« Seorang Veteran Malaikat Badung pada Putrinya | Main | [Nggak Mau] Meninggal Mendadak. »

Perkara Memilih & Kemenangan Hati Seorang Teman.

update 18.48 WIB
Talkshow Kamulah Satu-satunya di Makassar.
Sabtu, 14 Juli 2007 jam 19.00 - 21.00
Mall Panakukang, depan Gramedia.
See you there! ;-)

Semua hal dalam hidup itu adalah pilihan, Kamerad!

Kalau saya bilang itu, mungkin terdengar klise ya? Semua orang juga tahu. Kadang-kadang sebal juga, kenapa sih, saya harus memilih? Dari memilih kuliah di jurusan seni rupa, antropologi, psikologi atau teknik arsitektur. Memilih kerja jadi buruh 9 to 5, dosen atau freelancer, Memilih handphone dengan pertimbangan fungsi atau bergaya belaka, bahkan sampai perkara makan apa hari ini pun harus memilih [warteg dekat kantor? bakso malang mandeep? Atau, gimana kalau bekal dari rumah?]

Memilih itu ribet. Beruntunglah orang yang mampu memilih. Bahkan, walaupun misuh-misuh dan menyumpahi teman saya [teman? bukan deng, hanya kebetulan kenal] yang menganggap bahwa hidup manusia itu sudah punya template yang seragam, tapi saya masih tetap menganggapnya 'lebih beruntung', karena.. yah, ia telah memilih.

Memilih itu menjadi tidak lebih mudah karena adanya lingkungan sosial yang tidak mendukung. Siapa bilang peer[social]-pressure itu berlaku cuma untuk ABG? Nggak, hal ini berlaku juga buat orang-orang yang sedang berjuang untuk mencari tahu apa yang dimau sebelum benar-benar memilih. Di tengah jalannya proses mencari [atau kadang-kadang nyaris yakin] apa yang dimau, selalu ada saja orang-orang hal-hal yang bisa membuat kita saya jadi ragu-ragu.

Waktu SMU saya ingin masuk sekolah yang berhubungan dengan keseni-rupaan karena minat saya memang berhubungan dengan itu. Tapi ada saja orang yang mempertanyakan : 'Ntar kerjanya apa?' atau malah menasehati, "Daripada masuk Seni Rupa mendingan masuk jurusan teknik, hukum, ekonomi atau sastra". Sempat lho, di kelas II SMU, saya menukar jurusan yang saya cita-citakan menjadi : kedokteran atau kedokteran gigi [lho?]. Untung saya insyaf dan sadar minat. :)

Atau untuk perkara kawin berkawin. Males sih ngomongin ini, tapi saya melihat fenomena [tsah] betapa 'ganggu'nya lingkungan sosial terhadap keputusan seseorang untuk menikah.

Contohnya seperti teman saya yang bernama -sebut saja- Neng Epi. Iya, kami sempat bertengkar kecil gara-gara saya terus meledeknya. Dulu saya mengenalnya sebagai sosok yang nyantai di urusan pasangan, berpacar okay, jomblo pun nggak masalah. Tapi sekarang setiap melihat teman-teman yang lain satu-satu mulai berkawin, Neng Epi bertingkah bak kambing kebakaran jenggot. Nggak, dia tidak langsung berburu calon suami,kok, tapi setiap ada yang menikah ia terus menerus bilang nggak butuh atau bergantung pada cowok seperti mereka2 yang menikah. Dengan keras dan demonstratifnya ia bilang bahwa cowok itu sumber masalah, karena itu untuk tetap berbahagia dan menghindari keribetan gara-gara cowok, maka dia memilih untuk tetap single. Doh. Kalau memang memilih single, ya nggak usah nyolot dengan tendensi membodoh-bodohi orang yang menikah dooong.

Pada akhirnya, ketika emosi menurun, Neng Epi bilang "Lo nggak ngerasain sih rasanya hidup di lingkungan gue!". Yup, ternyata oh ternyata, dia adalah salah satu cewek yang dibombardir pertanyaan 'kapan nikah?' - yang tidak diajukan dengan nada bercanda sehingga bisa dijawab dengan jawaban andalan ala saya : 'santaaai, menopause masih jauh!'. Tapi ia memang diharuskan menikah sebelum tiga puluh, karena menurut keluarganya rahim/indung telur perempuan itu bagai produk makanan yang punya waktu kadaluarsa dan mereka mengharamkan adopsi. Serangan itu terjadi terus menerus, sampai akhirnya ia panik. Nyolot adalah tindakan defensifnya.

Eh, ini ada lagi contoh konyol dari besarnya pengaruh lingkungan [orang lain] pada saya. Enam bulan yang lalu, saya hendak membeli sepatu, seperti biasa, pilihan utama saya adalah sepatu datar canvas. Tapi teman saya yang kebetulan menemani, memaksa dan membujuk agar saya membeli sepatu yang agak berhak. Pertama saya menolak, karena saya tidak suka, tapi ia terus merayu, katanya saya kan nggak punya sepatu begituan, setiap akan menghadiri pesta, pasti MM [modal minjem] nyokap. Lalu ditambah lagi dengan ocehan sang pramuniaga yang kebetulan melihat saya dan teman beradu argumentasi tentang sepatu tersebut. Kata mbak-mbak pramuniaga itu, sepatu sling back dengan hak 7 senti yang ditunjuk teman saya keren, elegan, up to date dst dll dsb. Beuh.

Oceh deh, setengah jam bimbang, akhirnya [dengan gobloknya] saya termakan rayuan gombal teman dan mbak-mbak pramuniaga. Tahu nggak apa yang terjadi? Sepatu itu belum pernah dipakai sampai sekarang. Kenapa? Karena tiga bulan setelah membeli sepatu itu, tidak ada undangan pesta apa pun. Di bulan ke-empat saya keseleo dan dilarang pakai sepatu ber-hak! [@$%#$@!].

Ehm, ada yang mau membeli sepatu saya?

Kalau nggak kuat-kuat iman, bisa-bisa apa yang diyakini benar, akan salah ketika lingkungan sosial bilang itu salah. Padahal belum tentu apa yang kita yakini salah, siapa tahu cuma tidak lazim aja. *hihi*

Dalam salah satu sesi beromong-omong dengan sahabat-sahabat soul sisters saya, kami membuat sebuah dalil, bahwa jika ingin proses pencarian apa yang dimau plus proses memilih itu lancar, dibutuhkan lingkungan yang mengasihi dan ingin semua yang terbaik untuk kita. Dibutuhkan orang-orang yang memberi masukan tapi tetap memperlakukan kita sebagai orang yang bertanggung jawab serta sadar sepenuhnya akan kesempatan dan risiko dari segala pilihan yang dibuat. Dibutuhkan orang yang tidak nyinyir terlalu ikut campur dengan memaksakan kehendak baik untuk soal pekerjaan, pasangan hidup, cara hidup, handphone, sepatu dan seterusnya..

Ehm, sambil menulis entry ini, MP3 saya memainkan lagu Kemenangan Hati [Yovie Widianto, feat Gea & Dirly Idol]. Liriknya kok ya, ngepas [atau saya saja yang ngepas-ngepasin ya?]


Tak pernah kusangka aku di sini
Bersamamu dalam hatiku
Setiap langkah ini begitu berarti
Membuatku tegar hidupku
Ku tak takut tuk melangkah genggam erat tanganku

Engkau hadir saat tangis dan tawaku
Engkau ada dan tlah menangkan hatiku
Semua cinta yang telah kau beri
Yakinkan aku tuk bermimpi
Dan kemenangan ini milik kita

Terkadang ku merasa tak akan mampu
Melewati beratnya hari
Tapi keyakinanmu pada diriku
Membuaku tuk berdiri lagi
Ku tak takut tuk melangkah genggam erat tanganku

Engkau hadir saat tangis dan tawaku
Engkau ada dan tlah menangkan hatiku
Semua cinta yang telah kau beri
Yakinkan aku tuk bermimpi
Dan kemenangan ini milik kita

Semua ini hanyalah milikmu

Engkau hadir saat tangis dan tawaku
Engkau ada dan tlah menangkan hatiku
Semua cinta yang telah kau beri
Yakinkan aku tuk bermimpi
Dan kemenangan ini milik kita

Yah begitulah, cuma orang-orang yang mengasihi kita dengan sepenuh hati yang mampu mendukung kita, bukan meracuni, sehingga pada akhirnya kita bisa meraih kemenangan hati dalam memilih dan memutuskan. tsah!


[buat teman-teman the frontiers yang ga sempet datang di reuni kecil ini, ini foto lainnya]


Oh ya, ini adalah foto yang diambil saat pernikahan salah seorang sahabat soul sister kami. Setelah sembilan tahun berpacaran, akhirnya ia memilih dan mengambil keputusan untuk menikah juga. Saya terharu ketika membaca satu kalimat yang terdapat di undangan pernikahannya : God has saved me again, for today I marry my best friend. [manis sekali kan?]. Bahkan air mata saya meleleh ketika mendengar salah satu kalimat yang diucapkan oleh pasangan dari soul sister saya : 'saya berjanji akan menemani kamu berpetualang ke mana pun kamu mau'.

Yap, Nitnot, telah memilih dan mengalami kemenangan hati untuk urusan ini. Dan sebaliknya, dia [dan soul sisters yang lain, serta keluarga saya tentunya] yang membantu saya untuk menuju kemenangan hati untuk urusan lain. *wink*.

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/72

Comments (30)

Salam kenal. Very touching posting, thank you. It's true that life is full of choices.

Mbak Okke emang keren dah! :P

saya termasuk orang2 yang gampang terpengaruh soal memilih dalam hidup.

dan memang benar, hanya orang2 yang
menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah 'apa yang mereka liat terbaik buat kita', tapi yang mau melihat 'apa yang kita anggap terbaik buat kita' dan mau mendengarkan sebelum beropini, yang boleh ikut campur dalam pilih memilih ini.

huhuuuuu,,, :P

Nice posting Kkew. Hidup kan memang serangkaian negosiasi untuk menentukan dan menjalani pilihan-pilihan. Mengukur resiko dan benefit dari setiap pilihan yang diambil.

Jangan pernah menyesali pilihan sadar.

lia:

posting kali ini gw suka banget... - salam kenal Ke..

-may-:

Nikah memang nggak untuk semua orang ya, Kke *hmmfff.. menghela nafas panjang ;-)*

BTW, kapan novel terbit?

JJ:

Sedyiiiiih.

Sangkain predikat ratu mellow sedunia milik gue doang, haha.

Kapan keluarin silet lagi?

Gyahahahahaha.

@mbak may: Emberrr. :DD

enon:

bener tuh terkadang kita juga punya pilihan yang baik koq [menurut kita], akan tetapi orang lain kan bukan kita yang punya pemikiran sama dan hanya orang2 terdekat kitalah yang mengetahui apa yang kita mau...

uhggg touching bgt deh

qq:

As usual, posting yang sangat menarik bagi cewek-cewek single...hehehehe. Makasi ya udah membuatku tetap rasional dengan apapun yang kujalani sekarang :)

Yang paling susah dalam hal memilih adalah menjalani konsekuensi2 dari pilihan itu.. hu hu hu hu. Kadang bikin nyeri hati :(

eva:

klo umpama, kita teteup maksa 'try to fit in' dengan alasan 'karena ini melulu bukan hanya tentang aku' gimana mbak? ikz..

*kok jadi curhat*

postingannya bagus..
mellow marshmallow..
sangat inspiratif euyh

btw, makassar - palu tinggal deket aja mbak, ga lanjut ke palu? *wink*wink*

happy wiken mbak okke!

*Sempat lho, di kelas II SMU, saya menukar jurusan yang saya cita-citakan menjadi : kedokteran atau kedokteran gigi [lho?].*

kok pengalamannya sama yah mbak sama aku? untunglah saya terselamatkan oleh orang tua yg walo pengen sangad anaknya jd dokter, tp teteup menyerahkan keputusan akhir di tangan saya. thank GOD for that.

i have great quote for this post :
"LiFe iS SimpLe, yOu MaKe cHoiCeS n yOu Don'T LooK BacK.(Han, Too FasT Too FuRioS - TokYo dRiFT)"

Dodol Surodol:

Nikah memang nggak untuk semua orang ya, Kke *hmmfff.. menghela nafas panjang ;-)*

Nikah emang nggak untuk semua orang, Jeng May, but it can see in the dark.

intan:

Oh, soal memilih. Eloe "pro-choice" ya, Kke? Kalau gw sih, pro-death. =)

Ngomong2, kartu pos gw keterima gak? Udah lama banget ngirimnya, tapi lupa nanya dan ngabarin. Kasih tau ya.

dW:

Timor,.. siap-siap yah.., she'll be back soon.

give your best for her, .. so she will be grateful in every step she take on your land.. trough her new journey of choices.. :-)

memilih...sesuatu yang harus saya pikirkan lama (karena takut salah memilih) dan setelah memilih juga masih aja lama saya pikirkan pilihan saya ini bener ngga seh? Bisa ngga di hidup ini kita ngga usah memilih, dengan asumsi semua yang terbaik sudah disiapin?Ngga bisa yah?hhh..Jadi gimana cara supaya ngga salah pilih?gimana cara supaya ngga menyesali apa yang sudah dipilih?gimana..gimana...gimana...

Anw, mbak okke ukuran kaki berapa emang?dilelang aja lah sepatunya daripada mubazir. Masih banyak yang lebih membutuhkan high heels salah beli model gitu hohow..

-may-:

@Dodol:

Nikah emang nggak untuk semua orang, Jeng May, but it can see in the dark.

Kok deja vu Renegade. Justice is blind, but it can see in the dark

Eh, jadi pernikahan = justice, gitu ;)?

Dodol Surodol:

Kalo gitu bakal ada Liga Pernikahan Amerika dong.

*nyampah, mumpung yang punya lagi di Bandung*

sister forever!

imagine, life without the very very best friends

Erly:

Nikah memang nggak untuk semua orang ya, Kke *hmmfff.. menghela nafas panjang ;-)*

Menikah atau tidak kan pilihan masing-masing pribadi mbakyu. Kita tidak akan pernah tahu kapan saatnya tiba. (nunggu siap, nunggu mantab, nunggu jodoh yang tepat) yang pasti harus dimulai dengan "keberanian" untuk memutuskan. Tidak perlu ada kata kecewa dan menyesal kan...

Kalo boleh memilih, saya lebih suka punya anak tanpa harus memandang orang yang sama dari pagi sampai pagi lagi he he... Hanya... kebetulan saya bertemu orang yang (mengutip istilah dari dodol) "it can see in the dark". Dan orang tua saya bernapas dengan lega...

okke:

@jennie:
salam kenal juga. :) yup, suka atau enggak, [sialnya] life is full of choices

@mandhut:
yuk mari memilih...:)

@emak#2:
ah pan saya terinspirasi dari ente yang membebaskan memilih dengan tanggung jawab ;-)

@lia:
salam kenal juga :)

@may:
hopefully, soon.. ;-)

@JJ:
Laaaaaaaah? kok sedih? lo salah set mood... *ctuks*

@enon:
jadi, sudahkah anda memilih hari ini? *halah*

@qq:
sama-sama :) mari terus menjalani hidup dengan pilihan yang dilakukan secara sadar.

@aprian:
Yah, kan kalo pilihan sadar, termasuk nyadar juga konsekuensinya bow :) Perih ga perih risiko..

@eva:
memaksa untuk 'fit in' itu berarti udah milih kan? ;-) Huhu, ga bisa kemana2 gw di makassar kurang dari 24 jam...

@endah:
daaamn... , gw pas nulis ini keinget quote itu tapi lupa dari film apa :))


@dodol & may:
hmmfff... mbok ya..

@intan:
udah, kacabik maung boleh juga, walaupun maksud gw sih kacalikan gajah.. :D Duh buat greetings project, punten, blom dimuat dan blom bisa ngabar2in lagi... punteeen.

@dw:
Hmmmpfff.. buka rahasia ih dianya! :P

@dessy:
ukuran sepatu 38, tapi udah ada yang ngetek tuh.. :)) *lirik2 JJ*

@melly:
yoi, la viva sisterhood!

@erly:
tuh mbak Maaay... pilihan! Pilihan! :P


sebenarnya gw senang memilih. Bisa milih kan malah asik. hanya saja, tak siap dengan konsekuensinya [sigh!].

-may-:

Eh, entry ini tidak dimaksudkan untuk dikaitkan dengan entry loe. Gw nulisnya karena sebab lain *swear!* Tapi kok kayaknya cocok deh ;)

Nih, gw kirimin trackback-nya tentang pilihan:

http://smritacharita.blogspot.com/2007/07/tentang-pilihan.html

JJ:

Memilih itu nggak susah, asal siap dengan konsekuensinya.

Yang bikin sebuah pilihan jadi (tampak) ribet adalah ketika ada pihak2 tertentu yang merasa 'berkewajiban' (baik secara langsung atau tidak) untuk 'melibatkan diri' dalam pilihan sadar yang dibuat seseorang.

Dan kepada orang2 macam ini, kadang2 gue tergoda juga untuk bilang, "Plis deeeeeeeh."

:)

intan:

Hehe.. kacalikan gajah.. good one. Btw, kok eloe tau sih, Kke, kalau gw orang Sunda? Gak papa kok lama diupdate, yg penting kartu pos nya udah nyampe.

okke:

intan : gue baca blog lo bu. Mimiti Beger? ;-)

salam kenal mbak okke! keren ih blognya. :D

*Sempat lho, di kelas II SMU, saya menukar jurusan yang saya cita-citakan menjadi : kedokteran atau kedokteran gigi [lho?].*

duh sama bgt deh mbak okke. walaupun akhirnya sy ga masuk situ sy tetep aja terjerumus di jurusan yg ga saya minati, karena ortu 'agak kurang sedikit tidak setuju' klo saya masuk jurusan seni. akhirnya tiap tahun yang ada sy kena omelan karena IP ga buagus, cari kerjanya nanti gmn, dan lain sebagainya. klo udh stress sy nekat aja blg yg kuliah sy apa mama sih, yg dibalas dgn, mama, trus knp. klo udh gt saya diem aja deh, disambung jg udh ga ngaruh.

pada akhirnya saya toh mengambil jalan desain jg (sy buka toko online yg ngjualin prints & stuffs di sini in case mbak okke sudi mampir. wakaka.) dan sy udh blg jg ke ortu, nyokap terutama, klo tujuan sy skrg tuh bukan ngejar IP lagi, yg penting sy lulus. sy lebih memilih mengejar sesuatu yg emang pngn sy kejar. :D

dan.. masalah 'kapan nikah?' ini juga jadi salah satu pertanyaan favorit ortu saya. saya bahkan blm selesai kuliah tapi mereka udh sibuk bngt soal yg satu ini. malah saya pernah denger ada kata perjodohan di situ, sesuatu yang tentu aja saya tolak mentah2. berhubung sy anak laki2 satu2nya dari anak laki2, keberlangsungan garis keluarga ada di tangan saya (patrilineal, sy orang batak), tambah berat lagi deh bebannya. smp skrg klo ditanya 'kapan kawin?' sy cm jawab 'kapan2'.

wueh jadi curhat gini, maap ya mbak.
ya intinya sy udh ngrasain sih yang namanya memilih 'yang terbaik buat sy' dan untuk selanjutnya sy harap sih sy beneran bs memilih yg terbaik buat sy. :)

Alfin Yuniarti:

yup hidup emang harus memilih & terkadang btuh perjalanan yang panjang u/ akhirnyaq sampai pada pilihan yang tepat.

mbak okke..gmn sich bza jd young writer???I really want it,

naskah yang udah kita buat hrusnya diapain yach??

thx U so Much...^_^

okke:

arhcamt:
selamat memilih dengan kesadaran akan konsekuensinya ya? *halah gw sok tua*

alfin:
kamu e-mail saya aja deh, ke okke77@yahoo.com, ntar saya kirimin materinya :)

feri utomo:

salam kenal okke
gw temennya toto di mustika
bicara soal pilihan&berproses,emg itu yg sering banget gw alami trutama 4 bulan ini gw jd berproses keras
mulai masalah status gw yg doktermuda/koas yg nggak kelar2(salam ya ke ibu mul:pembimbing gw di bagian kulit,turut berduka cita juga)sampai ke masalah ber-asmara
banyak yg bilang kerjain apapun yg gw enjoy banget ngerjainnya,kalo gw harus ngejawab itu ya..gw bakal nekunin radio broadcasting tapi gw jg punya kuping yg terus mendengar suara temen2 gw yg bilang:wah!enak lho ntar kalo udah jadi dokter...tapi mreka nggak pernah ngerasain gimana kerasnya membanting tulang selama gw jadi koas apalagi gw belum bisa mencintai sepenuhnya dunia kedokteran yang menurut gw terlalu kaku dan feodal banget.akhirnya gw berfikir untuk sekedar bisa membuat ortu gw tersenyum puas saja melihat anaknya ini punya tambahan dua huruf:dr. di depan nama gw.
yg sebenernya gw mau dan gw cintai banget ya radio broadcasting yg mnurut gw luar biasa banget.
soal asrama eh salah asmara juga gitu:gw dulu sempet mencaci maki orang yang selingkuh bahkan yang berpoligami atas nama cinta tapi nyatanya gw ngalamin sendiri.saat chemistry itu dateng di saat yang (mungkin) salah,gw nggak bisa menolaknya.Walaupun selagi belum menikah,ya..nggak apa2 juga untuk looking for the best. dan again,again and again gw memilih kembali ke jalan yang (mungkin) benar walaupun rasa gw bukan untuk dia sepenuhnya tapi masih untuk dia yang lain(selingkuhan).terlalu jadi roman picisan ya??tapi it's really true sampe2 mungkinkah ini jadi cinta platoonis hehehe
okke...lu bener banget hidup itu penuh dengan pilihan dan sbenernya menurut gw nggak ada pilihan yang benar dan salah tapi yang ada adalah pilihan2 yg masing2 ada resikonya tinggal gw aja sanggup apa nggak nanggung resiko2 itu
tengkyu okke

life is full of choice...!!!benar banget teman kita harus buat pilihan untuk semua hal yg akan kita lakukan,tapi ga selamanya pilihan kita selalu benar,pilihan orang lain buat kita sering salah.buat bang Feri utomo,ternyata kita senasib n seperjuangan,yg masuk kedoteran buat nyenengin keluarga.tapi alhamdulillah sekarang aku udah menyadari ternyata ini memang jalan hidupku.awalnya aku juga berpikir kayak bang feri,bahwa kedokteran itu kaku n terlalu serius,setelah jatuh bangun di tahun2 awal,akhirnya aku nyadar begitu banyak hal yg menyenangkan di kedokteran,banyak tantangan yg menigkatkan adrenalinmu,kayak naik jet coster(biarpun belum pernah naik...he..he..he)

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 13 juli 2007 12:24 am.

The previous post in this blog was Seorang Veteran Malaikat Badung pada Putrinya.

The next post in this blog is [Nggak Mau] Meninggal Mendadak..

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31