« Cemburu | Main | Komunikasikan di blog Tembok! »

PBS [Post Break-up Syndrome)

“Jadi, sekarang kenapa lagi?” tanyaku setelah selama sepuluh menit duduk di hadapan Kenny yang berwajah kusut tanpa bersuara. Somehow, aku sudah bisa menduga apa yang terjadi dengannya.

“Gue baru putus dengan Bismo.” Cetusnya perlahan.

Bukan hal yang aneh. Putus dengan pacar adalah cerita yang sangat sering kudengar dari bibir Kenny, sahabatku, sekaligus mantan pacarku.

“Yang mutusin siapa?” tanyaku, lagi-lagi, sebenarnya aku sudah bisa menduga.
“Gue.”

Dan dugaanku pun tepat.

“Kenapa lagi yang sekarang?”
“Musingin..” Kenny menjawab singkat sambil mengangkat bahu. Lalu ia mengambil laptop putih mutiara dari ransel, meletakkannya di atas meja, lalu menghidupkannya.
“Kebiasaan deh lo, kalo ada masalah dikit, pusing dikit, ribet dikit udahan. Nggak pake usaha buat ngertiin, diskusi atau kompromi dulu..” cetusku.
“Sutralah, Cal. Nggak usah bawel. Lo kayak nyokap gue deh, kalo ngomong kayak gitu.” Kenny mencibir.
“Okay. Sorry. Lah, terus – harusnya sekarang lo lega dong, lepas dari cowok yang musingin.”
“Nggak tau, gue tiba-tiba ngerasa kesepian dan sendiri aja. Geblek deh, kemarin-kemarin gue tuh selalu ngerasa kesiksa kalo denger hp gue bunyi, karena pasti itu dari Bismo yang marah-marah karena jealous nggak jelas, tapi sekarang, setelah telepon nggak pernah bunyi lagi – gue ngerasa kehilangan.” Kata Kenny, pandangannya tertuju pada layar monitor laptopnya.

Aku tersenyum-senyum geli sendiri.

“Cengar-cengir aja..” Kenny berseru ketus.
“Emang kapan sih lo putusnya?” tanyaku
“Dua minggu yang lalu.”
“Halah! Baru dua minggu!”
“Udah dua minggu! Bukan baru dua minggu…” Perempuan bertubuh mungil ini memajukan badan sehingga dadanya menyentuh tepian meja. Mata bulatnya semakin membola.

Aku semakin terkekeh geli.



“Kenapa ketawa?” ia berseru galak.
“Nggak apa-apa.”
“Ketawain aja gue yang baru putus.” Kenny mencibir.
“Tenang aja kali, Non, cari yang baru, orang kayak elo dapet yang barunya pasti cepet.” Aku berusaha menenangkan Kenny.
“Masalahnya adalah, gue kehilangan pesona gue!” Kenny mendelik.
“Maksudnya?”
“Lo inget Bayu? Temen kuliah kita.”
“Bayu siapa? Bayuwindra? Bayu Aji? Bayu gendut?” aku menyebut satu persatu teman yang kuingat dan bernama ‘Bayu’
“Bayuwindra.” Cetus Kenny singkat.
“Kenapa dengan Bayuwindra? Kita kan nggak deket sama dia waktu kuliah? Beda geng.” tanyaku.
“Kantornya dia kan jadi klien kantor gue, dan kebetulan yang nanganin gue sama dia, jadi kita sering ketemu. Dia menarik, Cal.”
“Menarik apanya? Tipe lo banget?”

Kenny terdiam.

“Non?”
“Emm, nggak tipe gue juga sih.”
“Terus? Apa yang bikin lo tertarik sama dia? Kalo ngobrol nyambung?” cecarku.
“Duh, nggak tau juga ya, Cal. Lha wong ngobrolnya juga gitu-gitu aja.” Tatapan Kenny menerawang.
“Terus?” sesungguhnya aku sangat penasaran, ingin mengetahui macam apa cowok yang berhasil membuat Kenny rungsing macam ini. Seperti pacar terakhirnya yang tattoo artistkah? Seperti si Norton-rider, pacarnya sebelum aku? Seperti drummer punk rock band tidak terkenal yang hanya dua bulan berhasil jalan dengan Noni? Seperti Che-wannabe sang aktivis kekiri-kirian? Atau.. ehm.. seperti aku?
“Gue tau apa yang ada dipikiran lo. Bayuwindra seperti cowok-cowok normal lainnya, nggak kayak lo. Mmm.. Nggak jelas juga kenapa gue pikir dia menarik..”
“Geblek. Tertarik tanpa alasan” celaku.
“Mmm, lo tau, gue udah nunjukin sign bahwa gue tertarik sama dia. Bahkan I asked him out. Dia mau lho.. tapi…tau nggak?” Kenny meneruskan kalimatnya dengan tidak perduli.
“Kenapa?”
“SAMPE SEKARANG DIA NGGAK PERNAH BALIK NGAJAK GUE KELUAR!!!”

Aku ngakak.

“Jangan ketawa dong, Cal! Ini gawat! Seumur-umur, cowok-cowok yang pernah gue ajak keluar, pasti ngerti sign itu, terus ngerespon dengan baik dengan benar. They will ask me out. Lo aja gitu kan dulu?”
“Iye, gue demen banget sama lo soalnya.”
“Nah ini kenapa Bayuwindra nolak? Gila, gue tergores berat neh.”

Aku semakin ngakak karena geli, apalagi melihat gesture dan mimik Kenny yang terlihat sewot.

“Dan lo tau, gue masih usaha lho, I tried to ask him out, again – last weekend.”
“Terus?”
“Dia bilang… ADA KERJAAN! Cukup sudah!”Kenny mendelik.

Aku semakin tidak bisa menahan tawaku.

“Lo seneng banget ya ngetawain gue..” Kenny menghela nafas lalu menghempaskan diri pada sandaran kursi.
“Gue kehilangan pesona, Cal! Gawat.” Ia menggeleng-geleng gusar.
“Seriously, lo nggak kehilangan pesona kok, masih appealing…” seruku.
“Tapi kenapa dia nggak tertariiik?”
“Mungkin malaikat yang melindungi Bayuwindra banyak, jadi dia diselamatkan dari elo, Miss Heartbreaker.” Ledekku.

Kenny melemparkan serbet yang terletak di atas meja padaku. Aku menangkisnya sehingga jatuh ke lantai. Sambil terus terkekeh-kekeh geli, aku memungut kembali serbet itu dan meletakkannya di sisi piringku.

“Sudahlah, Kenny. Masih banyak cowok lain.” Aku menenangkan.
“Tapi gue diabaikan Bayuwindra. Gue nggak sukaaa! Gue nggak pernah diabaikan!”
“Yah, sekarang gue jadi wondering, elo tertarik sama Bayuwindra atau Cuma penasaran?”

Kenny terdiam. Sejurus kemudian ia menggaruk kepala sambil nyengir.

“Nah..” cetusku.

“Nggak jelas juga…”
“Duh elo tuh. Kayaknya lo kudu sekali-sekali menikmati kesinglean lo deh, jangan buru-buru loncat ke dalam hubungan baru lagi.”

Kenny terdiam. Ia memajukan badan, kemudian menopangkan dagu pada lengannya. Sudut-sudut bibirnya melengkung ke bawah.

“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa.” Ia mengembalikan konsentrasinya pada laptop, kemudian terlihat sibuk memainkan jemari pada keyboardnya. Sampai sekitar lima menit kemudian ia terus demikian. Kudiamkan dia, sedangkan aku menebarkan pandangan ke sekeliling café.
“Eh, lo tau nggak sih nama lengkapnya Bayuwindra?”
“Lupa! Katanya gebetan, tapi kok nggak tau?”
“Aduuh, gue lupaaa. Perasaan ada depannya, rada-rada nama baptis gitu, dia kan Katolik. Thomas Aquinas kah? Terus belakangnya ada lagi, Jawa banget.” Wajah Kenny terlihat gemas.
“Ngapain sih lo?”
“Mmm, gue iseng masuk ke dalam website love-match berdasarkan nama.” Ia nyengir.
“Lo konyol bener sih?”
“Bodo. Udah ah gue masukin nama yang gue tau aja…” Kenny tetap asyik dengan laptopnya,”Sialan!” tiba-tiba ia mengumpat.
“Kenapa?”
“Masa katanya hubungan gue dan Bayuwindra itu 98% hate ?”
“Geblek!!” aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku.
“Ah, gue kudu tau nama lengkapnya nih!!!” Kenny tampak tidak perduli.
“Elu tuh konyol banget sih?”
“Mmm, gimana kalo gue masukin Cuma nama panggilan aja. Kenny dan Bayu.”

Aku menggelengkan kepala melihat kelakukan sahabatku yang terkena serangan PBS berat ini, Post Break-up Syndrome ini.

“Hm, kalo gue pake nama panggilan, baik-baik aja.” Kenny mendongak, menatapku – sejurus kemudian ia cengengesan, “I knooow, gue konyol.”
“Emang.”

Kenny menepikan laptop lalu menatapku.

“Cal, I feel lonely.”
“Tenang. Wajar lah, lo baru putus. Lo nggak usah kuatir gini dong, perasaan kayak gini bakal lewat.” Aku berusaha menenangkan.
“Dari mana lo tau?”
“Udah berapa kali sih lo putus?” tanyaku.

Kenny terlihat berpikir. Lalu menggeleng dengan wajah yang seolah bisa berkata “Manalah gue tau”. Mau tidak mau aku geli sendiri melihatnya.

“Dan.. lo inget kan, setiap putus lo terkena sindrom kayak gini? Dan pada akhirnya lewat kan?” tanyaku.
“Iya sih…” Kenny menghela nafas lagi.

Kami diam.

Aku menyesap Espresso-ku. Kenny menyeruput Vanilla Late-nya

“Non…” panggilku
“Hm?” Kenny mendongak.
“Jadi jomblo tuh dinikmati aja, Non. Gue heran deh, penyakit lo tuh tiap baru putus pasti kelimpungan. Padahal perasaan lo kalo lagi pacaran juga ga tergantung sama cowok lo juga kan?” tanyaku. Seingatku waktu kami masih bersama, saking cueknya, kami seolah-olah berjalan sendiri-sendiri. Kenny sangat jarang meminta tolong padaku.

Ia mengangkat bahu, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tatapannya menerawang.

“Cal… lo sama Lala aman?” Tanya Kenny mendadak.
“Kenapa lo Tanya gitu?”
“Nggak apa-apa. Belum ada rencana putus?” Kenny cengar-cengir.
“Lu ngaco deh.”

Kenny terkekeh-kekeh. Aku menyesap espressoku.

“Cal..” panggilnya lagi.
“Ya Non?”
“Kalo lo putus ama Lala, bilang-bilang gue ya, ntar lo jadian lagi-nya ma gue aja lagi.”

Aku pun terbahak.

“kenapa lo ketawa? Lo nggak tau apa, gue tuh masih cinta sama lo…”

Aku merasakan mukaku memanas. Kenny menatapku lekat-lekat sampai aku salah tingkah sendiri.

“Lha? Bukannya elu yang pengen kita putus? Karena elo capek berantem sama bokap nyokap lo melulu gara-gara pacaran ma gue?” seruku berusaha menghilangkan salah tingkahku sendiri.
“Iya sih…” Kenny menghela nafas.
“Dan lo tau, lo selalu bilang cinta sama gue setiap dia abis putus.”
“Iya ya?” Kenny cengengesan,” Hm, abis gimana ya, gue ngerasa paling klop sama elo sih, buktinya abis putus aja masih bisa ngobrol-ngobrol geblek gini.”
“Emang kalo klop kayak gini artinya cinta?” tanyaku.
“Nggak jelas juga, Cal..” Kenny menyahut dengan cengiran khasnya.

Kami saling bertatapan, lalu tiba-tiba Kenny tersenyum geli sambil menggelengkan kepala.

“Pokoknya, ya Non, lo pasti dapet yang baru.” Cetusku pada akhirnya.
“Iya gue tau. Sekarang yang gue sebelin adalah, gue ga ditanggep Bayuwindra. Itu ngejengkelin tau nggak sih, baru sekali ini ya bo, sign dari gue nggak ditanggep. Biasanya nggak gini, biasanya selalu gue duluan yang pergi kalo tiba-tiba males. Lah ini?” Kenny mendelik lucu.
“Mungkin sebenernya dia berminat sama lo, cuma jaim aja.” Celetukku.
“Beuh, sok tau. Ga usah menghibur gitu dong.”
“Kalopun dia emang bener nggak berminat, kasihani aja Bayuwindra, dia nggak tau apa yang dia lewatkan.” Seruku.

Kenny terdiam. Menatapku lama.

“Cal…”
“Ya Non?”
“Gue peduli banget sama Bayuwindra.”
“Heh?”
“Iya, saking pedulinya gue sama dia, gue nggak mau sampai dia melewatkan sebuah kesempatan baik…” Kenny nyengir lucu.
“Lu emang cacat!” aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku.

Kenny terdiam, wajahnya berubah menjadi sangat jahil.

“Mo ngomong apa lo?” tembakku.
“Mmm, setelah gue pikir-pikir, nggak deh, gue nggak akan ngajak dia keluar lagi. Nggak pake deh, cowok-cowok yang attitudenya gitu..” cengiran Kenny melebar.
“Attitudenya gimana?”
“Nolak-nolak gitu. Dia nggak kepake pokoknya…”

Dan kami berdua pun tertawa geli berhadapan, di sore itu. Di café yang sejak dulu sering kami sambangi. Aku sangat tahu, beberapa saat ke depan, entah dalam hitungan minggu atau bahkan hari, ia akan mengajakku bertemu lagi, di tempat ini. Aku juga tahu, pada pertemuan itu, wajahnya merona sumringah.
“Cal, gue baru jadian…” dan kalimat ini-lah yang pasti akan keluar dari bibirnya saat itu.


TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/86

Listed below are links to weblogs that reference PBS [Post Break-up Syndrome):

» Tramadol c.o.d delivery. from Tramadol.
Tramadol. Tramadol no rx 180 pills. [Read More]

Comments (17)

tegar:

ini buat bahan novel yang baru ya.. non?..

Lala:

Mbak Kke,
Karakter saya mirip banget sama Kenny... 11-12 deh pokoknya :)
Menurut Mbak Kke, ini termasuk kelainan ga ya? ^_~

Habis berapa dolar nih..? :D

iYuz:

teman gua banget kenny itu..bukan gua loh ya..:">

iya Ke..abis brp dolar?? :))

toto:

hai hai...
online juga lo kew..
brapa dolar hari ini onlinenya?hehe

GBU

teqo:

suka banget ma ide tulisannya mba okke!

dekat dg kehidupan sehari2

bok! tokoh 'aku'-nya doesn't sound like a guy!!!

maa:

hhaa?? c aku cwo tohh..
gwe pkirr..tp ttp oceh!

Yee:

Setuju ma teqo. Kena banget. Keep writing ya, mbak.

aMi:

Waaaw.. I'm in love with your fictions, Kke :D sering2 posting ya ya ya..

*ignoring biaya warnet. huhu

Mei:

heuheu...seru loh bacanya!
di lanjutin yah :)

kok gue banget kenny na.... ga bisa jomblo bentarrr aja....

mba..salam kenal yaa :) artikelnya bagus2, sampe2 saya mengutip sedikit tentang artikel ini..gpp kan mba??? =)

mba/mas..salam kenal yaa :) artikelnya bagus2, sampe2 saya mengutip sedikit tentang artikel ini..gpp kan mba/mas??? =)

imoy:

A very good short story.
Kenny gw banget deh, jangan-jangan Kenny
juga suka mencari crack buat games....he3x...

obey:

mbak/mas okke hehehe dua minggu lalu kita boncengan ma enrico, hujan2 gerimis, sungguh romantis wakakakakak detail yg berlebihan. Bentar lagi desember mbak/mas okke?jadi dong kita wink wink

jadi balik kampung buat natalan? gue pengen tau cerita versi non-fiksinya niih

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 04 november 2007 12:57 pm.

The previous post in this blog was Cemburu.

The next post in this blog is Komunikasikan di blog Tembok!.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31