
Sekitar beberapa bulan yang lalu saya mengomeli suami seorang kawan, gara-gara dia tidak bisa menemani istrinya [yang kawan saya,tentunya] melahirkan anak pertama. Saya tidak menganggap 'masih ada pekerjaan yang memaksanya tinggal di pelosok' adalah alasan yang masuk akal untuk tidak menemani sang istri. Iya sih, memang masih ada orang tua plus mertua yang menemani, tapi ya -- masa sih, suami tidak ada, untuk menemani istri yang kesakitan? Saya sempat meledeknya sebagai : Suami Tidak Siaga, bikin mau, nemenin sakit ogah. :D
Ehm, ternyata beberapa bulan kemudian, saya sendiri mengalami hal tersebut. Yup, saya tidak bisa menyaksikan kelahiran anak pertama saya, Indonesian Idle, dengan alasan yang sangat serupa dengan suami kawan saya: masih ada pekerjaan yang memaksa untuk tinggal di pelosok. Untung saja, saya mempunyai banyak orang yang membantu, mulai dari adik saya yang saya beri kuasa untuk menandatangai kontrak, Ibu saya dan Jenny Jusuf yang tau-tau bilang bahwa novel ini sudah terbit, Mbak May yang dengan sukarela memotret novel ini, serta Renatha yang dengan baik hatinya memposting entri tentang Indonesian Idle, Deme Kampus yang bikin saya PD dengan sms-nya, Acit Belia, Ami Mustika yang ramai-ramai membantu mereview. Lalu buat beberapa tanggapan positif, yang sumpah membuat saya super lega. Duh, Obrigada Barak, senhor & senhora!
Dan gebleknya, sampai sekarang, saya belum memegang novel tersebut. Doooh!
Yah, beginilah, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di jalanan. Banyak banget perubahan hidup yang saya alami. Mulai dari membiasakan diri untuk siap siaga jalan kapan pun di minta [guyonan kami : jalanan adalah rumah, sleeping bag adalah tempat tidur, ransel jadi lemari], sampai…
Samen leven!
Iya, samen leven alias tinggal bareng.
Kebetulan organisasi tempat saya bernaung sekarang sangat mendewakan community life, di mana semua pekerja dengan latar belakang budaya tinggal bersama-sama dalam satu rumah. Ini sudah lebih dari bulan ke-dua, dan sudah tiga kali kami berganti formasi, bulan pertama bersama sebelas orang dari Korea, Jerman, Taiwan, Timor Leste dan sesama Indonesia. Bulan kedua, bersama 23 orang [gusrak!], Jerman, Jepang, Korea, Indonesia dan Timor Leste.
Sekarang, bersama 8 orang, di Becora, Dilli. Sebentar lagi formasi menyusut, menjadi 6 orang. Formasi yang berubah-rubah ini karena memang harus ada yang pulang, atau pindah ke area tugas lain.
Anyway, karena tinggal bareng, saya harus berbagi banyak hal. Berbagi kamar, misalnya, kini saya tidur bersama 2 orang teman perempuan. Lalu berbagi deterjen, berbagi shampoo. Kalau kebetulan sedang ada uang lebih, dan saya membeli rokok, kopi instan dan mie seduh, sering saya merasa tidak enak untuk menikmati sendiri. Akhirnya, kopi dan mie seduh itu hanya sempat saya cecap sedikit, sisanya untuk beramai-ramai. Begitu juga jika ada orang lain yang membeli sesuatu. Kadang juga berbagi uang, jika kebetulan ada yang perlu untuk kebutuhan urgent.
Semua serba berbagi, kecuali untuk barang-barang personal seperti sabun dan sikat gigi. [ya iya laah!]
Selain itu kami juga harus berbagi semua pekerjaan, dari perkara domestik semacam beres-beres rumah, bersih-bersih, berbelanja, memasak sampai pembagian pekerjaan utama di jalan. Oh ya, selain berbagi dengan sesama member, kami juga harus bisa berbagi waktu dan tenaga dengan orang-orang yang berada di lingkungan kami.
Kehidupan di minggu-minggu pertama terasa begitu menyebalkan [bagi saya]. Beberapa kali saya jengkel karena beberapa hal, yang belakangan membuat saya merasa tolol, karena hal yang membuat saya ngomel-ngomel sebenarnya sederhana dan remeh.
Misalnya soal tidur. Saya yang terbiasa berada sendirian dalam kamar, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan harus berbagi kamar, bahkan tempat tidur. Duuh!
Tidur satu tempat tidur berdua membuat ruang gerak saya menciut. Untunglah, seluruh kawan sekamar saya punya kebiasaan harus mematikan lampu saat tidur. Ada nih, salah seorang cowok, yang harus tidur dalam keadaan lampu menyala, sedangkan yang lainnya terbiasa tidur dalam gelap.
Oh ya, masih berkaitan dengan soal tidur-menidur, saya tidak suka bangun karena terkejut. Nah suatu hari, salah seorang teman saya yang nekad, pagi-pagi beberes kamar dan membuat kegaduhan.
Akibatnya?
“BISA NTAR AJA NGGAK BERES-BERESNYA???”
Nah, itu adalah umpatan pertama saya.
Masih banyak lagi hal-hal sepele yang TERNYATA jadi masalah. Ada yang memang tingkah lakunya gedubrakan, serampangan, sehingga apa pun yang ia perbuat, dari melangkah, mencuci piring sampai menutup pintu selalu menimbulkan kegaduhan. Akibatnya? Teman lain yang terbiasa lemah lembut merasa ketakutan, dikiranya orang tersebut marah.
Atau ada juga yang punya kebiasaan untuk tidak berbicara pagi hari, karena malas dan mengantuk, lalu [sialnya] ia didatangi oleh orang yang lain, yang berusaha ramah dan ingin mengenal orang tersebut lebih jauh, hanya caranya annoying.
“So, how many brothers or sisters do you have?”
“What is good morning in German language?”
“How do you have your breakfast in your country?”
“What kind of music do you like?”
Dan, tebak, apa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan atas nama keramahan tersebut?
“SHUT UP! YOU ASK TOO MUCH!”
Atau seseorang yang terbiasa memasak dengan bawang putih dan bawang merah tidak dihaluskan, terkena marah oleh orang Indonesia yang terbiasa mengulek segala bumbu.
Menyebalkan, tapi kalau sekarang dipikir-pikir, seru juga.
Tinggal bareng sama sekali tidak sederhana. Bahkan orang-orang yang tadinya bersahabat karena satu kampus, misalnya, tiba-tiba jadi saling sebal, karena masing-masing menemukan ‘cacat kepribadian’ gara-gara hidup bersama selama 24 jam.
Banyak sekali terjadi friksi akibat dari kebiasaan yang berbeda-beda yang di bawa dari rumah atau lingkungan masing-masing. Dan perlu ditambahkan dengan catatan : kami berbeda bangsa dan budaya.
Cara untuk berdamai adalah ngomong dengan jujur apa yang dirasa, mencoba mengerti dan minta maaf! Aneh bin ajaib, cara ini selalu berhasil meredakan ‘kepanasan’ yang melanda rumah kami *tsah*.
Sekarang kami sudah berhasil beradaptasi satu sama lain. Dan jujur saja, samen leven is fun!
Di salah satu kesempatan beromong-omong di suatu malam, seorang rekan menceritakan pengalaman saudaranya yang baru menikah dan kesulitan beradaptasi dengan kebiasaan pasangan. Ia menambahkan, mungkin hidup bareng seperti ini, bagi kami-kami yang masih lajang, adalah latihan adaptasi hidup dengan orang lain jika menikah nanti.
Saya mengernyitkan kening, lalu menambahkan, "So, after one year contract, you'll get married, eh?”
"I don't know." Ia nyengir, "You?"
"I don't know." saya mengedikkan bahu.
Yup, kontrak selesai tahun depan, dan tahun depan tentunya umur saya masih jauh dari masa menopause kan?
Lagipula, kontrak kerja tinggal bareng sekarang kan hanya setahun, kalau menikah, seumur hidup bo!
Comments (17)
Mamam-mamamnya ditunggu lho, Jeng.
Posted by Dodol Surodol | 22 september 2007 10:28
Posted on 22 september 2007 10:28
wow ... what a great experience ...
tapi saya setuju sih sahabat satu kampus bisa jadi saling sebal karena tinggal bareng selama 24 jam hehehe ...
salam kenal Mbak Okke
Posted by oJaN | 22 september 2007 14:08
Posted on 22 september 2007 14:08
HUAHAHAHAHAH.
Masuk 4 paragraf terakhir gue sangka lo mulai ninggalin 'menopause-masih-jauh-Jendral'.
Taunya... teuteuuub ;-D
*BTW, salam buat Yuni & Michael*
Posted by JJ | 22 september 2007 15:49
Posted on 22 september 2007 15:49
'Kke, need to contact you and have sent you a message through your yahoo email and FS message. Would you mind having a look ? It's for Hibiko-san to contact you there in Dili and I might have to go there too before end of the year.
*hugs and take care*
Posted by Silverlines | 22 september 2007 16:30
Posted on 22 september 2007 16:30
Sama ama JJ: gw sempet mikir bahwa entry ditutup dengan "setelah setahun membiasakan diri dengan kontrak, rasanya cukup siap untuk ngambil kontrak yang lifetime" :p
BTW, foto yang sekarang dipajang bukan yang pertama kali gw kirim. Yang pertama itu masih nggak asyik, latar belakangnya warna-warni hijau putih. Yang ini lebih tajam dan bersih... nggak tahu, Jenny kali yang kirim.
*jangan sampai kredit buat orang lain tercatat atas nama gw ;)*
Posted by -may- | 22 september 2007 16:53
Posted on 22 september 2007 16:53
Tet-tooot.
Itu foto dari Totok, adeknya Okke.
Posted by JJ | 22 september 2007 17:37
Posted on 22 september 2007 17:37
mbak, gw udah beli novelnya..
masih ada 1 salah ketik..
'bisa' jadi 'bias' :(
btw...
I've tried to call u few times, tapi ga keangkat mulu...
sibuk mengayomi teman tinggalkah? :p
Posted by vanya | 22 september 2007 19:46
Posted on 22 september 2007 19:46
Udah, udah, jangan kelahi. Itu foto dari Toto yang gua bersihin en tajemin sebisanya pake Photoshop. Fotonya yang dibersihin, bukan Toto-nya.
Vay, itu catetan buat para penulis: kalo nulis pake Bahasa Indonesia, pemeriksa ejaan di Word jangan diidupin. Otomatis bisa jadi bias en Dion jadi Don :)
*coba kita liat entar*
Posted by Dodol Surodol | 23 september 2007 01:25
Posted on 23 september 2007 01:25
Yeah.. loe masih enak ada temen2 cewenya.. kalo gue sering fighting sendiri melawan cowo2 yang tinggal bareng.. jadi sering ilfil ma cowo.. eitss tapi gue tetep butuh cowo kok ;P..
Btw, no telp loe disana brapa jeng?
Posted by youfy | 23 september 2007 21:55
Posted on 23 september 2007 21:55
Salam Kenal.
http://www.alatsurveycenter.com/
Posted by Nav | 24 september 2007 00:49
Posted on 24 september 2007 00:49
Salam Kenal.
http://www.alatsurveycenter.com/
Posted by Nav | 24 september 2007 00:49
Posted on 24 september 2007 00:49
Coba ya Mas-siapalah-itu, setau saya blog ini bukan tempat buat ngiklan deh ;-)
Posted by maap negur | 24 september 2007 08:20
Posted on 24 september 2007 08:20
kke, udah baca tu buku, berusaha liat foto elu yang superduper mini dan dengan mata silindris gue lumayan susah booo...
kayaknya bisa jadi satu buku lagi nih cerita elu disana :)
Posted by melly | 24 september 2007 10:44
Posted on 24 september 2007 10:44
“SHUT UP! YOU ASK TOO MUCH!”
Saya pernah berkata yang kira-kira seperti itu pada seorang teman yang baru kenal tiga bulan. Dan dia berhenti mengganggu saya sampai sekarang. Thanks, God! :D
Posted by Arya Nst | 25 september 2007 14:47
Posted on 25 september 2007 14:47
duh itu fotonya yang lagi nyuci CD.. hakshakshaks
Posted by aMi | 26 september 2007 17:31
Posted on 26 september 2007 17:31
Mbak, mbak, mas, mas, mbok ya jangan ngomongin saya. Langsung aja kirim ke nomer rekening. hehehehehehehehehehe *gubrag*
Posted by toto | 26 september 2007 17:38
Posted on 26 september 2007 17:38
take care and God bless you
Your aunty Ivonne Jonathan-de meza
Posted by P.N Jonathan(Holland) | 27 september 2007 17:25
Posted on 27 september 2007 17:25