« Siapa Tahu Besok Mati. | Main | Seorang Veteran Malaikat Badung pada Putrinya »

Mencintai ala Tito

Talkshow 'Kamulah Satu-satunya'

Hari/tanggal : Jumat, 06 Juli 2007
Waktu : Pkl 14.00 - 16.00 WIB
Tempat : Gramedia Paris Van Java, Bandung
Bintang tamu : Hanung Bramantyo, Nirina Zubir

Informasi lebih lanjut lihat di sini

Siang itu saya menemukan Tito sedang berada di bawah salah satu pohon di depan pondok saya. Ia terlihat sangat serius, sampai tidak menyadari bahwa saya sudah berada di belakangnya.

”Kamu ngapain, sih?” Tanya saya. Tito kaget dan menoleh.
”Ini ada anak burung, Mbak. Dia jatuh.” Jawab Tito sambil kembali memusatkan perhatiannya pada si anak burung yang tampak tak berdaya.

Tito mengangkat perlahan dengan tangan mungilnya. Burung itu tampak tidak berdaya.

”Mau kamu apain sih, anak burung itu?” Saya penasaran.
”Mau saya kembaliin ke sarangnya.” Tito menyahut lalu menengadah, menatap dahan-dahan pohon. Saya mengikuti. Namun tidak saya temukan satu pun sarang burung di salah satu dahan. Agak membingungkan memang, jadi jatuh dari mana anak burung tersebut?
”Nggak ada, tuh. Jadi mau digimanain?”
”Kasian ya dia, seharusnya dia sekarang tinggal sama bapak dan ibunya” Tito menghela nafas dan menatap anak burung dalam telapak tangannya dengan iba.

Saya diam, menunggu Tito memutuskan sendiri tindakan apa yang akan dilakukan bocah laki-laki cilik tersebut.

”Kalau saya pelihara burung ini, gimana, Mbak?” Tito mendongak, wajahnya berseri-seri karena baru saja menemukan sebuah ide cemerlang [untuk anak seusianya].

”Apa kamu yakin, kamu bakal miara burung ini dengan baik?” Saya mengujinya.
”Yakin.” Tito mengangguk tegas.
”Gimana coba caranya miara dengan baik?”
”Saya kasih tempat tidur.”
”Trus?”
”Saya kasih makan.”
”Emangnya makanan dan tempat tidur dari burung itu kamu dapat dari mana?”
”Tempat tidurnya ya saya bikin dong, trus kalo makanannya nanti saya minta sama ibu, atau kalau mau makan dari makanan saya juga boleh.” Tito menjawab yakin.

Saya Ccma bisa diam, memerhatikan Tito yang dengan hati-hati mengangkat anak burung tersebut, meletakkan mahluk lemah itu di telapak tangan mungilnya. Masih dengan hati-hati, Tito membawa burung tersebut masuk ke dalam rumahnya yang tidak jauh dari pondok saya.

Besoknya ia memamerkan ’tempat tidur’ baru yang ia buat untuk anak burung tersebut. Sebuah kotak sepatu kardus yang dialasi kain-kain perca.

Okay, saya percaya bahwa ia sungguh-sungguh merawat anak burung tersebut, karena sampai seminggu kemudian, saya belum melihat perubahan sikapnya.

...

Kata teman saya, Ben, burung tersebut mati. Bukan karena Tito lalai. Menurut Ben, Tito masih terus merawat anak burung itu, berminggu-minggu setelah saya pulang. Bahkan sampai dua bulan pun, sikapnya masih konsisten. Ben malah bilang ia sangat terkesan karena sekalipun tidak pernah melihat ekspresi keterpaksaan atau sikap bosan di wajah Tito.

Karena perawatan yang baik, burung cilik tersebut bukanlah burung yang lemah lagi, ia tumbuh menjadi besar dan kuat.

Sampai suatu saat, di bulan ke empat, burung tersebut mulai mengepakkan sayap. Beberapa kali Tito memergokinya hendak terbang, melarikan diri.

Suatu saat, Ben melihat Tito membuatkan kandang sederhana untuk mengurung burung cilik itu. Kelihatan sekali bahwa Tito berusaha untuk membuat sebuah kandang yang menurut Tito akan nyaman buat si burung.

”Saya nggak mau burung ini pergi.” Begitu kata Tito ketika Ben bertanya apa yang sedang dilakukannya.
”Kenapa?” Tanya Ben.
”Karena saya menyayangi dia.”
”Gimana kalau burung itu lebih senang berada di luar, terbang bebas?”
”Nggak, Mas. Burung itu pasti lebih senang di sini, kan saya sayangi.”

Saya hanya tersenyum mendengar cerita Ben.

Lalu, saya dan Ben membahas panjang lebar tentang konsep menyayangi atau mengasihi versi Tito. Ia mengasihi dengan cara yang egois, tanpa berpikir bahwa burung kecil itu bukan benda mati, tapi mahluk yang memiliki kehendak bebas.

”Konsep menyayangi dan mengasihi pada umumnya banget ya?” Celetuk saya.

Kata Ben, seminggu pertama, terlihat perubahan pada Si Burung Kecil. Ia tidak mau makan juga terlihat malas bergerak. Semakin hari semakin memburuk, sampai suatu saat, di minggu ke enam, Tito melihat Si Burung Cilik terkapar di lantai kandangnya.

Burung tersebut mati.

Sore tadi, Ben dan Tito menguburkan burung tersebut bersama-sama. Katanya sih, Tito sedih banget.

”Yah, seenggaknya, Tito belajar sesuatu lah. Bahwa mengasihi itu bukan berarti melakukan yang kita pikir baik untuk yang kita kasihi, soalnya apa yang kita pikir baik belum tentu emang bener-bener baik buat mereka. Yang penting tuh, melakukan apa yang terbaik dan tertepat buat yang kita kasihi.”
"Emang gampang? Yang gampang kan ngomongnya doang." cetus saya meledek.
"Ya, nggak gampang juga sih, bener juga, lo.. yang gampang ngomongnya.." Ben terkekeh.

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/70

Comments (27)

loh, baca judulnya saya malah inget blogger yang dokter hewan. cuma kayaknya dia lebih sering bergaul dengan anjing dan kodok daripada burung...

Kadang yang terbaik bukanlah yang terindah. DAn emang ngomong lebih gampang ya mbak?..he he he he :D

"Bahwa mengasihi itu bukan berarti melakukan yang kita pikir baik untuk yang kita kasihi, soalnya apa yang kita pikir baik belum tentu emang bener-bener baik buat mereka. Yang penting tuh, melakukan apa yang terbaik dan tertepat buat yang kita kasihi.”

trus apa resepnya agar kita tahu itu yg terbaik & tertepat?

ohiya, gue tahu: komunikasi. saling belajar mendengar biar saling tahu apa yang ada di pikiran :)

*kok gue jadi tersindir yaa.. ah, tapi dia juga gak dengerin gue kok*

Tapi, Kak, kadang yang dicintai juga belum tentu tahu yang terbaik buat dia. Seperti si burung kecil itu.. memang dia ingin terbang bebas. Tapi apakah dia akan survive kalau terbang bebas?

Kadang yang dicintai itu merasa tahu apa yang terbaik untuknya, padahal ternyata hanya tahu apa yang diinginkan (bukan yang terbaik) untuknya ;)

*Hhhh... menjadi ibu2 mengubah banyak pandangan gw tentang cinta... ;)*

aku ingetnya kayak cinta orang tua ke anak2 ya :) sometimes orang tua memaksakan kehendak dia ke anaknya, karena menurut mereka mereka tau apa yang harus dilakukan si anak yg dikasihinya... :)

tp rasanya kalo gw ada di posisi orang tua, kecendrungan gw untuk melakukan itu lebih besar de :P dimana2 kita selalu menganggap kita tau apa yg harus dilakukan orang yang dicintai kita, padahal blum tentu, yah, cinta itu egois :)

dalem mbak :)

emang sih kalo ngomong lebih gampang drpd melaksanakannya...
teorinya ada, prakteknya blom tentu sama.. hehehehe

aku ingetnya kayak cinta orang tua ke anak2 ya :) sometimes orang tua memaksakan kehendak dia ke anaknya, karena menurut mereka mereka tau apa yang harus dilakukan si anak yg dikasihinya... :)

tp rasanya kalo gw ada di posisi orang tua, kecendrungan gw untuk melakukan itu lebih besar de :P dimana2 kita selalu menganggap kita tau apa yg harus dilakukan orang yang dicintai kita, padahal blum tentu, yah, cinta itu egois :)

dalem mbak :)

JJ:

Hmmm... topik yang lagi kena banget di gue. Hehe.

It really hurts, tapi justru dari situ kita bisa ngeliat, hati kita segede apa. :)

@mbak maya: "Seperti si burung kecil itu.. memang dia ingin terbang bebas. Tapi apakah dia akan survive kalau terbang bebas?"

To find out, we have to let him fly away first. :)

@JJ:
HUAHAHAHA.. I used to say the same thing. Long before I become a mother myself, and found out that some gestures I despised from my mom were sooo true ;)

Ya, ya, gw survive walaupun akhirnya nyokap gw melepas gw "terbang". Gw cuma kadang bertanya2, kalau dulu gw ngikutin apa yang nyokap gw "tahu", mungkinkah hidup gw lebih baik dari sekarang ;)

Ohya, mo nambah satu pertanyaan: ketika kita sudah melepaskan si burung untuk terbang, dan ternyata dia tidak survive.. what will happen to both the little bird and Tito? Won't Tito feel guilty for letting the bird fly away; tidak berusaha cukup kuat untuk menahannya?

It's always easy to say Tito egois ketika kita di posisi burung kecil itu. Tapi gw open pada kemungkinan bahwa memang ada orang2 yang lebih tahu apa yang terbaik untuk gw daripada diri gw sendiri. It doesn't hurt to listen to both party.. :)

*damn! Panjang bener gw komentar! Bisa jadi satu entry sendiri nih.. hehehe.. *

wis lah, daripada gue menuh2in komen boks kayak ibu may :P, gue posting ndiri ajah di blog gue huehehehe

JJ:

@mbak may: Yyyuukkk bikin entri sendiri ttg topik ini. :DD

enon:

itu mencintai ala tito..
klo mencintai ala mba okke gmn? :p

apakah untuk membuat seseorang bahagia itu dengan membiarkan dia melakukan segala hal yang dia inginkan tanpa 'diberitahu' apakah yang dia lakukan itu ternyata menyakiti orang lain??apakah keinginan kita untuk melihat seseorang bisa menjadi lebih baik lagi itu suatu keegoisan??apakah itu atas nama cinta??

duh knp jd pertanyaan bgni neeh??hehehe

saya sih nangkepnya kita harus bisa bahagia melihat orang yang sangat kita cintai lebih bahagia jalan dengan orang lain. Karena (mungkin) itu yang terbaik buat dia.

Emang bisa? peurih kalee.

okke:

@lenje:
eh ada ya, blog dokter hewan *ketauan gw blogger autis* hihih

@apri:
tentunya, makanya banyak yang omdo hihi

@aj's lover :
postingan lo tentang mencintai ala nyokap nampol, cong! haha..

@maya:
tapi kan burungnya mati, terkurung keadaan yang nggak dia mau :) Kalo pun matinya di luar, itu kan karena 'keputusan' dia, lebih rock 'n roll bo, risiko dari pilihan dia. hihihi *jawaban orang yang blom jadi emak*

JJ:
yyuk, mari kita terbangkan burung kita *lho?*

enon:
apakah yang kita pikir bakal membuat orang lain lebih baik, emang bener2 baik buat orang tersebut? *pertanyaan dibalas pertanyaan* haha..

herru:
ember, makanya gw bilang, ngomong doang gampang hahah..

Mela:

hmmm... enak menurut kita... ternyata bisa juga ngebikin orang ga bahagia ya...
padahal... kita udah berusaha ngasih yang terbaik...

seringnya adalah sulit meyakinkan diri bahwa yang kita kasihi akan lebih bahagia bila tidak kita miliki. lebih sulit lagi melepaskannya. hhhahhh...

wongiseng:

Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.

Pacarmu bukanlah pacarmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.

Burungmu ?

JJ:

@djeng may:
"ketika kita sudah melepaskan si burung untuk terbang, dan ternyata dia tidak survive.. what will happen to both the little bird and Tito?"

Seenggaknya, dia mati di tempat di mana seharusnya dia berada : habitatnya. Alam bebas. Daripada terus hidup di sangkar emas yang nyaman dan (toh akhirnya) mati juga, cuma beda waktu? *wink*

"Won't Tito feel guilty for letting the bird fly away; tidak berusaha cukup kuat untuk menahannya?"

Gue yakin iya. Tapi pertanyaan terakhir gue adalah (sumpaaah, ini terakhir beneran), kalau pun Tito menahannya dan si burung TETAP hidup nyaman dan aman di dalam kandang, akankah dia menghabiskan sisa hidupnya dengan wondering, "Di luar sana ada apa aja? Gimana rasanya bisa terbang bebas?"

Terlepas dari argumen apapun, 1 yang gue percaya : tidak ada makhluk hidup yang diciptakan untuk hidup dalam kandang.

:)

rudy:

yup, the road to hell is paved with good intention ..

okke:

@mela:
jadi mending ditanya dulu "dek..dek.. maunya gimanaa?" *logat jawa*

@mirna:
iye, pan sini bilang juga emang ngomong doang gampang hahhaa...

@bison wongiseng:
..sama-sama burung?

@JJ:
hihihi, dianya hypergraphia... :D

@rudy:
yuk, mariii...

@JJ (lagi) - numpang ya, Kke.. soalnya ditanyain ;):
"Seenggaknya, dia mati di tempat di mana seharusnya dia berada : habitatnya. Alam bebas. Daripada terus hidup di sangkar emas yang nyaman dan (toh akhirnya) mati juga, cuma beda waktu? *wink*"

Hmm.. jika dia di habitatnya mati diterkam kucing, dicabik sayap kiri, dicabik sayap kanan, baru terakhiiiir sekali digigit lehernya sehingga kepala terpisah dari badannya... apakah ini mati yang lebih nikmat daripada mati di sangkar emas ;)?

"Gue yakin iya. Tapi pertanyaan terakhir gue adalah (sumpaaah, ini terakhir beneran), kalau pun Tito menahannya dan si burung TETAP hidup nyaman dan aman di dalam kandang, akankah dia menghabiskan sisa hidupnya dengan wondering, "Di luar sana ada apa aja? Gimana rasanya bisa terbang bebas?"

Pertanyaan yg sama bisa dibalik: jika dia terbang bebas dan ternyata reality bites, akankah dia menghabiskan sisa hidupnya dengan wondering, "Jika gw tidak keluar dari sangkar, apakah hidup gw akan sesengsara ini?"

True, tidak ada makhluk hidup yang diciptakan untuk hidup dalam kandang. But I doubt it bahwa mengandangkan makhluk hidup hanya merupakan bentuk egoisme belaka ;)

okke:

@maya & JJ :
hihi, ga ada ujungnya pasti, karena sudut pandang beda, satu dari emak burung satu dari burung kecil yang blom pernah jadi emak2.

nyokap gw bilang, dulu, sebelum punya gw, dia selalu pake sudut pandang 'burung kecil' sampe eyang gw pusing, tapi setelah punya gw, sudut pandangnya beda :) [dan eyang gw tertawa2 nyukurin karena nyokap pusing]

-may-:

@Okke & JJ:
Hahaha.. bener banget! Gw persis banget sama emak (kandung)nya Okke; dulu2 gw juga selalu pakai sudut pandang "burung kecil", sampai gw ngalamin sendiri jadi "induk burung".

Kadang ada hal2 yg baru bisa kita pahami kalo udah "naik level" dalam a game called "life". Dan sekarang nyokap gw juga suka nyukur2in gw dan mengatakan gw kuwalat ;)

*OK, kita terusin lagi kalo kita udah jadi sekelompok induk burung ya ;)*

JJ:

@jenk may:
Akhirnya emak kandung sama emak tiri (bisa) satu pendapat. :)

Ya ya.. mungkin kalo gue udah jadi nyokap nanti, pandangan gue bakal berubah (dan kayaknya sih pasti begitu :DD).

Anyway, gue masih tertarik aja sama topik ini. Bikin entri ndiri ahh, fiksi juga *ikut2an mode on*

tito:

namanya kok sama-sama tito? sama-sama sayang hewan? kebetulan googling dan menemukan blog ini.Mbak lenje ternyata masih suka ngintip blog saya.

Kalau konservasi ya harus mencintai tanpa memiliki :) .

Erma:

Sepertinya lebih mudah berkomentar (dan beranalisa) ketika kita sudah tau endingnya. Tapi, ketika si Tito itu mengambil keputusan, dia kan (sepertinya) tidak tau endingnya. Dia tentunya tidak tau kalo si burung ini akan mati di sangkarnya. Dan sayangnya, tidak ada manusia ataupun burung yang tau apa yang akan terjadi esok hari.
Past is perfect.
Untuk itu, ga perlu menyesali apa yang sudah diputuskan atau terjadi di masa lalu.
Maap mba Okke, kok jadi sok ceramah gini ya? Hehehe

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 01 juli 2007 12:37 am.

The previous post in this blog was Siapa Tahu Besok Mati..

The next post in this blog is Seorang Veteran Malaikat Badung pada Putrinya.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31