« DUNIA KECIL MEREKA | Main | Guru yang Baik »

MEMBERI DENGAN BIJAKSANA

“Kenapa nggak minta aja seluruh hidup gue?”

Itu adalah celetukan sebal Doreen, seorang teman, gara-gara anak-anak kerap meminta apa yang dibawa bahkan apa yang dipakainya. Padahal tidak ada yang terlalu istimewa atau mencolok dengan barang-barang yang dimilikinya, bahkan kalau boleh dibilang, barang-barangnya kusam semua. Yup – sudah 2 tahun ini ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai perawat dan traveling keliling Asia Tenggara, Australia, New Zealand dan Fiji, jadi tentunya dia tahu, percuma membawa barang-barang yang berlebihan, karena kemungkinan hilang atau rusak sangat besar.

Saya hanya tersenyum simpul mendengar omelannya. Saya sangat mengerti perasaan Doreen, karena saya [dan seluruh teman-teman] juga merasakannya.

Sungguh menjengkelkan, karena kami sama sekali tidak boleh terlihat membawa sesuatu atau memakai sesuatu, karena pasti mereka akan memintanya, dari ikat rambut, spidol hitam, sabun, shampoo, kertas, bahkan waktu saya secara diam-diam mengeluarkan pembalut karena sedang haid, tiba-tiba, seorang anak perempuan umur 5 tahun memintanya! Buset!

Pusing nggak sih? Padahal sekali lagi, tidak ada yang istimewa dari barang-barang kami. Itu hanya barang-barang pakai sehari-hari.

[Tapi ngemeng-ngemeng ada lho anggota team lain yang bawa-bawa Teddy Bear sebelum turun ke lapangan. Duuh, iya, nggak baik ngomongin orang, tapi saya nggak bisa tahan untuk nggak bilang ‘Neng, mo liburan ke mana ya?’ – okay, buat yang tau siapa orangnya, psst..jangan bilang-bilang ya.hehe]

Kami sepakat untuk tidak selalu mengabulkan permintaan mereka, karena kami sudah pernah melihat akibat dari ‘kesalahan’ seorang kawan, ia memberi apa yang diminta oleh satu anak.

Apa yang terjadi?

Beberapa anak iri, ingin juga mendapatkan barang yang sama – sedangkan kawan saya hanya punya satu. Dan lebih parah, mereka jadi saling berebutan. Jika memberi malah menimbulkan konflik, apakah itu sehat?

Nggak kan? *mencari pembenaran*

Lagipula, mereka harus belajar mengerti bahwa setiap orang memiliki barang-barang kebutuhan pribadi, yang tidak bisa begitu saja diminta.

Kaget juga melihat reaksi mereka yang agak marah, bahkan ada beberapa anak yang cenderung agresif dan hendak merebut barang yang kami pegang. Sesungguhnya kami kecewa dan sedih, menghadapi anak-anak, yang memiliki mental ‘peminta-minta’. Membuat kami semakin yakin, bahwa kami telah melakukan hal yang benar dengan cara ‘tidak memberi’


Dalam salah satu obrol-obrol malam sebelum tidur, sambil berbalut sleeping bag, saya dan Doreen sempat bertanya-tanya, kenapa mereka senang sekali meminta barang-barang kami.

Sempat muncul analisa-analisa sok tahu [dan setiap kalimat diawali dengan kata ‘may be’ dan ‘probably’ - mungkin]

Mungkin karena kami adalah orang yang berasal dari luar daerah ini, terlihat jelas bahkan dari bentuk fisik.

Mungkin bagi mereka, orang asing identik sebagai orang yang memiliki keadaan yang lebih baik dari mereka.

Mungkin saja mereka berpikir, memberikan barang-barang yang kami punya tidak aka nada artinya bagi kami.

Dan masih banyak mungkin yang lainnya.

Anyway, di hari-hari terakhir sebelum kami pulang, adalah tugas kami memberikan kenang-kenangan bagi mereka - dan

kami mendengar gossip bahwa kami adalah tim pelit.

*hela nafas panjang*

Sungguh, bukan maksud kami pelit.

Pada masa evaluasi, saya sempat bertanya dengan orang-orang yang kebetulan pernah bertugas di desa kami tahun sebelumnya. Ternyata mereka sama sekali tidak pernah menghadapi masalah-masalah konflik karena memberi.

Aneh.

Usut punya usut, ternyata, tahun lalu, nyaris semua anggota tim selalu memberikan apa saja yang mereka minta, bahkan menurut penilaian kami, mereka terlalu royal.

Aha!

Ternyata itu masalahnya.

Tim sebelumnya terlalu banyak memberi, sehingga mereka berpikir, bahwa memberi barang-barang adalah kewajiban kami.

Kami bertanya pada beberapa orang, kenapa mereka begitu mudahnya memberi. Jawaban mereka adalah : karena mereka kasihan, anak-anak tersebut mungkin tidak pernah punya barang-barang yang mereka miliki. Bagi mereka, memberi barang-barang adalah salah satu cara mereka ‘menolong’ anak-anak.

Maksud mereka baik. Hanya memberi. Tapi, akibatnya mungkin tidak selalu baik.

Saat pelaporan masalah, saya [dengan sok tahunya] memberikan kesimpulan “Memberi tidak boleh dilakukan dengan naïf, tapi harus juga dengan bijaksana.”

Sisanya hanya nyengir sebal, tim sebelumnya yang berbuat, kami yang dicap pelit.

Sial.


TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/81

Comments (15)

senter:

wah b tau yang teddy bear tuh sapa
nanti b kastau dia pung orang na

Arti:

oh...mbak okke,finally you found your way..:)
salut atas segala keputusannya......soal beri memberi...emang sering jadi bumerang, antara kita kasihan dan ingin berbuat baik akan tetapi kita juga harus bisa melihat efeknya...idem dengan mbak okke...btw, sedih juga jadi jarang mbaca tulisan or comment mbak okke soal iklan...(soale gak pernah nonton tv lagee....sabar mbak!!)

wah, congrats ya :) akhirnya jadi juga mengejar matahari ke ujung lorosae ...

Dari ujung ke ujung nih kita ya, timur ke barat :) tapi ceritanya gak jauh beda, kayaknya di dunia begini urusan beri memberi gak jauh beda ceritanya. Sama dengan pengalaman yg disini, kalo ngasi cuman satu pasti yang lain iri.

Jadi saya setuju dengan kesimpulannya.

-may-:

Gw pernah menangani riset tentang impact dari sumbangan sebuah negara terhadap korban suatu bencana di Indonesia.

Hasilnya mencengangkan..

Sebagian (besar?) korban tersebut sudah terlanjur "belajar" bahwa sumbangan itu = pendapatan rutin mereka, sehingga mereka takut sekali kalau program selesai karena, "Nanti kami belanja dengan apa kalau sudah tidak dapat dana bulanan dari situ lagi?"

Sesuatu yang dimaksudkan dengan baik, berakhir menjadi tidak baik :(

qq:

Stuju banget Okke :)

Pengalaman juga membuatku berkesimpulan bahwa orang yang terlalu terbiasa diberi, kemudian menjadi sadar dengan posisi mereka 'yang menguntungkan' itu, sehingga kemudian ga mau mencapai kondisi lebih baik, karena beresiko akan kehilangan posisi enak tadi (diberi ini itu dan dikasihani).

Just wondering, apa ini yang melandasi munculnya PP di Jakarta ttg pelarangan memberi uang pada peminta-minta dan pengamen jalanan? Agar mereka ga menjadikan kegiatan mereka itu sebagai profesi tetap?

qq:

Stuju ama Okke :)

Berada pada posisi yang selalu diberi lama-lama membuat mereka sadar akan posisi mereka 'yang menguntungkan' itu. Sehingga mereka kemudian ga ingin mencapai kondisi yang lebih baik karena beresiko kehilangan posisi enak tadi (dikasihani dan kemudian diberi ini itu).

Just wondering, apa ini ya yang menjadi alasan munculnya PP di Jkt tentang pelarangan memberi uang kepada peminta-minta dan pengamen jalanan? Agar mereka tidak menjadikan kegiatan itu sebagai profesi utama?

hmmm aku sedikit bingung bacanya, kok ngeluarin pembalut diem-diem masih tetep bisa keliatan ama anak kecil?

disini juga bertebaran spanduk anjuran jangan memberi peminta-minta. cuman sebel juga, tugas pemerintah apa ya cuma sebatas bikin spanduk gituh?
gue sih udah kebal hati, kalo anak-anak kecil itu muncul di jendela kaca mobil gue, pun di jam dua belas malam, yang gue 'berikan' hanya sebatas nasihat: "woii, pulaaang, udah malem jangan keliaran di jalan".
nggak ngebayangin masa depan mereka, kalo sedari kecil udah terpupuk jadi peminta-minta.

Hehehe, dah lama ga mampir..
Hallo Mbak Okke!!

Hooo, betul juga. Walaupun sering diajarin kalo memberi itu adalah tindakan yang baik, kita sebagai pemberi juga perlu belajar kapan waktu yang tepat untuk memberi dan kapan waktu yang tepat untuk ga memberi ya..

hm.. hm.. ya.. ya.. *sedang merenungkan*

datangsiang (dulu):

Keu,

setelah lama ga ngunjungin se-mer, ternyata kamu udah jadi penulis sukses (juga).

You're on the right track, i guess.

salam dari gower street,
IG

Dita:

Ke, temen gw ada yg field work di daerah juga. Lebih parah lagi, anak2 disana bukan hanya meminta, tapi suatu malam ada yg masuk ke kamarnya dan menggeledah tasnya. Tapi dia keburu kabur sebelum ketauan. Parah ya...
Ini kondisi yg sangat berbeda dengan anak-anak di buku Anak-anak Kereta Api.

Memeberi tanpa mempertimbangkan efek yang terjadi adalah tindakan yang tidak bijaksana. Orang cenderung menjadi "malas" dan selalu mau enaknya saja. Memberi juga harus "mendidik". Salut buat keputusannya! :D

Delmy_iha Loromonu:

ha ha ha ha pasti sabun ju sukasi di orang-orang sana supaya kalo katong tanya su mandi ko blom bilang sonde ada sabun karena orang-orang ju su minta sampe sabun ju dong gendok bawa

P'De:

Emang gue senangnya bagi-2 sesuatu seperti tipuan dan joke-joke tentang orang papua sama spt org-2 UN yang datang membentuk carakter manusia Timor untuk hidup bergantung dari lembaga donor dan kemudian di doakan sebagai sumber berkat he he he yailahh

Delmy di Timor Barat:

Datang kupang na ingat bawa kasi beta minuman dari Dili do......
ini kan sama dengan memberi juga to !!! sama seperti judulnya Mba...

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 26 september 2007 9:00 pm.

The previous post in this blog was DUNIA KECIL MEREKA.

The next post in this blog is Guru yang Baik.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31