Berhubung harga pemakaian koneksi internet besarnya US$4/jam di Globalnet, tadinya saya hanya mau memakai setengah jam, memposting entry tentang Abia, seorang kawan cilik Timor Leste, mengecek e-mail, Friendster dan multiply.
Tapi ternyata thumbdrive saya terformat, jadi semua tulisan hilang.
Lalu, ya sudah, saya berencana mengecek semua sepuluh menit, lalu menulis cepat tentang Abia selama duapuluh menit.
Ealah, ternyata keterusan, jadi 45 menit. Dan harga pemakaiannya sudah US$4/jam. Doh, ya wis, nanggung, saya bakal mencoba menceritakan tentang Abia, dalam sepuluh menit. Doakan berhasil.
Olivia. Itu namanya. Tapi dia mengaku senang dipanggil Olive atau Livia. Gara-gara saya pernah mendengar orang rumahnya memanggil ‘Abia’, akhirnya saya ikut-ikutan. Dia baru sembilan belas tahun.
Saya masih ingat beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba ia memeluk saya dan bilang “Saya suka banget film Cinta Pertama! Mbak yang buat ceritanya ya?”
Lah?
Berhubung saya nggak mau dianggap mengaku-aku karya orang, maka saya mencoba menjelaskan bahwa skenario Film Cinta Pertama, dibuat oleh Mbak Titien Wattimena dan saya yang membuat novel adaptasinya.
Ia mengangguk-angguk, lalu menanyakan satu pertanyaan yang membuat saya cengar-cengir malu.
“Di film nama tokohnya Sunny dan Alia, kok di novel namanya Surya dan Wulan?”
*dan saya pun memandang langit-langit sambil bersenandung ‘dum di dum di dum’*
Yah, Abia itu tipikal ABG sekali. Senang bercerita ini itu. Saya jadi ingat beberapa murid-murid SMU yang pernah saya ajar duluuuuu banget. Saya Cuma menanggapi sambil cengar-cengir dan kadang-kadang suka berpikir ‘Yaelah, gitu aja kok dipikirin sih?’
Anyway, dua malam yang lalu, saat saya dan tim menunggu bis untuk menuju Suai, distrik Covalima, tiba-tiba dia bercerita bahwa waktu lulus SMU, sekolahnya pernah menawari ia untuk mendaftar menjadi Madre [biarawati]
“Terus kamu mau?” Tanya saya. Soalnya setahu saya, kebanyakan anak-anak cewek Timor Leste yang pernah saya Tanya, seringnya menjawab ingin jadi ‘madre’ setiap ditanya cita-cita.
“Tidak mau!” Ia menggeleng tegas,”Saya mau jadi pastor!”
Saya nyengir. Perempuan? Jadi pastor, memang bisa?
Tapi ternyata itulah masalahnya bagi Abia.
“Saya nggak merasa ada keadilan antara perempuan dengan laki-laki. Kalau laki-laki, jadi frater, pastor, uskup dan bisa jadi paus. Kalau perempuan? Hanya berhenti sebagai madre” Ia mencibir.
Saya jadi geli sendiri. Sebut pengetahuan saya terbatas, tapi sampai sekarang saya sering mempertanyakan kenapa ‘aturan agama’ dan segala hal yang berbau-bau agama banyak yang berkesan tidak adil terhadap perempuan atau mengutamakan laki-laki sebagai tokoh sentral cerita-cerita agama.
Saya sih berpikir, ini karena memang orang/manusia yang salah ‘menterjemahkan’ maksud dari kitab apapun lah itu. Tapi yang menyebalkan adalah pemakaian agama sebagai pembenaran untuk melakukan sesuatu.
Contohnya, saya pernah terpukau saat seorang teman bilang. “Perempuan itu dapat pahala kalau melayani kebutuhan biologis laki-laki”
Saking nafsunya saya sempat bilang “Kalau perempuannya nggak mau? Kalau lagi males?” Dan semakin sebal ketika teman saya masih berkata bahwa ‘kemalasan melayani’ itu membawa petaka bagi perempuan. Akhirnya saya Cuma menghela nafas sambil berkata “Hhh, perasaan semua bagian tubuh diciptakan dengan penuh guna deh. Kenapa cowok-cowok nggak mempergunakan bagian tubuhnya sendiri buat memuaskan kebutuhan biologis?”
Yang ada saya dipelototi.
*dan saya pun memandang langit-langit sambil bersenandung ‘dum di dum di dum’*
Anyway, satu-satunya jawaban yang saya sukai dari salah seorang ‘guru spiritual’ saya. Waktu itu saya bilang, saya benci dengan penyebutan ‘Allah Bapa’. Atau ‘He’ atau ‘Him’ atau ‘His’ dalam doa-doa, lagu-lagu dan beberapa kalimat berbau-bau rohani.
Dan jawabannya : ‘Tuhan perempuan, laki, hemaprodit ya gimana enaknya elo aja lagi…. Apapun bentuknya, terserah elo, selama itu yang ngebantu elo untuk berkomunikasi.“
Dan saya senang bisa menjawab itu ketika Abia tiba-tiba menanyakan hal yang sama, seperti yang saya pertanyakan beberapa tahun yang lalu.
Eh lucu deh, ketika bis datang, tiba-tiba Abia bertanya ‘Eh, mungkin saya jadi manusia paling berdosa ya, tanya-tanya seperti ini?’
Dan saya pun menjawab
‘Siapa bilang?’
Anyway.
Buset. US$6 bo! Bangkrut gue.
Comments (11)
Laki-laki juga dapet pahala kok kalau melayani kebutuhan biologis perempuan, huehehe...
Tapi kalau lagi males (baik lakinya maupun perempuannya) ya gak sampe menimbulkan malapetaka kayaknya. Kan seperti mbak Okke bilang, ada bagian tubuh lain (milik sendiri, baik laki maupun perempuan) yang bisa dipake, huehehehe...
Wow, US$4 sejam... Dahsyat! Mwahahaha...
Posted by Arya Nst | 19 oktober 2007 15:33
Posted on 19 oktober 2007 15:33
aduh, kenapa gak postingnya besok, kke, sekalian gituuuu.....
Posted by melly | 19 oktober 2007 21:50
Posted on 19 oktober 2007 21:50
Pun tanpa agama, orang pintar bisa melakukan hal2 pintar, orang bodoh melakukan hal2 bodoh. Tapi dengan agama, sambil orang bodoh bisa melihat hal2 pintar, juga orang pintar bisa melakukan hal2 bodoh. Lalu ... iya nih, kenapa nggak sekalian besok ...
Posted by Koen | 19 oktober 2007 22:38
Posted on 19 oktober 2007 22:38
Sepatah dua patah *halah*... karena ini ada kaitannya sama agama Kristen (atau Katolik? deket2 lah ya), perkenankenlah saya mengatakan bahwa sebenernya di Alkitab sendiri nggak ada lho, doktrin atau pengajaran yang nggak adil untuk perempuan. Itu semua murni interpretasi manusia sendiri (bahkan kalo mau ditelaah dari beberapa kitab yang ada, Yesus sendiri banyak membela kaum perempuan dalam pelayananNya kok). Mungkin yang terkesan 'mengutamakan' laki-laki adalah fakta bahwa Hawa diciptakan dari rusuk Adam. Tapi kalau gw boleh bilang (sebagai orang yang berkecimpung lama di... lo taulah, hehehe), wanita punya hak yang sama untuk melayani Tuhan. Bukan berarti karena wanita lantas nggak bisa memimpin jemaat dan berkotbah...walaupun balik lagi, semua agama punya nilai dan prinsip sendiri. Jangankan agama, denominasi aja punya 'aturan main' yang beda2... dan di Indonesia yg namanya denominasi udah bejibun! Hehehe...
Posted by JJ | 19 oktober 2007 22:46
Posted on 19 oktober 2007 22:46
kalau mau koneksi murah.. mampir di tempat gw aja ke..!! hehehe terus "Proyek Kita" diteruskan gak nih?
Posted by tegar | 20 oktober 2007 08:04
Posted on 20 oktober 2007 08:04
wah abia gak mo jadi madre,
tapi pengen jadi padre!
Posted by dodi | 20 oktober 2007 13:15
Posted on 20 oktober 2007 13:15
Hmm.. nggak tau ya, kalau gw sih termasuk yang nggak terlalu keberatan kalau perempuan "cuma" jadi madre, nggak bisa jadi frater, pastor, uskup, apalagi paus. Gw nggak melihatnya sebagai ketidakadilan, malah sebagai privilege: nggak perlu "ngejar" karir, and thus punya waktu/kesempatan untuk yang lainnya.. HAHAHA..
Well, kalau pernyataan "perempuan berpahala kalau melayani kebutuhan biologis laki2", menurut gw juga udah merendahkan posisi perempuan. Tapi.. kalau sekedar perbedaan posisi yang bisa dicapai, buat gw sih nggak sampai merendahkan. Perempuan & laki2 memang - suka tidak suka - punya perbedaan. Nggak usah memaksakan diri bahwa semuanya sama, karena tidak sama; walaupun tidak sama bukan berarti yang satu lebih rendah ;)
*duuuh.. panjang banget. Untung gak US$4/jam ;)*
BTW... nyolong start: HAPPY BIRTHDAY, Nak Tir.. ditunggu makan2nya kalau loe cuti nanti ya.. *wink-wink*
Posted by -may- | 21 oktober 2007 08:11
Posted on 21 oktober 2007 08:11
Menurut gue kalau kita percaya kepada Tuhan maka kita harus patuh pada semua ketetapan yang Dia berikan, kalau itu suatu ajaran yang murni dari Tuhan pastilah ada hikmah di balik setiap keputusan.
Kalau Tuhan sudah menetapkan patriarchat sebagai sistem kemasyarakatan pasti ada sesuatu hikmah di balik itu semua, tugas manusia sebenarnya mengambil hikmah dari itu semua. Yang menjadi masalah adalah banyak orang yang tidak mengerti " hikmah dari patriarchat" tersebut dan menjadikan agama sebagai alat penindasan terhadap perempuan. Ini yang gue sebut dunia yang sempurna, dunia yang sempurna adalah dunia yang tidak sempurna. Ini realita tempat dimana ketidaksempurnaan menetap, tempat dimana salah, kebodohan dan penindasan terjadi.
Terus orang yang suka menindas perempuan dengan menggunakan dalih agama itu enaknya kita apain? Apa kita bantai aja? Soalnya kalau masuk penjara percuma nanti keluar dari penjara dia menindas perempuan lagi dengan menggunakan agama sebagi dalih :)
Apa lagi ada kelompok yang menganggap masuk penjara itu tamasya dan berpahala:) Bagaimana mbak Okke ada ide? :) Atau mbak Okke setuju dengan ide gue yang brilyan itu :)
Posted by aramichi | 21 oktober 2007 23:29
Posted on 21 oktober 2007 23:29
Hehehehehehe....
bangkrut dipikirin...!? :)
Beta setuju dengan mbak Jenny tuh...
gak ada firman yang bilang perempuan harus tetap jadi ini itu dan laki-laki harus jadi apa saja. Dalam beberapa cerita alkitab, justru perempuanlah yang menjadi pahlawan, menjadi penyelamat. DAn ingat... karena dukungan perempuanlah maka sampai saat ini kita semua masih ada dan diselamatkan ( So... gimana klo kita buat Abia sebagai perintisnya...??
Bisa gak...? Mungkin gak...??
Posted by Doohan | 23 oktober 2007 06:41
Posted on 23 oktober 2007 06:41
Happy birthday, Kke... :-)
Hehehe... koq gara2 posting ini gue jadi inget, waktu diledek ngga becus melipat celana panjang seorang teman (dan kali lain diledek ngga bisa masak, ngga bisa ini-itu, kerjaan yg merupakan monopoli kaum perempuan), dia bilang: saya ngga pantes jadi ibu-ibu. Hwoaaa..
Lalu? Gue jawab aja: "Gue kan ntar bapaknya." -LOL-
Posted by 'indrasaree' | 24 oktober 2007 17:31
Posted on 24 oktober 2007 17:31
Abia bisa jadi Pastor. Tapi tentu tidak di Rome Catholic. Eit, tapi pastor itu kan artinya gembala, tak terbatas ruang untuk menjadi gembala, pemimpin di keluarga, di rumah, di masyarakat, di mana-mana bisa...So don't worry Abia.
Tubuh tetap berguna meskipun tanpa seks. Justru banyak orang yang menikah, heran deh, udah punya satu istri atau suami tempat menyalurkan seks, malahan selingkuh atau nambah-nambah istri atau suami. Benar pepatah Jawa, duwe yo tetep kurang, ora duwe yo pas...
Tidak kawin dan tidak memuaskan diri secara biologis, bukan pertama-tama karena sebuah aturan. Tapi kerelaan. Kalau sepakat silahkan diambil, kalau tidak tinggalkan saja. Demi pelayanan yang lebih luas, demi kasih yang lebi luas, yang tak terbatas seks.
Posted by luluk widyawan | 10 november 2007 22:40
Posted on 10 november 2007 22:40