« Starbuks®? | Main | Kambing Berlipstik saja Bisa dilecehkan »

Dilarang Jatuh Cinta.

12. Tidak diperkenankan untuk memiliki hubungan (dan perasaan) yang bersifat personal dengan siapa pun selama masa satu tahun awal kontrak. Bagi yang sudah memiliki pasangan, diharuskan untuk setia pada pasangannya.


“Najis.”
“Ada apa?” Nadine, seorang perempuan berkebangsaan Jerman, mantan relawan tempat aku akan bekerja terlonjak. Ia menurunkan novel yang sedang dibacanya.
“This..” aku membalikkan lembaran kontrak yang harus kupelajari selama 24 jam dan menunjukkan bagian yang kalau disederhanakan berbunyi : dilarang jatuh cinta dan pacaran.
“Oh, itu.” Nadine yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini tersenyum simpul, ia merubah posisi tengkurap di atas tempat tidurnya menjadi posisi duduk.
“Aturan ini melanggar batas personal sekali ya? Saya nggak suka ini… “ Aku mendengus, lalu merebahkan diri di atas tempat tidurku.

“Percayalah, once I had the same thought.. tapi, setelah menjalani, saya rasa aturan itu benar.”
“Benar? Benar dari Hong Kong?”
“Hong Kong?” Oh, oops. Walaupun bahasa Indonesia Nadine sudah fasih, tapi sepertinya belum cukup canggih untuk mengerti guyonan macam itu.
“Benar dari mananya coba? Masa dilarang jatuh cinta? Yang benar aja..”
“Mi, kalau kamu sampai jatuh cinta atau bahkan sampai pacaran selama masa kontrak, repot jadinya. Seriously. Saya pernah mengalami itu dan pekerjaan saya jadi tidak beres."
"Masa sih, cinta-cintaan bisa mengganggu pekerjaan?"
"Pekerjaan kita ini menuntut kita banyak di jalan dan tidak pernah lama di suatu tempat, hanya transit. Kalau kamu jatuh cinta di salah satu tempat transit, kamu akan sedih saat pergi, atau mungkin malah malas untuk melanjutkan perjalanan..” Nadine menjelaskan dengan sungguh-sungguh. Ya, aku tahu, pekerjaan yang akan kuhadapi sebagai guru relawan di daerah macam ini pastinya bakal merubah seluruh tatanan kehidupanku. Tapi masa sih, gara-gara jatuh cinta, bisa kacau balau?
“Ih sumpah deh, aturan ini menyebalkan…” lanjutku.
“Sumpah? Kenapa harus bersumpah?” Nadine, lagi-lagi tidak mengerti istilah informal bahasa Indonesia.
“Nggak, nevermind.”
“Hm, tapi Mi, bukannya kamu sudah punya pacar?” Nadine mengernyitkan kening,”.. ah, kamu berniat membuat selingkuh?” tanyanya, dengan pemakaian kata yang salah. Membuat selingkuh? Apa pula itu.
“Bukaaaaaan, saya berbicara atas nama relawan yang lain….” Kelitku.
Nadine tidak menyahut, ia hanya terkekeh-kekeh geli.

Enam bulan sudah berlalu, hubungan percintaanku dengan pacar malah berantakan. Ke laut. Kami putus, karena satu dan lain hal, terutama karena pekerjaanku.

Sejak itu aku tidak memiliki baik perasaaan maupun hubungan personal dengan siapa pun. Bukannya menuruti isi kontrak kerjaku, masalahnya adalah : tidak ada satu pun dari antara orang-orang yang kutemui mampu ‘mengetuk’ hatiku. Halah. Paling hanya kagum sedikit, lalu sudah.

Tapi tak apa-apa, aku merasa baik-baik saja tanpa pasangan. Pekerjaan ini, walau kadang ngeselin, tapi secara keseluruhan, menyenangkan. Jadi urusan-urusan percintaan terlupa. Bahkan di saat aku down, aku selalu bisa menemukan hal lain untuk menyenang-nyenangkan diri, berenang ke pantai, bersepeda keliling kota, memasak, membaca novel di atap (iya, atap! Kenapa? heran?).. sampai... ini yang tergila : Aku ingin menambah rajah tubuhku.

Are you sure?” Tanya Nadine di telepon suatu saat, ketika aku menyampaikan niatku padanya. Oh ya, Nadine sekarang sedang berasa di Kamboja, ia memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak, ia ingin kembali menjadi backpack traveler lagi seperti dulu, sebelum menjadi relawan di tempatku bekerja.
Iya, kenapa nggak?” aku balik bertanya.
“Oh, I know a guy. He’s a tattoo artist. Saya pernah ketemu dia sewaktu dalam perjalanan menuju Manado dua bulan lalu. You can contact him. Eh ehm wait.” Nadine terdiam.
“Kenapa?”
“Dia nggak punya telepon. Bagaimana ya?”
“Lah?” aku terheran.
“Sebentar.. Kalau tidak salah ingat, dia sedang tinggal dekat-dekat situ kok, saya bakal kontak salah satu teman saya deh, dia sedang bareng si tattoo artist. Tapi kamu harus cepat, kalau tidak salah minggu depan ia mau melanjutkan perjalanan.”

Nadine adalah perempuan serius. Ketika ia bilang akan melakukan sesuatu, maka ia benar-benar melakukannya. Seperti mencarikan si tattoo artist ini.

Pada akhirnya, aku pun mengambil cuti dan melakukan perjalanan demi bertemu dengan laki-laki itu. Gila memang, tapi bukankah sesuatu yang gila itu.. menghibur?

Aku menyerahkan desain tattoo yang kuinginkan, ia mempelajarinya, lalu membuat janji beberapa pertemuan, karena aku tidak yakin akan kuat menahan sakit, jika tattoo harus dibereskan dalam satu hari.

Aku percaya, di antara berjuta-juta manusia di dunia ini, ada orang-orang tertentu yang memang diciptakan untuk cocok dengan kita, bagai ulir bibir botol dan tutupnya atau bagai mur dan baut, yang jika bertemu, akan langsung click, tanpa perlu berusaha terlalu keras, bahkan tanpa membutuhkan waktu yang terlalu lama. Orang-orang macam itu tersebar di seluruh penjuru dunia. Alangkah beruntungnya jika kita, bisa bertemu dengan mereka tanpa sengaja.

Sialnya, aku merasa demikian dengan Sang tattoo artist. Aku merasa nyaman mengobrol apa saja dengannya. Belum lagi cerita petualangannya sebagai traveler, membuatku meleleh-leleh. Mendengar bagaimana ia bertahan hidup dengan merajah tubuh orang atau menjual lukisan di resort-resort yang ada di sebuah desa di Manado, bagaimana ia harus menangkap ikan bersama nelayan untuk makan, bagaimana ia menggilai diving, bagaimana ia menghadapi berbagai masalah dengan orang-orang di jalan. Ia benar-benar matang di jalan.

….

Wandering_Soul : Nad, he’s so charming ya?
NadineSchmidt : Haha, indeed.
Wandering_Soul : Saya apakan ya enaknya? Cium saja gitu?
NadineSchmidt : Hahah, gila. Ya sudah, cium saja. Jangan lupa minta izin dulu. Dan jangan bibir, pipi saja – nanti kalau dia merespon dengan baik, baru bibir. Hahaha.
Begitulah, entah karena merasa didukung secara maya, melalui kanal cakap Yahoo oleh Nadine, aku pun membuat skenario. Pada pertemuan kedua, tattooku akan selesai. Sebelum aku pulang, aku akan mencium pipinya. Actually I want to kiss his lips, tapi Nadine benar, kalau reaksinya baik, dari pipi aku akan melanjutkan ke bibir. Hayah. Niat.

….

“Eh, ini kayaknya rada bodoh deh kedengarannya.” Cetusku di luar tempat tinggal sang tattoo artist. Tattoo di kakiku sudah selesai, rasanya luar biasa sakit serta membengkak hebat. Untuk jalan pun susah.
“Apaan, Mi?” tanyanya.
“Emmm…” tiba-tiba aku ragu sendiri.
“Apaan sih?”
“Gue mau nanya sesuatu, dan lo boleh bilang nggak.” Seruku.
“Apaan?”
“Can I kiss you?” tanyaku.
Ia terpana, lalu mengangguk pelan. Aku berjalan mendekat dan perlahan mencium pipinya. Mukanya memerah.

Suasana jadi aneh dan canggung ketika kami berdiri berhadapan. Aku dan dia bahkan cengar-cengir tidak jelas.

“Ehm.. hehehe.. kayaknya gue harus pulang deh..” seruku untuk mengakhiri kecanggungan. Lucu, walaupun reaksinya ‘cukup baik’, tapi aku tidak punya nyali untuk mencium bibirnya.
“Iya.. ati-ati ya?”
“Iya, thanks ya.”
“Sama-sama. See you when I see you.”

….

Dalam scenario itu seharusnya pertemuan terakhir. Tapi sialnya, bekas tattooku membengkak hebat dan sakitnya luar biasa. Bahkan aku sampai demam. Dengan panik, aku mendatangi tempat tinggal sang tattoo artist.

Ia melakukan treatment pada tattooku. Ia membersihkan dan mengobatinya dengan lembut. Lalu kami mengobrol. Lima jam di tempatnya, tanpa jeda. Bahkan obrolan pun dilanjutkan saat kami berjalan kaki mengitari tempat tinggalnya. Aku sampai memaksa diriku untuk menahan sakit dan berjalan terpincang-pincang mengikutinya. Ya ampun. Sungguh, aku merasa nyaman sekali ngobrol dengannya. Kami sama sekali tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan, hari itu penuh tawa gila. Aku bahagia. Tsah.

Di akhir pembicaraan, ia mencium pipiku, perlahan.

Saat itu aku merasakan seperti ada kepak sayap kupu-kupu dalam perutku. Dan aku merasa kakiku sungguh berat untuk melangkah, pulang dan menjauh darinya. Apalagi jika mengingat, bahwa ini adalah pertemuan terakhir kami. Besok ia pergi, melanjutkan perjalanan, entah ke mana. Dan aku pun harus pergi, melanjutkan perjalananku.

“Eh, lo tuh nyenengin. Gue suka ngobrol sama lo.” Seruku sebelum pulang.
“Gue juga.” Dan ia pun mendekat, lalu mengecup bibirku perlahan, lembut dan hangat.

Mukaku memanas. Kurasa untuk beberapa jenak aku terbengong. Setelah tersadar, aku menciumnya. Kami berciuman cukup lama. Dadaku seperti mau meledak, dan kepak sayap kupu-kupu dalam perut ini semakin menggila.

Gosh, I am accidentally in love.

Love?

Terlalu instankah jika aku menyimpulkan demikian?

Ah terserah.

Ketika pulang, perasaanku campur aduk, tersenyum-senyum seperti ABG jatuh cinta tapi sekaligus juga sedih.

Kusempatkan diri mampir ke sebuah supermarket di kota sebelum pulang, lalu membeli satu kotak es krim satu liter. Ini adalah terapiku untuk mengatur perasaan.

See? I’ve told ya! Perasaan kamu jadi kacau balau kan?” seru Nadine di telepon.
“Iya! Puas?”
“Peraturan di kontrak itu benar. Sekarang kamu mau percaya atau tidak?”
“Nggak juga, aku kan professional, bisa membagi antara urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.”
Aku mendengar tawa renyahnya di seberang sana.
Go on, laugh.” Omelku,
“Maaf, maaf. Seharusnya saya tidak mentertawakan. How do you feel now?” Tanya Nadine.
“Hm, sedikit sedih. Susah lho, menemukan orang yang bisa klik dengan kita seperti itu dan saya harus melepasnya pergi. He’s gone now.
“Yah, saya tahu rasanya.”
“Tapi saya nggak mau jadi perempuan cengeng.” Seruku cepat. Yup, alih-alih memikirkan ‘kenapa kami harus berpisah’ – seharusnya aku mensyukuri bahwa aku dan sang tattoo artist pernah mengalami persilangan jalan. Setidaknya aku pernah menemukan satu orang yang klik denganku di antara jutaan manusia di dunia ini.
I know you are not.
Kami terdiam.
“Mi, saya pernah dengar istilah dari salah satu teman : kalau kalian berjodoh, pasti akan bertemu lagi.” Nadine memecah keheningan.
“Iya sih, Nad. Kalau emang waktunya ketemu, tanpa diusahakan terlalu keras pasti bertemu juga.”
Aku menghela nafas.
"Mi... sudah lah, anggap ini fase before sunrise dalam hidup kamu..." cetus Nadine.
"Iya ya. My favorite movie." Aku tersenyum sendiri. Fase before sunset dalam hidupku. Cool. Sedikit harap akan ada juga fase before sunset di kemudian hari, entah kapan.
Hening lagi.
“Nad?”
“Ya Mi?”
“Kamu yakin dia nggak punya nomor atau apa pun yang bisa dikontak?”
Nadine pun terbahak.

Untuk seorang seniman rajah nan mempesonaah (haha). Hey kamu! Iya kamu : I am going to sue you for stealing my heart. See you when I see you.

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/94

Comments (18)

JJ:

Keren, neng. Terusin aja jadi novel :-)

Diki:

kontraknya bener pisan, seprofesional siapapun kalau udah riweuh ku cinta mah lewat, etos kerja vs galauisme :D

imoy:

"Susah lho, menemukan orang yang bisa klik dengan kita seperti itu dan saya harus melepasnya pergi. He’s gone now.”---->bener banget nih!

btw, ini fiksi atau bukan ya, apa masih masuk kategori fiksi kalau based on true story (awak sotoy ya,hehehehe). But it's good loh, gw bakal beli kalau udah jadi novel.

obey:

lo dah posting di multiply, mbak? gw mau versi brutalnya! bwahahahaha

nYam:

yaa kok nanggung? terusin dong...uber si seniman rajah sampai ke ujung dunia

Dodol Surodol:

Ihiii!!! Udah ciuman pasti lupa deh nanyain pesenanku :))

cerpen yang berdasarkan kehidupan nyata emang rasanya lebih nancep, ya.. :p

^^
see you when I see you....
keren mba!!!

I kinda "know" this person .. from several tattoo stories, and he does sound like a heart stealer.

Geez .. how could three dearest friends in my life have a tattoo connection with the same artist ? The world is indeed small ..

*I will deliberately assume it is the same one who tattoed our two other dear friends, 'Kke .. *

Happy belated New Year !!

hmmm..ini novel ato beneran kah mbak...
tp klo di kantor gw emang real kayak ini...tp gk dilarang pacaran sich..cuman gk boleh nikah sesama karyawan...alias klo terlanjur cinta ..ya terpaksa keluar dach salah satu

Na2:

Hhhh...such a nice story...
Bacanya jadi bikin pengen jatuh cinta lagi..huehue o_0

mampus dah! keren banget iniiiiihhh.....

ckckck.....magrib2 bikin gw meleleh, hahah!

carlina:

asli neh crita keren! setuju wa, gmn klo dijadiin novel??

kalau kalian berjodoh, pasti akan bertemu lagi.” Nadine memecah keheningan.

Yup, kalau berjodoh pasti ketemu lagi, kalau tidak berjodoh biarlah jadi teman saja..

Erly:

"seharusnya aku mensyukuri bahwa aku dan sang tattoo artist pernah mengalami persilangan jalan." --> ditunggu persimpangan selanjutnya. Mungkin aja si tatto artist ada disana dan continue the story?

waa romantis bgt. sy kira ini cerita buat novel. ternyata beneran. :D

wah pengalaman pribadi neee prends romantis juga..... Tapi jangan patah hati yaaa.... carilah cinta yang lain hehehee......

mba.. boleh aku pinjam kalimatnya yahh..
akuh banget tuhhh...

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 04 januari 2008 3:16 am.

The previous post in this blog was Starbuks®?.

The next post in this blog is Kambing Berlipstik saja Bisa dilecehkan.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31