The Art Of Samen Leven

Sekitar beberapa bulan yang lalu saya mengomeli suami seorang kawan, gara-gara dia tidak bisa menemani istrinya [yang kawan saya,tentunya] melahirkan anak pertama. Saya tidak menganggap 'masih ada pekerjaan yang memaksanya tinggal di pelosok' adalah alasan yang masuk akal untuk tidak menemani sang istri. Iya sih, memang masih ada orang tua plus mertua yang menemani, tapi ya -- masa sih, suami tidak ada, untuk menemani istri yang kesakitan? Saya sempat meledeknya sebagai : Suami Tidak Siaga, bikin mau, nemenin sakit ogah. :D
Ehm, ternyata beberapa bulan kemudian, saya sendiri mengalami hal tersebut. Yup, saya tidak bisa menyaksikan kelahiran anak pertama saya, Indonesian Idle, dengan alasan yang sangat serupa dengan suami kawan saya: masih ada pekerjaan yang memaksa untuk tinggal di pelosok. Untung saja, saya mempunyai banyak orang yang membantu, mulai dari adik saya yang saya beri kuasa untuk menandatangai kontrak, Ibu saya dan Jenny Jusuf yang tau-tau bilang bahwa novel ini sudah terbit, Mbak May yang dengan sukarela memotret novel ini, serta Renatha yang dengan baik hatinya memposting entri tentang Indonesian Idle, Deme Kampus yang bikin saya PD dengan sms-nya, Acit Belia, Ami Mustika yang ramai-ramai membantu mereview. Lalu buat beberapa tanggapan positif, yang sumpah membuat saya super lega. Duh, Obrigada Barak, senhor & senhora!
Dan gebleknya, sampai sekarang, saya belum memegang novel tersebut. Doooh!
Yah, beginilah, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di jalanan. Banyak banget perubahan hidup yang saya alami. Mulai dari membiasakan diri untuk siap siaga jalan kapan pun di minta [guyonan kami : jalanan adalah rumah, sleeping bag adalah tempat tidur, ransel jadi lemari], sampai…
Samen leven!
Iya, samen leven alias tinggal bareng.
