"Waktu itu saya masih kuliah, masih menjadi seorang laki-laki yang ingin selalu pergi jauh dari rumah untuk berpetualang, mencari kegilaan." laki-laki tampan berusia tiga puluhan akhir itu membuka ceritanya.
Saya menyandar pada pintu kayu rumah milik seorang pendeta di daerah Pati sambil memegangi perut saya yang agak kekenyangan akibat memamah kodok sexy ini. Ini pasti akan menjadi cerita yang panjang, karena pria ramah ini senang sekali bercerita - dan semua ceritanya tidak pernah membosankan.
Suara teman-teman yang lain terdengar riuh, saling melempar lelucon dalam bahasa Jawa dan saling mentertawakan. Saya sempat terkikik mendengar guyonan salah seorang dari mereka yang rata-rata masih berumur dua puluhan awal. Mereka adalah sekelompok relawan organisasi lokal yang selalu siap sedia untuk turun ke lapangan kapan pun dibutuhkan,
Laki-laki itu menoleh, tersenyum sekilas walaupun saya tahu beliau tidak mengerti dengan bahasa yang dipergunakan teman- teman saya.
"Di tahun 1991, komunitas pemuda yang saya ikuti mencari relawan untuk turun ke lapangan saat Gunung Pinatubo di Filipina meletus. Maka, dengan tekad berpetualang, saya mendaftar." Lanjut laki-laki yang selalu memperkenalkan diri sebagai : 'Shine' ini.
Oh ya, tentang nama itu, menurutnya, ia memilih 'Shine' setiap memperkenalkan diri, karena nama aslinya sulit diingat oleh orang-orang dari luar negaranya. Nama itu adalah terjemahan dari nama aslinya.
Sambil tertawa, ia bercerita bahwa sebenarnya, ia memiliki beberapa versi nama ; di Timor Leste; orang-orang menyebutnya : Shi-ne yang dibaca sebagai dua suku kata : Shi dan Ne. Di Afghanistan, mungkin 'Shine' terdengar asing, apalagi nama aslinya - akhirnya, penduduk setempat memberi nama : Abdul Karim. Saya terkekeh mendengar julukan terakhirnya yang terdengar sangat sangat Timur Tengah; tidak selaras dengan kulit kekuningan, mata sipit dan rambut hitam khas orang Asia Timur yang dimilikinya.
Kami memanggilnya : Brother Shine.
"Dan kamu tahu, dalam misi sosial yang saya ikuti dengan motivasi ingin berpetualang itu, tiba-tiba saya merasa hati saya diketuk. Saya ingin kerja, turun ke garda depan, membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan, langsung- dengan tenaga saya, keringat saya sendiri."
Saya terus memperhatikan beliau bercerita.
"Tapi, waktu itu, sekembalinya dari Filipina, otak saya langsung mencoba untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa keinginan yang muncul di lapangan cuma akibat terbawa emosi. Buat apa saya sekolah tinggi,kalau pada akhirnya tidak bekerja sesuai dengan kualifikasi saya, untuk mendapat penghidupan yang layak."
Kemudian beliau kembali tenggelam dalam aktivitasnya, melanjutkan kuliah, lulus kemudian mencari pekerjaan. Beliau bekerja, di sebuah perusahaan terkenal, dengan penghasilan dan jabatan yang terus menerus naik. Menikahi pacarnya yang cantik. Memiliki dua orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Seiring dengan itu, Beliau melihat begitu banyak peristiwa di dunia ini yang membuat hatinya terus menerus tergerak.
"Rasanya, setiap lihat korban perang, bencana alam, kelaparan, penyakit dan lain sebagainya di TV, saya ingin langsung terjun ke lapangan, membantu.. tapi, yah itu..."
Beliau mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa tanpa turun ke lapangan beliau masih bisa membantu, entah melalui donasi maupun doa.
"Semua orang bilang, bahwa kita masih bisa mendoakan mereka yang kesusahan. Dan saya pun berusaha meyakini hal itu, sampai suatu saat, seseorang dari komunitas saya bilang : kalau semua orang berdoa, tanpa ada yang bergerak, apakah doa itu tidak menjadi percuma?"
Saya tersenyum, bahkan dalam pepatah ada disebut : ora et labora, berdoa dan bekerja. Bahwa doa pun membutuhkan aksi. Saya dan seorang rekan pernah membahas ini, dan sampai pada satu konklusi [yang mungkin salah, maklum, kami adalah orang-orang yang sok tahu] : mau berdoa sampai muntah, kalau tidak ada yang bergerak, percuma.
Maka, di tahun 2000, saat karirnya berada di puncak, tiba-tiba muncul kembali [apa yang disebutnya kegilaan], beliau dan komunitas tersebut memutuskan untuk turun ke Timor Leste, menjadi perintis, the frontiers, orang-orang yang berdiri di garda depan, membantu mereka yang membutuhkan, selama satu bulan..
Sejak itu, walaupun secara tubuh beliau telah kembali ke dalam rutinitasnya, hati dan pikirannya terus menerus ingin berada di jalan. Namun beliau masih mencoba untuk meyakinkan dirinya, bahwa beliau adalah kepala keluarga, yang harus bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya.
Tahun 2002 adalah puncaknya. setelah sekian lama mempertanyakan esensi kehidupan dengan pertanyaan : apakah hidupnya harus dibiarkan mengalir sama seperti orang-orang lain? Beliau mengambil keputusan yang sangat drastis : meninggalkan zona nyaman kehidupan, untuk memenuhi panggilan hati yang sudah tidak tertahankan.
Istri dan anak-anaknya, yang sebenarnya juga sudah sering terlibat dalam misi sosial sang kepala keluarga, sempat menolak pada awalnya.
Dibutuhkan waktu tidak sebentar untuk meyakinkan dan membuat keluarga tersebut bersatu, tapi pada akhirnya mereka memiliki ikrar yang sama : apa pun yang terjadi akan menjadi masalah bersama yang pemecahannya akan dipikirkan bersama.
Masalah beres? Belum. Orang tua dari Brother Shine menolak ide tersebut, baik dengan halus - yaitu menggunakan analogi menggali sumur; kata mereka - untuk mendapatkan air, penggali sumur harus tekun untuk menggali di satu lubang, jangan pindah-pindah, yang tentu maksudnya, agar laki-laki ini tetap setia pada 'sumur pekerjaan mapan'nya.
"Saya menjawab bahwa saya akan tekun dan setia, untuk menggali satu sumur di lapangan. Di garda depan."
Penolakan lebih keras terjadi, laki-laki ini tidak dianggap anak lagi oleh orangtuanya.
Tapi beliau terus melaju. Sampai kini, didukung penuh oleh istrinya yang cantik dan kedua anaknya yang masih bisa terus sekolah. Mereka pindah ke Malaysia, hidup cukup - walaupun tidak semewah kehidupan mereka sebelumnya.
"Saya sampai sekarang masih sering terkagum-kagum, karena ternyata kekhawatiran saya akan masa depan itu tidak beralasan. Kami dicukupkan." beliau tersenyum.
Brother Shine, istrinya bahkan anak-anaknya bergantian turun di garda depan, ke beberapa tempat yang membutuhkan. Sambil bercanda ia bilang, bahwa keluarganya adalah keluarga chaos seekers.
Beliau menghela nafas, pandangannya menerawang. Suara tawa beberapa teman membuat kami menoleh lagi.
"Saya kagum pada mereka." seru Brother Shine,"Walaupun mereka belum mendedikasikan seluruh hidup untuk dunia, tapi setidaknya, di usia semuda itu, mereka telah berani mengambil keputusan untuk tidak pura-pura tuli terhadap panggilan hati..."
Saya tersenyum.
Malam itu saya belajar, bahwa hidup itu tidak selalu mengalir dengan lancar, tapi penuh dengan proses yang mungkin menyakitkan dan membingungkan.
Saya jadi geli sendiri, selama ini saya sering down ketika menghadapi masa sulit; padahal apa yang saya alami adalah bagian dari proses, untuk menjadi sesuatu yang lebih baik.
Malam itu saya belajar, bahwa ada harga yang harus dibayar atau resiko yang harus dihadapi dalam setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup.
Dan oh ya, satu lagi. Malam itu saya belajar, bahwa panggilan hidup itu ada, sebagai apa pun dan sama sekali tidak boleh diabaikan.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk : Brother Shine dan rekan-rekan sejawatnya, serta seluruh orang yang terpanggil. Semoga selalu diberi kekuatan untuk bersinar bagi dunia. :)
Comments (7)
Hai kamu. Iya, kamu. Semoga kamu pun selalu diberi kekuatan untuk bersinar bagi dunia :)
*waktunya bultang*
Posted by Dodol Surodol | 10 juni 2007 05:44
Posted on 10 juni 2007 05:44
"Saya sampai sekarang masih sering terkagum-kagum, karena ternyata kekhawatiran saya akan masa depan itu tidak beralasan. Kami dicukupkan."
Ketika kita hidup untuk memenuhi panggilan hati, maka secara otomatis hidup kita pun menjadi tanggung jawab Sang Pemanggil itu sendiri.
I know, terdengar sok tau. Tapi gue sangat percaya itu. :)
Posted by JJ | 10 juni 2007 14:21
Posted on 10 juni 2007 14:21
Jadi ini alasannya? *sigh*
BTW, si Brother Shine itu keramasnya pakai Pantene nggak? Nama sih udah berima: Brother Shine - Pantene.. eh, nggak berima ya walaupun huruf akhirnya sama ;)
Posted by -may- | 10 juni 2007 20:02
Posted on 10 juni 2007 20:02
gue selalu kagum ama orang2 yg berani memenuhi panggilannya...
sementara gue.. bermalas2an di zona nyaman, berdoa pun kadang lupa.
Posted by aj's lover | 10 juni 2007 20:47
Posted on 10 juni 2007 20:47
dodolsurodol:
met bultang,Oom Dodol! *ucapan selamatnya telat ya?*
JJ:
gue juga percaya itu kok, Jen.. :)
may:
shampoonya doi Lifebuoy bo, pas gw liat dikamar mandi haha...
aj's lover:
iya, samma gw juga...susah ninggalin jebakan comfort zone.. :D
Posted by okke | 12 juni 2007 11:25
Posted on 12 juni 2007 11:25
Kita(termasuk saya juga) seringkali 'terjebak' oleh do'a itu sendiri.. berharap banyak bahwa do'a punya kekuatan utk merubah nasib, hingga lupa bahwa di sana terkandung sebuah "proses" yg hrs dilalui dgn usaha.
Posted by asri | 14 juni 2007 08:44
Posted on 14 juni 2007 08:44
kalo dalam bahasa jepang shine artinya mati *gag penting*
Posted by nita | 03 juli 2007 10:24
Posted on 03 juli 2007 10:24