
Perempuan-perempuan di desa itu pada umumnya demikian, menikah di usia sangat muda, bekerja keras entah di kebun atau ladang mereka, menjual hasil kebun/ladang di pasar, merawat anak dan mengurus rumah tangga. That’s all. Dari obrolan-obrolan saya dengan mereka pun, tampaknya mereka nggak banyak mau, bahkan mengeluh lelah saja tidak.
Saya membalas dengan cengiran, lalu mulai membayangkan, bagaimana saya, jika tidak dilahirkan seperti saya yang sekarang, begitu terbiasa bersentuhan dengan sumber informasi seperti buku, TV, surat kabar dan internet. Yang kerap merasa ‘ada yang salah’ dengan semua hal dan memikirkan bagaimana cara mengoreksi hal yang [saya pikir] salah tersebut. Sering sekali saya makan ati [minumnya teh botol sosro, halah – udah nggak musim lagi ya? Maab, ga pernah liat TV], kecewa bahkan frustasi. Bukan sekali dua kali saya mengeluh capek otak. Bahkan ada saat di mana saya sampai ngomong dalam hati “Please lah,Ke.. Nggak usah mikir macem-macem.”
Mungkin iya, saya akan seperti perempuan itu. Menjalani hidup dengan sederhana, sesuai dengan siklus yang ia kenal dari moyangnya, tanpa merasa ada yang salah, karena di tempat itu, tidak ada pembanding baik dari TV, buku apalagi internet. Iya, pasti ia juga punya kerumitan hidup sendiri – tapi entah kenapa, saat itu saya yang sedang terkena sindrom mempertanyakan banyak hal, tiba-tiba berpikir, mungkin menjadi seperti dia, jauh lebih nyaman. Tidak terlalu neko-neko atau banyak mau.
“Iya, kali Ges, kalau aku lahir dari keluarga asli desa ini, kali udah punya anak empat, sibuk di ladang atau kebun, netekin anak ke empat sambil jualan di pasar.”
Gesty membulatkan matanya sambil menatap saya.
“Kenapa?” Tanya saya.
“Nggak kebayang kalau Kakak kayak perempuan itu.” Ia terkekeh.
…..
Sorenya, saya harus mengajar di kelas Junior, yang terdiri dari anak-anak berumur 9-14 tahun. Tema besar kurikulum tahun ini adalah anti diskriminasi dan menghargai perbedaan. Materi yang sudah saya dan tim persiapkan adalah mengenal budaya dari Negara lain, dengan cara sederhana tentunya.
Kami mengajarkan ucapan salam dari berbagai Negara, mengajarkan tarian dan lagu-lagu Negara setempat sambil menunjukkan peta dunia untuk memperlihatkan secara geografis, dari Negara mana salam, tarian dan lagu-lagu yang mereka pelajari itu.
Ada lima pilihan Negara, yaitu Indonesia, Timor Leste, Jerman, Korea Selatan dan Taiwan, karena kebetulan seluruh anggota tim kami berasal dari Negara-negara tersebut.
Murid-murid tersebut begitu terpesona melihat ‘dunia’ dalam peta yang saya tunjukan. Semua berkomentar kurang lebih : dunia itu besar ya?
Saya tersenyum-senyum melihat begitu bersemangatnya mereka menelusuri Negara demi Negara dengan telunjuk mungil mereka.
“Timor Leste kecil” salah seorang anak tiba-tiba menyeletuk dengan bahasa ibu mereka. Wajah anak tersebut terlihat kecewa.
“Desa kami tidak ada, mungkin terlalu kecil.” yang lain menyahut dengan bahasa yang sama, wajahnya tidak kalah kecewa.
Saya terdiam. Mereka juga. Mungkin sekarang yang ada dalam pikiran mereka adalah betapa kecilnya desa mereka, padahal selama ini mereka menganggap bahwa desa mereka sangat luas, bahkan mungkin segalanya.
Sejurus kemudian, mereka mulai berbicara, seolah membahas sesuatu.
Karena keterbatasan penguasaan bahasa lokal, akhirnya seorang teman lokal menerjemahkan apa yang mereka obrolkan.
Mereka ingin keluar dari dunia kecil mereka, melihat dunia yang luas. Bahkan mereka ingin agar kami menunjukkan seperti apa dunia luas itu.
Salah seorang teman yang membawa kartu pos negaranya, menunjukkan pada mereka.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana muncul.
orang-orang di dunia besar kerjanya apa?
Tinggalnya di mana?
Gedung-gedung itu apa?
Mobilnya banyak?
Dan seterusnya.
Pada akhirnya, mereka mengambil kesimpulan, bahwa orang-orang yang berasal dari dunia besar, jauh lebih beruntung dari mereka, karena memiliki kesempatan untuk tidak hanya memikirkan kebun dan ladang.
Gila. Dalam hari yang sama, kami sudah menyimpan iri pada satu sama lain. Saya yang iri pada ‘kesederhanaan’ hidup dunia kecil, dan mereka yang iri pada ‘kemilau’ dunia besar.
Bukan, bukan saya ingin bilang, bahwa seharusnya mereka bersyukur berada di dunia kecil yang sederhana, sehingga tidak perlu hidup neko-neko, tidak sama sekali. Tidak seharusnya mereka stuck dalam keadaan demikian!
Ini seharusnya saya yang belajar bersyukur! Dasar geblek.
Comments (11)
Pertamax!!!
;-D
Kemarin gue nonton Oprah Show, dibahas tentang pentingnya bersyukur.
Intinya, sebuah ucapan syukur yang paling sederhana pun bisa 'menyelesaikan' banyak hal - juga menolong diri sendiri dalam melalui masa-masa sukar.
Nendang booo *scara gue suka lupa bersyukur hehehe*
Posted by JJ | 24 september 2007 13:06
Posted on 24 september 2007 13:06
sekarang jadi ratu rapel-an ya. kke.
Posted by melly | 24 september 2007 15:40
Posted on 24 september 2007 15:40
okew..
maap ga penting, sok2 urusan kluarga.. hihi.. :D
kapan wawancara sama ******?? hehe
Posted by toto buled... | 24 september 2007 20:29
Posted on 24 september 2007 20:29
Mulai sering posting nih. Udah dapat uang saku buat bayar warnet harga negara maju itu ya ;)?
Tapi yang paling bikin gw trenyuh, sebenarnya, setelah mereka "kenal" negara lain, what next? Ketika mereka tidak kenal dunia besar, mereka bahagia dengan apa yang ada. Ketika mereka mengenal dunia besar, dan tak bisa menggapainya, itu hal yang paling menyakitkan.
*bukannya nggak bersyukur, cuma tiba2 berpikir aja :)*
PS: Ohh.. Toto yang di atas ini adek loe ya ;)?
Posted by -may- | 25 september 2007 10:41
Posted on 25 september 2007 10:41
Yang ini OOT, gue cuma kepikir komennya Jeung May:
"Udah dapat uang saku buat bayar warnet harga negara maju itu ya ;)?"
Iya ya, kok bisa mahal banget gitu ya?
BTW Jeng, baca komen lo kok jadi inget burung kecil lagi ya.. ntah kenapa. ;)
Posted by JJ | 25 september 2007 11:04
Posted on 25 september 2007 11:04
Okke hebat sekali! Salut atas upayanya sampai rela 'nyeburin' diri masuk ke daerah pedalaman. Semoga selalu dilindungi Yang Di Atas ya..
Posted by Sitta Karina | 27 september 2007 17:55
Posted on 27 september 2007 17:55
hi boleh kenalan... abis aku penasaran dengan anda siapa tahu .... aku kenal...
Posted by koko | 01 oktober 2007 12:38
Posted on 01 oktober 2007 12:38
ajarin mereka dong jeung, selain bisa bersyukur berdiam di dunia kecil nan sederhana, tapi juga biar termotivasi kalo udah gede nanti bisa ngeliat dunia besar :) *nggak kayak gue, nguplek di kandang sendiri ajah*
Posted by aj's lover | 02 oktober 2007 20:03
Posted on 02 oktober 2007 20:03
Hmmm... nice to know ur doing well, Okke! :)
Posted by Alia | 07 oktober 2007 23:38
Posted on 07 oktober 2007 23:38
hi,ke! lam knl :) aq dah baca & beli novel indonesian idle. menurutku novel itu isinya menarik, bahasanya ringan dan membuat aku tersenyum. btw,boleh gak km berbagi pengalaman seputar pengalamanmu di dunia menulis ini,coz aku br menulis cerpen (sblmnya sih sk mengirim2 surat pembaca,artikel,cerpen,cerpen itupun ga dimuat di satu majalah remaja) dan rencananya jg menulis novel. thx, c u
Posted by indri | 17 oktober 2007 17:12
Posted on 17 oktober 2007 17:12
eeeehhhm eeeehm !!!! nanya Mba berapa banyak manfaat sih yang dikasih Frontiers sama WCF ke labarik dari Oecusse sampai Tutuala ????
mainan sih lha iyalah, Peace Camp sih Okelahh ????
Trus gmana klao si Labarik masih suka menggambar Tank ama Senjata asyik kaaann !!!! biar ingat terus nia familia sira mate ona asal si Japenese ama Korean plg toh tahun depan datang and transit lagi dan kita ketemuan lagi yaaaaa !!! Adeuuuusss and comprementos
Posted by delmy_ihaLoromonu | 19 oktober 2007 15:03
Posted on 19 oktober 2007 15:03