« Batas | Main | Indonesian Idle vs American Idle »

Next Destination : You

“Gue pengen ke Togian. Nyepi. Siapa tau gue jadi lebih baik. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan.” Cetusku, ini adalah tujuan ke lima yang berbeda, yang telah kusebutkan dalam tiga puluh menit ini.
“Yakin bakal lebih baik kalau lo pergi-pergi?” Tanya Pay, pria yang baru kutemui Jumat lalu dalam perjalanan.
“Ya nggak juga sih,”
“Tuh kan?”

Aku nyengir. Lalu kami terdiam.

“Mungkin elo selama ini hidup dalam fase denial, Mi. Elo selalu bilang elo baik-baik aja, padahal enggak.” Seru Pay beberapa jenak kemudian.

Aku hanya bersandar pada tembok kamar kostnya sambil bertanya-tanya, kenapa aku sampai kehilangan libido untuk traveling? Tumben. Padahal passionku adalah menjelajah. Pay meledek bahwa aku sedang frigid to travel. Ini gara-gara saat aku menyambangi pantai yang indah, air terjun, padang rumput yang keren, aku hanya bisa menghela nafas sambil berkata “Oh yeah, well. Terus?” – tidak ada rasa meledak-ledak dalam hati, seperti biasanya.

Sumpah aneh. Yang kuinginkan hanya tidur. Bermalas-malasan. Bahkan ada saat di mana aku menyesal terbangun.

Aku hanya mencibir. Denial apa? Aku tidak pernah memungkiri apa pun.

Tapi aku hanya diam. Kupandangi pria gempal nan kocak yang hobinya curhat ini. Lucu sekali, Kamis lalu aku belum mengenalnya, tapi hari Minggu, aku –tanpa ragu- memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersamanya. Ia menempatkan aku di kamar yang telah beberapa bulan kosong di sebelah kamar kostnya. Yah walaupun kamar tersebut membuat aku harus berperang bersenjatakan obat pembunuh serangga melawan puluhan kecoak dan kaki seribu, tapi aku sangat bersyukur. Dana terbatas terjaga berkat kebaikan hatinya menampung refugee dadakan macam aku.

“Mungkin lo stress” Cetusnya lagi, setelah beberapa lama tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku.
“Stress apa?” aku masih mencibir.
“Karena sempat terjebak dengan kondisi dan situasi yang lo hadapi, dengan perasaan tegang terus menerus..”
“Enggak ah.Biasa aja. Seru malah.” seruku, setelah berpikir beberapa jenak.
“Tuh kan, Mi.. denial. Lo tau, denial itu membuang energi.”
“Apaan sih? Lo suka ngarang berat gitu deh.”
“Gini deh, ibarat lo menyelam, belum sampai dasar, lo udah meronta-ronta, berusaha keras untuk muncul di permukaan, sampe energi lo abis. Padahal, kalau lo ikutin dan udah sampai dasar, lo bisa menjejak lebih kuat dan akan lebih mudah muncul ke permukaan.” Serunya.

Aku menghela nafas. Kami terdiam lagi.
“Sok filosofis gue ya?” tanyanya cengengesan.
“Iya, sok kontemplatif…” seruku geli.
“Terdengar pintar nggak?”
“’Mayan. Minimal dialog kita terdengar lebih mutu dari sinetron-sinetron di TV” balasku.
“Iya, hanya ‘terdengar lebih mutu’, padahal isinya….”
“Tai kucing semua…” aku melengkapi kalimatnya.

Kami terkekeh-kekeh. Malam makin larut, tapi aku belum ingin tidur, tidak ngantuk, aku terlalu banyak tidur hari ini. Selain itu, kamarku masih berbau obat pembunuh serangga yang kusemprotkan terlalu banyak. Somehow, aku belum mau mati, apalagi kalau sampai mati bersama kecoak dan kaki seribu karena menghirup bau obat serangga. Nggak gaya.

…..

Aku masih di kota ini. Mungkin Pay benar. Kemana pun aku pergi, belum tentu tempat-tempat tersebut mampu memperbaiki perasaan. Yang kubutuhkan mungkin bukan menjelajah ke mana-mana, tapi menjelajah ke dalam, berusaha mengidentifikasi, apa yang membuatku kehilangan gairah dan merasa hampa macam ini. Jadi kutetapkan, tujuanku bukan Togian, bukan pulau ini itu, tapi : diri sendiri.

Kukitari kota ini, dengan kameraku. Satu hal yang dengan bodohnya baru kusadari, kamera membuat kita tidak terlalu membutuhkan traveling companion penangkal bosan, karena dengan kamera, kita terlalu sibuk untuk bosan. Seluruh panca indera kita akan berusaha menangkap apa pun yang menarik. Mencari-cari apa yang menarik, dari hal yang tidak menarik.

Sungguh, aku beruntung karena menuruti perkataan seorang teman untuk membeli kamera, menggantikan kamera butut, yang sudah layak masuk museum. Waktu itu aku menolak keras, rasanya tidak rela mengeluarkan dana dari tabunganku yang tak seberapa itu, hanya demi membeli kamera yang lebih canggih dari punyaku. Aku adalah tipe setia, ketika sudah cocok dan cinta mati dengan satu hal, maka hal-hal lain tidak akan mampu membuatku untuk selingkuh.(temanku bilang, aku pelit – tapi aku ngotot : setia)

Sialnya, dalam perjalanan ke satu tempat, kamera zaman kuda gigit besi-ku bertingkah. Rusak. Biaya reparasinya seharga satu kamera baru. Duh!

Hhh… maka, kamera baru ini lah yang menemaniku.

Beberapa orang menatapku aneh, karena aku tidak pernah ragu menggerakkan seluruh anggota badanku, menunduk, mendongak, nungging, bahkan kalau perlu jungkir balik, demi menangkap hal yang kuanggap menarik.

Tapi aku tidak terlalu ambil pusing. Aku bukan siapa pun di kota ini, tidak ada yang mengenalku. Kadang-kadang, menjadi nobody itu menyenangkan.

….

“Kakak, teh botol satu.” Seruku pada penjual minuman dingin di salah satu sudut kota. Tanpa kata, perempuan itu dengan cekatan mengambil apa yang kupesan dari kotak esnya, membuka tutupnya, meletakkan sedotan lalu mengangsurkan padaku.

Kakiku terasa penat. Karena berjalan kaki seharian. Kuterima botol tersebut dan menggelontor tenggorokan. Rasanya segar, kurang dari lima teguk, air manis berwarna coklat tersebut telah tandas.

“Wah bocor nih, botolnya.” Seruku pada penjual minuman yang sedari tadi memerhatikanku dengan ekspresi aneh. Ia tersenyum.

Aku belum berniat beranjak, masih ingin mengistirahatkan kaki. Tapi sudut mataku menangkap tulisan : warnet 24 jam.

Hmm, mungkin bertegur sapa dengan beberapa teman yang sedang online dari kantor masing-masing bisa menghibur. Maka, aku pun memberikan botol kosong bekas minumanku dan menyerahkan uang pada penjual minuman.

Bagai melayang aku menghampiri warnet. Angin dari AC menerpa tubuhku. Rasanya dingin, tapi tidak segar, apalagi ditambah dengan aroma asap rokok. Aneh, kok hari gini masih saja ada yang tidak tahu bahwa aroma rokok dalam ruangan ber-AC itu menyebalkan? Sama menyebalkannya dengan aroma rokok dalam angkutan umum yang pengap.

“Di sana Mbak, nomor sepuluh…” cetus operator warnet sambil menunjuk sebuah kubikel. Aku masuk ke dalam kubikel tersebut, duduk dan menggenggam mouse. Kuarahkan kursor pada ikon Yahoo! Messenger.

Klik klik.

Kuketikkan ID dan passwordku. Dalam hitungan kejap, aku telah online. Ini adalah online pertamaku setelah empat bulan. Serangan offline messages bertubi-tubi, ada yang hanya berisi ‘Nyet, kemana aja lo? Gue baca Koran, katanya disitu gawat ya?’, ‘keadaan lo gimana?’ atau ‘masih idup kan?’

Aku tersenyum-senyum sendiri, hatiku agak menghangat, pertanyaan-pertanyaan offline tersebut membuat aku senang, teman-temanku –walaupun jauh- perduli.

Lalu menyusul serangan friend requests.

BUZZ!

Belum sempat aku menyetujui permintaan berteman secara maya yang dikirimkan orang-orang, kanal cakap mayaku bergetar secara virtual dan mengeluarkan bunyi ‘ting!’.

NadineSchmidht : Hello, crazy girl!
NadineSchmidht : I miss yooouuu! Where have you been??? Are you okay?
Wandering_Soul : hello, Jerman gila. :))
NadineSchmidht : =))
Wandering Soul : I am fine. I am alive.
NadineSchmidht : Gila kamu! Saya sangat kuatir membaca berita di internet.
NadineSchmidht : Kok tepat sekali ya peristiwa itu terjadi pas kamu di sana?
NadineSchmidht : Kamu terjebak berapa bulan, Mi?
Wandering Soul : Empat bulan.
NadineSchmidht : Saya takut sekali kehilangan salah satu teman gila saya.
Wandering Soul : Relax. Saya tangguh dalam segala situasi.

Kami terlibat dalam percakapan menyenangkan. Nad ternyata sedang dalam posisi sama bingungnya denganku. Ia merasa hampa. Tapi, itu keluhannya setiap waktu.

Wandering Soul : Numb? Sebelum pergi kemarin, kamu bilang kamu sedang numb, dan muak dengan Asia Tenggara.
NadineSchmidht : Iya, saya ingin traveling ke luar Asia Tenggara. Jadi saya, dengan last money I had, terbang ke Australia, mendapatkan pekerjaan di satu peternakan kuda.
Wandering Soul : I heard you earned so much money, right? Jadi kamu bisa keluar dari Asia Tenggara.
NadineSchmidth : betul. Tapi ternyata, saya masih merasa numb.

Kemudian saya teringat perkataan Pay yang membuat saya berpikir.

Wandering_Soul: Mungkin yang kita butuhkan adalah traveling without moving.
Wandering Soul : Kita tidak butuh tempat-tempat baru, kita butuh traveling ke dalam diri kita sendiri, mencari masalah yang membuat kita frigid to travel.
NadineSchmidth : Hmm, mebbe you’re right.
NadineSchmidth : Sebentar, saya mau pee. Jangan pergi dulu.

Lalu, selama beberapa menit, tidak ada barisan teks yang muncul dalam kanal cakap maya kami. Aku menjelajah beberapa situs dengan asal-asalan.

BUZZ!

NadineSchmidth : I am back.
Wandering_Soul : Welcome back. :P
NadineSchmidth : how’s love life? Any travel flings?
Wandering-Soul : Nope. Nggak ada yang menarik. Belum ada pria dengan killer combo, Nad.
NadineSchmidth: =)) Iya, di sini juga. Semua suck.

Killer combo. Itu adalah salah satu persyaratan yang pernah kami bahas bersama Bagi kami, pria-pria yang masuk dalam kategori menarik adalah mereka yang memiliki kombinasi kecerdasan otak dan kepiawaiannya berciuman. Eh sorry, ada satu lagi tambahan : anggota badannya tidak menguarkan bau-bauan tidak sedap. Salah satu dari itu absen, ya sudah, sekian dan terima kasih, jangan sampai berjumpa lagi.

NadineSchmidth : So far, baru ‘dia’ saja ya yang memiliki killer combo? ;)
WanderingSoul : Iyaaa :((
NadineSchmidth : how do you feel now?
Wandering_Soul : I miss him.
NadineSchmidth : =)) Perempuan cengeng!
Wandering_Soul : Biariiiin. I miss him. I miss to talk with him. I miss to kiss him. I miss to sniff him. =))
NadineSchmidth : =)) Perempuan cengeng! Perempuan gila yang cengeng.
Wandering_Soul : Biariiiin. Saya juga manusia.
NadineSchmidth : WAIT!
NadineSchmidth : Jangan-jangan… itu yang membuatmu merasa hampa.
NadineSchmidth : Hey perempuan cengeng, jangan-jangan cuma itu masalah kamu?

Jemariku membeku di atas keyboard.

NadineSchmidth : Situasi dan kondisi sekitar kamu membuat kamu down dan sumber energi kamu jauh.

Aku tercenung. Mungkin semua ini penyebabnya sangat sederhana. Doppingku ketinggalan.

NadineSchmidth : Hello?
Wandering_Soul : Nad, kamu tahu nggak dia di mana?
NadineSchmidth : Hm, saya dengar terakhir kali dari teman saya, dia di Ubud.
Wandering_Soul : Oh ya. I gotta go, tolong kasih informasi lagi tentang dia ya….
NadineSchmidth : Hello? Hey, where are you going?

Sign out.

….

Pay, traveling without movingnya udh berhasil. Gw tau next destination gw, menjumpai sumber energi. Thanks krn udh nampung gw, orang Samaria yang baik hati! Sampe ketemu lagi. Klo lo ngerasa numb, hubungi gw, gw bakal balas jasa, nampung lo. Atau kalo kita ga ktemu lagi, gue bakal nampung siapa pun yang berada dalam kondisi yang sama dengan gue, sebagai balas jasa.

Send to : Pay

Delivery report.

Setelah yakin bahwa pesan pendekku yang panjang itu terkirim, aku memasukkan ponsel ke dalam kantung celana cargoku dan mengancingkan tutupnya. Kupanggul ranselku dan kuselempangkan tas kameraku.

Aku tidak tahu, apakah memang ini masalah sebenarnya, atau bukan. Tapi, tidak ada salahnya mencoba, bukan?

Next destination : You..

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/103

Comments (14)

Kisah nyata, bukan? I hope so. Mudah2an ketemu dengan dia yang dicari. I hope u happy nek

Eh, kok telkom-netnya gak ada? hehehehe...
next trip jangan pake sepatu mall lagi yahh...

bae ko sepatu mall...

okke:

yetty : :D semoga semua orang di dunia juga happy :)

doohan : be pung sepatu bukan sepatu mall!! Itu sepatu pung alas su licin *ngeles*

tegar:

salam sama Pay.. Ya Mi..!! (",)

enon:

wew...mb okke kejar terus smp capekkk
hehehe...smangad mb :D

Halah.... mang sepatu mall kok...
bae ko sepatu mall...
hehehehe...

youfy:

Traveling inside.. yup gue setuju banget, dan ini jg yang memenuhi kepala gue akhir2 ini.. pingin nyepi disuatu tempat trus mereng deh.. wanna join? ;)

youfy:

kok jd mereng.. merenung maksudnya :P

eva:

novel selanjutnya mbak?
*tuink*

saya belum kemanamana, jadi belum bisa menentukan destinasi selanjutnya.. *iks*

eva:

oia, selamat melanjutkan perjalanannya mbak.. ketemu yang dicari, dan baikbaik saja disanah ^__^

"Aku tercenung. Mungkin semua ini penyebabnya sangat sederhana. Doppingku ketinggalan"

==> klo bukan ketinggalan, tapi emg telah hilang gmn cara sembuh nya ya mbak?? beli doping baru yang cocok mahal sekarang ^_^

"Mungkin semua ini penyebabnya sangat sederhana. Doppingku ketinggalan"

==> klo dopping nya tnyata ilang, gmn ngembaliin jiwa yang tadi nya hampa itu ya mbak? cari dopping yang cocok kan skrg mahal ^_^

bahar:

okke teman SD ku dulu....
enggak bakalan lupa sama kamu...

Hati hati saja yah di jalan,semoga sampai di tujuan dengan selamat.

Suatu saat kamu akan menj\capai tujuan kamu dan kemudian take rest.

pungky:

hi neng...pa kabar?
seneng gw baca tulisan lo...ternyata okke bisa sampe sejelimet ini...heuheuheu

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 25 maart 2008 1:40 pm.

The previous post in this blog was Batas.

The next post in this blog is Indonesian Idle vs American Idle.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31