« Perkara Memilih & Kemenangan Hati Seorang Teman. | Main | Kabhi Alvida Naa Kehna* »

[Nggak Mau] Meninggal Mendadak.

“Eh, Mbak, aku udah bilang belum kita pulangnya naik apa?"
"Naik apa?"
"Adam Air."
"HAH? Serius lo? Mati deh kita…"

Itu adalah secuplik percakapan sebelum saya dan Alit, salah satu editor Gagas Media yang mungil, check in di bandara Soekarno Hatta, Sabtu [14/07/07] kemarin. Ih, sumpah deh, saya langsung ketar-ketir nggak jelas mendengar kabar itu.

Gimana nggak, gara-gara peristiwa kecelakaan pesawat beberapa waktu yang lalu, saya sempat berikrar, kalau 'terpaksa' terbang, tidak akan sekali pun menggunakan layanan terbang maskapai penerbangan Adam Air maupun Lion Air. Lha, ini dapetnya kok Adam Air. Duuh, males nggak sih?

Okay, silahkan ketawa, tapi hal pertama yang terpikir oleh saya adalah : saya nggak mau mati karena kecelakaan pesawat!

Ehm, sebenarnya bukan nggak mau mati karena kecelakaan pesawat doang sih, tapi juga kecelakaan-kecelakaan lain, penyakit atau malah bunuh diri. Pokoknya saya nggak mau merasakan sakit meregang nyawa saat ajal menjelang *tsaaah*. Teman-teman saya tau banget ini, karena dalam banyak sesi mengobrol dan membahas tentang kematian, saya selalu bilang ingin mati dalam keadaan tidur lelap dan dalam keadaan sebelumnya yang baik-baik saja. :)

...

Neng, Oom Sas meninggal pagi tadi jam setengah delapan di jakarta.
sender:
Mamah.

Saya menerima SMS tersebut hari Minggu [15/07/07], di Bandara Hasanuddin, Makassar, sekitar setengah jam sebelum boarding. Saya yang tadinya sibuk cengengesan dengan Alit demi menghilangkan nervous karena akan menggunakan jasa penerbangan Adam Air langsung terdiam. Shocked. Pria bernama Oom Sas yang disebut oleh ibu adalah teman seorganisasi orangtua saya sejak masa kuliah, bahkan sampai sekarang mereka pun masih berada dalam satu naungan organisasi yang sama. Sedangkan putri-putrinya adalah teman saya untuk bergila-ngobrol, bergila-jalan dan bergila foto dalam kota, sekaligus juga teman bergila-ngeband adik saya.

"Eh, lucu ya, dulu kita temenan, sekarang anak-anak kita temenan juga.." itu cetusan orangtua saya pada Oom Sas beberapa waktu yang lalu.

Saya sendiri jujur saja, tidak terlalu dekat dengan beliau, hubungan kami hanya sebatas obrol-obrol kecil dan cengengesan. Maklumlah, beda generasi. Yang saya ingat, Oom Sas cukup sering saya temui saat makan siang di rumah makan padang sebelah kantor saya atau di Gado-gado Tengku Angkasa. (Yang tentunya saya sapa "Eh, si oom lagi, si oom lagi..." - tetap sambil cengengesan.)

Dengan setengah kesadaran, saya membalas SMS tersebut.

Meninggal kenapa,Mam?

send.

Sejurus kemudian, sebuah SMS balasan masuk.

Ga tau. Mendadak. Mamah juga ngga tau kenapa. Soalnya kemarin masih rapat sama Papah. Malah masih ngobrol. Ini lagi nunggu jenazahnya di gereja.
Sender:
Mamah

Saya tidak membalas SMS tersebut, karena tiba-tiba inbox saya dipenuhi oleh SMS serupa, yang membuat saya teringat, bahwa saya harus meneruskan berita ini.

Bukan cuma saya, semua orang yang kenal dengan Oom Sas [beserta keluarganya] sama shockednya. Setahu kami, ia baik-baik saja, sehat dan selalu riang. Buktinya, beberapa orang yang saya kirimi SMS membalas dengan...

Ah serius lo?
Becanda kan?
Ngga lucu lo.

Kematian ini benar-benar mendadak, sangat tidak terduga. Saya, sebagai seseorang yang hanya bertemu beliau sekali-sekali saja merasa seperti ada yang hilang dari hati saya. Gimana dengan orang-orang terdekat; istri, dan putri-putrinya yang berbagi waktu, kasih dan beraktivitas bersama selama bertahun-tahun ya?

Ketika saya mendatangi kebaktian penguburan beliau, saya melihat keluarga Oom Sas. Betapa kagumnya saya pada mereka yang tampak tabah. Hal pertama yang saya lakukan adalah menghampiri putri-putri Oom Sas dan mengembangkan tangan. Energi kesedihan tiba-tiba berpindah ketika saya memeluk mereka. Tanpa bisa dikendalikan air mata saya ikut mengalir, lagi.

"Mbak, gue diajak jalan-jalan lagi yaa, sedih niih.." cetus putri bungsu mereka sambil tersenyum dipaksakan. Saya yakin ia sangat terpukul, karena setahu saya ia sangat dekat dengan sang ayah. Ampun. Mungkin jika ini terjadi pada saya, di mana saya harus kehilangan ayah, saya akan menangis menggerung-gerung dan tidak akan sempat tersenyum atau berkata-kata.

Sewaktu memberikan penghormatan terakhir pada beliau, sambil melihat jasad yang terbaring pada peti jenazah, saya sempat berharap, semoga beliau hanya mati suri. Bahkan, ketika peti hendak ditutup, saya berkata dalam hati, "Om, bangun dong, Om.."

Suasana kebaktian pemakaman Senin kemarin membuat saya langsung berubah pikiran.

Seandainya bisa memilih, saya akan melupakan cara mati tanpa sakit yang saya inginkan. Terserah, saya bersedia untuk mati dengan cara apa pun, tapi tidak mendadak, sehingga tidak membuat orang-orang di sekitar saya shocked. Saya tahu, kehilangan seseorang itu pasti selalu menyakitkan, tapi setidaknya, saya ingin mereka dalam keadaan tersiap.

Yah seandainya bisa memilih.


Selamat Jalan Oom Sas.

Dear Tante Mul, Priti dan Festy.
Semoga selalu diberi kekuatan.

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/73

Comments (14)

enon:

Perasaannya hilang kendali ketika 4thn yg lalu aku kehilangan bapak untuk selamanya. Hanya ada penyesalan karena belum bisa buat yg terbaik buat beliau, dan butuh waktu lama untuk mengembalikan aku ke dunia sadar lagi. Walaupun sebelumnya aku dah siap kalo seandainya Yang Di Atas akan 'ambil' bapak [krn udh 2thn sakit] akan tetapi sesiap apapun aku mengahadapi kenyataan tetap saja itu terasa menyakitkan.

Mba Okke, kita udh sign kontrak sm Yang Di Atas waktu kita mau dilahirin jadi cara apapun nantinya kita meninggal itu mah udh dipilih sm kita sendiri... :p

Anto:

posting yang menyentuh (T_T)...

K.C:

and here is the question for you ke..

If this was your last day on Earth, how would you wanna spend it?

pa kabar ke?? dah lama gw gak mampir ke blog lo.. hehehe..

menurut gue,kita gak pernah sanggup melepas orang2 yang kita sayang, "mendadak" atau "tidak mendadak".

klo gak mendadak berarti musti sakit....gue pass deh, pilih yang mendadak aja (ugkh, gak penting ya, kke?)

-may-:

Eh? Tentang kematian? Kayaknya kita lagi se-frekuensi :)

Gw baru tadi pagi mikir juga tentang kematian. Sama, gw nggak pingin mati mendadak. Tapi.. gw nggak mau terlalu lama menunggu mati, karena itu juga membebani orang2 tercinta di sekitar gw.

orang2 pasti bilang gue anak durhaka. nggak pernah nyeneng2in orang tua, nerima kematian bokap gue dengan 'biasa-biasa saja', tapi ya gimana lagi, keluarga gue memang antik, waktu kemaren kakak kedua gue meninggal (mendadak), kita nerimanya sebagai 'yah lima puluh ribu tahun sebelom bumi diciptakan, semua sudah digariskan'. sedih ya sedih sih, tapi....

waktu bokap gue meninggal, sehari setelahnya teman2 kost gue datang dari jogja, dan menemui gue dan keluarga sedang tertawa2 'seperti' sudah lupa bahwa baru kemaren upacara pemakaman diadakan.

life goes on, for us who lives. let bygone be bygone.

turut berduka mbak..
aku slalu bingung mau ngasi comment kyk apa when it comes to berita duka. bcoz i know, kehilangan org yg sama² masi idup aja berat, apalagi yg emg kehilangan nya harus berpindah alam.that's life then...

qq:

Meninggal mendadak atau karena sakit efeknya sama saja: yang ditinggal tetep saja akan sedih. Tapi paling sedih klo dapat dua2nya sekaligus, been there and still make me cry

tawakal & pasrah ajah :) kalo urusan maut sih, mau dirumah, di jalanan, dimana aja pasti jadi lah kalau emang udah waktu nya :)

Rudy:

saya mengalami beberapa kehilangan mendadak sih ..
dan ngga pernah terbiasa ..

paling tidak jadi lebih menghargai mereka yang masih ada ..

Tahun 2002, kakak sulungku meninggal mendadak. Padahal sebelumya gak pernah sakit macem2. Malem masuk rumah sakit, subuh, sudah ninggalin kita semua. Pengalaman yang gak bakal kulupain deh Mbak. Karena aku diberi kesempatan untuk menemani kakakku sampe nafas terakhirnya.

Emang udah masalah umur udah jadi Rahasia Ilahi ya Mbak.. We just can do the best in our life!!

Btw, salam kenal ya mbak... aku link ke blogku ya Mbak? Tq :)

Neng Okke,

Jangankan yang disono, yang notabene maskapai penerbangannya masih lebih mending [sedikit] dengan disini.. kalau di bilangketar-ketir mah, setiap terbang itu udah seperti perjuangan. Dibarengi doa dan tawakal aja.. insyallah terbang dengan apapaun, kalau sing diAtas sono, Gusti Alloh berkenan - pasti selamat kok :-)

Lama euy blom mampir kesini, sehat2 aja khan?
Hugs from Monrovia, Liberia.

Semoga kita kembali padaNya dalam keadaan yg sebaik-baiknya. Amin...

popi:

Ceu, walaupun gw juga gak mau meninggal mendadak, tapi kalo menyoal kesiapan yang ditinggalkan sih, gw juga gak yakin, orang-orang yang ditinggalkan akan siap walaupun mereka mengira telah siap. Dan mungkin kita tidak akan pernah siap ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 18 juli 2007 11:45 pm.

The previous post in this blog was Perkara Memilih & Kemenangan Hati Seorang Teman..

The next post in this blog is Kabhi Alvida Naa Kehna*.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31