Saya masih ingat benar lho, kata-kata anda sekitar setahun setengah yang lalu ketika saya menceritakan tentang mimpi-mimpi saya untuk masa depan.
“Mimpi lo muluk banget sih?” Itu kata anda dengan gesture yang melecehkan, seolah berkata ‘konyol banget sih bermimpi seperti itu?’
Saya beneran nggak nyangka kata-kata itu keluar dari bibir anda. Padahal, kalau ditilik dari umur yang sudah kepala empat, seharusnya anda sudah menjadi sosok berpengalaman yang bijak bestari. *alah bestari!*
Anda tahu, kalimat anda benar-benar menusuk jantung.
Jleb.
Nggak tau rasanya?
Begini, coba bayangkan, apa yang anak anda rasakan kalau misalnya saya bilang “Kamu nggak mungkin dapat beasiswa yang kamu impikan!” padahal ia sedang mengikuti dalam proses seleksi beasiswa tersebut. Nyakitin kan?
Anda itu kenapa sih? Memangnya anda tidak pernah memiliki mimpi?
Apa? Tidak pernah?
Nggak mungkin.
Coba ingat-ingat lagi.
Waktu kecil mungkin?
Pasti waktu kecil ada, karena umumnya anak kecil itu masih mempunyai banyak mimpi. Saya saja punya, banyak sekali. Yang paling saya ingat adalah saya sempat ingin jadi tukang parkir, karena seragamnya oranye dan hanya dengan bilang ‘terus-terus, yak, stop!’ bisa mendapat uang. Lalu saya juga sempat bermimpi menjadi dokter (standar ya? Biarlah, kayaknya hampir semua anak kecil menuliskan dokter, selain guru, pilot, polisi dan ABRI di kolom cita-cita buku kenangan).
Iya sih, ketika dewasa, banyak sekali mimpi-mimpi yang tereliminasi karena seleksi minat (saya malas menjadi dokter, karena di SMU saya masuk ke jurusan A2-biologi, dan cuma tertarik pada hukum Mendell, sisanya tidak.).
Memiliki mimpi itu nikmat. Sumpah deh! Saya belajar hal ini dari (jangan tertawa ya) sebuah MLM. Dari sejuta aktivitas yang mereka lakukan, seperti presentasi dan pertemuan-pertemuan rutin, hanya satu dari yang membuat saya terkesan, yaitu merancang ‘dream chart’, memikirkan apa yang benar-benar diinginkan, mencari gambar yang sesuai dengan mimpi itu, lalu menempelnya di tempat-tempat yang sering terlihat.
Bagi sebagian besar orang itu aneh, tapi bagi saya, hal ini cool. Walaupun kemudian saya tidak berminat untuk lebih jauh menjadi bagian dari MLM tersebut, tapi saya belajar bahwa mimpi adalah energi untuk berusaha dalam hidup. Bagi para downliner, gambar-gambar yang memuat mimpi-mimpi mereka jadi semacam obat kuat, sehingga mereka tetap bersemangat dan berenergi dalam melakukan aktivitas mereka, untuk mencapai tujuan tersebut. Banyak dari mereka, yang kekeuh jumekeuh, akhirnya benar-benar berhasil mendapatkan tepat seperti yang ada dalam dream chart mereka (bahkan lebih!)
Oh ya, oh ya, mungkin contoh MLM ini nggak kena bagi anda, karena seingat saya, anda anti dengan aktivitas MLM, sampai-sampai anda tidak bisa melihat sisi positif dari memiliki mimpi. Kata anda, aktivitas seperti ini ‘menjual mimpi muluk yang tidak teraih.’
Atau ini deh, contoh sederhananya, saya pernah sangat ingin memiliki sebuah boneka Barbie yang harganya sangat mahal (bagi saya masa itu). Berhubung ibu saya adalah Ibu-tegaan-sedunia, beliau tidak serta merta memberikan apa yang saya inginkan, beliau ingin agar saya berusaha, menabung. Maka menabunglah saya setiap hari, dan setiap akhir minggu selalu memeriksa celengan – kalau belum cukup, saya minta diantarkan ke toko yang menjual barang yang saya mau, hanya sekedar untuk melihat dan menyentuhnya.
Walaupun pada akhirnya, setelah sekian lama, jumlah tabungan saya tidak beranjak dari seperempat harga boneka Barbie impian – sampai-sampai Ibu saya iba, dan menambah menambahkan uang agar cukup, tapi berkat mimpi memiliki Barbie tersebut, hidup saya jadi bergairah karena penuh dengan perjuangan, menyisihkan uang jajan saya yang hanya Rp 200 di masa itu.
Dan satu lagi, pernah dengar cerita Marthin Luther King Jr? Dia punya mimpi yang mungkin bagi sebagian besar orang masa itu disebut ‘muluk’ dan ‘too good to be true’ (atau kalimat sejenis, seperti yang pernah anda sebutkan,lah!). Walaupun pada akhirnya dia mati karena memperjuangkan mimpinya, tapi perjuangan King membawa (sedikit) perubahan.
Semuanya membuat saya belajar dan sangat tidak percaya jika ada orang yang bilang bahwa mewujudkan mimpi adalah sebuah mission impossible.Tidak ada yang tidak mungkin dalam meraih mimpi, yang ada kerja keras.
Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, kenapa ya, anda itu begitu antipati terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘mimpi’. Tidak percayakah anda pada mimpi? Kekuatan mimpi untuk menjadi energi hidup? Kenapa anda memilih sikap untuk menjadi pembunuh mimpi?
Bahaya lho, membunuh mimpi orang. Bayangin, salah seorang murid saya di sini pernah bilang dia tidak punya mimpi.
“Cita-cita kamu apa?” itu adalah pertanyaan yang saya ajukan pada salah satu sesi (semacam) interview pada calon-calon murid saya. Perempuan berusia belasan tahun itu terdiam, terlihat berpikir keras. Selama beberapa lama, ia bertahan dalam posisi demikian.
“Okay, hobi kamu apa?” Tanya saya.
“Mmm, menyanyi.” Serunya yakin.
“Apakah kamu nggak ingin jadi penyanyi?” Tanya saya.
“Mmm.. itu juga boleh.” Jawabnya tanpa semangat.
Saya berpikir lagi. Mungkin menjadi penyanyi bukan mimpinya, walaupun ia hobi menyanyi. Yah, seperti saya, yang senang menggambar dan melukis, tapi tidak pernah menetapkan bahwa saya bermimpi menjadi pelukis (apalagi setelah masuk sebuah kampus yang kebanyakan mahasiswanya sangat berbakat dalam urusan ini dan tentunya sering membuat saya minder.)
“Punya hobi yang lain?” Tanya saya.
“Main volley.”
“Mmm…” hampir saja saya memojokkannya dengan pertanyaan,”Kenapa nggak jadi pemain volley profesional saja?”. Untung tidak jadi, karena saya tahu pertanyaan itu sama bodohnya dengan pertanyaan sebelumnya ; ‘Apa kamu nggak ingin jadi penyanyi?’.
“Kenapa, Bu?” tanyanya.
“Lae da. (Nggak apa-apa/nggak jadi)” Saya menggeleng sambil tersenyum,
Kami bertatapan seper-entah-berapa kian detik.
“Saya tidak tahu nanti mau jadi apa.” Jawabnya. Dan lirih suara remaja tersebut benar-benar membuat saya terhenyak.
Anda tahu kenapa sampai ia tidak punya mimpi?
“Soalnya percuma Bu, kalau punya mimpi ini itu, di sini kan tidak banyak fasilitas buat mengembangkan kemampuan, orang-orang bilang, saya harus realistis….” Itu katanya.
Saya hanya bisa menatap nanar punggung remaja putri yang keluar dari ruang kelas, memanggil teman yang mendapat giliran selanjutnya.
Lihat kan? Kata-kata itu benar-benar membunuh hidup seseorang.
Berbeda dengan murid selanjutnya, ketika saya bertanya : “Cita-cita kamu apa?”
Dia menjawab dengan lugas dan mantap, “Cita-cita saya : bisa kuliah. Di jurusan pertanian”
“Kenapa?” Tanya saya.
“Biar bisa bantu bapa saya memperbaiki cara bertani dan berkebun.”
“Lalu, bagaimana cara kamu meraih mimpi kamu itu?”
“Cari beasiswa, bagus kalau dapat beasiswa ke luar negeri Itu sebabnya saya harus memperbaiki kemampuan bahasa Inggris saya” jelas remaja pria itu dengan mata berbinar-binar.
Wawancara dengannya berlangsung dengan seru, ia banyak bercerita, secara tersirat, saya bisa menangkap bahwa saat ini, ia tidak melanjutkan kuliah karena masalah ekonomi.
Belakangan saya tahu, untuk mencapai tempat kursus, dia harus jalan kaki selama dua jam. Kadang-kadang ia tidak datang, kalau hujan badai. Pertemuan tidak sengaja dengannya saat saya berbelanja di Mercado(pasar) membuat saya semakin salut, dia berjualan tembakau dan kantung plastik kresek. Sebuah potret kehidupan lain, yang biasanya ‘hanya’ saya dengar melalui media massa, kini saya hadapi sendiri.
Anak itu selalu bersemangat. Dia ini salah satu orang yang setia mengikuti kelas saya sampai akhir dengan aktif, bahkan cenderung cerewet. Lulus pun bukan dengan nilai biasa-biasa saja. Tuh, kan! Anda lihat sendiri; mimpinya membuat bertahan.
Eh, eh, anda tau nggak, saya pernah lho membahas dengan jahatnya permasalahan orang-orang pembunuh mimpi, dalam salah satu sesi omong kosong sok filosofis dan sok kontemplatif dengan seorang teman. Dia bilang “Orang banyak itu butuh massa untuk meyakinkan bahwa ia berada dalam track yang benar”
Mungkin benar, atau mungkin kami bersikap judgmental, memang ada orang-orang dalam lingkungan sosial hidup tanpa mimpi, atau bersikap pesimis, merasa bahwa mimpi mereka tidak mungkin tercapai. Ketika mereka harus bertabrakan dengan orang yang memiliki mimpi (apalagi yang muluk), keyakinan untuk ‘hidup-tanpa-mimpi’ mereka goyah. Kemudian, perlahan mereka mulai meyakinkan si pemilik mimpi bahwa ‘mimpi itu muluk’, ‘mimpi itu nggak realistis’, ‘jangan terlalu tinggi dalam bermimpi, nanti kecewa’ dan seterusnya.
Kalau si pemilik mimpi ini akhirnya memercayai doktrin mereka, maka mereka akan berseru-seru ‘Yes! I am in the right track, pengikut ‘sekte-tanpa-mimpi’ saya semakin banyak! Saya bisa berjamaah merayakan hidup tanpa mimpi’
Anda memilih sikap membunuh mimpi orang lain, karena itu bukan sih?
Ooops. Sekarang sikap saya jadi sama seperti anda.
Anda kan menyalahkan saya (dan orang-orang lain) yang memiliki mimpi (plus membunuh mimpi-mimpi), sekarang sikap saya kok sama saja, seolah menyalahkan anda yang (mungkin) tidak memiliki mimpi (atau takut bermimpi?)
Nggak apa-apa kok memilih sikap tak-usah-mimpi-jalani-saja-hidup. Di sini saya tidak berusaha meyakinkan bahwa orang yang punya mimpilah yang paling benar. Soalnya, kebenaran itu nggak absolut, apa yang benar menurut satu orang, belum tentu benar menurut orang lain. Apa yang menyamankan satu orang, belum tentu menyamankan orang lain.
Tapi mbok ya : Teu saguru, teu saelmu, tong ngaganggu ateuuh. Kumaha aing we rek naon,Beul! Aing ge teu ngaganggu siah*
Eh iya, sebelum udahan, saya mau masukin kutipan ini nih :
So I say to you my friends,
that even though we must face the difficulties of today and tomorrow,
I still have a dream
(‘I have a dream’, Martin Luther King Jr, 28 Agustus 1963)
Ya sudah, segitu saja dulu. Semoga hari-hari anda indah.
Salam sayang,
Sepatumerah.
Catatan:
* cari orang Sunda deh untuk menerjemahkan kalimat ini, hehe :D
….
Untuk teman saya, yang bermimpi menerbitkan novel fantasi yang ditulis selama satu setengah tahun tapi ditolak penerbit : Ayo kumpulkan kepingan hati, dan terus berjuang, Dek! Pertahankan mimpi.;-)
Comments (29)
I have a dream. Gue suka banget kalimat Oom Luther yang itu ;-)
Posted by JJ | 10 april 2008 10:46
Posted on 10 april 2008 10:46
semoga hari hari elu juga indah, kke
Posted by melly | 10 april 2008 11:26
Posted on 10 april 2008 11:26
saya juga termasuk korban pembunuh mimpi... celakanya, si pembunuh mimpinya adalah orang terdekat saya.... T___T
Posted by Seny | 10 april 2008 11:38
Posted on 10 april 2008 11:38
..mungkin mimpi terbesar sekte tanpa mimpi adalah ketika semua orang hidup tanpa mimpi,so they are workin so hard to make it rea
Posted by dancin | 10 april 2008 11:41
Posted on 10 april 2008 11:41
ketika jadi juara nasional, gue bermimpi jadi grandmaster, tapi mimpi itu terbunuh karena gue terlalu lemah menghadapi para pembunuh itu :D
sekarang, gue bermimpi untuk bisa punya mimpi lagi :)
Posted by aj's lover | 10 april 2008 14:20
Posted on 10 april 2008 14:20
hidup itu harus punya mimpi karena perjuangan untuk menjadikan mimpi itu jadi nyata adalah arti dari kehidupan yang sebenarnya.
Posted by enon | 10 april 2008 15:04
Posted on 10 april 2008 15:04
kalau aku sih pemimpi beneran, sampai2 tak pernah merealisasikan.. :)
Posted by kw | 10 april 2008 16:42
Posted on 10 april 2008 16:42
Mungkin orang-orang yang jadi pembunuh mimpi adalah korban sebelumnya pembunuhan mimpi sebelumnya. pernah berpikir tentang itu?
Posted by Koko | 10 april 2008 17:48
Posted on 10 april 2008 17:48
"Ow mimpi-mimpiku, betapa cintanya aku padamu."
Gue juga ogah, Kke, cuma menjalani hidup tok. Tanpa mimpi gue bakalan jadi perempuan yang hari-harinya gitu-gituu, aja. No way!
Posted by indrasaree | 10 april 2008 19:55
Posted on 10 april 2008 19:55
big dreamer never sleep..
Posted by andee | 11 april 2008 20:19
Posted on 11 april 2008 20:19
dari mimpi orang bisa beranjak sukses ato terpuruk. hidup mbak oke!!!
Posted by ambar | 12 april 2008 19:15
Posted on 12 april 2008 19:15
Saya akan terus bermimpi tante!!! Yeah! Thanks for your encouraging statements!!!
"Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one"
John Lennon
Posted by obylo | 12 april 2008 19:27
Posted on 12 april 2008 19:27
WWW.sastrabelitong.multiply.com buka ini deh, orang ini bisa demikian hebat karena kekuatan Mimpinya... ah sayah jadi Iri...
Posted by tegar | 14 april 2008 08:32
Posted on 14 april 2008 08:32
Hehe, jangan tanya dong kalo soal mimpi-memimpi. I'm a little big dreamer, and I'm so proud of it.
Dalam mimpi ada visi, itu yang membuat saya terus melangkah sampai sekarang.
Posted by dita | 14 april 2008 18:03
Posted on 14 april 2008 18:03
hu uh.. sering sekali aku nemu pembunuh mimpi-ku. huh, menyebalkan...
Posted by tjahaju | 18 april 2008 11:10
Posted on 18 april 2008 11:10
mimpi??? ntah knapa smakin lama smakin memudar..., gak seberani dulu merealisasikan mimpi2... apa mungkin karna aku yang smakin ralistis ato mungkin tanpa sadar aq telah membiarkan para pembunuh2mimpi pelan2 membunuh mimpiku..
Posted by Deasy Pane | 18 april 2008 15:26
Posted on 18 april 2008 15:26
Hidup para pemimpi *saya salah satu diantaranya*.. yay!! Mari jauh jauh dari para pembunuh mimpi.... suka terbawa negatif soalnya :-P
Posted by dwi | 19 april 2008 13:00
Posted on 19 april 2008 13:00
Hidup para pemimpi *saya salah satu diantaranya*.. yay!! Mari jauh jauh dari para pembunuh mimpi.... suka terbawa negatif soalnya :-P
Posted by dwi | 19 april 2008 13:02
Posted on 19 april 2008 13:02
hai mbak salam kenal,
wah, tulisan mbak menginspirai saya untuk meneruskan mimpi saya menulis dan terus menulis (lahhh, yang saya lakukan selama ini buaknnya udah nulis?, hehehe)
ya udah mbak... makasih artikelnya yach... salam kenal.
silly
Posted by Silly | 21 april 2008 02:12
Posted on 21 april 2008 02:12
tulisan ini keren... saya suka, inspiring, hehehe.
Ups, btw, salam kenal ya mbak. entah apa yang membawa saya kesini, yang jelas, saya suka tulisan mbak.
Nice blog,
Salam,
silly
Posted by silly | 21 april 2008 02:19
Posted on 21 april 2008 02:19
Okke ....
Jadi kangen
Mimpi itu juga yang membawamu hingga ke timur kan :)
Posted by atta | 24 april 2008 10:47
Posted on 24 april 2008 10:47
met knal kak,, kok bisa bikin novel dengan tulisan yang sangat2 kreatif???? coz aku udah baca novel adaptasinya kakak.....
Posted by nhiezha | 28 april 2008 12:29
Posted on 28 april 2008 12:29
lam kenal mbak....
tulisan mbak.. keren....
nambah motivasi.. n menginspirasi banyak org... termasuk saya.. :)
saluuttt
Posted by retno | 12 juni 2008 18:15
Posted on 12 juni 2008 18:15
met kenal mba,
tadinya aq udah mo close aja, karena ngeliat tulisannya lumayan panjang, suka males baca, tp ga tau kenapa aq terusin jg, eh ternyata aq jd terinspirasi dan mau mulai memperjuangkan mimpi2 ku, yg nyaris ke'delete'.
Thx a lot. GBU.
Posted by Imelda | 19 juni 2008 13:16
Posted on 19 juni 2008 13:16
Mbaa coba mampir ke sini deh.. http://mbot.multiply.com
Posted by Ade | 19 juni 2008 22:03
Posted on 19 juni 2008 22:03
i'm a dremer! and proud of it soalnya buikan berarti gw pemimpi yg cuman bisa mimpi tp gw dalam tahap untuk mewujudkan impian gw...
it's hard especially if we meet a dream-killer kdg2 gw ngerasa bt en ga pd for a while...thx GOD keluarga gw ngedukung...
still in progress hehehe
Mari Berjuang sodara2!!
Never Give Up!!!
Tong Sieun..
peace
Posted by Rheen | 07 juli 2008 13:46
Posted on 07 juli 2008 13:46
Excuse me. None are so busy as the fool and knave. Help me! Please help find sites for: Acai berry blast ingredients. I found only this - free trial of acai berry. Credit card laws likely to protect consumer. Acai berries have many nutrients and other components. Waiting for a reply :rolleyes:, Koren from Palestinian.
Posted by Koren | 16 augustus 2009 12:34
Posted on 16 augustus 2009 12:34
Hi guys. There is always some madness in love. But there is also always some reason in madness.
I am from Slovakia and bad know English, please tell me right I wrote the following sentence: "At one attack in the fuel, she terrorizes sitting 1980s over some first horrendous ages accurately imposing herself as a case who insists innovations and sums at testimony."
Thanks :-). Melina.
Posted by Melina | 08 september 2009 21:44
Posted on 08 september 2009 21:44
Greeting. Men are equal; it is not birth but virtue that makes the difference. Help me! Looking for sites on: This has marketed the belt of n't to turner billion to follow and understand multiple 'extra need decoration, matter, play and fate players to urinate tea from the real masturbation capital.. I found only this - [URL=http://kbhlaeser.dk/Members/Diaperbag/skip-hop-duo-double-diaper-bag]skip hop duo double diaper bag[/URL]. They are also only thinner and all more fossil. Pizza chefs: likely, it died bill would have slippery wire scratching the self, because after an night, the weight-loss had meanwhile to end for their changes. With best wishes :rolleyes:, Tibor from Lesotho.
Posted by Tibor | 17 september 2009 23:30
Posted on 17 september 2009 23:30