“Feto labele fuma. (perempuan tidak boleh merokok)” Cetus Thomas Ximenes semalam saat saya sudah nyaris juling gara-gara editan newsletter kantor .
“Tambasa? (kenapa?)” Tanya saya.
“La diak… (tidak baik)”
“Feto labele fuma, mais, Mane bele, kah? (perempuan tidak boleh merokok, tapi pria boleh kah?)” Tanya saya iseng.
Ia menjawab dengan cerocosan dalam bahasa ibunya, sampai saya terpaksa berkata,” Hey, para! Keta koalia lalais, hau la kompriende. (Jangan cepat-cepat, saya nggak ngerti.)”. Rupanya ia lupa bahwa saya malae (orang asing) yang baru bisa berbahasa Tetun ituan-ituan deit (sedikit-sedikit saja).
Dan ia pun menghela nafas, lalu tampak berpikir sejenak. Saya menunggu. Dengan terbata-bata, laki-laki berkulit hitam mlengseng berusia sembilan belas tahun ini berkata dalam bahasa Indonesia, bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan.
Nanti jantung rusak. Nanti sakit paru-paru. Dan ia menyebutkan semua penyakit yang bisa menimpa saya, jika saya terus merokok.
Walaupun ia berkilah, laki-laki masih boleh merokok, karena secara fisik lebih kuat, tapi sungguh saya merasa tersentuh ‘dinasehati’ oleh remaja macam dia.
Sungguh, bisa berada dekat dengan dia dan teman-temannya, adalah sebuah keajaiban.
Tidak pernah kebayang sebelumnya, bisa mengobrol panjang lebar dengan bahasa campur-campur dengan mereka. Bisa membantu mereka belajar. Bisa mendengarkan curhat mereka tentang keluarga masing-masing. Bisa menceritakan tentang keadaan di Jawa. Bisa tertawa-tawa geli bersama saat saya salah bicara, sehingga menimbulkan konteks yang berbeda. Bisa melihat mereka yang cengar-cengir sebal ketika sedang bersemangat bercerita bagian terlucu film Warkop DKI atau bagian terseram film horror Indonesia masa kini favorit mereka dalam bahasa Indonesia tiba-tiba mereka lupa satu kata dalam bahasa Indonesia, sehingga ke’seru’an cerita mereka terpotong dan saya tidak tertawa maupun merasa seram sama sekali. Bisa memegang tangan mereka saat mengobati luka entah kenapa atau membalurkan mina (minyak) pada tato baru mereka.
Semua itu keajaiban.
Nggak kerasa, ini sudah nyaris bulan ke-enam saya jauh di rumah. Shock culture sudah terlewat, homesick ke laut aje, ibu saya sampai sering SMS khawatir karena saya jarang mengabari rumah [Dek, atau Ami, kalau kalian baca entri ini, bilangin orang rumah, saya baik-baik aja :) Cuma sialnya Mentari diblokir di Timor Leste. Bisa nerima, nggak bisa balas.]. Padahal, saya masih ingat, bulan Juli, sebelum berangkat, saya hampir batal pergi karena tiba-tiba merasa bahwa keputusan yang saya ambil salah besar. Bahkan ketika sudah ‘setengah nyebur’, saya nyaris mundur. Untung saya gengsian, saya sudah bilang pada orang rumah, akan pergi selama setahun, masa baru dua bulan pulang? Malu sama pintu rumah, kali. Jadi, saya menahan diri untuk tidak pulang.
Saya masih ingat betapa terganggunya saya ketika setiap malam sekelompok pemuda menyanyi-nyanyi parau di emperan sebuah kios besar yang jaraknya cukup dekat dari rumah kami. Sepertinya itu adalah markas mereka. Kata tetangga-tetangga sih, mereka adalah pemuda-pemuda begajulan [ istilah begajulan itu sangat lapan puluhan sekali ya?], yang kerjanya cuma mabuk, nongkrong, mencuri, cari masalah, berantem pokoknya, berdasarkan informasi tetangga sekitar, mereka itu semacam pemuda tak berguna bagi nusa dan bangsa.
Saya masih ingat, ketika pemuda bergajulan tersebut dalam keadaan mabuk nyaris masuk rumah dan menakut-nakuti kami. Saya juga masih ingat ketika mereka melempari kerikil saat saya dan ibu ini sedang mengobrol di lantai dua. Ibu ini sampai nabsu [pakai ‘b’] dan berkeras memaksa saya mengungsi ke rumah beberapa kawan di sini.
Saya masih ingat, betapa saya melongo berat ketika pohon pisang di dekat rumah dibakar oleh mereka sampai apinya membubung tinggi dan asapnya ke mana-mana.
Saya masih ingat betapa takutnya saya ketika mereka menghadang saya di malam hari saat saya akan menuju ke toilet. Saya masih ingat apa yang mereka katakan saat itu. Mereka mengancam saya.
Iya, karena gengsi, saya bertahan. Walaupun situasi sempat membuat saya depresi berat dan sering bengong sambil bertanya-tanya, “Anjing, gue ngapain sih begini-beginian?”
Sekarang, saya bersyukur. Gengsi itu memberi saya kekuatan untuk terus.
….
Selalu ada dua jawaban yang saya dapat ketika pertanyaan : “Apa yang ingin kamu lakuin di masa depan kamu?” saya ajukan untuk pemuda-pemuda Timor. Satu adalah mendapat beasiswa untuk meneruskan pendidikan di luar negeri, sedangkan yang satu lagi adalah bekerja di LSM internasional. Dan untuk mencapai dua mimpi besar mereka, selalu ada satu kendala, penguasaan keterampilan berbahasa Inggris.
Menurut salah seorang pemuda yang sering menyambangi rumah kami, di sekolah mereka nggak benar-benar belajar tentang begini-begitu bahasa Inggris. Mereka tidak punya textbook untuk belajar [dan ini berlaku juga buat pelajaran lain], jadi setiap jam pelajaran, guru sibuk menuliskan seluruh teori di papan tulis dan mereka mencatat. Seringnya, jam pelajaran habis dengan mencatat, tanpa diikuti oleh penjelasan-penjelasan apa-apa tentang apa yang mereka catat. Pemuda ini sempat bilang bahwa pada akhirnya, mereka tidak tahu apa-apa tentang bahasa yang (katanya) internasional ini,
Makanya, kursus-kursus Inggris itu sangat diminati. The Frontiers Timor Leste, tempat saya sekarang bekerja, juga mbung eleh, ingin ikut mengambil bagian untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris pemuda Timor Leste, supaya pada akhirnya [semoga] dapat berguna untuk mereka sendiri, demi meraih mimpi mereka, apa pun itu [tsah!]. Kami mengadakan kursus bahasa Inggris GRATIS.
Dalam waktu dua hari, pengumuman kursus tersebut direspon oleh 40 orang. Untuk kursus Inggris tidak gratis saja mereka bersedia, apalagi yang gratis ya? ;-)
Tapi kemudian saya mendengar isu bahwa beberapa orang yang mendaftar adalah pemuda-pemuda bergajulan tersebut. Katanya mereka tidak mendaftar untuk belajar, tapi hanya untuk mencari gara-gara dengan kami, para Malae [orang asing] ini, karena dari kasus-kasus sebelumnya, mereka tidak akan pernah tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan belajar, yang mereka sukai hanya nongkrong, bermain gitar, menyanyi, minum, merokok, ngobat dan mencuri.
Nah lo.
Dan masalah itu datang saat placement test yang diadakan di halaman belakang rumah kami. Waktu itu test sudah hampir selesai, tinggal sekitar dua puluh menit lagi dari waktu pengumpulan, malah sudah ada yang pulang. Tiba-tiba datang 3 orang pemuda, dalam keadaan mabuk, membuat kerusuhan di tempat kami. Mereka menendang semua kursi, mereka menghancurkan tembok bata samping rumah, mereka berteriak-teriak marah. Walaupun sudah menyiapkan diri untuk keadaan macam ini, karena selama dua malam sebelumnya mereka kerap datang mengancam, bahkan pernah juga menghadang saya yang sedang menuju toilet, tapi melihat kekacauan ini terjadi di depan mata, ya lumayan juga rasanya. Deg-degan gimanaa, gitu.
Suasana kacau balau, seluruh peserta test kami masukan ke dalam rumah, sedangkan kami menghubungi UN Police untuk meminta bantuan. Cuma, karena suasana tidak semakin membaik, maka saya dan seorang teman memutuskan untuk mendatangi ‘markas’ mereka. Dua dari pemuda yang mengacau tersebut ada di sana.
Mereka sangat mabuk – kata beberapa orang, mereka baru saja menggunakan marijuana. Kami mencoba untuk berkomunikasi dengan tenang dan menanyakan alasan mereka melakukan pengrusakan macam itu. Salah satunya masih bisa menjawab dengan terpatah-patah, tapi yang lain tampak terlalu mabuk untuk mendengar. Ia terus memaki-maki, bahkan yang mengejutkan, tiba-tiba ia mengambil sebuah kayu besar dan menunjukkan gesture akan melempar kayu tersebut pada kamu. Waktu itu yang terlintas dalam pikiran saya : “Gebleg, mampus di sini deh gue.”. Cuma ada beberapa orang yang bisa menahannya, sehingga tidak ada satu pun dari kami yang terluka.
Dari perbincangan singkat, akhirnya kami sedikit tahu, bahwa mereka marah dan membenci kami karena mendapat informasi yang salah dari salah seorang anggota kami. Yang mereka dengar adalah, sudah terlalu banyak pendaftar kursus inggris dari desa-desa lain, sehingga mereka tidak bisa lagi mendaftar – hal ini membuat mereka merasa benci pada kami, dipikirnya kami menghilangkan kesempatan mereka untuk belajar di desa mereka sendiri. Belum lagi perkara placement test, mereka sangat yakin tidak akan pernah mampu lulus; ini membuat mereka berpikir bahwa kami sengaja supaya mereka –si anak-anak nakal ini- tidak akan pernah bisa bergabung dalam kursus sampai kapan pun. Informasi yang salah banget, sebenarnya semua orang yang mau bergabung, bisa bergabung, placement test tersebut hanya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan para calon murid, sehingga kurikulum yang dibuat bisa disesuaikan. Kami bermaksud untuk membagi murid menjadi dua kelas, yakni kelas GREEN untuk level dasar dan BLUE untuk level pre-intermediate.
Kami bilang, kalau mau, mereka bisa bergabung dan mengikuti tes keesokan harinya. Beberapa dari mereka, setelah tidak terlalu mabuk setuju.
Masalah beres?
Ya nggak. Tapi terima kasih lho, udah bertanya :D
Besoknya, tidak ada yang datang, kecuali pemuda yang hampir melempar kami dengan kayu, ingat? Ia datang, tidak dalam keadaan mabuk. Saya sempat terkejut melihat betapa besarnya perubahan terhadap diri Anokai, ketika mabuk, ia sangat agresif, destruktif dan brutal, tapi dalam keadaan tidak mabuk, ia cenderung pendiam, pemalu bahkan terlihat rapuh. Ia bilang, ia mau ikut tes. Kami memberinya kertas soal.
Eh, baru tiga puluh menit berjalan, datanglah buanyak banget teman-teman Anokai. Mereka masing-masing membawa benda-benda keras, entah rantai sepeda, rantai, pipa besi dan semua benda yang bisa dijadikan senjata. Mereka masuk ke dalam teras, tempat kami mengadakan tes, mengambil kertas jawaban dan merobek-robeknya sampai kecil. Mereka tidak berhenti di sana, tapi mulai berteriak dan mendorong. Pertama pada kami, tapi karena kejadian itu, salah satu jendela rumah kami rusak; dan mereka pun mulai saling menyalahkan. Agak lucu juga sih, tadinya mereka marah pada kami, tapi gara-gara jendela, mereka jadi ribut, saling berteriak, menyalahkan dan saling mendorong. Selama ini saya Cuma terbiasa melihat orang yang tampak happy berlebihan atau jadi pendiam kalau mabuk. :D
Oh ya, dalam kejadian itu, saya melihat Thomas Ximenes untuk pertama kalinya pada kejadian itu, dan sumpah, saya nggak akan pernah lupa pertemuan pertama kami; soalnya dia –dalam keadaan marah dan mabuk- mendorong saya berulang-ulang sampai jatuh. :D
Peristiwa ini berlangsung selama tiga hari bo. Mereka terus menerus datang ke rumah kami dalam keadaan demikian dan membuat kacau.
Capye deh.
…
Situasi seperti ini membuat kami mulai memikirkan solusi. Hal pertama yang terpikir dalam pikiran saya, ya buat saja kursus Inggris sederhana, seperti yang mereka mau, karena jauh di dalam hati, saya meyakini, kalau sebenarnya mereka tidak benar-benar ingin belajar, Cuma mau mengacau saja – jadi, kalau pun dibuatkan kursus Inggris serius, saya tidak begitu yakin, mereka akan mengikutinya dengan serius.
Tapi teman saya berkeras, bahwa yang mereka butuhkan, bukan pelajaran bahasa Inggris, tapi Youth Peace School, yaitu salah satu program ‘belajar damai’ kami untuk mempelajari konsep diri, konsep hidup bersama serta cara menemukan solusi untuk berbagai jenis konflik. Semua materi dibawakan dengan aktivitas bermain yang menyenangkan.
Saya masih tetap bersikap negatif, lha wong mereka sekolah formal saja tidak mau, mostly hanya sampai SD atau SMP mereka masih sekolah, lewat dari sana, mereka sukanya hanya nongkrong, apakah mereka mau membuang waktu nongkrong mereka untuk ikut kegiatan belajar?
Tapi sebagai tim, kami harus ‘satu kata’. Maka, kami pun membuka Youth Peace School kami untuk mereka.
….
Baru seminggu Youth Peace School dijalankan, saya mulai merasakan perubahan keadaan di lingkungan. Yang membuat saya tiba-tiba jadi malu sendiri adalah, ketika saya melihat kenyataan bahwa mereka benar-benar ingin belajar.
Bayangin, malam-malam, mereka datang, untuk bertanya tentang pelajaran yang mereka dapatkan pada kelas Youth Peace School. Mereka nggak mau pulang, kalau belum benar-benar bisa.
Mereka juga mulai sering datang, bukan Cuma buat belajar, tapi buat mengobrol panjang lebar dengan kami. Lucu deh, sekarang ‘markas’ mereka sepertinya berpindah ke rumah kami. Oh ya, berhubung dari awal, kami membuat syarat, tidak boleh mabuk kalau mau datang, mereka benar-benar tidak mabuk ketika datang ke rumah kami. Kalau ada yang mabuk, tiba-tiba teman-teman yang lain menyeret orang tersebut sambil bilang,”Kuandu hemu barak, labele tama, ba uma, toba deit! [kalau minum banyak, tidak boleh masuk, pulang ke rumah, tidur saja!]”
Dari pertemuan yang cukup rutin [coba ya, bo, pagi, siang,malam mereka datang. Malah mereka juga sudah mulai tidur di loteng hehe], lama kelamaan kami semua mulai mengenal mereka.
Ada yang tenggelam dalam kesedihan karena tahun lalu ia kehilangan ibunya dalam peristiwa kekacauan di Dilli. Ada yang kurang percaya diri, karena matanya buta sebelah, sehingga ia selalu bersikap mengancam supaya orang-orang takut padanya. Ada yang sudah menjadi ayah satu anak. Ada yang bilang bahwa ia tidak pernah mengalami bahagia dalam kehidupan. Ada yang bilang dulu ia pernah meninju sang guru karena dipaksa memotong rambut.
Thomas Ximenes, si emosional ini, adalah pemuda yang frustasi karena gagal masuk ujian universitas.
Mereka cuma remaja-remaja yang bingung akan segala hal. Saya rasa, semua remaja juga begitu. Saya juga pernah mengalami hal tersebut, cuma karena keadaan lingkungan saya yang bisa dikatakan jauh lebih baik terutama dalam segi tersedianya fasilitas plus perhatian sepenuhnya dari orang-orang terdekat, saya bisa mencoba dan mengeksplor diri, mengetahui siapa, mau apa dan akan jadi apa saya.
Sedangkan mereka tidak. Bahkan orang-orang terdekat sering menyebut mereka : nggak berguna, anak gila atau anak setan, jika mereka berbuat ‘nakal’, maka mereka akan digebukin sampai babak belur. Karenanya, mereka sempat bingung, mempertanyakan, kenapa kami mau ‘dipusingkan’ oleh mereka, sedangkan orang-orang terdekat saja tidak perduli.
Saya jadi berpikir, bisa jadi mereka ‘nakal’ karena ingin diperhatikan.
….
Bukan berarti mereka sudah berubah total, 180 derajat. Nggak juga. Mereka masih tetap emosional. Baru-baru ini mereka menyerang anak dari gang lain sampai korban terluka parah. Akibatnya, mereka tidak berani keluar dari desa kami, karena takut ada anggota gang lain yang membalas dendam. Ya, ya, akibatnya, mereka makin sering nongkrong di rumah, lalu selalu kocar-kacir bertemperasan masuk ke rumah, sembunyi di belakang pintu setiap ada bunyi-bunyian langkah, motor atau mobil.
Saya masih sering mendengar kalimat-kalimat “Aku mau bunuh anjing itu.”, atau “kupotong lehernya” atau apa pun yang berhubungan dengan violence.
Saya masih sering melihat mereka membawa benda-benda yang bisa dijadikan senjata, macam batu-batu kecil, ketapel, rantai sepeda dan seterusnya. Agak menakutkan, memang, tapi setidaknya mereka tidak berada di rumah kami dalam keadaan mabuk, supaya tidak terjadi penyalah gunaan benda-benda tersebut. Hehe.
Cuma, yang sempat membuat saya tercekat adalah, ketika baru-baru ini tersebar rumor bahwa ada pencuri dan pemerkosa berkeliaran di sekitar rumah kami, mereka tiba-tiba ramai-ramai menyiapkan senjata dan berjaga di sekitar rumah, katanya – di rumah kami sebagian besar perempuan, jadi mereka sebagai pria-pria, sudah selayaknya melindungi kami.
Sangat menyentuh. Walau pun agak mengerikan. Kami takut jika mereka salah sasaran, atau melukai orang dan membuat mereka harus masuk kantor polisi.
Mereka belum berubah 180 derajat. Semua itu proses.
Anyway. Baru saja tengah-tengah proses, saya sudah merasa jatuh cinta dengan mereka. :) Rasanya kok ya tidak puas-puas untuk mengikuti perubahan itu terus menerus?
Gawat nih.
…
“Keta haluha. Labele fuma. orsida moras. (Jangan lupa, jangan merokok, nanti sakit.” Itu pesan Thomas Ximenes sebelum ia beranjak menuju loteng rumah kami, untuk tidur.
“Sin, senhor.” Jawab saya sambil tersenyum dan membuka Microsoft words, lalu mulai menuliskan entri ini.
Comments (18)
Aku terharu membacanya.. ayo jangan semangat, teruskan perjuanganmu!!
Posted by youfy | 03 december 2007 17:46
Posted on 03 december 2007 17:46
Jadi pulang kampuang ke Bandung ga Jeng? :-)
Posted by JJ | 03 december 2007 18:33
Posted on 03 december 2007 18:33
Maksudnya, Natalan :)
Posted by JJ | 03 december 2007 18:37
Posted on 03 december 2007 18:37
... gue suka cerita lo mbak..tapi gue ga suka ngebayangin lo ngejalaninnya..tanpa gue...
Posted by obey | 03 december 2007 19:21
Posted on 03 december 2007 19:21
komentar akibat suasana hujan diluar sana *tsah*
Posted by obey | 03 december 2007 19:22
Posted on 03 december 2007 19:22
Mabok mariyuana bisa rusuh juga ya? Selama ini kirain cuma cengar-cengir aja... :D
Posted by Arya Nasoetion | 03 december 2007 22:57
Posted on 03 december 2007 22:57
dan elu juga lagi berproses ya, kke
Posted by melly | 04 december 2007 10:26
Posted on 04 december 2007 10:26
hmm... menyentuh euy...
kalo aku... kayaknya ga bakal sanggup de ngejalaninnya...
4 jempol de buat mbak okke... :D
Posted by mela | 04 december 2007 12:41
Posted on 04 december 2007 12:41
Baca awal-awal tulisan ini jadi inget waktu dirimu harus "nyeret" aku jalan2 ke sawah cuma buat ngerokok... hihihi
Anyway mbak, aku kemarin sms ngasih tau aku dah kirim email, cuma nggak ada sent report-nya... nggak yakin udah ke sent, so just in case dirimu baca ini lebih dulu, please check your mailbox yah..
Posted by Lala | 04 december 2007 16:47
Posted on 04 december 2007 16:47
salam kenal mba okke.
saya sungguh terharu baca postingan mba ini.
salut bgt utk mba okke.
teruskan perjuanganmu mba. dunia ini perlu lebih byk orang spt mba utk berubah.
Posted by limmy | 05 december 2007 11:17
Posted on 05 december 2007 11:17
Setahu gue ya 'Kke, istilah "Kupotong lehermu .." etc etc itu emang kayak "bahasa gaul" disana.
Staf ekspat kantor gue pernah ketakutan waktu kita bikin PRA bbrp tahun lalu di "deket-deket situ" dan ada gesture potong leher etc etc.
Nothing did happen, fortunately :D
Dan gue kayaknya udah terbiasa kok PRA atau "meeting-meeting" sama mereka sambil mereka bawa parang, golok etc ... buat ke kebun.
Tentang marijuana, kok marah-marah,setahu gue juga biasanya happy-happy gak jelas gitu .. LOLOLOLOL
Parah mana efek marijuana sama efek sopi ?
Posted by Silverlines | 05 december 2007 11:43
Posted on 05 december 2007 11:43
Oh aku iri dengan petualanganmuuuuu... Dan juga dikelilingi begitu banyak borondooongg...
Posted by dita | 05 december 2007 15:55
Posted on 05 december 2007 15:55
WOW,
Luar biasa! sy speechless membayangkan betapa kuatnya anda
Posted by roni | 05 december 2007 16:48
Posted on 05 december 2007 16:48
trus jadinya loe nerusin ngerokok nggak, mbak?
arrghh i miss u so much :(
gw kayaknya ke bandung 15 - 17 bulan ini
Posted by VaNYa | 05 december 2007 18:26
Posted on 05 december 2007 18:26
Okkeeeeeee...!!!!! Dooohhhh!!!!!
Excellent job! Jangan nyerah Ke (dan gw tau lo gak bakalan nyerah).
Posted by lenje | 06 december 2007 07:56
Posted on 06 december 2007 07:56
This one reminds me of my WS one year, kak.
I feel nostalgic and remind fuckin' funny memories but also I feel confusing.
Kak... kalo ada kesempatan lagi, saya pasti mau bicara dengan kakak.
Sudah ke 6 bulan jauh dari rumah?!
Cepat....
Saya sudah lihat movie yg Kak Okke berenang.
Cantik.
Sangat.
RUMI
Posted by Fahi Mutin Jepang | 06 december 2007 09:18
Posted on 06 december 2007 09:18
rumiko dear,
I will send the pictures you requested around december 20 :) Hau ba fali semana ida, yay! Fast and cheap internet connection :D
Posted by okke | 06 december 2007 10:29
Posted on 06 december 2007 10:29
Okke, saya menbaca lagi article ini.
Mmmmm.....
Saya mulai pikir lagi apa yg "Peace building".
Apa "Peace maker"?
saya ju tahu kondisi Dili jadi berpikir lagi.
I often felt about my activity in Dili,
"Whta are these fackin' activities?? Stupid...!!"
Mmmmmm
Pasti cape. Tapi pasti ada arti, bukan?
Okke, terima kasih atas bekerja disana sebagai Peace Maker, dan saya menghormati activitas itu.
Betul kak.
Please take care your health,
itu saja.
Posted by Rumiko | 09 december 2007 22:27
Posted on 09 december 2007 22:27