Akhirnya, selesai juga seluruh materi yang harus diajarkan di salah satu kursus yang diadakan bekerja sama dengan LSM lokal di salah satu perpustakaan di Dili. Tes akhir diadakan pada minggu ke-dua bulan Februari 2008. Ada 12 orang yang ikut, menyusut dari jumlah awal murid yang seharusnya 20 orang.
Seluruh materi dalam tes sudah pernah diajarkan pada pertemuan regular seminggu tiga kali kursus di kelas. Tapi ternyata masih ada yang tidak bisa menjawab dengan benar. Saya sedikit kecewa juga. Ketika saya periksa, ada delapan orang lulus, sisanya tidak. Rasanya nggak enak, kalau bisa sih, saya luluskan semuanya. Tapi mau gimana lagi? Ini adalah hasil tes yang sesungguhnya, sesuai dengan kehadiran, kemauan belajar dan persiapan sebelum tes. Untuk yang tidak lulus, ya nggak bisa diapa-apain lagi, dinaik-naikin juga tetap nggak bisa melewati batas minimal kelulusan. Ya sutrah, apa boleh buat, artinya mereka harus mengulang di level yang sama. Hitung-hitung pendalaman lah.
Eh jadi ingat, zaman kuliah, kalau saya tidak lulus satu mata kuliah, dan harus mengulang, saya tidak pernah bilang ‘Iya nih, gue dapat D buat Kewiraan, harus ngulang’, tapi saya bilang ‘Iya nih, gue dapat D buat kewiraan, harus mendalami’. Dan pssst…beneran, saya memang nggak lulus Kewiraan. Haha. Ngomong-ngomong mata kuliah yang judulnya : Kewiraan masih ada nggak sih?
Anyway, sore harinya setelah pengumuman, administrator kursus LSM tersebut menghubungi saya dan bilang bahwa ada masalah, berkaitan dengan hasil tes, katanya dia pengen mendiskusikannya. Dia datang ke rumah komunitas kami di Becusse Centro. Katanya semua murid yang tidak lulus merasa tidak puas dengan hasilnya, bahkan menurut dia, satu dari mereka sangat marah. Saya sedikit bingung, karena saya yakin sudah mengoreksi dengan benar dan teliti.
Ia bilang murid yang tidak lulus pengen dites ulang. Saya sangat tidak setuju dengan ide tersebut. Bagi saya, mengadakan tes ulang sangat tidak adil untuk murid yang lulus. Kenapa juga saya harus mengistimewakan dan memberi kesempatan hanya bagi murid yang gagal ujian untuk memperbaiki nilai, bagaimana dengan mereka yang lulus? Murid yang gagal seharusnya mempersiapkan diri sebelum tes, seperti murid yang lulus, ya kan?
Kecuali jika saya memberi tes ulang buat ke-duabelas murid tersebut. Tapi tetap, bagi saya tidak adil. Kenapa yang lulus harus bekerja keras dua kali?
Saya tahu, administrator itu berada dalam posisi yang sulit, jadi saya bilang, saya akan jelaskan semuanya tentang penilaian, saya bisa menunjukkan kenapa mereka dapat nilai jelek dan tidak lulus.
Sorenya, saya dapat sms dari murid yang marah tersebut, ia mempertanyakan tentang hasil tes. Mendiskusikan suatu masalah lewat SMS maupun telepon bukanlah hal yang bijaksana, jadi saya bilang, saya akan mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan masalah ini dua hari kemudian. Lalu saya menerima sms lagi. Dari SMS tersebut, saya akhirnya mengerti apa yang menjadi permasalahan sehingga ia kekeuh jumekeuh pengen tes ulang. Ini karena, jika dia gagal, ia tidak akan mendapatkan sertifikat, sedangkan ia (bilang) sangat membutuhkannya.
Menurut salah seorang teman saya, di sini, sertifikat, khususnya kertas-kertas yang menunjukkan bahwa seseorang sudah menyelesaikan kursus, training, workshop, konferensi, seminar dan sebangsanya – sangat penting. Kertas semacam ini HARUS disertakan SEMUA setiap mereka melamar pekerjaan. Mereka mengoleksi sertifikat, seperti Uncle Scrooge mengoleksi uang. Bahkan teman saya ini menambahkan, bagi sebagian orang (tidak semua), tujuan dari mengikuti kursus, training, workshop, konferensi, seminar dan sebangsanya hanyalah untuk mendapatkan sertifikat. Proses belajar serta pengembangan kemampuan dan pengetahuan kadang-kadang menjadi hal nomor sekian.
Saya sedikit takjub mengetahui bahwa selembar kertas tersebut diperlakukan macam oksigen. Jujur saja, saya jarang menyertakan kertas-kertas macam itu ketika melamar pekerjaan, kecuali ijazah pendidikan formal, karena seluruh iklan lowongan pekerjaan yang saya respon tidak pernah memasukkan ‘sertakan seluruh sertifikat kursus, training, workshop, konferensi, seminar dan sebangsanya dalam lamaran’ sebagai persyaratan. Mereka hanya meminta curriculum vitae, dan nantinya, mereka akan mewawancara dan menguji secara intensif berkaitan dengan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan yang saya tulis dalam curriculum vitae.
Kecuali kalau urusan mendaftarkan golongan entah apa buat dosen di departemen pendidikan ya, itu segala sertifikat seminar dan segala macam harus disertakan, doh ribet. Secara saya bukan orang yang apik, segala kertas tersebut lenyap entah keselip di mana. Hehe. Makanya sampai sekarang saya tidak pernah mendaftarkan diri dan golongan saya entah apa, ke laut aje.
Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran – nggak penting sih—kalau misalnya satu pelamar pernah mengikuti ratusan seminar, kursus, training, workshop, konferensi dan seterusnya, sepertinya dokumen lamaran milik orang ini akan setebal novel Harry Potter atau bahkan alkitab. Ha!
….
Beberapa tahun yang lalu, saya membaca kasus jual beli ijazah S1, master bahkan doktoral di salah satu surat kabar nasional Indonesia. Waktu itu saya cuma geli, dan bilang dalam hati “Bloon bener sih…”
.. sampai saya berhadapan langsung dengan orang yang mau membeli ijazah S1.
“Kak, kakak kan pernah jadi dosen, mungkin tau cara supaya saya bisa dapat ijazah S1. Katanya dengan US$2000, bisa dapat.” Itu katanya.
Hah, waktu itu saya langsung jengkel. Enak aja, mau dapat ijazah instant tanpa harus usaha. Padahal dulu, saya mendapatkan ijazah itu sampai berdarah-darah, terutama untuk Nirmana 3D (maaf, sektoral hehe). Dan luka-luka. Dan air mata. Dan.. tentunya ini berlebihan. :P
Jadi mikir kenapa juga kertas macam itu diperlakukan macam barang-barang grosir yang diperjual belikan? Kertas macam itu kan semacam pernyataan bahwa orang yang bersangkutan telah melewati satu proses belajar, yang artinya, sebelum mendapatkan pernyataan tersebut, seseorang harus bekerja keras. Lalu ketika mendapatkannya, ia memang pantas dan memiliki tingkah laku, kemampuan serta pengetahuan yang disebutkan dalam kertas. Contoh kasarnya, kalau seseorang mendapat ijazah S1 Jurnalistik, orang tersebut harus benar-benar memiliki kemampuan dan pengetahuan yang sesuai. Nggak lucu kan kalau gelar dan ijazahnya S1 Jurnalistik, tapi tidak tahu apa-apa tentang dunia jurnalistik. Atau contoh lain, jika kita memiliki sertifikat kursus Inggris level (misalnya) advance, kita harus menunjukkan bahwa kita memang memiliki kemampuan dan pengetahuan bahasa yang sesuai dengan level yang bersangkutan. Aneh saja kan, kalau kita punya sertifikat advance, tapi kalau memperkenalkan diri ‘I am is teacher.’ Atau ‘I is not like food spice’, atau 'I not have money' atau menjawab ‘ I happy is play my child’ untuk pertanyaan ‘What makes you happy?’ yang ditanyakan berulang-ulang sampai frustasi, karena untuk pertanyaannya saja kita tidak mengerti. Atau, satu contoh lagi deh, memiliki sertifikat menguasai Microsoft Office, tapi cara membuka dokumen baru di Microsoft Words saja tidak tahu.
Kertas macam itu tidak penting, proses belajar yang penting. Lagipula, memiliki banyak sertifikat dan ijazah tapi tidak bisa apa-apa kan omong kosong binti malu-maluin.
Tapi saya juga tidak menyalahkan mereka yang menganggap bahwa sertifikat adalah segalanya. Cara berpikir macam ini dikondisikan oleh persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh pihak-pihak yang masih sering ‘silau’ dengan banyaknya kertas-kertas. Memiliki pekerjaan atau jabatan yang baik (mungkin) adalah keharusan bagi banyak orang. Dengan kondisi di mana mereka sangat harus menunjukkan semua sertifikat/ijazah untuk mendapatkan pekerjaan (yang lebih baik), apa lagi yang bisa dilakukan para pekerja ini selain memang menyediakannya?
Jadi apa kabar mereka yang tidak memiliki kertas suci tersebut karena banyak alasan?
Yah, jangan salahkan pemikiran : ‘ Kalau ada cara instant, buat apa susah-susah untuk menjalani proses belajar? Ya kumpulin duit dan beli aja lah.’
Eh, mungkin nggak ya, satu hari nanti, saya melihat iklan berbunyi ‘Dapatkan bermacam-macam sertifikat di semua cabang toko buku X! Beli satu ijazah Master, dapat satu Ijazah S1, GRATIS!’
Eh atau, tiba-tiba ada toko buku online yang memasang banner : ‘Dapatkan sertifikat kursus ijazah doctoral dengan potongan harga 20% dari harga di toko buku X. Beli satu, dapatkan bonus novel Istoria da Paz : Perempuan dalam Perjalanan atau Indonesian Idle”
*Iyyyyaaaa, kamu, hey kamu yang di sana, ini sangat nggak penting. Mukanya biasa aja dong!*
Comments (18)
kalo udah punya bukunya dua2nya, bonusnya apa dong? ;;)
ps: kirim sms, tapi gak tau deh, nyampe atau enggak ya?
Posted by melly | 18 februari 2008 12:09
Posted on 18 februari 2008 12:09
siapa? aku? atau dia?...:D
Posted by obey | 18 februari 2008 16:12
Posted on 18 februari 2008 16:12
Iya nih, kalau dah punya buku dua2nya, dapat bonus apa? :D
Aku lebih suka tampilan "anak kedua-nya", pake kertas HVS, dari pada "anak pertama" yang pake buram.
Posted by urma_fie | 18 februari 2008 17:51
Posted on 18 februari 2008 17:51
anak ke-2nya okeh loh...
berani dijadikan bonus?
Posted by imeng | 18 februari 2008 23:23
Posted on 18 februari 2008 23:23
Hi, Oke...
aku Tharie dr majalah Chic (Kelompok Kompas Gramedia). Berhubung mulai edisi depan majalah ChiC punya rubrik Blog, kalau diizinkan kita tertarik untuk menampilkan blog ini di majalah ChiC.Mohon segera reply ke email saya ya.Trims..^_^
Posted by Tharie | 19 februari 2008 17:20
Posted on 19 februari 2008 17:20
ngomong2 soal ijazah, pas g di NTU (Sgp) pernah part-time di International Student Office untuk ng-entry data orang2 indo yg daftar. Banyak lho yang 'melampirkan' ijazah piano sampe level apa tauk padahal daftarnya ke engineering. Yang ada jadi bahan becandaan satu office (dan jelas2 gak dibaca sama sekali).
Posted by MoZ | 20 februari 2008 02:23
Posted on 20 februari 2008 02:23
tsaelaaaah mba okke
damai banged ga seh ^^
Posted by bebex | 20 februari 2008 03:45
Posted on 20 februari 2008 03:45
mba okke
i alwyas miss ur posting
hahaha
Posted by enon | 20 februari 2008 12:39
Posted on 20 februari 2008 12:39
waaa... ada tuu paman aku yang ditawarin beli ijazah...
katanya... malah bisa milih IP segala...
kalo mau IP cum laude bayarnya mesti lebih gede...
jadiii... ga usah kuliah... cukup serahin tesis (yang terserah aja nyontek darimana buku TA yang mana)... teruss lulus de...
lumayann... bisa buat nambah golongan... n berarti nambah gaji...
hhff... kalo denger ceritanya... bener-bener ga sebanding sama perjuangan waktu kuliah deeee
Posted by mela | 21 februari 2008 03:57
Posted on 21 februari 2008 03:57
Hi, Okke...
aku perlu profil blog sepatu merah dan profil Okke juga untuk ditampilin di majalah ChiC. Aku tunggu ya.. Thanks..^_^
Posted by Tharie | 21 februari 2008 13:04
Posted on 21 februari 2008 13:04
Saya suka cara kamu menulis :-) You are intelligence
Posted by Honey | 21 februari 2008 17:48
Posted on 21 februari 2008 17:48
Wah, ini niy yang baru aja terjadi waktu ke Bandung beberapa minggu yang lalu. Ada peserta yang misuh-misuh dan meminta pihak kantornya menelponku karena tidak mendapatkan sertifikat. Hal ini tentunya terjadi karena kesalahpahaman, tapi lumayan membuatku berpikir: ternyata kertas2 sertifikat itu berharga banget ya bagi sebagian orang?
Kayanya di sini (baca: Indonesia), gelar dan bukti mengikuti seminar/workshop/pelatihan ini itu sangat penting. Sebagian siy krn alasan profesi (misalnya: dosen atau PNS) dan sebagian lagi untuk membuat CV terlihat meyakinkan ;). Pantes aja ibuku ampe nanya begini: q, koq kartu namanya ga nyantumin gelar akademik ya? :)
Posted by qq | 21 februari 2008 18:20
Posted on 21 februari 2008 18:20
Jeng.. gw baru baca news-nya the frontiers, jadi rada kepikiran euy. Elo gak pa-pa kah? Baik2 di sana ya, kalian semua..
BTW, untuk Tharie, perihal profil Okke & blog sepatu merah mungkin bisa ditanyakan langsung melalui email ke: okke77@yahoo.com :-)
Posted by JJ | 21 februari 2008 22:15
Posted on 21 februari 2008 22:15
mbak aku baru aja beli "ondonesian idle".. heheheh.. telet banget yah..
baru kelar baca 2 halaman..
penilaian sementara.. 9/10..
keren...
Posted by popok | 25 februari 2008 21:27
Posted on 25 februari 2008 21:27
DIJUAL : Ijazah Ujian Persamaan.
Yang berminat silahkan hubungi Doohan : 081339.... *weks...*
Posted by Doohan | 26 februari 2008 02:02
Posted on 26 februari 2008 02:02
kewiraan apaan yah ngomong2?
Posted by Leen | 27 februari 2008 14:55
Posted on 27 februari 2008 14:55
ehmm...slam kenal mba
hmm...sepertinya blog ini udah seperti blognya bapak blogger kita dan sepertinya mba okke harus siap untuk dinobatken sebagai ibu bloggernya Indonesia berhubung dengan rating blog ini yang wuis.... top pisan lah mba...
lalu komentku apa kaitannya dengan artikel ini yak? heuheu, memang blog sekarang sudah sangat nyerempet seperti halnya forum hihihi :peace:
....ijazahku masih pending...mau donk mba....
Posted by vodkarijoeana | 28 februari 2008 19:22
Posted on 28 februari 2008 19:22
setuju tan!
(secara ijazah2 gw kbanjiran) untung cm modal cv&portfolio sy masi bisa cari nasi. hee.
btw, kewiraan?? oo iyaaaa yaaaaaaa, angkatan anda adalah angkatan dosen sy yg ud layak nikah. huehehehe. kalo cari tenaga kerja, sy mau ikut ksana dong tan! ;D
Posted by monic | 28 februari 2008 23:03
Posted on 28 februari 2008 23:03