Di sini, ada beberapa remaja yang memiliki naran familia [nama keluarga] : daBuset. Ya, ya, tentu saja itu bukan benar-benar naran familia orang Timor Leste, seperti daCosta, daSilva, Freitas dan seterusnya. Buset itu singkatan dari Budak Setan, nama geng anak-anak Becusse Centro, desa tempat saya dan teman-teman tinggal selama lima bulan terakhir. Seluruh anggota geng itu menjadikan nama geng mereka menjadi naran familia. Mereka dengan sukarela, dan saya pikir lebih berbangga hati menyandang nama ‘daBuset’ di belakang nama mereka. Bahkan, walaupun nama desa kami adalah Becusse Centro, tapi mereka merubahnya menjadi : Buset Area. Di beberapa tempat yang sering mereka tongkrongi, akan mudah ditemukan tulisan : Pendo daBuset, Gab daBuset, Ananu daBuset dan seterusnya.
Salah satu remaja yang masuk dalam ‘keluarga besar’ daBuset adalah Pendo. Pendo daBuset. Ia berasal dari desa Uatucarbau, Viqueque dan baru pindah ke Dilli untuk melanjutkan SMU pada bulan Mei kemarin. Anak ini termasuk sejenis remaja ngeselin, salah satu oknum yang melempari saya dan Nita dengan kerikil. Ia hobi sekali melakukan tindakan intimidatif untuk membuat Malae-malae macam saya ketar-ketir. Entah mendatangi rumah dalam keadaan sempoyongan karena mabuk dan memaksa masuk, mematikan dan menghidupkan pusat listrik bolak-balik sehingga kami yang di dalam berasa di bawah kelap-kelip pancaran lampu disko *halah*, terakhir malah ia sempat membakar pohon pisang di depan rumah. Asli, ni anak.. nakutin. Saya sempat berpikir, sepertinya ia mampu untuk melakukan perbuatan yang lebih berbahaya lagi – semacam perbuatan kriminal, seperti menusuk, membakar rumah dan seterusnya. Bahkan manik hitam matanya yang berwarna pudar, yang menandakan bahwa ia telah kehilangan penglihatan – membuat saya berpikir bahwa itu adalah akibat baku hantam antar geng.
Sampai…
Suatu saat, karena ia terus-terusan mematikan dan menghidupkan pusat listrik bolak-balik, salah seorang dari kami mengadu pada orangtuanya. Lucu, sang ibu datang dan me’nyabet’ pantatnya dengan ikat pinggang. Memang sih, ia tidak terlihat takut, malah bilang, “ikat pinggang kecil begitu, mana sakit?” – tapi, ia tidak melanjutkan perbuatan mengganggunya. Pendo pergi sambil cengar-cengir.
Besoknya dia datang sambil membawa minyak masak dan menyodorkannya pada saya, lalu menunjukkan tattoo barunya di lengan atas yang masih bengkak. Dia meminta saya untuk mengoleskan minyak di sana. Sikapnya jelas sekali ingin membuat saya jiper. Tapi saya tetap membantunya mengoleskan minyak tersebut. Kami mengobrol tentang tattoo. Beberapa trik perawatan pra dan pasca proses saya jelaskan padanya.
Entah karena obrolan tentang tattoo, entah juga karena sentuhan. Tapi sepertinya sentuhan, sih. :D Saya tahu, bahwa sentuhan itu bisa menjinakkan pria-pria. Sudah terbukti. Tapi saya nggak nyangka, sentuhan saya ternyata mampu sedikit menjinakkan si bandel satu ini. Yah, mungkin ini salah satu talenta yang selama ini tak saya sadari. *HALAH!*. Yang jelas kami jadi sering bertegur sapa setiap bertemu.
…
Perlakuan Pendo pada kami semakin membaik, ketika ia mengikuti kelas Youth Peace School kami. Bahkan ia tidak pernah mengganggu sama sekali. Kami jadi sering ngobrol. Dia suka sekali menceritakan betapa gahar-nya dia di sekolah dan bilang bahwa ia ditakuti semua orang. Belakangan saya tahu, itu Cuma bualan. Dan belakangan lagi, saya jadi lebih tahu ketika Abia –yang menjadi guru di kelas Youth Peace School bilang, bahwa sebenarnya Pendo sangat tidak percaya diri dengan keadaan matanya. “Mana bisa saya punya pacar atau orang-orang percaya saya karena mata saya buta sebelah?”. Analisa kami, ia bersikap intimidatif, berusaha membuat orang takut, karena ia berpikir hanya itulah satu-satunya cara agar ia eksis.
Di dalam perjalanan, jangan pernah terlibat secara emosional dengan siapa pun. Itu yang saya pelajari selama ini. Soalnya percuma, bukan karena saya tidak tinggal menetap di suatu tempat, tapi dari yang sudah-sudah, emosi apa pun terhadap seseorang di suatu tempat, selalu menguap dengan sukses ketika pesawat lepas landas atau ketika kereta api, bis, truk dan apa pun itu pergi meninggalkan suatu tempat. *dum di dum*
Tapi kali ini saya takluk. Setelah semua hal yang saya lewati di Buset area ini, membuat saya –mau tidak mau- terlibat secara emosional, pake hati. Saya jatuh hati dengan Pendo dan teman-temannya. Dan ketika saya jatuh hati, saya selalu ‘berlebihan’, ingin bersikap heroik, ‘menyelamatkan’ orang yang saya jatuhi hati tersebut. :D
Betapa saya merasa telah menjadi pahlawan bagi mereka ketika melihat proses Pendo dan teman-temannya berubah. Sungguh. Mereka menunjukkan kemauan belajar. Mereka bisa berkomunikasi tanpa melakukan violensia. Saya bisa dengan santai meminta Pendo menjadi guru bahasa Tetun saya yang nggak kunjung membaik juga ini. Dan mereka meminta saya menjadi guru bahasa Indonesia mereka. Saya sempat memperdengarkan “You’ve got a friend” (Carole King) di mp3 player dan berusaha mengajarkan Pendo lagu tersebut, yang sialnya dia tidak bisa-bisa sampai akhirnya kami berdua menyerah. Kami melakukan janji awal tahun, dan besoknya tiba-tiba Pendo bilang “Kemarin kakak merokok ya? Saya sudah berhenti minum.”. Dan saya balas dengan cengiran,”Kan Januari 2008, sekarang dipuas-puaskan dulu.”
Muncul juga satu kebanggaan, hey, I saved them. I am their heroine.
Tapi saya salah. Ini adalah bukti bahwa kebanggaan atau kesombongan itu buruk. Bukti juga bahwa saya tidak boleh terlalu percaya dengan perubahan yang terlalu drastis.
Ketika sebuah rumah menjadi tempat berkumpul anak-anak bandel, maka rumah tersebut menjadi magnet bagi anak-anak bandel lain. Maka, sering terdapat muka-muka baru yang tiba-tiba ada di beranda rumah kami. Geng mana, kami tidak tahu. Tapi tetangga-tetangga sangat khawatir dengan keadaan ini.
Kenapa?
Karena, lingkungan rumah menjadi tidak aman. Anak-anak ‘baru’ tersebut sering sekali bersikap mengganggu. Datang mabuk. Atau bernyanyi-nyanyi sampai lewat tengah malam. Kadang-kadang membawa pengaruh buruk bagi Pendo dan teman-temannya. Yang lebih berbahaya lagi, mereka sering mempunyai masalah dengan entah siapa. Para tetangga takut jika pihak ‘entah siapa’ yang memiliki masalah dengan anak-anak ini, datang menyerang atau membuat keributan.
Dan benar. Kemarin mereka mabuk. Belum terjadi keributan, sih. Tapi kami semua sebal dan kecewa.
Tidak cukup sampai di sana, besoknya mereka mabuk lagi. Kali ini lebih parah, salah satu dari anak baru ini meminta dipinjamkan sepeda, saya menolak, dan ia memaki-maki dengan sangat kasar, sambil mengangkat tangannya, menunjukkan gesture ingin menampar. Saya melirik salah satu anak-anak daBuset ini – berharap mereka bisa menolong saya.
Anyway, si anak baru ini tidak menampar saya. Tapi salah satu anak daBuset tiba-tiba maju, memaksa saya untuk meminjamkan sepeda, sambil bilang “Kakak mau saya kencing di sini?”.
Itu.kasar.sekali.
Saya kesal dan membalik badan; salah satu teman saya menganga lama. Belakangan saya tahu, bahwa orang yang mengancam akan kencing di dalam rumah, benar-benar membuka celananya dan memamerkan penis.
Saya. Sakit. Hati.
Rasanya sakit. Seperti patah hati. Baru semalam saya merasa mereka sahabat-sahabat cilik saya. Sekarang saya diperlakukan dengan sangat kasar.
Tidak ada yang bisa saya lakukan selain menangis. Sebal. Kesal.
Pendo yang untungnya sedang tidak ikut keributan tersebut karena sedang asyik menggambar desain untuk tattoo barunya, mungkin melihat saya menangis. Atau ada teman saya yang mengadu padanya. Ia mempertanyakan hal tersebut.
“Saya pikir, saya teman kalian. Tapi ternyata bukan. Teman itu tidak menyakiti teman.” Itu yang saya bilang sambil masuk ke dalam rumah, meninggalkan Pendo yang sepertinya menunggu saya menceritakan detil peristiwa.
….
Dan apa yang dikhawatirkan tetangga benar adanya. Malam itu rusuh. Ada anak dari geng lain, yang mungkin bermasalah dengan anak-anak baru ini datang. Terjadi pelemparan pada mobil tetangga. Dan entah apa lagi, ada baku hantam, ada teriakan marah, teriakan histeris, ada batu-batu melayang dan entah apa lagi. Ada yang luka-luka. Saya dan teman-teman mengunci diri dalam rumah, mematikan lampu dan menjauhkan diri dari jendela.
Kami baru berani mengintip ketika polisi datang. Ampun, banyak sekali orang-orang berteriak-teriak marah sampai malam.
….
Sampai sekarang masalah keributan antar geng tersebut belum pulih benar. Dan suatu malam Pendo datang, ia meminta gelang kayu yang saya pakai.
“Boleh? Buat kenang-kenangan.” Pintanya.
Dan dia pun bercerita bahwa ia akan pulang ke kampungnya. Dia bilang, karena ia ‘terhitung’ sebagai anak bandel, jika ada masalah, mau bersikap baik seperti apa pun, selalu terseret-seret, entah menjadi sasaran geng lawan, atau dicari polisi. Ia tidak tenang.
Tadinya saya ingin bersikap memberi dengan bijaksana, tapi mendengar bahwa ia akan pergi, dengan sukarela saya memberikan gelang saya.
Besok malamnya, semalam sebelum ia pergi, ia datang lagi, membawa gelang manik-manik, buat saya, teman saya dan Abia.
“Saya pulang. Gelangnya jangan dilepas walaupun kakak sudah pulang ke Jawa.”
Itu katanya.
….
Ini sudah bulan ke sekian. Senang. Sedih. Kesal. Sebal. Marah. Frustasi. Histeris. Mendadak suka. Gemas karena signal ketertarikan saya tidak direspon dengan baik, sudah berhasil bikin mood naik turun nggak jelas.
Tapi baru sekarang saya merasa patah hati.
Arghhhgggghhh…
Comments (15)
Aaaaaaaarhh.. Edaaan..
Okke, dada gw sakit juga baca ini.
Posted by aMi | 17 december 2007 14:11
Posted on 17 december 2007 14:11
Ikut patah hati, Mbak...
Posted by Arya Nasoetion | 17 december 2007 20:46
Posted on 17 december 2007 20:46
Sing sabar ya mbak... :)
Posted by JJ | 18 december 2007 11:33
Posted on 18 december 2007 11:33
wowwww..panjang sekali ceritanya mbak...
klo mbak ,ini mbak.... daBuset juga y....
dari Dili y?...salam
Posted by anno' | 19 december 2007 08:34
Posted on 19 december 2007 08:34
Okke... kaya sekali pengalamanmu, iri deh :)
Posted by hotma | 19 december 2007 19:06
Posted on 19 december 2007 19:06
bicara soal 'heroine', yah, kita ini apalah jeung selaen pemeran pembantu semata, pelengkap penderita. bagus juga kalo lo waspada akan perasaan lo ini.
Posted by aj's lover | 21 december 2007 16:41
Posted on 21 december 2007 16:41
Ohh...hal seperti ini, bisa bilang `Patah hati` ya?! Begitu ya...
Sama dengan tahun lalu. Mereka selalu kasih kesempatan untuk pikir `What is the act of Believe' `What is the act of trust?'.
Saya selalu berpikir itu, lalu cape. Sering patah hati, lalu cape.
Belajar tentang manusia?
Kaka tidak cape?
Kaka tidak benci manusia?
Posted by Rumiko | 22 december 2007 11:26
Posted on 22 december 2007 11:26
huwaaa
gw berkaca kaca....
Posted by VaNYa | 22 december 2007 11:47
Posted on 22 december 2007 11:47
mbak .... novel nya menyentuh hati"#@%@!*&
Posted by yogi iskandar | 25 december 2007 18:13
Posted on 25 december 2007 18:13
Menyentuh..
Posted by OktaEndy | 26 december 2007 13:12
Posted on 26 december 2007 13:12
Menjadi pahlawan bagi orang-orang bandel begitu emang sempat terpikir .... beragam usaha udah dicoba, dan ga kapok-kapok. Tapi itu dulu .... skrg Qq nyerah. Bukan karena ga peduli, tapi krn sadar blom punya kapasitas yang cukup untuk itu. Salut buat okke ... for your braveness
Selamat Taon baru 2008
Posted by qq | 28 december 2007 18:01
Posted on 28 december 2007 18:01
Mmm waduh iya nih postingan2 Okke ttg cerita bersama mereka bener2 menyentuh... Tentang gimana mereka 'sepertinya' bisa berubah. Langsung sedih banget pas baca posting ini, yg sabar ya Okke..
Tapi mungkin gak sih (sekedar memberi harapan, dan kemungkinan cerita dari the other side of the coin), waktu itu pemuda yg mengancam buang air kecil itu, berbuat begitu cuma krn dia merasa gengsi dan ingin menunjukkan (pamer) kepada anak2 geng baru itu bahwa dia bisa mengontrol (or take over) situasi. Atau, mungkin gak sih dia berbuat begitu, karena justru ingin melindungi Okke dkk dari tindakan2 yg lbh kasar yg mungkin dilakukan oleh anak geng baru yang maksa minjem sepeda itu, karena dia tau Okke pasti nolak minjemin sepedanya ke anak baru itu.
Just a thought, though...
Yg tabah ya disana... Salut banget deh sama kalian :)
Posted by Martha | 20 februari 2008 18:45
Posted on 20 februari 2008 18:45
dah lama ga kesini.....
dan cerita ini bikin dada sesak dan mata berkaca-kaca
it is so hard to change something, especially people's thought.
Posted by vita | 28 februari 2008 20:15
Posted on 28 februari 2008 20:15
Ya ampun ceuu. Gw sampe berhenti bernapas untuk sesaat. *kalo kelamaan mah mati. Gila! beruntung banget lu! Gw iri keu! dan lebih-lebih lagi, gw malu..karena gw belum berani nekat dan masih terlalu egois untuk pergi ke daerah konflik atau tempat manapun itu dan melakukan apa yang dibilang orang sebagai pengabdian. Ah gw bangga sama orang-orang kayak lu
Posted by Popi | 20 maart 2008 20:52
Posted on 20 maart 2008 20:52
skit bgt y, d gtuin.
q jga lg ptah hti, bkan krna co q slingkuh tp krna ortunya g stuju n dia g bsa ngyakinin ortunya klo q pntas buat dia. ya udh kta jlan sndri2
Posted by alesta | 29 juni 2008 21:51
Posted on 29 juni 2008 21:51