« Bersinarlah, Brother Shine | Main | Ibu Tiriku, PostMo Sekali »

Dewi Semi Domestik

“Apa?” Nadira, kakakku, nyaris saja menyemburkan kembali Hot Caramel Latte yang baru disesapnya ketika aku menutup kalimat pendekku. Apa yang baru saja kukatakan pasti sangat mengejutkannya.
“Ya itu…” aku mengedikkan bahu.
“La? Kamu yakin akan keputusan kamu?” Nadira, kakakku mendelik.
“Yakin…” aku mengangguk sambil mengaduk Ice Vanilla Latte-ku dengan sedotan.
“Kamu gila…” ia meletakkan mugnya kembali ke atas meja.
“Mungkin..” Kuhempaskan punggung pada sandaran kursi.

Aku menebarkan pandangan ke seluruh penjuru O La La café Plaza Dago, tempat favorit Nadira untuk bertemu selain seluruh warung kopi yang memiliki fasilitas WiFi lainnya. Semua pengunjung tampak asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang mengobrol, ada yang sibuk browsing dengan laptop masing-masing menggunakan fasilitas wi-fi tempat ini. Di ujung sana ada yang membaca, di ujung situ ada yang sedang bermain ramal-ramalan telapak tangan. Macam-macam.

“Kamu benar-benar resign karena menikah?” pertanyaan Nadira mengembalikan fokusku pada perbincangan dengannya.

Tiba-tiba timbul niat untuk mengisengi kakakku yang selalu berapi-api ini. Sebenarnya berhenti bekerja bukan kuputuskan karena aku mau menikah, tapi aku memang sudah berniat resign, aku merasa hidupku mulai tidak normal dengan berada di kantor lebih dari sepuluh jam sehari. Sinting.

Aku ingin menjadi freelance editor. Dalam benak ini sudah terbayang, betapa menyenangkannya bekerja demikian, seperti masa kuliah saja. Menikah hanya kujadikan alasan tak terbantahkan bagi para boss di kantor agar aku bisa resign.

Aku tersenyum, tidak mengiyakan, tapi tidak juga menolak. Membiarkan Nadira menginterpretasikan makna senyuman yang tersungging di bibir ini.

“Ya ampun, Laila!” Nadira berseru dengan nada prihatin, “Jadi housewife doang? Nggak kan?” lanjut Nadira dengan penekanan khusus pada kata ‘doang’.

Oh okay, jadi ia menginterpretasikan senyumanku demikian.

“Bisa jadi, mungkin aja aku mau jadi Dewi Domestik, jadi ntar kalo ada yang nanya, pekerjaanmu apa? Aku bakal jawab : I’m a domestic goddess, cool eh?” aku memberikan jawaban ini untuk menggoda Nadira, sambil juga menggunakan nadanya berbicara yang sering mencampurkan Indonesia-Inggris.
“Aduh, Laila….please lah! Nanti kamu gimana? Masa sih bener-bener mau jadi Dewi Domestik?” Nadira panik.

Tuh kan? Ia benar-benar terpancing. Aku terkekeh geli melihat reaksinya.

“Ya gimana ntar aja, kali, Kak.” Sahutku, ini lagi-lagi untuk meledek Nadira.
“Aku nggak nyangka sikap Tantra ternyata sekolot itu, La…” Nadira menggeleng-geleng prihatin, dari gurat wajahnya terpancar kesedihan yang mendalam.
“Aku mutusin itu bukan karena Tantra. Dia malah terheran-heran sama keputusanku dan nanya apa aku nggak ngerasa sayang sama seluruh hal yang telah aku raih selama ini…”
“Lalu?”
“Itu pilihanku sendiri…”
“Tapi, La? Kenapa? Karir kamu yang begitu cemerlang sebagai editor di penerbit Codex yang terkenal. Kamu nggak sayang sama kehidupan kamu? ”
“Aduh, Kak. Selama ini kapan sih, aku mikirin karir dan jabatan? Aku kan kerja cuma biar punya duit sendiri aja. Kalo kebetulan karirku cemerlang di Codex, ya itu nggak sengaja.” Aku menggeleng dengan pasti sambil tersenyum. Meninggalkan sejuta tanda tanya di benak Nadira.
“Aku…” Nadira menelan ludah, menatapku tajam.
“Kenapa?”
“Aku nggak nyangka, adikku, seseorang yang luar biasa cerdas, ternyata tunduk dengan budaya patriarki.”

Duuh..Mulai lagi, deh..

“Ah masa sih, keputusan ini bisa dikategorikan bahwa aku tunduk dengan budaya patriarki?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Ya jelaslah! Budaya patriarki itu membentuk pola berpikir semua orang, bahwa perempuan itu harus becus di urusan domestik, macam merawat anak, patuh pada suami, melayani suami dan lain-lain. Kemudian hal-hal macam itu dibuat seolah-olah menjadi kodrat, sesuatu yang hakiki dan memang diciptakan demikian, bahkan ada tuh kaum-kaum beragama yang pake bawa-bawa ayat dari kitab suci untuk membenarkan ini! Lawan, La! Lawan!” Nadira berkata berapi-api.

Aku benar-benar ingin tertawa melihat kakakku yang cantik ini terjebak dalam permainan pura-pura bodohku.

“Tapi kan, Kak…”
“Laila, jangan pernah percaya nilai yang dibuat dalam masyarakat, bahwa kalau kamu berkeluarga dan jarang menghabiskan waktu bersama mereka, maka keluargamu akan berantakan! Contoh aku; Syafa dan Najwa, anak-anakku baik-baik saja, Aradea pun baik-baik saja, walaupun aku bekerja di luar rumah. Yang penting dari semua itu adalah kualitas waktu, bukan kuantitas..” lanjutnya lagi.

Aku setuju, penilaian orang bahwa anak-anak dan keluarga selalu akan berantakan jika kedua orangtua bekerja adalah omong kosong. Keluarga kakakku buktinya : Syafa dan Najwa – kedua keponakanku ini sangat cerdas, baik dan jauh lebih bertanggung jawab dibandingkan dengan teman-teman mereka yang ibunya di rumah saja atau paling banter : shopping dan arisan, Aradea –sang suami- pun tidak pernah terlihat tidak terurus. Dan setiap weekend, Nadira memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan keluarga.

Please jangan sampai berhenti bekerja, La. Apalagi kalau hanya karena kamu akan menikah..” wajah Nadira terlihat memelas.
“Santai lah, Kak.Kalo bosen nganggur, paling aku freelance di mana-mana aja, kayak jaman kuliah” Balasku sambil tersenyum.
Freelance? Itu kan nggak aman buat masa depan kamu! Bayangkan, kalau kamu suatu saat nggak dapet job, apa kabar kehidupan kamu?”
“Kan ada duit suami..” aku mengajukan jawaban yang pasti dibenci oleh Nadira, hanya sekedar meledeknya.
“Jangan tergantung sama suami!” bentak Nadira,

Aku sangat tahu bagaimana bentuk konsep ‘menjadi perempuan’ dalam benak Nadira; bahwa semua perempuan itu harus mandiri secara finansial, juga harus super, becus di urusan rumah tangga dan lihai di area non-domestik.

Yah, buatku sama sekali tidak ada masalah, soalnya, jika kulihat, kombinasi sikap ambisius dan otak yang cemerlang yang dimiliki Nadira memang mendukungnya untuk menjadi perempuan super : kuat,hebat, tidak manja, pokoknya ; tak tertaklukan.

Masalahnya, walaupun lahir dari rahim yang sama, aku dan dia jelas-jelas berbeda dalam segala hal; aku si pemalas plegmatis dan pembosan sanguin, ia si ambisius kolerik dan apa-apa dipikirin khas melankolik.

Kami berbeda; satu hal yang aku nggak suka dari dirinya adalah, ia selalu berusaha untuk membuat semua orang berpikiran dan bersikap sama sepertinya.


Seminggu kemudian
“Laila! Please, tolongin aku..” suara Nadira di telepon terdengar panik, di suatu sore, dalam mobil, sepulangnya aku dari kantor.
“Kenapa,Kak?” aku menjawab dengan tegang. Tantra, tunanganku yang sedang menyetir menoleh, lalu mengerutkan kening, kemudian kembali menatap jalanan.
“Tadi si Ncus nelepon dari rumah, Syafa jatuh dari tangga dan keningnya sobek, dia di bawa ke rumah sakit sama tetangga. Suamiku lagi keluar kota, dan aku ada rapat evaluasi sampai malam.”Nada suara Nadira semakin meninggi, menandakan kepanikan yang luar biasa.

Oh ya, Ncus adalah panggilan Syafa dan Najwa untuk suster alias baby sitter mereka.

“Okay, Kak.. Syafa udah ditangani kan? Kakak tenang aja, aku langsung ke rumah sakitnya.”
“Terima kasih, La…” Nadira berseru dengan kelegaan yang sangat ketara.
“Eh bentar, tapi di rumah sakit mana, Kak?”
“Oh shit! Aku lupa nanya. Dasar stupid. Wait, I’ll ask her…”

--klik—

Dan sambungan telepon pun terputus. Terdengar suara tuut—tuut—tuut beraturan.

“Kenapa, La?” Tanya Tantra.
“Syafa jatuh, masuk rumah sakit dan orangtuanya nggak ada yang bisa ke sana. Nanti kalo Kak Dira udah ngasih tau rumah sakitnya, kita langsung ke sana ya?” tanyaku.
“Okay..” Tantra tidak berkomentar apa-apa lagi, ia terus menyetir.


“Pokoknya, La, tolong pindahin ke rumah sakit yang bagus! Si Ncus ini gimana sih, masukin Syafa kok di rumah sakit kecil nggak jelas gitu…” ini sudah entah ke berapa juta kalinya Nadira meneleponku, memastikan agar Syafa dipindah ke rumah sakit yang memiliki reputasi bagus [dan mahal], gara-gara suster mereka cerita bahwa Syafa dibawa ke klinik kompleks perumahan tempat keluarga mereka tinggal.
“Iya, Kakakku. Aku udah sampe klinik yang kakak sebut kok. Mungkin si Ncus mikirnya, yang penting Syafa dapat pertolongan pertama dulu. Tenang, dong!” aku mencoba menenangkan Nadira sambil turun dari mobil yang diparkir di depan pagar klinik yang dimaksud.
“Belum tentu tenaga-tenaga yang nanganin bagus, atau belum tentu juga alat-alatnya steril. Ingat ya, La..pokoknya, pind…”
“Iya..sekarang aku mau masuk nih… udah, semuanya bakal baik-baik aja kok..” potongku.

Hening. Terdengar suara-suara mengobrol serius di belakang Nadira.

Thanks ya, La. Gue utang budi sama lo..”
“Nggak usah berlebihan deh Kak.Ga masalah, sama keponakan sendiri kok…” aku tertawa.
“Okay, La, I gotta go..”
“OK, sampe ketemu Kak. Jangan kuatir, Syafa bakal baik-baik aja..”
See you,La.. jangan lupa kabarin perkembangan Syafa ya…”

Aku terdiam begitu melihat sosok perempuan setengah baya turun dari sebuah sedan yang terparkir selang 3 mobil dari tempat aku dan Tantra memarkir mobil.

“La? Kok diem? Ada apa?” Tanya Nadira dari seberang sana.
“Engng.. nggak sih. Ibu Devi lo kasih tau kalo Syafa masuk rumah sakit?” tanyaku.
“Nggak. Lo tau dong, mertua gue kan drama queen abis. Males gue. Eh bentar…. Lo…ga bermaksud buat bilang bahwa ibu mertua gue di sana kan?” Nadira terdiam.
“Iya, bener,Kak. Ibu Devi ada di sini..”
“Oh shit…mampus aja deh gue..” Nadira berseru dengan suara lirih.

“Makanya! Jadi wanita itu harus sadar kodrat dong!” Ibu Devi, mertua perempuan kakakku mengomel panjang lebar. Aku kagum akan staminanya, karena sejak datang ke rumah Nadira sekitar jam tujuh malam, sebelum sang menantu pulang, sampai jam sebelas malam, omelannya belum terputus juga.

Ibu mertua kakakku ini memang agak menyebalkan. Kolot luar biasa, ngeyel dan bawel. Dan ia memiliki kecenderungan untuk tidak menyukai Nadira. Apa yang diperbuat Kakakku, selalu dicari-cari cacatnya. Aku benar-benar nggak ngerti kenapa. Pfiuh, untungnya aku dan ibunya Tantra, nggak gitu. Calon mertuaku itu cuek luar biasa.

“Tapi, Bu..”
“Mbok kalo jadi wanita, ya jangan terlalu ngoyo, ngejar karir. Di mana-mana yang bertugas nyari nafkah itu kan para pria. Kita, sebagai wanita, tugasnya ya becus dalam urusan rumah tangga! Lagian kamu, kayaknya Aradea gak sanggup aja untuk ngidupin kalian..”
“Tap..”
“Eh, Nak Nadira, begini ini akibat dari wanita yang nggak sadar kodrat, keluarga kacau balau! Anak masuk rumah sakit, terluka parah, bukannya diurusin sendiri, malah ngerepotin orang lain, udah gitu, dimasukin ke rumah sakit yang nggak begitu bagus lagi…”

Yah, selain kolot, ngeyel dan bawel, beliau juga seperti yang sering disebut Nadira : drama queen. Yang disebut ‘terluka parah’, hanya dua jahitan kecil biasa seperti yang sering dialami anak kecil cerdas dan badung lainnya. Lagipula, sepulangnya Syafa dari rumah sakit pun, ia sudah tidak apa-apa, berceloteh seperti biasa.

Aku merasa iba pada Nadira yang posisinya seperti pesakitan. Ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Bagaimana mau membela diri, lha wong baru mengucapkan satu suku kata saja, sudah dimuntahi kalimat-kalimat panjang dan cenderung menyudutkan.

“Udah lah, Nak Dira… kamu ini korban emansipasi yang diagung-agungkan perempuan modern, sampai lupa dengan kodrat sebagai seorang ibu. Kenapa sih kamu nggak bisa tinggal nrimo apa yang sudah digariskan sejak dulu oleh orang-orang tua? Kalau sudah menikah, ya sudah, konsentrasi sama keluarga. Apa kamu ngerasa bahwa menjadi ibu rumah tangga itu bukan pekerjaan yang mentereng? Eh, sini ibu kasih tau ya, Nak Dira… menjadi ibu rumah tangga, walaupun nggak punya kantor mewah, nggak punya jenjang karir yang hebat, meeting ini dan itu yang bergaya, tapi ini pekerjaan mulia, Nak!”

Bawel..

“Tap..”
“Dengan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, berarti kamu sudah berhasil ngehilangin ke-egoisan kamu.” Ibu Devi kembali memotong.
“Ibu..”
“Dan kamu tahu, apa yang memuaskan dari menjadi ibu rumah tangga?” suara Bu Devi mulai melunak,”Membayangkan bahwa kamu, kamu sendiri yang mendidik dan membina anak-anak kamu sampai sukses nanti. Memang nggak terasa sekarang-sekarang ini, kalau anak-anak masih kecil yang berasa adalah capeknya. Tapi kalau sudah besar, ketika anakmu sukses, maka kamu akan merasakan bangga yang luar biasa… sama seperti ketika Ibu mengantarkan Aradea wisuda S1, S2 dan menikah dengan kamu…”

Gila! Aku nggak bisa membayangkan memiliki mertua monster bawel seperti Ibu Devi ini.

Aku menatap wajah Nadira. Ia sudah tidak menampakkan tanda-tanda keinginan untuk melawan. Wajahnya terlihat pasrah.

“Ya sudah, Syafa Ibu bawa pulang dulu, sampai lukanya sembuh. Kamu kan besok kerja, mana sempat ngurusin Syafa.” Puntas bu Devi.
“Tapi,Bu..”

Dan argumentasi antara menantu dan mertua pun terus berlanjut. Ini bukan yang pertama kali dan aku tahu, tidak akan pernah menjadi yang terakhir kali.

Sungguh aku merasa iba pada Nadira.

Aku nggak seperti Nadira. Aku tidak pernah merasa cukup kuat untuk menghadapi tudingan-tudingan yang dialami oleh perempuan-perempuan bekerja pada umumnya.

Sangatlah benar bahwa perempuan bekerja macam Nadira adalah seorang superwoman yang harus tahan mental dihadapkan dengan tuntutan: harus cakap dalam pekerja di luar rumah, sekaligus harus becus mengurusi masalah domestik.

Tidak semua orang bersemangat untuk menjadi superwoman.

Contoh saja aku. Aku terlalu malas untuk menjadi super.

Aku, si pemalas ini, lebih suka menjadi Dewi Semi-Domestik.


Cerpen ini dipersembahkan untuk teman-teman yang akan menikah dan memiliki calon mertua yang reseh. Selamet yeee. :D

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/66

Comments (18)

Selamat mau menikah atau Selamat dapet mertua reseh Kke ;)BTW, penggambaran elu atas mertua reseh itu pol deh, pengalaman pribadi, hmmm :p

okke:

ibeth :
Selamat! Anda kecepetan ngambil kesimpulan, mo milih payung manis atau piring cantik? :))

nYam:

hmmm...mereka musti baca i don't know how she does it-nya alison pearson

nella:

apakah kita memikirkan org yang sama? hehehe

-may-:

Kke.. kenapa nama tokoh2nya kearab2an semua sih? Nadira, Laila, Syafa, Najwa ;)

maya:

buat yang punya mertua bawel yah itu dah takdir, tapi ada juga kok mertua yang baik hati, pengertian dan ga rese ....ehmm...kira2 klo dah punya mantu aku termasuk mertua yg kaya gimana yah :d

great..you inspire me to become nadira one day...hehehehe...=D

emang susah kalo dapet mertua rese...
hmm.. emang ibu + anak itu sepaket ya..
ga bisa dipisahin.. hahaha..
cocok sama anaknya, blom tentu cocok ama ibunya..

loh ke.. trus gimana dong permintaan lamaran dari 'blog tetangga' itu? ;)

mela:

bisa ga ya ntar jadi nadira... kayaknya bakal stress duluan de... :D

hmmm... kenapa siii... cewe itu harus jadi superwoman...
mbok ya masyarakat itu ngehargain kalo kita itu cuma bisa jadi salah satu... yang penting kita ngelakuin yang terbaik di salah satu itu...

tapi susah juga ya.... :P

waduh, doakan saya tdk dpt mertua yg bawel & kolot. Plg tak tahan hrs berargumen dg org spt itu (pengen ngelawan tp jg hrs nahan diri krn beliau lbh tua). Cape deh..

enon:

wah syerem bgt ngebayangin mertua super kolot kaya ibu devi itu...hayduh2...!!!

ibu bekerja beranak 2 dgn mertua baik hati:

kayak sinetron:p.

huh. kirain mo cerita soal (semi) domestic partnership :)

robert:

gua kok lebih setuju dan pro dengan pendapat ibu mertua tersebut ya, ingat orang tua itu sudah pengalaman. Pahit manis kehidupan sudah dia jalani, onak dan duri sudah dia rasakan jadi jelas lubang lubang kehidupan sudah dia ketahui. gua berpendapat nggak ada salahnya mendengarkan nasehat orang tua karena nasehat orang tua itu kenyataannya banyak benarnya.

okke:

@nYam:
gue belum baca juga bow :)

@nella:
menurutmyuuu? ;-)

@may:
hehe, gara2 pake nama Laila, jadi biar namanya serumpun semua gitu, ganti.

@maya:
ayo, dicek lagi coba camernyaa ;-)

@endah:
kalo pgn kayak Nadira gitu kamu musti mastiin, mertuanya rese apa nggak :))

@orangcurhat:
siapa bilang anak+orangtua doang satu paket? anak sama sak keluarga2 besar lagi... haha

@lenje:
blog tetangga yang mana yak? :P

@mela:
pere jadi superwoman karena satu hal : dipaksa sama lingkungan sosial.

@mirna :
gue gong-in dengan amin ya?
AMIIIIIN! :)

@enon:
Gw jadi bertanya2, yang model bu Devi itu ada, apa gw terlalu hiperbolik ya? :))

@ibu bekerja beranak 2 dgn mertua baik hati :
Kalo sinetron, kudu dijuduli : Mertua jahat matinya berdarah-darah dan bernanah-nanah. :P

@aj's lover:
semi domestic partnership itu apa, Kakak? :D

@robert:
Pendapat yang dianggap benar [dan dipercaya baik] oleh satu orang, belum tentu baik buat orang lain, lho..


"semi domestic partnership itu apa, Kakak? :D"

ah, Adek mustinya sudah dan lebih tahu dari sahaya :P

okke:

@Aj's lover:
ah kakak, saya sungguh ta tauu.. :P

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 17 juni 2007 11:44 pm.

The previous post in this blog was Bersinarlah, Brother Shine.

The next post in this blog is Ibu Tiriku, PostMo Sekali.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31