Namanya Ansel, seorang laki-laki Timor Leste berusia awal dua puluhan ini saya jumpai di camp antar bangsa yang baru saya ikuti beberapa waktu yang lalu. Ia dan saya beserta sembilan teman dari Jerman, Korea Selatan dan Taiwan ditempatkan di desa Passabe, Area Oecussi, Timor Leste.
Terlalu banyak bertemu dengan orang baru, sekaligus teman-teman lama, awalnya membuat saya tidak begitu menaruh perhatian padanya, apalagi dia pendiam, jarang mengemukakan pendapat saat diskusi dalam training-membosankan-nan-melelahkan yang kami ikuti sebelum turun ke lapangan untuk mengajar anak-anak. Dua hari pertama, saya hanya bertegur sapa basa-basi, itu pun karena saya dan Ansel berada dalam homestay yang sama dan kebetulan berpapasan saat akan menggunakan toilet.
Iya, saya memang jahat, karena memiliki kecenderungan untuk mengabaikan orang-orang yang jarang 'bersuara' dalam sebuah kelompok.
Tapi semuanya itu berubah, ketika suatu malam, saat saya keluar dari bilik homestay saya yang sederhana untuk mencari minum. Saya menemukan Ansel, dalam balutan sleeping bagnya, dalam penerangan senter mungilnya sedang membaca sebuah buku.
"Pst, ngapain? Kok belum tidur, subuh-subuh gini?" Iseng saya bertanya.
"Belajar, Kak."
"Belajar apaan?"
"Inggris. Saya ingin bagus berbahasa Inggris, supaya bisa ikut ngomong juga."
"Ah, emang kalau mau ngomong dengan partisipan lain harus bagus bahasa Inggrisnya? Cuek aja, hajar!" Itu jawaban spontan saya.
Yah, kalau dipikir-pikir lagi, inti dari komunikasi itu kan adalah menyampaikan pesan? Selama pesan sampai, ya sutrah.
Lagipula untuk kesempatan yang akan kami jalani setelah training, di mana kami yang berasal dari berbagai bangsa akan tinggal bersama selama jangka waktu tertentu, memang masih perlu kecanggihan berbahasa Inggris? Dan apakah tahan tidak berkomunikasi untuk jangka waktu yang cukup lama?
Tidak akan ada yang peduli jika salah grammar, dan saya pikir, orang-orang yang tergabung dalam team kami bukanlah sejenis polisi grammar plus pronunciation atau sebagian kecil blogger berbahasa inggris canggih, yang akan tertawa terbahak atau mencela-cela kesalahan sebut seperti yang dilakukan seorang politikus yang menyebut fish to fish untuk face to face, atau aktris yang menyebut '..karena saya bekerja di dunia entertain.' atau menulis thanks menjadi thank's. Oh ya, jangan lupa juga, Indonesia is a beautiful city. :P
Dan akhirnya saya pun tahu, bahwa Ansel bukanlah orang yang tidak bisa berpendapat, ia hanya tidak berani.
Di malam-malam lainnya, saat saya terbangun, saya masih sering menemui Ansel sibuk dengan senter dan buku grammar-nya. Hal ini membuat saya terkagum-kagum dengan niat Ansel untuk men'canggih'kan bahasa Inggrisnya - iya lah bo, sampai rela membuang waktu istirahat dari kegiatan melelahkan untuk belajar?
.....
Saya menceritakan perkara Ansel ini pada Doreen, seorang Jerman sarap, salah seorang teman terdekat saya dalam tim. Sama seperti saya, ia pun terkagum-kagum dengan kegigihan Ansel.
Kemudian muncul niat 'mulia', membantu laki-laki berperawakan mungil tersebut. Caranya? Yah tentu dengan menjebak Ansel untuk selalu berdekatan dengan Doreen yang sama sekali tidak bisa berbagasa Indonesia. Mau tidak mau, dia akan terpaksa ngomong, apalagi Doreen itu super bawel. Saya juga sering sengaja pura-pura tidak melihat, jika Ansel memohon bantuan saya untuk menterjemahkan opininya agar dimengerti teman-teman.
Semakin hari Ansel semakin berani bicara, walaupun terpatah-patah tapi seluruh anggota tim mengerti,kok. Siapa yang butuh bahasa Inggris sempurna, ingat?
....
Ketika kami tiba di desa, kami baru menyadari bahwa anak-anak yang akan kami ajar sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Mereka lahir di masa di mana Timor Leste sudah bukan bagian dari Indonesia, sehingga bahasa ini tidak menjadi bahasa wajib lagi. Khusus untuk wilayah Oecussi, bahasa yang dipakai adalah bahasa Dawan.
Rasanya frustasi begitu menyadari bahwa kami tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan murid-murid kami. Iya, memang ada translator, yaitu guru lokal serta Ansel yang kebetulan berasal dari daerah Oecussi sehingga menguasai bahasa Dawan.
Tapi untuk saya pribadi, saya sebal ketika saya tidak bisa 'langsung' mengatakan apa yang saya maksud pada murid-murid saya. Saat itu saya mulai berpikir, mungkin rasa frustasi karena tidak bisa menyampaikan opini seperti yang saya rasakan ketika menghadapi murid-murid, juga dialami oleh Ansel saat ia tidak menyampaikan pendapatnya dalam diskusi team.
Saya dan Doreen akhirnya balik berguru pada Ansel. Laki-laki itu selalu membantu kami untuk menguasai kalimat-kalimat dasar yang sering dipakai untuk mengajar. Lucunya, cukup lumayan juga kalimat yang kami kuasai dalam waktu yang sangat singkat.
Sama seperti Ansel yang dipaksa berkomunikasi dalam bahasa Inggris, sehingga sedikit demi sedikit ia mampu mengeluarkan opininya, saya dan Doreen serta guru-guru lainnya pun 'dipaksa' untuk belajar bahasa Dawan, karena para murid hanya menguasai bahasa Dawan.
Yup, belajar bahasa itu lebih cepat kalau terpaksa. Buktinya, sekarang, baru saja dua hari yang lalu saya meninggalkan Rai Timor Loro Sae alias Timor Leste, kok rasanya koleksi kalimat bahasa Dawan saya jadi miskin ya?
Yang tersisa cuma:
Mail on me? untuk apa kabar?
Hau kan ma si kau? untuk siapa namamu?
Au kan ka Okke, Au oba Indonesia untuk nama saya Okke, dari Indonesia
Kelas fauk? untuk kelas berapa?
Moe bubu! untuk buat lingkaran!
Tok untuk duduk
Tam untuk masuk
Ela untuk diam
Si untuk menyanyi
Mese nua ten! untuk satu dua tiga! [yang saya pergunakan untuk aba-aba sebelum menyanyi]
mutuin untuk ikuti
tene ten untuk sekali lagi.
Na Lek, untuk bagus.
Comments (21)
Hamiiil?!!
Sama sapa, Ivan apa Adilson?
Aaaaarrrghhhh... itu kan buat gueeee!!!
#@$%%^#@&!!
:DD
BTW, ditunggu info tentang donasi the frontiers dan registrasi peace camp 2008 Jeng. Gua download form ga bisa2 euy *keki*
Posted by JJ | 22 augustus 2007 15:32
Posted on 22 augustus 2007 15:32
Mail on me, Kke?
Gimana kabar? Cepat sembuh; banyak istirahat, banyak minum air putih... minum obat.
*sorry gak bisa komentar cerdas.. nanti2 deh baru gw komentar pakai mikir ;)*
BTW, komentar agak cerdas: kalau hamilnya sekarang, setahun lagi udah lahir, bow.. :)
Posted by -may- | 22 augustus 2007 16:25
Posted on 22 augustus 2007 16:25
Setelah dibaca baik2, sekarang komentar yang "sedikit" mikir deh:
Bahasa itu memang kayak berenang.. mesti banyak "practice"nya meskipun teori tentang bagaimana mengambang (atau dalam bahasa: grammar) jangan sepenuhnya dilupakan.
Cuma.. biasanya sekali bisa akan susah jadi nggak bisa lagi. Lha, kok loe bisa baru keluar 2 hari udah banyak lupanya? Hehehe..
BTW, seneng loe dapat pengalaman menarik. Something you look for in this journey, eh? Udah lama juga Timor merdeka ya, sehingga satu generasi yang "nggak Indonesia" sudah lahir.
Take care, Nak Tir :)
Posted by -may- | 22 augustus 2007 16:39
Posted on 22 augustus 2007 16:39
@Kapten:
Indonesia udah 62 taun merdeka, generasi2 yang lahir teteub 'nggak Indonesia' ;)
Posted by JJ | 22 augustus 2007 17:19
Posted on 22 augustus 2007 17:19
Hello mbak Okke... pa kabar?
sedikit koreksi nih utk bahasa dawannya...
1. hau kan na' sakau, untuk siapa namamu
2. mese nua tenu untuk satu dua tiga
3. nak(') leko untuk bagus dan baik
ok mbak... sukses ya....
laen kali saya janji mbak gak akan lapar lagi di napan
Posted by Doohan | 22 augustus 2007 20:58
Posted on 22 augustus 2007 20:58
emang perlu banget belajar bahasa yang benar soalnya kalo salah-salah khan kelihatan ngga berpendidikannya .
Posted by putu | 22 augustus 2007 22:34
Posted on 22 augustus 2007 22:34
hahahaha.......
Posted by senter | 22 augustus 2007 22:45
Posted on 22 augustus 2007 22:45
setuju mbak!! ya kayak orang yang naik haji aja... orang indonesianya gak canggih-canggih amat bhs inggris... lebih2 bhs arab... orang arabnya juga gak canggih2 bener indo-nya... tapi tetep tuh, bisa bertransaksi jual-beli...
Posted by istantina | 23 augustus 2007 08:43
Posted on 23 augustus 2007 08:43
hihi..
klo saya mah langsung berbahasa tubuh. langsung praktekan 'duduk' klo mo nyuruh orang lain 'duduk'
Posted by imeng | 23 augustus 2007 09:40
Posted on 23 augustus 2007 09:40
ah..
it's so good to see your writing again :)
eh mbak, ansel ganteng gak? :p
Posted by VaNYa | 23 augustus 2007 10:03
Posted on 23 augustus 2007 10:03
sono euy...!!
take care ya...jaga kesehatan.
Posted by emak#2 | 23 augustus 2007 12:44
Posted on 23 augustus 2007 12:44
akhirnya ada postingan baru. kangen euy sama postingan nya mbak =D
Posted by eNdaH | 23 augustus 2007 19:11
Posted on 23 augustus 2007 19:11
JJ:
NYEEEEEEEET! Jangan nyebut nama!!! Bahaya! Banyak anak Kupang yang baca!
-may-:
blajar bahasa kan butuh latihan dan pemakaian yang berkesinambungan *tsah*, nah yang gw tulis disitu yang sering gw pake, yang gw lupain, brarti jarang dipake.. hehe
Doohan:
Tapi be tanya dong di Passabe, dong bilang macam itu sudah. Mungkin Oecussi pung Dawan deng Timor Barat pung Dawan berbeda. *Ha! akyu berlogat Kupang!*. Btw, be sonde menyalahkan Kakak, be menyalahkan nona Korea itu.. hahah..
putu:
yah tapi kasusnya kan untuk survival :) Grammar dan lain2nya belakangan dibenerin :)
senter:
apaaa ketawaaa? :P
istantina:
soalnya kepepet.. hihi
Vanya:
sutralah Vanya, jangan belanja mata.. cukup mas B aja, eh lho.. maksudnya, Ichoz.
emak#2:
Siaaap!
endah:
hihi, hasil curi2 waktu bow.
Posted by okke | 23 augustus 2007 20:35
Posted on 23 augustus 2007 20:35
imeng (maab klwat):
kalo cuma kata kerja, mungkin bahasa tubuh bisa. Lah kalo diskusi, meeting, mraktekinnya jungkirbalik jalankayang berdarah-darah kale. :))
Posted by okke | 23 augustus 2007 21:38
Posted on 23 augustus 2007 21:38
"orang indonesianya gak canggih-canggih amat bhs inggris... lebih2 bhs arab... orang arabnya juga gak canggih2 bener indo-nya... tapi tetep tuh, bisa bertransaksi jual-beli..."
Kalo urusan duit (baca: jual-beli) kayanya segala hil yang mustahal dapat terlaksana.. hihihi..
Posted by JJ | 23 augustus 2007 21:56
Posted on 23 augustus 2007 21:56
okke: MAABBBBBBB.... :-D
Posted by JJ | 23 augustus 2007 22:00
Posted on 23 augustus 2007 22:00
Jadi sebelum berangkat udah nikah ya?
Posted by Aku | 24 augustus 2007 13:51
Posted on 24 augustus 2007 13:51
kke... okke... okke...
Posted by ninit | 24 augustus 2007 15:42
Posted on 24 augustus 2007 15:42
okKe.. nanti mampir ke ATAMBUA yah... perseptember sampai 33 bulan ke depan sayah akan ada disana.. hehehe (kalau kuat dan gak hamil..heheheh )....(",)
Posted by tegar | 27 augustus 2007 14:53
Posted on 27 augustus 2007 14:53
haloow....tante okke....
pa kabar neh di timor leste....
duh enak yah..punya pengalaman yang menarik...
btw tan....kangen juga diajar tante...
hehe....
Lucy-2104004
huehehehee.....
Posted by Lucy Setiawan | 14 september 2007 21:55
Posted on 14 september 2007 21:55
Halo, Mbak Okke! Salam kenal ya. Saya salut sekali pada usaha keras Anda untuk belajar bahasa Dawan (Uab Meto) dialek Ambeno. "Pules namfafau neu Kit" (Berlimpah pujian untuk Anda). Sekadar untuk diketahui, bahasa Dawan memang termasuk bahasa yang sangat rumit untuk dipelajari; selain karena gramatikanya juga karena banyaknya variasi dialek (dari Kupang sampai ke Kusa-Manlea [wilayah Belu], dan dari Laut Timor [wilayah TTS] sampai ke Selat Ombai [wilayah Kupang-Ambeno-TTU). Bahasa Dawan di Ambeno juga memiliki beberapa subdialek. Coba saja bandingkan dialek di Padiae, Passabe, Nitib dan Naimeco, atau yang lainnya. Kalau tertarik mengetahui lebih jauh tentang bahasa Dawan, coba kunjungi http://uabmeto.blogspot.com. Semoga membantu. He tahín molok, hit musti tamolok piuta (Untuk tahu berbicara, kita harus selalu berbicara). Tabê Ton Feü (Selamat Tahun Baru)!
Posted by Yohanes Manhitu | 02 januari 2008 07:35
Posted on 02 januari 2008 07:35