« MEMBERI DENGAN BIJAKSANA | Main | Abia ingin jadi Pastor »

Guru yang Baik

Entri ini dipersembahkan untuk Ibu Nuning Damayanti yang baru saja melewati sidang doktoralnya. Congratulation!


Sudah sebulan ini, kami terkena demam membuat gelang dari benang, sampai-sampai salah seorang dari kami ngasih ide untuk mengadakan fund raising dengan jualan gelang. *halah*.

Sebenarnya saya pernah belajar membuat gelang macam ini waktu SD dan SMP, tapi lupa bo, caranya.

Demam itu sudah lewat – bagi orang-orang lain – tapi belum bagi saya. Sampai sekarang saya masih suka iseng berprakarya dan rajin menyambangi loja* Rose di jalan Colmera untuk membeli aneka warna benang,

Benar-benar candu.

Dan saya selalu menyalahkan Suze, salah satu teman yang mengajari kami membuat gelang dari benang.

Anyway, membuat gelang dari benang itu mudah dan menjadi bertambah mudah Karena cara mengajar Suze, sang mahaguru, menyenangkan. Hanya sekali memberi contoh, kami langsung bisa. Dan yang paling impresif adalah, setiap kami berhasil mengikuti apa yang dicontohkannya, ia akan selalu berkata, ‘You can do it,’, ‘Good job! Keep going!’ dan ketika selesai, ia selalu bilang; ‘This is nice. You’re great!’. Dorongan yang membuat ‘para murid’ berlomba-lomba untuk menyelesaikan gelang-gelang mereka.

Perkara prakarya gelang dari benang ini sudah kami lihat sejak dua bulan yang lalu, ketika ada orang yang sedang asyik membuat benang dengan warna-warna pastel yang menarik. Spontan beberapa teman bertanya bagaimana cara membuatnya.

Orang tersebut kemudian mengajarkan kami. Tapi caranya mengajar itu lho, nggak asyik. Selain nggak sabaran, dia sering sekali bilang ‘Gampang gini kok nggak bisa sih!” dan ada nih, yang lebih ngeselin ‘Cuma orang-orang dengan kecerdasan di atas rata-rata aja yang bisa dengan cepat teknik mengikat benang seperti ini.’

Gusrak.


She’s definitely not a good teacher. Buktinya, tidak ada satu pun dari kami yang berhasil menguasai teknik yang ia ajarkan, karena di tengah jalan kami satu persatu pergi [sambil misuh-misuh]. Bukan karena tekniknya susah, tapi karena cara mengajarnya yang bikin malas.

Beberapa hari yang lalu, teman sekantor saya memberi tahu kabar bahwa Ibu Nuning Damayanti sudah melewati sidang doktoralnya.

Siapa ibu Nuning?

Bagi saya, perempuan berwajah ramah ini adalah salah seorang guru yang baik.

Sebenarnya sudah ‘mengenalnya’ sejak kuliah S1. Iya, dia adalah salah satu staff dosen di kampus almamater. Tapi ia tidak pernah mengajar saya.

Interaksi intensif *tsah!* saya dengannya terjadi di tahun 2005. Sistem mengajar di kantor saya yang lama adalah, setiap mata kuliah dipegang oleh lebih dari satu dosen. Untuk mata kuliah yang memiliki SKS besar, biasanya bisa sampai 4-5 orang dosen, kalau untuk mata kuliah teori, biasanya hanya dua orang.

Waktu itu atasan saya bilang, saya memegang satu mata kuliah teori dengan seseorang – yang ternyata adalah Ibu Nuning. Jujur saja, saya sering merasa grogi jika dipasangkan mengajar dengan orang yang saya anggap lebih ‘senior’ dan berpengalaman.

Begitu juga waktu saya mengajar dengan Ibu Nuning. Kami sempat mengobrol-obrol panjang lebar, dan bagi saya dia sangat kaya, baik pengetahuan dan pengalamannya.. haduh!

Pokoknya saya jadi tambah ciut aja,bo. Berasa kecil.

Tapi ternyata yaa, selama nyaris dua tahun mengajar bersamanya saya tidak terlalu sering merasa grogi. Cuma di hari pertama saja.

Waktu itu, ketika saya grogi, sampai nyaris lupa mau ngomong apa, dia dengan cepat menutupi ‘kelupaan’ saya dengan mengangguk dan memberi contekan sebagai trigger supaya saya ingat . Saya sempat meminta maaf di luar kelas saat kelas usai, dia dengan santai bilang,” nggak apa-apa, saya juga sering lupa kok. Manusiawi.”

Saya dan Bu Nuning jadi akrab, sering mengobrol. Dan dia bercerita bahwa ‘kelancaran mengajar’ itu tergantung jam terbang. Dengan kocaknya dia cerita, dulu pun ia sangat grogi setiap mengajar.

Ada satu hal yang membuat saya sampai sekarang terpesona. Sewaktu saya mengajar, dia sering mencatat beberapa teori yang saya sampaikan, katanya “Apa yang kamu ajarin barusan hal baru buat saya. Thanks ya.”

Ibu Nuning –seperti Suze- selalu mengeluarkan kata-kata yang membuat saya yakin akan kemampuan saya sendiri. Dia benar-benar memperlakukan saya sebagai rekan setara, bukan anak ingusan yang baru kemarin mengajar. Yang membuat lagi-lagi saya kagum adalah kerelaannya untuk membagi semua pengetahuan yang dia punya pada murid-murid, juga pada saya.

Saya selalu bersyukur pernah dipasangkan dengan Ibu Nuning, karena dengannya, saya belajar banyak hal, terutama cara mengajar dan memperlakukan ‘murid. Dan jujur saja, sekarang saya kangen mengajar dengannya.

Yah begitu lah, guru yang baik itu bukan hanya menguasai banyak pengetahuan – tapi tahu juga cara membagi pengetahuannya dengan cara yang menyenangkan, sehingga para murid yang diajar cepat mengerti -- bahkan mencintai materi yang diberikan.

Ehm, kocak lho, gara-gara beliau, mata kuliah teori yang biasanya tidak diminati oleh mahasiswa, menjadi menyenangkan.

Yaaa gitu deh.

Sekali lagi :

Selamat atas sidang Doktoral-nya, Ibu Nuning!

*Loja = toko

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/82

Comments (9)

roi:

guru yang menyenangkan emang jarang ya...
btw itu link ITB-nya salah bo'

selamat juga buat bu Nuning

juga buat okke yang berhasil mbikin gelang benang

'acung 2 jempol'

JJ:

Jadi kapan fund raising-nya? *halah*

Hey you, yes you, madtrippers, I envy you all. :-D

Have fun!

kayaknya beliau juga bisa bikin hal yang gak menyenangkan seperti mengajar (xixixixi.. gak menyenangkan buat gw seeehhh) jadi nikmat!

adhe:

penasaran sama bentuk gelang benangnya...

Wah, ga ada foto2 gelangnya, ya Mbak?
Penasaran pengen liat!
Dulu waktu msh SMP aku jg suka buat gelang2 spt itu. Tp sama, skrg udh lupa caranya! xP

btw...

Seorang pengajar yg baik adalah mereka2 yg paham kondisi psikologis murid2nya.
Aku sendiri jg msh susah utk bisa jd spt itu karena itu memang bukan perkara yg mudah! xP

Selamat utk Ibu Nuning! ;)

-may-:

Gelangnya dijual, terus duitnya buat bayar warnet biar bisa posting?

Setuju bu.
Guru yang baik adalah guru yang bisa mengajar sekaligus mendidik. Dan guru yang bisa kedua-duanya biasanya adalah guru yang menyenangkan.

pekik:

slamet ya bu, aq jg mau jadi kaya ibu, kasih tips spy belajar itu menyenangnkan dan cepat paham. tankj

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 05 oktober 2007 1:08 pm.

The previous post in this blog was MEMBERI DENGAN BIJAKSANA.

The next post in this blog is Abia ingin jadi Pastor.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31