« Dia Bilang Saya Goblok (dan variannya) | Main | Dear Pembunuh Mimpi, »

Menikmati Bayangan *

“Saya percaya, jika saya menampung dan merawat musafir seperti Nona sekarang, suatu saat nanti, ketika saya menjadi musafir, atau mungkin anak saya, atau cucu saya, atau orang-orang yang saya kasihi menjadi musafir, maka akan ada orang lain yang menampung dan merawat mereka…”

Itu adalah kalimat panjang yang keluar dari bibir hitam kemerahan (kupikir ia terlalu banyak makan siring pinang dan harus masuk rumah sakit ketergantungan sirih pinang) milik seorang laki-laki tua, kepala salah satu desa yang terdapat di kaki gunung Ile Mandiri, Larantuka, bertahun-tahun yang lalu.

Aku tersentuh. Walaupun apa yang dia bilang adalah hukum tabur tuai yang sering disebut-sebut dalam kegiatan religi (siapa yang menabur kebaikan akan menuai kebaikan atau kurang lebih begitulah), tapi saat itu, aku sangat tersentuh. Kalimatnya kemudian masuk ke dalam otakku. Tanpa sadar, aku tidak pernah berkeberatan menampung dan merawat musafir yang kebetulan bersilangan jalan denganku.

Dan terbukti, apa yang kutabur, kutuai sekarang. Selama lebih dari enam bulan aku di jalan, dengan ajaibnya, setiap berada dalam kesulitan, selalu ada orang-orang yang menampung dan merawatku.

Kemarin, pria gempal berkulit tembaga yang hobi curhat itu telah menampungku. Sebelumnya, entah sudah berapa kali orang-orang yang tak kukenal membantuku.

Sekarang, Prima. Salah seorang sepupu jauh. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ia menelepon saat aku baru menyalakan handphone, satu jam setelah mendarat di Bali dan berpikir keras bagaimana cara tinggal di Bali dengan budget seminim mungkin.

Prima, seorang perempuan Solo, berwajah eksotis, berkulit kecoklatan, berambut panjang lurus dan hitam. Ia menikah dengan Jérémie Bellanger, seorang penulis dari Prancis dan tinggal di Ubud.

Sebuah ketidak sengajaan? Entah.

Dan, mereka memiliki sebuah café mungil dengan fasilitas wifi, tepat saat aku perlu menghubungi Nad, untuk memberikan informasi terakhir tentang next destinationku.

Ketidaksengajaan lagi?

…..

“Ini kopi kamu…” suara lembut Prima membuatku mendongak. Perempuan gemulai ini meletakkan kopi di samping laptopku. Café Prima tidak dipenuhi pelanggan. Aku hanya melihat sekitar tiga atau empat pengunjung, yang duduk di beberapa sudut ruangan. Di sudut sana, seorang pria muda, berwajah seperti Ethan Hawke, sedang tenggelam dalam bacaannya. Di sudut lain, sepasang orang tua, Kaukasia, sedang mengobrol dengan mesra ditemani dua cangkir (yang sepertinya berisi) Earl Grey Tea. Sedangkan di sudut yang lainnya lagi, duduk seorang perempuan, sepertinya Filipino, tapi entah juga – karena selama perjalanan, aku juga sering disangka Filipino. Perempuan berambut cepak tersebut, seperti aku, sibuk dengan laptopnya.

Thanks, Prim.” Aku tersenyum.

Prima menarik kursi, dan duduk di hadapanku. Ia diam, sambil memerhatikanku, sepertinya ia sangat siap untuk mengobrol. Kugenggam mouseku dan mengarahkannya ke ikon berbentuk huruf e. Internet Explorer. Jendela jelajah maya terbuka – kuketikkan mail.yahoo.com.

Kuketikkan id dan passwordku ketika homepage yang kuinginkan terbuka dengan sempurna. Log in.

......L o a d i n g......

Aku meraih mug dan menyandarkan punggung, menyesap kopi yang disuguhkan Prima.

So, Mi… apa yang ngebawa kamu ke sini?” tanyanya.
“Cinta.” Aku tersenyum sendiri mendengar jawabanku. Prima terlihat tidak mengerti, keningnya berkerut merut.

Sementara pada layar, inboxku terpampang tulisan : You have 25 new messages.Ku arahkan kursorku pada angka 25, dalam hitungan kejap, inboxku telah terbuka dengan sempurna. Kutelusuri satu persatu e-mail baru yang kuterima. Beberapa berasal dari mailing list tidak penting yang kuikuti, ada juga e-mail-email berisi notifikasi dari website semacam friendster, multiply dan facebook. Mataku berhenti pada sebuah e-mail yang berjudul singkat : Hey, Idiot! . Pengirim : Nadine Schmidth.

“Sebentar ya, Prim.” Aku mengarahkan lagi kursor untuk membuka e-mail dari Nad.
“Okay, take your time. Saya ke sana dulu…” Prima pun berlalu.


Mi,
You’re such an idiot dan saya mengagumi kamu karena kamu selalu mengambil keputusan impulsive tanpa pakai otak. Hahaha. I always want to see where you end up every time you decide something. :))

Kamu di mana? Sudah di Bali?

Saya sudah menghubungi teman saya, sebenarnya saya tidak tega untuk memberi tahu kamu ini, tattoo artist kecintaanmu itu sudah pergi. Teman saya tidak tahu pasti dia pergi ke mana.

Sorry sekali. Please take a good care of yourself, Mi. Be good there.

Exhaustingly Yours,
Nad.

Waktu serasa berhenti bergerak begitu aku selesai membaca e-mail ini. Aku sudah pergi, sejauh ini, untuk menemuinya – dan dia tidak ada di sini lagi. Ini sungguh konyol. Selama beberapa jenak, aku terpekur menatap layar laptopku, sampai-sampai aku tidak sadar bahwa Prima sudah duduk kembali di hadapanku.

“Kenapa, Mi?” tanyanya. Aku mendongak. Wajah itu terlihat kuatir.
“Nggak. Nggak apa-apa.”
“Kamu sakit?”
“Nggak.Saya nggak apa-apa.” Dengan sekali gerakan, aku menutup jendela jelajahku. Wallpaper bergambarkan kakiku menyentuh kaki laki-laki itu, yang sempat kuambil berbulan-bulan yang lalu terpampang, seolah mengejek. Dengan jengkel aku mematikan laptop. Nanti aku akan mengganti wallpaperku.

Aku kembali menyandar. Kuraih mug, memegangnya dengan kedua belah tanganku. Menghirup aroma harum kopi olahan tersebut.Aku dan Prima berpandangan dalam diam.

“Tiba-tiba saya ngerasa goblok banget.” aku terkekeh geli.
“Kenapa?”
“Saya, jauh-jauh ke sini, Cuma buat mengejar sesuatu yang…” aku menghentikan kalimatku, menahan tawa, mentertawakan kebodohanku,”…. Sesuatu yang nggak ada…”

Prima mengerutkan kening. Ia benar-benar tidak mengerti.

“Bingung ya, kamu?” tanyaku sambil tersenyum-senyum geli.
“Iya…” Prima mengangguk sungguh-sungguh,”..jelaskan. Kalau kamu nggak keberatan.”
“Gini, saya, ke sini, mengejar seseorang yang saya cinta..” aku terdiam.

Sebentar.
Tadi apa kataku?
‘Seseorang yang saya cinta?’
Benarkah?

“Ehm, ralat, seseorang yang saya pikir saya cinta.”lanjutku.
“Okay.. lalu?”
“Dan ternyata dia sudah nggak di sini. Pergi entah ke mana.” sekarang aku benar-benar geli mengingat perjalananku ke tempat ini.

Prima tersenyum simpul.

“Goblok banget ya?”
“Nggak kok.” Ia masih mempertahankan senyumnya,”..sekarang, setelah tahu bahwa yang kamu kejar nggak ada di sini, kamu mau ngapain?”

Aku mengangkat bahu.

“Ya sudah, kamu bisa ngabisin waktu tinggal di sini selama kamu mau…” jawab Prima.
“Terima kasih, Prim..”

Prima mengambil sesuatu dari kantung celana jeansnya. Sekotak rokok. Diambilnya sebatang, diselipkannya di antara celah bibir, dan disulutnya. Aku melihat ia menghirup asap beracun tersebut dalam-dalam, menahannya dalam paru-paru, lalu menghembuskannya kuat-kuat.

“Mau?” tawarnya sambil menyorongkan kotak rokok.
“Nggak sekarang.” Aku menggeleng.

Aku kembali menyesap kopiku.

“Kenapa kamu mau ketemu dengan dia?” Tanya Prima.
“Karena…” aku terdiam, “..karena saya pikir, saya cinta dengan dia. Bukankah semua orang yang jatuh cinta, selalu ingin berdekatan dengan orang yang dicintainya?” aku balik bertanya.
“Kamu punya bayangan tentang gimana kalau kamu benar-benar bertemu dia, sekarang?”

Oh tentunya. Aku dapat dengan jelas ‘merasakan’ dalam bayanganku, betapa bahagianya aku jika bisa benar-benar bertemu dengannya, mengendus baunya, mengobrol lupa waktu dengannya, menggombalinya sampai ia tersipu-sipu (dan seluruh bentuk gombalan tersebut akan kututup dengan “Gila, gombalan gue spektakuler banget ya? Nggak nyangka, gue ternyata brilian dalam urusan pergombalan), melontarkan lelucon atau tebak-tebakan norak dan melihat perubahan wajahnya yang lucu sambil berkata, “Yeiy, norak.”, menggigit bahunya mendadak karena gemas, berjalan bersisian di tengah hujan sore-sore atau di bawah lampu kota malam-malam, merasakan kelaparan dan semakin kelaparan mencium aroma makanan dari penjual makanan kaki lima, memotret banyak serangga, menciumnya dengan penuh hasrat kalau ada tempat tersembunyi. Di antara semua aktivitas itu, kami akan selalu menyempatkan diri untuk mencuri-curi berciuman. Semua tergambar dengan jelas, seperti nyata dalam benakku.

Tunggu sebentar.

Itu kah yang akan terjadi? Atau aku hanya mengulang kebahagiaan yang pernah terjadi?

Oops.

Aku terdiam, menatap Prima.

“Yah, Mi.. biarin aja bayangan pertemuan kamu dengan orang itu tetap menjadi bayangan di otak.” Cetus Prima sambil menjentikkan abu rokok ke dalam asbak keramik dengan gerakan anggun.

“Maksudmu?”
“Bayangan kamu itu indah,kan?”

Aku mengangguk.

“Biarkan aja seperti itu.”

Aku terdiam.

“Karena kamu nggak tau kan, apa jadinya kalau kamu benar-benar ketemu dengan dia.” Lanjut Prima,”..bisa jadi kenyataan malah merusak bayangan indah kamu…”

Ya ampun, dia benar sekali. Tepat seperti yang barusan kupikirkan.

“.. sama lah seperti menikah..” Prima tersenyum, lalu menghisap rokoknya.
“Kenapa dengan menikah?” tanyaku.
“Kamu ingat, sampai seminggu sebelum pernikahan, saya sudah punya konsep sendiri dalam benak tentang pernikahan…”

Aku ingat. Dan aku juga ingat pernah menertawai Prima yang terkena sindrom Cinderella, memercayai bahwa pernikahan itu adalah cara ia menyempurnakan hubungan percintaan berlikunya dengan Jérémie Belanger. Sebuah puncak. Masterpiece, yang akan statis dalam keadaan sempurna seperti sekumpulan hasil seni dalam museum.

Aku pikir, ketika Prima mengucapkan sumpah setia di depan pendeta (diiringi dengan tangis ibunya karena Prima berpindah kepercayaan), dalam benak perempuan ini, tertera kredit, “…and they live happily ever after…”.

“.. dan ternyata, setelah menikah, ada banyak hal yang tidak sesuai dengan konsep Cinderella saya…” ia terkekeh.

Aku mengerutkan kening. Ada apa dengan pernikahan Prima?

“Jangan salah. Jangan salah. Jangan berpikir saya tidak bahagia. Saya bahagia banget menjadi istri Jérémie.” Ia menahan tawa.

“..tapi…?”
“Ya itu, kenyataan tidak seindah bayangan…” ia berkata santai.

Aku terdiam.

“Yah, nikmati aja bayangan pertemuan kamu yang indah itu, selama kamu belum bertemu. Selama masih bisa begitu, ya biarkan begitu saja” Ia tersenyum, manis.

Aku kembali tercenung.

Anyway, satu pertanyaan : memangnya kamu siap. kalau kenyataannya ternyata nggak seindah bayangan?”

Oh, shit. Bagaimana jika aku memang benar-benar bertemu dengannya, dan mendapati banyak hal yang terjadi sebaliknya : penemuan-penemuan menyebalkan tentang karakter masing-masing, perbincangan yang menjadi kering atau masing-masing berubah menjadi dingin?

Rasanya aku tidak siap jika harus menerima bahwa kenyataan yang terjadi malah menyebalkan. Tidak. Tidak sekarang. Bayanganku terlalu indah dan aku belum siap merusaknya. Aku belum mau patah hati. Nanti saja.

Perempuan yang sepertinya Filipino di ujung sana menutup laptopnya. Laki-laki seperti Ethan Hawke telah beranjak ke kasir. Pasangan tua kasmaran masih berada di kursinya, mereka berpegangan tangan erat dan saling menatap dengan cinta.

Hari telah gelap.

…..

Hey there! Good luck on your journey. Wish you all the best! ;)


*Judulnya kok rada norak ya? :))
**gambar diambil dari gettyimages.
***nama perancis diambil dari : French Male Name Generator (penjelasan ga penting)

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/106

Comments (15)

mengejar cinta = mengejar bayangan kah? :-)

judulnya emang norak sih. tapi, bayangan memang nikmat sih.

*kembali menikmati bayangan di satu sudut kafe pantai kuta, menunggu apa yang ditunggu*

di dalam gelap, gak akan nemu bayangan, justru cahaya membuat kita bisa melihat bayangan

Kike:

Duh Okke..
saya setuju dengan pendapatnya Prima..
konsep menikahnya hehehhe.. ternyata memangnya lah benar, biarkan saja bayangan indah itu ada :)

eva:

ahw ahw.. apa yang ada di bayangan, memang sangat jarang menyata, apalagi setelah melalui bentangan jarak, benarbenar tentang rasa *jadi curhat*

novel selanjutnya, hore hore *halah* :-D

JJ:

Closing-nya keren. ;)

Kalo isinya... ntar aja 3 bulan lagi, pas lo perpanjang visa. Huehehehe.

poer:

ini cerpen ya? kirain beneran :D

Yee:

Bukan cerpen ah. Kayaknya beneran. Sedih gw bacanya, Kke.

Koko:

Ini bagian depan cerpen sedangkan bagian akhirnya beneran yah? hehehe...

okke:

ini beneran atau fiksi ya? *amnesia*
hahahah :))

enon:

duh mb okke..kita sm2 mengejar bayangan duonk..hehehe..gmn klo djadiin film ntr sainganny mengejar matahari..hihi

obey:

Inspirasi dari 11 minutes, bu? atau draft yang lain? hehehe takkkan lari jodoh dikejar, pan si eta lain bis kota hakhakhak

didut:

sy percaya dengan karma kebaikan yg kita buat itu krn sy sudah merasakannya skrg :D

have a nice night mbak :D

dwi:

huummm.. gimana kita ngejalanin-nya kali ya entah expectation saya tentang kehidupan setelah menikah nggak terlalu muluk muluk sebelumnya atau memang kebetulan saya beruntung ternyata marriage life lebih bahagia dari yang saya bayangkan :-).

astuti:

ceritanya lumayan, keliatannya emang kisah nyata penulisnya...
kutunggu cerita lanjutannya
ok

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 06 april 2008 11:58 am.

The previous post in this blog was Dia Bilang Saya Goblok (dan variannya).

The next post in this blog is Dear Pembunuh Mimpi,.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31