« augustus 2007 | Main | oktober 2007 »

september 2007 Archives

22 september 2007

The Art Of Samen Leven

Sekitar beberapa bulan yang lalu saya mengomeli suami seorang kawan, gara-gara dia tidak bisa menemani istrinya [yang kawan saya,tentunya] melahirkan anak pertama. Saya tidak menganggap 'masih ada pekerjaan yang memaksanya tinggal di pelosok' adalah alasan yang masuk akal untuk tidak menemani sang istri. Iya sih, memang masih ada orang tua plus mertua yang menemani, tapi ya -- masa sih, suami tidak ada, untuk menemani istri yang kesakitan? Saya sempat meledeknya sebagai : Suami Tidak Siaga, bikin mau, nemenin sakit ogah. :D

Ehm, ternyata beberapa bulan kemudian, saya sendiri mengalami hal tersebut. Yup, saya tidak bisa menyaksikan kelahiran anak pertama saya, Indonesian Idle, dengan alasan yang sangat serupa dengan suami kawan saya: masih ada pekerjaan yang memaksa untuk tinggal di pelosok. Untung saja, saya mempunyai banyak orang yang membantu, mulai dari adik saya yang saya beri kuasa untuk menandatangai kontrak, Ibu saya dan Jenny Jusuf yang tau-tau bilang bahwa novel ini sudah terbit, Mbak May yang dengan sukarela memotret novel ini, serta Renatha yang dengan baik hatinya memposting entri tentang Indonesian Idle, Deme Kampus yang bikin saya PD dengan sms-nya, Acit Belia, Ami Mustika yang ramai-ramai membantu mereview. Lalu buat beberapa tanggapan positif, yang sumpah membuat saya super lega. Duh, Obrigada Barak, senhor & senhora!

Dan gebleknya, sampai sekarang, saya belum memegang novel tersebut. Doooh!

Yah, beginilah, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di jalanan. Banyak banget perubahan hidup yang saya alami. Mulai dari membiasakan diri untuk siap siaga jalan kapan pun di minta [guyonan kami : jalanan adalah rumah, sleeping bag adalah tempat tidur, ransel jadi lemari], sampai…

Samen leven!

Iya, samen leven alias tinggal bareng.

Continue reading "The Art Of Samen Leven" »

24 september 2007

DUNIA KECIL MEREKA

"Kak, kalau kakak terlahir jadi perempuan di desa ini, barangkali kakak bakal seperti itu ya?" celetuk Gesty, seorang Nona manis rekan saya sambil menunjuk seorang perempuan ber-polo shirt kusam yang bagian kerahnya ditarik ke bawah, sehingga payudaranya menyembul keluar, sementara seorang bayi mungil sibuk menghisap puting sang ibu, menyusu dengan lahap. Bagian bawah tubuh perempuan tersebut berbalut sarung kotak-kotak yang tak kalah kusamnya. Kakinya telanjang, menapak dengan kokoh jalan berbatu yang kadang-kadang dihiasi tahi ternak milih masyarakat. Ia menjunjung sebuah ember berisi sayur-sayuran di kepalanya, sementara lengan kanannya mengepit bakul anyaman berisi juga sayuran. Hari itu, Sabtu adalah hari pasar. Jaraknya sekitar 8 km berjalan kaki dari rumah tempat kami tinggal di desa tersebut.

Perempuan-perempuan di desa itu pada umumnya demikian, menikah di usia sangat muda, bekerja keras entah di kebun atau ladang mereka, menjual hasil kebun/ladang di pasar, merawat anak dan mengurus rumah tangga. That’s all. Dari obrolan-obrolan saya dengan mereka pun, tampaknya mereka nggak banyak mau, bahkan mengeluh lelah saja tidak.

Saya membalas dengan cengiran, lalu mulai membayangkan, bagaimana saya, jika tidak dilahirkan seperti saya yang sekarang, begitu terbiasa bersentuhan dengan sumber informasi seperti buku, TV, surat kabar dan internet. Yang kerap merasa ‘ada yang salah’ dengan semua hal dan memikirkan bagaimana cara mengoreksi hal yang [saya pikir] salah tersebut. Sering sekali saya makan ati [minumnya teh botol sosro, halah – udah nggak musim lagi ya? Maab, ga pernah liat TV], kecewa bahkan frustasi. Bukan sekali dua kali saya mengeluh capek otak. Bahkan ada saat di mana saya sampai ngomong dalam hati “Please lah,Ke.. Nggak usah mikir macem-macem.”

Mungkin iya, saya akan seperti perempuan itu. Menjalani hidup dengan sederhana, sesuai dengan siklus yang ia kenal dari moyangnya, tanpa merasa ada yang salah, karena di tempat itu, tidak ada pembanding baik dari TV, buku apalagi internet. Iya, pasti ia juga punya kerumitan hidup sendiri – tapi entah kenapa, saat itu saya yang sedang terkena sindrom mempertanyakan banyak hal, tiba-tiba berpikir, mungkin menjadi seperti dia, jauh lebih nyaman. Tidak terlalu neko-neko atau banyak mau.

“Iya, kali Ges, kalau aku lahir dari keluarga asli desa ini, kali udah punya anak empat, sibuk di ladang atau kebun, netekin anak ke empat sambil jualan di pasar.”

Continue reading "DUNIA KECIL MEREKA" »

26 september 2007

MEMBERI DENGAN BIJAKSANA

“Kenapa nggak minta aja seluruh hidup gue?”

Itu adalah celetukan sebal Doreen, seorang teman, gara-gara anak-anak kerap meminta apa yang dibawa bahkan apa yang dipakainya. Padahal tidak ada yang terlalu istimewa atau mencolok dengan barang-barang yang dimilikinya, bahkan kalau boleh dibilang, barang-barangnya kusam semua. Yup – sudah 2 tahun ini ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai perawat dan traveling keliling Asia Tenggara, Australia, New Zealand dan Fiji, jadi tentunya dia tahu, percuma membawa barang-barang yang berlebihan, karena kemungkinan hilang atau rusak sangat besar.

Saya hanya tersenyum simpul mendengar omelannya. Saya sangat mengerti perasaan Doreen, karena saya [dan seluruh teman-teman] juga merasakannya.

Sungguh menjengkelkan, karena kami sama sekali tidak boleh terlihat membawa sesuatu atau memakai sesuatu, karena pasti mereka akan memintanya, dari ikat rambut, spidol hitam, sabun, shampoo, kertas, bahkan waktu saya secara diam-diam mengeluarkan pembalut karena sedang haid, tiba-tiba, seorang anak perempuan umur 5 tahun memintanya! Buset!

Continue reading "MEMBERI DENGAN BIJAKSANA" »

About september 2007

This page contains all entries posted to blog.sepatumerah.net in september 2007. They are listed from oldest to newest.

augustus 2007 is the previous archive.

oktober 2007 is the next archive.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31