajar Membaca Itu Tidak Gampang

Saya tidak terlalu ingat kapan dan bagaimana saya belajar membaca waktu kecil dulu. Yang jelas, dari sebelum masuk SD, walaupun terbata-bata, saya sudah senang membaca buku-buku serial Tini yang gambarnya sangat cantik. Lalu ketika masuk SD, seingat saya lagi, saya telah lancar membaca.

Kalau bapak ini –berdasarkan ceritanya - sewaktu kelas 1 SD telah melahap habis buku pelajaran Ini-ibu-Budi di awal tahun ajaran dan selalu kesal menunggu-nunggu datangnya buku baru di caturwulan berikutnya, kalau saya dan beberapa teman yang sudah bisa membaca, akan bertingkah sombong ketika guru menyuruh kami membaca serangkaian teks – kami akan membaca dengan cepat, lalu ketika selesai, memamerkan gaya sejuta liat-nih-saya-sudah-bisa-baca. Oh ya, kelas satu dan dua, saya sudah membaca serial Noddy, dan sejak kelas tiga SD, saya mulai membaca novel-novel asrama putrid atau novel detektif yang keduanya karya Enid Blyton. Atau Trio detektif dan STOP.

Sejauh yang saya ingat, saya tidak mendapatkan kesulitan ketika belajar membaca (ini masih sebatas ingatan saya sendiri, nanti bakal saya konfirmasikan lagi pada ibu saya atau orang lain yang mengajar saya membaca :D). Makanya ketika mengetahui Anacleta (putri bungsu dari Mama pemilik rumah yang kami sewa sebagai community house) baru mengenal huruf tapi belum bisa baca, saya tiba-tiba tergerak ingin mengajarinya membaca. Tapi karena saya masih hijau dalam urusan ini, saya sama sekali tidak membawa kemajuan pada Anacleta.

eF A FA, Ha I HI, le hamutuk? (le hamutuk (Tetun) : kalau dibaca semuanya?)

Saya berharap Anacleta menjawa fahi (Tetun : Babi), tapi yang saya dapatkan cuma kebengongan Anacleta.

Ha E HE, eM U MU, le hamutuk?

Anacleta, bukannya menjawab hemu (minum), malah semakin bengong.

eF A FA, eS I SI, le hamutuk?

Alih-alih mendapat jawaban fasi (mencuci), Anacleta malah pergi, meninggalkan saya.

Continue reading "Mengajar Membaca Itu Tidak Gampang" »

13 juli 2008

Pria-Pria Yang Pernah Terkencani

Suatu hari, seorang teman mengajak bertemu di satu tempat untuk membincangkan masalah pekerjaan. Tapi dasar kami, cewek yang otaknya memang didesain untuk multitasking, bisa memikirkan banyak hal dalam waktu yang bersamaan – maka disela-sela perbincangan mengenai pekerjaan, kami juga membahas hal lain. Mulai dari ini sampai itu, dari yang penting dan harus dibahas sambil mengerutkan kening sampai yang tidak penting dan bisa dibicarakaan sambil cekikikan. Satu topik yang bagi saya cukup seru dalam sesi mengobrol hari itu adalah pembahasan mengenai beberapa jenis pria yang pernah terkencani oleh kami dan teman-teman perempuan lain.

Tuan Manipulator.
Tuan Manipulator ini adalah pria yang sering melakukan banyak hal secara halus untuk memperoleh keinginannya. Biasanya sih, tipe ini jago ngomong. Kadang-kadang kita nggak sadar bahwa kita sudah termanipulasi oleh kalimat manis nan lembutnya dan melakukan apa yang dia inginkan.

Kata-kata andalannya adalah “Katanya sayang aku…” dan variannya . Eh ada nih satu contoh yang membekas banget di kepala saya, di film ’30 hari mencari cinta’ – ada tokoh cowok yang pingin berhubungan seksual dengan sang pacar dan kalimat yang dikatakannya “Ayaaang, kamu nggak mau kan aku kena kanker prostat?”. Dan percaya nggak percaya, tipu muslihat macam ini ternyata masih ada yang melakukannya dalam periode satu tahun terakhir – ya olo, hari gini.

Untuk stadium kronisnya, mereka bakal menjadikan diri mereka sebagai korban/pihak yang harus dikasihani – misalnya ketika kita minta putus, maka dia akan bilang : “Aku tuh nggak bisa hidup tanpa kamu. Lebih baik aku mati aja deh kalau nggak sama kamu”. Atauu “Sebenernya aku nggak mau bilang ini sama kamu… aku.. kena kanker kelenjar getah bening.”

Oh ya, cara lain tuan manipulator jenis kronis selain manipulasi bunuh diri, kanker otak (dan yang sejenis), ia akan memanipulasi teman-temannya (dan teman –teman kita), untuk berbelas kasihan dan memihak padanya. “Gue tuh cinta dia banget, apa pun buat dia, asal dia bahagia – walaupun mungkin gue harus tersakiti karena tingkah dia, nggak apa-apa…”

(dan semua temannya pun akan menepuk-nepuk bahunya sambil berkata “Yang sabar ya…. Gue nggak nyangka cewek lo gitu orangnya.”) Hmpf.

Berkencan dengan pria macam ini membuat (1) awalnya mungkin anda tertipu, berbelas kasihan menuruti apa yang dimau – kemudian (2) merasa tolol dan (3) Menyesal dan merutuki diri.

Tapi kalau yang waspada sejak awal sih, fase-fase ini tidak akan terjadi. Atau kalau yang tak kunjung ngeh, hanya fase (1) saja yang terjadi, selanjutnya they live happily ever after. :P

Tuan Tahu Segala
Ketika kita habis berciuman dengannya, tiba-tiba dia bilang “Eh, kamu tau nggak, berciuman itu adalah perilaku kompleks yang membutuhkan koordinasi kerja otot. Ada sekitar 34 sampai 36 otot yang harus bekerja sama. Tapi yang paling penting sih otot orbicularis oris .”

Continue reading "Pria-Pria Yang Pernah Terkencani" »

15 juli 2008

Membicarakan Cataglottis

Entri ini untuk memenuhi permintaan ibu Brokolisehat, mumpung lagi hypergraphia.

Perempuan (saya, maksudnya) itu, sering menganalisa segala hal yang ada pada pasangan, untuk menguji apakah 267onship mereka berjalan baik-baik saja atau tidak.

Serius.

Perempuan punya standar-standar perilaku tertentu yang dipasang untuk menguji kualitas perasaan teman kencan padanya. Kalau tidak memenuhi standar, sebenarnya perempuan sudah merasa bahwa he’s not into her. Cuma, jeleknya, perempuan suka memungkiri; nggak jarang kalimat “Oh, teman kencan gue yang sekarang emang beda, anaknya cuek, nggak bisa disamain sama teman kencan-teman kencan gue sebelumnya.” akan dikatakannya berulang-ulang demi menenangkan diri sendiri

Ia akan terus demikian, sampai satu titik dia hampir merasa frustasi – dan membutuhkan opini kedua,ketiga, keempat, kelima bahkan seterusnya…

Kalau teman kencan kita jarang banget ngehubungin, kecuali untuk saat-saat genting, macamnya gue sakit, atau gue kejebak sesuatu, itu karena he’s not into me, atau he’s just plain lempeng?

Kalau sudah sampai titik demikian, SMS serupa yang di atas pun mulai disebarkan pada teman-teman perempuan lainnya, sambil berharap, bahwa semua menjawab : Itu karena dia lempeng aja, buktinya dia masih merhatiin lo pas saat-saat darurat.

Serius.

Anyway, sekali lagi, perempuan senang menganalisa segalanya, mulai dari frekuensi menelepon, gesture pasangan saat bersama-sama, cara menatap, cara menyentuh – bahkan juga dalam urusan melatih otot pengerut bibir yang bernama Orbicularis Oris, alias berciuman. Dalam kasus ini tentunya French kiss ya, yang sebelum dikenal dengan nama ini, memakai nama Cataglottis dari Cata yang artinya 'bawah' dan Glottis yang artinya 'tenggorokan'.

Continue reading "Membicarakan Cataglottis" »

16 juli 2008

Hi, Diana!

Kejadian lagi deh, kasus Monik yang cantik, dua entry saya dicopy, yang satu ancaman lapanpuluhan dengan judul sama.

Dan, yang satu Ibu, dengan judul Mom.

Tadinya saya mau ambil sikap ya sudahlah.. tokh bukan entry satu tahun. Seperti kasus Mbak Monik dulu.

Tapi.. untuk entry yang berjudul Ibu… TIDAAAAK! Saya nggak rela membagi ibu saya dengan anda, Diana (atau siapa pun nama asli anda). Kalau memang anda sangat mencintai ibu anda, ya Mbok, tulislah dari hati sendiri. ;-)

Kalau link di entry blognya ibu/mbak/bapak/mas Diana ini hilang, yah, berarti yang bersangkutan sudah menghilangkannya, biasa bukan? :D

Anyway, ya sudah, kita maafkan saja dia. Mungkin dia khilaf.. Hihihi.

BTW, Thanks buat siMungil, yang sudah memberi tahu.

UPDATE:
Hm, ternyata miund menjadi korban d14na juga dan untuk kasusnya terlihat lebih gawat lagi, karena tulisan yang dijiplak ternyata menjadi bagian dari isi GOKIL, Sebuah Kompilasi Kedodolam, bukunya.

Yah, mengutip kata miund, dan seperti yang diketahui kita bersama : Mengcopy-paste tulisan yang sudah dipublikasi dan dilindungi dengan hak cipta adalah melanggar hukum, saya jadi membayangkan betapa akan menjadi ribetnya sosok maya yang bernama d14na (bukan diana, maaf.) itu

Dan, miund juga sudah menghubungi wordpress dan sebagai hasilnya blog nona ini dinon-aktifkan, ya sudah, mari bubarkan keramaiannya di sini :)).

Tapi ada satu komentar di entry yang ini, dari eva :

uhm, di blognya d14na kata (?) 'termehe-mehe' ga dapat feelnya kayak punyanya mbak okke.. :-D tapi teteup siyh, kedua tulisan yang diklaim sebagai tulisannya itu ga ada feel dan soulnya :-P

Hm, Begitu kah?

Saya jadi teringat akan salah satu entri dari blog milik seseorang yang nampaknya teman si pelaku.

Bahwa menulis (blog) adalah masturbasi (onani) kata-kata.Menulis (blog) adalah menuangkan ide - untuk mendapatkan kepuasan. Ya saya setuju itu. Walaupun untuk pendapat ini:

"Tapi tentu akan lebih puas jika banyak orang melihat hasil onani saya, untuk kemudian berkomentar" (sumber : sofianblue)

Buat saya itu urusan belakangan - saya sih tidak (terlalu) eksibisionis..Ihiw.

Jadi apa enaknya sih menjiplak? Dengan menjiplak, sang penjiplak sama sekali tidak melakukan proses melakukan rangsangan-rangsangan intelektual (ALAH!) sampai mendapat orgasme, kan?

Ibaratnya seperti bintang bokep yang berakting melenguh-lenguh di depan kamera dan para kru film, atau melakukan fake orgasm, dengan kemungkinan ia sendiri tidak selalu merasakan kenikmatan yang sebenarnya. Tapi ya ini urusan sang penjiplak, yang penting saya merasakan orgasm sebenarnya! Uh yeah baby!

Salah seorang teman saya pernah bilang, ia tidak terlalu terangsang jika melihat kepalsuan-kepalsuan itu, dia lebih terangsang jika melihat sesuatu yang natural, yang ditangkap kamera tanpa sengaja. (hm, tadinya saya mau memberi tautan pada teman saya - tapi daripada dia mengamuk karena aibnya dibuka, ya sudah..batal. HAHAHA)

Mungkin eva seperti teman saya,tidak mudah terangsang oleh kepalsuan. (hahaha, damai, Va!)

HAHAHAHAHA... tuh, Pop. Gue posting nih...... :D

18 juli 2008

Tentang Kecepetan Nyimpulin.

Sekitar tiga hari yang lalu, kebetulan waktu saya untuk menggunakan internet tidak terbatas seperti biasanya, maka saya pun menyempatkan diri untuk chatting dengan adik saya – sambil juga blogwalking ke beberapa blog. Dan mendaratlah saya ke salah satu blog, milik kawan yang sekaligus teman sekantor adik saya – perempuan. Dia selalu menjadi orang yang bersemangat dan dengan hangat menjawab setiap pertanyaan nggak penting dari survey-survey iseng saya; contohnya, untuk tulisan ini dan ini.

Dan dalam blognya, ada hal yang membuat saya berkata “Lho?” – yang satu adalah tautan ke sebuah blog lain yang bertuliskan ‘hubby’

Lho? Dia sudah menikah, kah?

Saya berniat untuk mengiriminya SMS, setelah selesai online. Untuk mengkonfirmasikan kesimpulan saya. Ada satu fakta lagi dalam blog tersebut yang membuat saya yakin akan kesimpulan saya : entry berisi hasil USG.

Berhubung saya sedang chatting dengan adik saya, maka saya tanya “Dek, si Bo Derek teh udah merit ya?”

(Maaf, perempuan itu kekeuh, jika sewaktu-waktu dia menjadi responden survey, atau menjadi sumber inspirasi entry saya, ia mau namanya disebut sebagai : Bo Derek)

Adik saya, yang cueknya setengah mati, cuma menjawab : ‘Ga. Tapi ga tau juga tuh, siapa tau nikah diem-diem.’

Jawaban yang sangat nggak jelas.

Akhirnya saya mengiriminya SMS : ‘Siah, merit meuni teu bebeja!’ (Sunda : Lo, nikah kok nggak bilang-bilang.). Balasan saya dapatkan malamnya, ketika saya sedang rapat koordinasi dengan kawan-kawan di sini.

Memang orang hamil harus nikah,ya Kke?

Heh?

Continue reading "Tentang Kecepetan Nyimpulin." »

20 juli 2008

Santai Saja. Jangan Buang Energi,Kawan.

Kau tahu Kawan, daripada kau terus menerus sebal, lebih baik kau merubah cara berpikirmu menjadi lebih positif : mereka bukannya reseh, tapi perduli. Iya iya, kurang kerjaan tapi perduli.

Coba, gimana nggak perduli? Mereka sampai terus menerus menanyai tentang kiprahmu dalam kehidupan, lho. Iya, iya, saya tahu, kau muak dengan pertanyaan ‘Kapan nih punya anak? Udah menikah lama kok belum hamil-hamil juga?’ plus nasehat “Jangan menunda anak, soal rezeki, ntar juga datang, rezeki anak namanya.”

Eh, tapi waktu dapat pertanyaan macam itu, bagaimana sih cara kau menjawabnya?

Ha! Gila! Kau benar-benar menjawab itu? Bagaimana reaksi mereka?

Ya iyalah shock, kau pikir bagi mereka jawaban ‘Memangnya kalau nikah harus bunting?’ tidak membuat jantung copot? Bagus tidak ada yang pingsan atau mati!

Waktu itu perasaanmu bagaimana?

Oooo, jengkel.

Dan, kau bisa menduga-duga nggak perasaan mereka bagaimana?

Hm, iya, sih, mungkin kesal. Apa? Sampai benci juga? Masak sih? Jawaban itu kan cuma terdengar asal? Memang sih, sedikit kasar, tapi saya pikir sama sekali tidak menyakitkan hati siapa-siapa.

Oh, setelah menjawab dengan asal, mereka masih kekeuh mengangkat topik tersebut sambil memberi kuliah-kuliah tentang betapa pentingnya punya anak? Kau beri reaksi macam apa lagi?

Lho? Kok pergi? Kau belum selesai cerita! Mau ke mana?

Oh, mau pipis? Okay, toilet di belakang, dari sini, jalan terus, lalu belok kiri. Cepat kembali, saya penasaran dengan reaksi yang kau beri.

….

Continue reading "Santai Saja. Jangan Buang Energi,Kawan." »

23 juli 2008

REDEFINISI ZONA NYAMAN

Dulu, saya pernah menderita sindrom rumput tetangga lebih hijau, tapi tidak akut. Hanya kambuh sesekali, terutama jika melihat teman-teman yang pekerjaannya jalan-jalan melulu. Sementara saya, terjebak dalam aturan kantor yang hanya membolehkan saya cuti 12 hari dalam setahun. Tapi berhubung sebelum ‘bekerja dengan gedung yang jelas’….

….sebentar, sebelum saya lanjutkan, baiknya saya jelaskan dulu maksud dari ‘bekerja dengan gedung yang jelas’.

Jika anda, mendapati pertanyaan ‘Kerjamu apa?’ dalam kesempatan apa pun, setelah menjawab, maka anda akan menerima pertanyaan susulan : ‘Kantornya di mana?’

Nah, jika anda bisa menjawab dengan jelas nama kantor serta alamat, maka itu artinya anda ‘bekerja dengan gedung yang jelas’. Nah, kalau anda tidak bisa menjawab karena sebenarnya anda bekerja dari rumah atau anda freelancer di berbagai tempat – nah itu, artinya anda ‘bekerja dengan gedung yang tidak jelas’. Biasanya, pekerjaan dengan gedung yang tidak jelas akan banyak mengundang kerutan di jidat penanya, terutama jika yang bertanya adalah orang-orang yang berasal dari generasi sebelum kita.

Continue reading "REDEFINISI ZONA NYAMAN" »

26 juli 2008

Seandainya Saya Jadi Dia....

Ada banyak orang yang pernah bertanya pada saya "Lo suka anak kecil ya?" atau "Lo pencinta anak kecil,ya? ". Mungkin mereka menyimpulkan itu karena saya sering menjawab 'jadi guru' - jika ditanya apa pekerjaan saya. (Lucu juga, memangnya kalau dibilang 'jadi guru', apakah harus selalu mengajar anak kecil?). Atau bisa jadi karena mereka melihat album foto multiply saya yang memuat anak-anak sebagai obyek.

Sudahlah. Kembali ke pertanyaan awal. Jika ada yang bertanya demikian, maka tanpa ragu saya menjawab : "Ya." lalu saya tambahkan,"Asal jangan cengeng." :D

Iya, setengah mati saya sebal dengan anak kecil yang cengeng. A l e r g i. Apa lagi kalau sampai anak tersebut nangis kejer-kejer atau merengek-rengek di dekat-dekat saya. Jadi ingat, saya pernah bertemu dengan anak model begini di dalam kendaraan umum di Jakarta suatu hari dulu. Ia duduk satu kursi di depan saya. Saya memang selalu bete dengan keadaan Jakarta, bahkan mendengar polusi suara berupa klakson bertubi-tubi saja mampu membuat iritasi batin, apalagi ditambah dengan mendengar suara melengking ngeselin anak kecil yang merengek atau menangis kejer-kejer?

Continue reading "Seandainya Saya Jadi Dia...." »

About juli 2008

This page contains all entries posted to blog.sepatumerah.net in juli 2008. They are listed from oldest to newest.

juni 2008 is the previous archive.

augustus 2008 is the next archive.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31