« Mencintai ala Tito | Main | Perkara Memilih & Kemenangan Hati Seorang Teman. »

Seorang Veteran Malaikat Badung pada Putrinya

Saya rasa, semua ibu pasti menganggap anaknya ‘malaikat’, ibu saya juga, padahal saya tuh jauuuuuuuh banget dari gambaran malaikat yang ada di dongeng-dongeng relijius , eyang saya juga menganggap ibu saya malaikat walaupun beliau kerap dipanggil ke sekolah gara-gara ibu saya sering berantem. Mbak Maya juga melabeli setiap entri tentang Mbak Ima dengan : An Angel Called Ima. Belum lagi ibu-ibu lainnya yang malah sampai punya blog sendiri untuk melaporkan senti per senti tumbuhnya putri mereka.

Waktu saya remaja, saya mulai meragukan anggapan ibu bahwa saya malaikatnya. Kenapa? Karena kelihatannya sih ibu membenci saya, atau setidaknya tidak mau melihat saya senang. Ibu saya bawel, semua urusan saya [deu, SMU urusannya apa sih?] dicampuri. Beliau super duper khawatir tentang semua keputusan yang saya buat.

Sampai awal dua puluhan, saya dan ibu sering sekali bertengkar untuk semua hal. Salah satu penyebabnya adalah keinginan untuk menjelajah dan berpetualang. Saya marah, karena merasa ibu tidak menganggap saya bisa menjaga diri sendiri.

Karena sering dilarang-larang dan diomel-omeli, saya jadi jarang minta izin terlebih dahulu jika ingin traveling.

Saya ingat beberapa tahun yang lalu, pulang hanya untuk memasukkan barang-barang ke dalam carrier dan bilang bahwa saya akan melakukan perjalanan sambil menunjukkan tiket. Beliau ngomel sih, tapi kan… beliau mau ngapain coba? :D

Cukup lama juga saya menjalani 'kerjain dulu apa yang dimau, baru bilang belakangan'. Menambah piercing, kerja di luar kota, melakukan perjalanan, berhenti bekerja dan seterusnya dan seterusnya.

Selama beberapa waktu saya sering mengeluhkan ibu yang hobi melarang-larang saya ini itu. Nah, suatu hari, Eyang saya cerita, bahwa dulu, waktu kecil, Eyang sering dipanggil ke sekolah karena Ibu nonjok seorang anak manis manja group untuk membela keluarga yang dihina anak tersebut. Sesudah besar, kepusingan Eyang tidak berkurang, karena ibu keranjingan berpetualang ke mana-mana [so it’s genetic, don’t blame me], iya lah, secara beliau adalah anak Antroplogi [belasan angkatan di atas Mbak Okol].

Seperti tersulut rasanya mendengar itu *Kalimat ini kok kayak artikel Oh Papa Oh Mama ya?*.

Saya protes pada Ibu segera setelah Ibu mulai ngomel lagi ketika saya akan melakukan perjalanan : “Masih mending aku kan yang suka jalan-jalan doang, nggak pake brantem-brantem sampe dipanggil sekolah kayak mamah dulu?”

Yang ada ibu saya terdiam, lalu menoleh pada Eyang sambil melotot.

Dengan polos Eyang menjawab : “Sekarang ngerti kan, pusingnya saya ngurusin kamu dulu?”

Kabar baiknya adalah : sejak saat itu Ibu melunak. Sekarang saya dan ibu nggak pernah lagi berantem untuk hal-hal seperti itu. Tidak pernah sekalipun beliau mempertanyakan keputusan saya dalam hidup.

Bahkan belakangan ini, beliau selalu bilang : “Kamu udah dewasa, lakuin apa yang kamu anggap baik, yang bisa bikin kamu berkembang sesuai dengan jalan kamu dan jangan pernah ragu-ragu untuk kembali dan cerita kalau suatu saat kamu terjebak dalam kesulitan. Mamah bakal selalu ada di sini.”

Bagi saya, apa yang dilakukan ibu sangat wajar; memang sudah seharusnya seorang anak yang sudah dewasa untuk dilepas, kan mereka memiliki kehidupan sendiri, cita-cita sendiri, pemikiran-pemikiran sendiri dan keputusan-keputusan sendiri.

Makanya saya sering heran, begitu melihat beberapa teman saya yang sampai besar masih 'diatur-atur' orang tua. Bukan diatur dalam artian disuruh gosok gigi, cuci kaki dan bobok jam sembilan ya, tapi yah, orang tua teman saya itu selalu ingin terlibat dalam setiap aspek kehidupan anaknya. Ih please deh.

Sampai kemarin saya membaca JJ dan Mbak May yang tiba-tiba hypergraphia dan berbalas komentar di entri burung Tito ini. JJ kekeuh bahwa [kurang lebih] Tito tidak boleh egois, dan harus melepas burung kecil tersebut karena memang habibatnya di alam bebas, sedangkan Mbak Maya kekeuh berkata bahwa mengandangkan [memberi kandang? memasukkan dalam kandang] tidak selamanya tindakan egois semata, bisa saja itu adalah tindakan protektif.

Saya tiba-tiba melihat bahwa diskusi itu tidak akan ada ujungnya. Kenapa? Karena keduanya memakai sudut pandang yang berbeda. Mbak Maya pakai sudut pandang seorang ibu sedangkan JJ memakai sudut pandang seorang anak.

Kalau saya dan untuk saya pribadi, jelas lebih setuju bahwa semua orang tua harus membebaskan anaknya untuk berkembang dan menjalani hidup sendiri. Cuma pendapat itu agak patah dikit sejak saya dekat dengan Lentik, putri tunggal teman saya yang masih 3 tahun. Lumayan panik lho, saya kalau Lentik melakukan gerakan aneh-aneh [sekarang sedang hobi koprol haha gila!]. Nah lo, gimana kalau punya anak sendiri?

Lalu saya teringat dengan ibu saya. Secara waktu kecil dia badung dan bikin pusing eyang, lho kok ya ngelarang-larang saya gini gitu? Bahkan sekarang pun walaupun tidak pernah mengatakan hal-hal yang menentang keputusan saya, tapi saya bisa melihat sedikit sirat kekhawatiran di wajahnya.

Serta merta pikiran saya berubah, seluruh ibu yang protektif berlebihan terhadap putri-putrinya, sebenarnya bukan reseh, tapi mereka kelewat sayang pada malaikat-malaikat badung mereka, sampai-samapi lupa bahwa sebenarnya mereka veteran malaikat badung yang pernah melakukan hal-hal yang dilakukan puterinya. ;-)

Sejauh ini sih, kesimpulan sementara saya, hal seperti Ini berlangsung seperti siklus. Ketika seorang putri bikin pusing ibunya, maka suatu saat ia menjadi menjadi ibu, bakal dipusingkan oleh putri-putri mereka. Kecuali jika sang putri memutuskan untuk tidak mengurusi soal anak beranak.

Entri ini dipersembahkan untuk ibu-ibu dan anak-anak putri. Maaf, Bapak-bapak dan anak-anak cowok enggak :P

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/71

Comments (23)

waahh..jadi kangen sama mama nih baca postingan ini. well, kayaknya dibelahan dunia manapun pasti bakal ktemu kasus ibu berantem ama anaknya. bersyukurlah saya punya ibu yg sangat mengerti bahwa sesuatu yg dipaksakan itu tidak akan pernah baik hasilnya (walo berantem nya juga teteup sering sih mbak =P).

rudy:

wah ... susah deh jelasinnya nduk Okke ..
ntar kalo anda sudah punya anak, baru bisa mengerti ..
Sekarang anda mungkin bisa paham tapi belum bisa benar benar mengerti sampai menjalani.


sampeyan nulis :
"orang tua teman saya itu selalu ingin terlibat dalam setiap aspek kehidupan anaknya. Ih please deh."
yah, ini memang sesuatu yang susah di dalam parenting, yaitu 'to let go'
Percaya ngga, waktu anak sulung saya pertama pergi sekolah(playgroup sih) saya sampe pengen nangis .. ga rela dia pergi sendiri gitu ..
Kadang ada yang sampai kebablasan hingga anaknya dewasa :)

allo mbak okke, kunjungan pertama nih. langsung betah, hehehe. salam kenal!

Hmm, aku sendiri masih mencari-cari bentuk pendidikan and/or pengasuhan seperti apa sih yang pantesnya aku kasih sama si Q. As time goes by, it changes, the way she changes and adapts herself towards the changes. Sekarang dia masih eager buat jadi humanitarian worker atau fotografer, setelah sebelumnya pengin jadi tukang kuda kayak abang2 di ITB. Sekarang lagi berusaha nabung buat ke amerika ketemu tante ellen katanya, setelah sebelumnya pengin ke papua dan "tabunganku sudah tiga ratus tujuh puluh empat ribu" katanya.
So, when the time comes that she has to go, so long as she's happy with the decision, there's nothing much we as parents can do, aside to giving her as many good things as possible to survive the world.

Panjang kaleeeee.

JJ:

Hahah.. Baru kemaren juga gw posting ttg syusyenya ngedidik anak. Padahal gw cuma ngejagain anak temen bentar bow, tapi paniknya selangit. Gimana jadi mamah beneran yaks? ;)

Eniwei, kengeyelan gw (halah) agak berkurang gara2 tepat setelah berhypergraphia ria, gw denger nyokap temen gw ngeluh ttg anaknya yg bersikap semau2nya sendiri (dan pas dinasehatin malah jadi kurang ajar), "Saya yg ngelahirin dia, saya ngeluarin dia dari perut ini."

Saat itu gw ngeliat, lepas dr apapun juga, seorang Ibu Cuma menginginkan yang terbaik buat anaknya. Caranya mungkin kurang pas & persepsinya mungkin gak tepat, tapi cinta Ibu itu sendiri ya gak pernah salah... :)

Salut buat seluruh Ibu di muka bumi!

roberth:

ini mungkin yang disebut hukum alam alias hukum sebab akibat alias hukum karma

dessy:

duh lama nih absen ke blognya mbak okke.Biasanya sih rajin, tapi ngga rajin ngasih comments.

Yyuuk, kasus umum ini mbak. Ibu saya tuh hobi mengejar saya (yang hobi berlari) semasa saya kecil gara-gara saya doyan "adu silat" sama teman sekampung sepulang sekolah. Eh, ternyata kata eyang saya...dulu ibu saya malah sering manjat pohon mangga buat menghindari sabetan-sapu-lidi-maut eyang saya.

-may-:

Eh, padahal, waktu bikin label "An Angel Called Ima" itu bukan ditekankan pada "Angel"-nya lho.. lebih karena ingat film jadul: A Fish called Wanda ;)

HAHAHAHA.. ;)

Waduh, ternyata si Okke ketularan gw bikin sequel dimana2 ;)

beberapa tahun silam, tepatnya, dua tahun yang lalu...

gue: mam, gue resign. pengin lontang-lantung dulu.
mami gue: oh ok.

sekian bulan setelah itu...

gue: mam, keabisan duit. numpang idup dulu di rumah ya.
mami gue: yo wis.

sebulan di rumah...

gue: mam, ada yang nawarin kerjaan di jakarta. gue kerja lagi ah, nggak enak jadi pengangguran - dan gak punya duit.
mami gue: puji tuhan, kamu dah sadar ya...

sebulan setelah itu...

gue: mam, gue di bali lagi sekarang
mami gue: dasar kamu! *tanpa nada marah, hanya terkejut sahaja*

sekarang, kalo gue telepon dia setelah sekian lama gak kedengaran berita dari gue, pertanyaan dia adalah: "kamu masih di bali atau udah dimana lagi?"

:D

okke:

Endah:
hihi, gw jadi pengen tau, putri mana sih yang ga pernah brantem2 sama nyokapnya?

rudy:
:)

secangkircoklat:
hai,hai, selamat datang, silahkan diminum secangkir coklatnya ;-)

silver-lines:
si kriting kriwil pengen jadi abang2 yang punya kuda? Dulu gw pengen jadi pemadam kebakaran.. hahaha

JJ:
nyokap2 itu emang mahluk terkeren.. huehe..

roberth:
hukum karma, hukum tabur-tuai, siklus, apapun itulah.. hehe..

dessy:
nyokap lo sama nyokap gw suruh ketemuan aja gimana? hihihi..

maya:
kalo emang 'hanya' inget 'A fish called Wanda', kenapa ga pake 'A girl called Ima' ? ;-)

aj's lover:
hihihi, ini sequel entri nampol di blog lo ya cong? :D

gw baru bisa ngerti nyokap gw dengan lebih baik, setelah gw sendiri punya anak :P

nYam:

kalo jauh, kangen. kalo deket, adaaa aja cekcoknya

dessy:

hmm briliant idea mbak okke....Sekalian aja kita bantuin mereka buat konferensi ibu-ibu-pusing-sama-anaknya tapi yang tingkat dunia. Duit pendaftaran ditampung buat ngurusin anak-anak yang ngga punya ibu. Gitu gimana? :)

Itulah seorang ibu...

affidavix:

daily things come alive with your words,, hehe.

nice writing, mam =)

wah.. saya tau blog ini dr majalah..

ikut baca yah..

baca blog ini jadi kangen my mum, heheh..

Hard to say, Tan.
Really...hard to say..!
(hehehe, pake ati ni comment-nya.)

kalo mbak okke punya anak, gimana ya?

Andra:

Mungkin krn rasa sayang thd anak-nya, para mertua jadi suka bawel?! Aduh...,mudahan saya nantinya gak jadi mertua bawel walaupun saya sayang ama anak-anak saya. Buat Okke, salam kenal and tulisan-tulisan Okke bener-bener dlm artinya, sukses selalu.

Mela:

hmmm... sekarang kalo gitu... puas-puasin aja dulu keras kepala sebagai anak... hehehe...

okke:

@yanti:
jadi pengen jadi nyokap biar bisa bener2 ngerti nyokap ;-) *boros kata nyokap*

@nYam:
betul banget, ntar kamu gitu ga yaa sama anakmu ;-) heheheh...

@dessy:
huhu, ogah ah.. ribet kayaknya bikin seminar2 :D

@widya:
kalo bapak?

@Affixdavix:
thank you, neng scriptwriter ;-)

@angel:
Boleh, boleh.. silahken baca... :)

@monic:
hey, nic. Apanya yang hard to say? ;-)

@Linda:
gue yakin gue bakal bawel dan kuatiran kayak nyokap juga. Genetik bo!

@Andra:
Thank you ya :) dan amin, semoga ga dapet atau jadi mertua bawel :)

@Mela:
sampai nanti kalo punya anak, pusing karena si anak keras kepalanya berkali-kali lipat. Haha..

Setelah baca tulisan ini, gue semakin takut punya anak...

Soalnya dulu gue bandel banget!

Gimana kalau dia -si anak- bandel (kayak gue dulu)?

Gimana kalau dia suka ngelawan orang tua (kayak gue dulu)?

Gimana kalau dia keras kepala (kayak gue dulu)?

Waduh...

Gimana dong? Hehehe...

Padahal semua orang udah pada nanya:
"Kapan punya anak?" atau "Udah 'isi' belum?"

"Kapan? Kapaaaaaan...?"

*lho? kok curhat ya? hehehe*

Erly:

Ibu menganggap anak, adalah bagian dirinya yang harus dijaga.... agar tidak mengulangi kesalahan yang pernah dibuat dulu (kalo ada loh :p) sayangnya banyak ibu-ibu yang lupa kalo anak juga punya keinginan sendiri. walaupun dna-nya 50% max masih turunan ibunya, toh ada 50% dna lain dari bapaknya "yang entah seperti apa" masa kecilnya dulu...
Nyesel deh... dah ngerjain dan buat ibu saya susah :(

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 04 juli 2007 11:30 pm.

The previous post in this blog was Mencintai ala Tito.

The next post in this blog is Perkara Memilih & Kemenangan Hati Seorang Teman..

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31