« Kekuatan 'Mendengar' | Main | Marco dan Tabitha. »

Tentang Takdir.

Banyak yang bertanya
aku ini mau jadi apa?
nggak kuliah juga nggak kerja
tapi kujawab inilah aku apa adanya

Saya hanya tersenyum-senyum sendiri melihat pengamen dekil yang tiba-tiba masuk ke dalam warung bubur ayam yang saya sambangi malam itu bersama seorang teman.

Sambil menggelontor tenggorokan dari sisa bubur ayam nikmat dengan teh botolan, saya terus mengamati pengamen yang saya perkirakan usianya masih akhir belasan tahun. Ia tampak asyik menyanyi sambil memainkan gitarnya. Ia membawakan lagu Bebas Merdeka-nya Steven n The Coconut Treez.


Teman yang kebetulan menemani saya tiba-tiba ikut bernyanyi lirih.

tapi jangan kira
aku gak berbuat apa-apa
aku berkarya dengan yang ku bisa
dan yang penting aku bahagia

Saya ambil sebatang menthol dari kotaknya, menyelipkan di sela-sela bibir, menyulutnya lalu menghisap dalam-dalam asapnya, untuk meyakinkan diri bahwa seluruh sudut paru-paru saya secara adil telah terkena racun nikotin.

yang penting aku gak nipu
gak bikin susah kalian
yang penting gak terlibat
378 ....

Lagu yang disenandungkan anak itu membuat saya ingat kejadian beberapa hari sebelumnya.

Bahwa banyak orang yang terkena sindroma penyakit reseh akut, itu saya sudah tahu. Tapi saat itu saya mungkin sedang terkena sial, berurusan dengan orang macam ini langsung. Biasalah, diawali dari pertemuan tidak sengaja, pertanyaan apa kabar dan 'sedang sibuk apa'.

"Ya ampun, masih begini-begini aja lo?" ia mengeluarkan pernyataan yang menurut saya tidak terlalu sopan disebutkan pada orang yang baru bertemu lagi setelah sekian tahun -- ditambah lagi dengan keadaan pertemanan yang sebenarnya tidak pernah terlalu akrab. Ya ngga sih?

Ia mengomentari cara saya menjalani hidup. Ia mencela rencana-rencana saya yang selalu disebutnya sebagai "Aneh-aneh aja sih lo..."

Dan pada akhirnya dia mengklaim bahwa saya adalah seseorang yang tidak bahagia.

Agak terkejut juga mendengar kalimat tuduhannya. Karena selama ini, saya merasa saya baik-baik saja, bahagia-bahagia saja, sedang tidak marah, sedang tidak benci siapa/apa pun.

Ehm, ini sebenarnya tidak penting, tapi saya jadi ingat, saat ngopi bergaya di kedai kopi kapitalis bersama Mbak Okol dan dua temannya, ketika dia sedang dalam misi penjemputan sebotol dry gin. Hehe

Ning, teman dari Mbak Okol menyebut bahwa saya memiliki energi positif : tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian dan tidak ada dendam. [haha! Hi Bu]

Ketika saya tanya penyebab ia menghakimi saya demikian, alasannya hanya karena saya selalu mempertanyakan [dan memiliki kecenderungan menolak] fase hidup yang dijalani oleh banyak orang : lahir, sekolah, lulus, kawin mawin, beranak, punya cucu dan mati.

Dia bilang, saya sok ingin beda [secara implisit menambahkan, bahwa penolakan yang saya lakukan adalah kompensasi dari ketidaklancaran saya dalam menjalani fase kehidupan. Ehm..ehm]

Saya tidak berusaha beradu argumen, mempertanyakan kenapa pilihan saya menolak fase hidup pada umumnya membuat dia menjadikan itu sebagai parameter bahwa saya tidak bahagia. Percuma. Dia tidak terlalu cerdas untuk menjadi rekan adu argumentasi.

Saya hanya diam, memperhatikan dia berbusa-busa bercerita tentang takdir. Begini katanya : kehidupan setiap manusia itu sudah ada cetakan idealnya, seperti yang dijalani orang banyak. Tugas kita tinggal menjalani, tidak usah melawan, pasti kita akan bahagia. Yaah, sebelas-dua belas lah dengan komentar di salah satu entri dalam blog ini, yang bunyinya kurang lebih :

Ha ha mbak okke baru tau ya bahwa hidup manusia itu udah dibikinin "Template" sama para leluhurnya jadi tinggal ganti ganti subyeknya saja persis seperti sinetron Indonesia yang cuma ganti judul sama nama peran, jalan cerita dan yang memerankan sama. Kalau anda melawan Template yang sudah dibuat anda dianggap aneh. Anda memilih nggak kawin dianggap aneh, anda memilih meninggalkan kedudukan yang nyaman untuk sesuatu yang belum jelas dianggap aneh. "Template hidup yang ideal " sudah dibuat oleh para leluhur tinggal kita saja menjalani dan memilih mau tunduk atau melawan?

Dalam hati saya bertanya-tanya : bukankah esensi dari kehidupan adalah mencari apa tujuan seorang individu berada di dunia ini?

Lalu apa kabar dengan kehendak bebas? Kalau memang ada template jalan hidup ideal bagi semua insan manusia, tentunya manusia tidak perlu diciptakan dengan otak dan kemampuan berpikir,kan? Ya buat apa? Kan sudah ada cetakannya, nggak usah capek-capek mikir.

Nah karena saya tidak sudi membuat otak dan kemampuan berpikir saya menjadi sia-sia, maka apa pun yang saya jalani sekarang, apapun yang saya pertanyakan, adalah salah satu proses untuk mencari esensi kehidupan saya pribadi. Saya punya kehendak bebas untuk itu. I wanna grow old and die with style. ;-)

Pada akhirnya, sekali lagi karena buat saya, ia tidak terlalu pintar untuk dijadikan teman beradu argumentasi, saya hanya tersenyum.

Melihat tanggapan saya, ia berhenti berkicau.

Saya terus, bertahan tersenyum.

Dan ia pun -mungkin kesal dengan mimik tidak berminat yang saya tampilkan- berkata : Sudahlah, jangan ngelawan takdir yang udah digariskan pada setiap manusia.

Okay, sampai sini, saya tergelitik untuk berkomentar : "Apakah takdir lo sama dengan takdir gue? Dan apakah yang lo sebut sebagai takdir itu memang benar-benar takdir, atau karena lo males mikir - lalu ikut aja sama semua orang yang punya kehidupan macam itu?"

Ia terdiam.

Saya juga diam. Tapi sambil berpikir, betapa bencinya saya terhadap pendangkalan makna takdir macam yang ia lakukan.

Beberapa jenak kemudian ia bilang "..tapi semua orang kebanyakan kan gitu? Lo ngapain sih, aneh-aneh aja..."

Ehmm...

Satu kalimat segera meluncur dari bibir saya : "Maaf, saya bukan orang-orang kebanyakan. Jadi logika lo tentang takdir, ga masuk ke gue."

Nyolot memang. Tapi, salah sendiri, ngeduluin. Hehe.

kujalani apa adanya
aku bahagia
bebas lepas tanpa beban
aku merdeka

Saya menyerahkan receh ketika pengamen tersebut selesai bernyanyi.

"Gue suka banget lagu ini." bisik saya, perlahan, sambil memandang punggung sang pengamen keluar dari warung.

Saya menyebut pengamen tersebut sebagai sang ksatria bergitar, yang telah menyelamatkan saya.

Yes.He made my day. :)

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/62

Comments (23)

setuju banget mba'. saya ga habis pikir ama manusia² yg hobinya ikut arus ato cuman jadi save player aja. klo semua manusia di dunia ini sama, alangkah sangat membosankan terlahir sbg manusia. =)

Tidak terlalu banyak orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang betul2 ingin dilakukannya, dan tidak takut dianggap melanggar mainstream. You are one of them. Lucky you. And I'm so proud of you.

kasian temen lo itu. dibilang fatalis ya enggak juga, karena menurut gw fatalis sejati justru bisa bahagia karena selalu punya justifikasi "sudah takdir, dijalani aja". sementara kalo seseorang berpikir bahwa semua orang punya pola hidup tertentu yang WAJIB dijalani, kalo dia gak mencapai tahap2 dalam pola yang diyakininya itu, dia malah bisa depresi sendiri nantinya. eh, jadi yg gak bahagia sapa ya? *geleng2 prihatin*

roi:

hmmm,
enteng banget ya kehidupan kalo begitu. BTW, yang namanya takdir itu kalo nggak salah 'hanya' diterapkan kepada tiga hal: kematian, kelahiran, dan jodoh.
Hal lainnya? you fight for it...

JJ:

'apa kabar' & 'lagi sibuk apa' emang pertanyaan yang menjebak! hehe.. rese dah ih!

"Dan pada akhirnya dia mengklaim bahwa saya adalah seseorang yang tidak bahagia."
Emmm.. mungkin patut di-skak balik: Emang menurut lo, definisi & esensi dari kebahagiaan itu apa sih?! *halah* ;D

"...karena saya selalu mempertanyakan [dan memiliki kecenderungan menolak] fase hidup yang dijalani oleh banyak orang : lahir, sekolah, lulus, kawin mawin, beranak, punya cucu dan mati."
Thank God for those who dared enough to do that! Kalo gak, kita gak bakal pernah denger Mahatma Gandhi, Mother Theresa, ALbert Einstein.. ya toh?

Jadi inget 1 motivational speaker yg namanya Kathryn Kuhlman. Gue suka banget ama ni orang karena 'berani beda' dan kisah hidupnya menginspirasi banyak banget orang -- tahun 70-an di Amrik sana. Ada omongannya yang gue hafal saking demennya:

"Dunia menyebut saya bodoh karena telah memberikan seluruh hidup saya bagi Dia yang belum pernah saya lihat. Tapi saya tahu persis apa yang akan saya katakan ketika berdiri di hadapannya suatu saat nanti. Ketika memandang wajahnya yang mulia, saya akan berkata: "Aku berusaha."

JJ:

Kenapa yaaa... adaaa aja orang yang demen ngejudge orang lain seenak udel tanpa mau ngeliat sampe ke 'dalem-dalemnya' dulu.

Apa kabarnya toleransi ya? Apa kabarnya saling menghormati & menghargai ya?

We're not stupid, we're just different.

Kemarin pas beli sekoteng gue ngeliat 1 pembeli, ABG seumuran adek gue, yang 'agak kurang daya tangkapnya'. Adek gue ketakutan pas tangannya digamit sama anak itu, dan tukang sekotengnya nyeletuk, "Rada-rada tuh, neng." Tapi gue justru ngeliat sesuatu yang lain. Mukanya anak itu, berseri-seri dan dia gak henti2nya ketawa dan bilang "Asyiiik" pas sekotengnya jadi. Anaknya juga ramah banget. Semua pembeli diajak ngobrol.

Gue ngeliat kebahagiaan di situ. Dan sejujurnya, gue iri dengan ekspresinya yang murni bahagia. Dia mungkin terbelakang bila dibandingkan orang2 lain, tapi 1 yang pasti, dia lebih bahagia dibanding kebanyakan orang.

Jadi, ukuran bahagia itu apa ya?

imeng-comeng:

IKLAN:
guru: kenapa diponegoro bisa tertangkap?
murid: takdir pak...

okke:
Bahwa banyak orang yang terkena sindroma penyakit reseh akut, itu saya sudah tahu. Tapi saat itu saya mungkin sedang terkena sial, berurusan dengan orang macam ini langsung. Biasalah, diawali dari pertemuan tidak sengaja, pertanyaan apa kabar dan 'sedang sibuk apa'.

imeng:
takdir lo, Kke....ketemu wong reseh..

hari gene masih reseh ngomongin takdir wong liyo...ck-ck-ck...takdir-takdir!

ih mb okke aku baru posting dgn tema "tujuan hidup" eh skg ngomongin "takdir" [emang apa hub-nya] hehehe...

tapi aku SATUJU bgt sm prinsip kebebasan, secara aku juga udah capek ngikutin tata cara hidup kebanyakan orang...menyebalkan...monoton...dan ga bervariasi...akhirnya ga bahagia

ya kan?? *mencari persetujuan*

aku baru mo keluar dari lingkaran "penurut" menjadi "tidak penurut lagi"

HIDUP INDONESIA RAYA *halah norak* :P

menurut gue sih, justru pilihan dan kebebasan memilih itu yang membuat seseorang menjadi manusia. selalu ada pilihan, dan kita dikasih otak untuk membuat pilihan, membayar harga pilihan itu, dan berakhir di sebuah pilihan lain...

bukankah limapuluhribu tahun sebelum bumi tercipta, semua sudah digariskan :)

tapi kita masih harus mikir itu garis macam apa yah tepatnya :D

Kke, omong2, lo ngga brenti2 ngerokok.. ngga takut bodi lo 'ancur' diserang penyakit2?...

jangan jawab takdir, lo..! :D

Mau kasih quote aja. Dari Heroes (the TV series)

"For all his bluster, it is a sad province of man that he cannot choose his triumph. He can only choose where hestands when the call of destiny comes, hoping that he'll have the courage to answer"
(Chapter 2)

"Destiny is not carved on a stone"
(Chapter 23 - Season's Finale)

imoy:

Hidup rokok, hidup alkohol, hidup aneh!
mba'e, kapan bagi2 crack game lagi?

Ehhhmmm takdir, sesuatu yang tidak di duga tapi pasti masing manusia memilikinya, intinya jalani hidup dengan lurus2 aja biar kembalinya semua baik pula ok

Ehhhmmm takdir, sesuatu yang tidak di duga tapi pasti masing manusia memilikinya, intinya jalani hidup dengan lurus2 aja biar kembalinya semua baik pula ok

JJ:

"takdir, sesuatu yang tidak di duga tapi pasti masing manusia memilikinya, intinya jalani hidup dengan lurus2 aja biar kembalinya semua baik pula ok"

'Lurus-lurus' maksudnya...? :))

okke:

endah:
Iya sih, itu yang gw pikir, masa semua manusia jalan hidupnya sama?

emak:
Pokoknya dikau inspirasi gw ;)

lenje:
Yoi, mbok ya wis gitu ya, kalo dia pikir jalan hidupnya gt, ya udah.. ga usah nyela org lain.. haha..

roi:
hal-hal lainnya, we fight for it.. suka bener deh gw kalimat ini..

JJ :
yo oloh semangat amat komen, Nak :D Hehe..

imeng-comeng:
emang sial gw kali yak :))

enon-enie:
Selamat mencari tujuan hidup :D

melly:
yup, memilih dan menerima risiko, that's life :)

aj's lover:
kata roi sih, sisanya we fight for it :D

indrasaree :
ga mungkin gw jawab takdir, Cong. Buat gw itu pilihan hidup yang dengan sepenuh kesadaran gw tau risikonya :D

may:
:)

imoy:
jangan jadi pemales, gw juga nyari . Googling sendiri deh ah! :P

ajirich:
tuh, ditanya JJ, maksudnya lurus tuh maksudnya apah yaa? ;)

wongiseng:

"Do not fear to be eccentric in opinion, for every opinion now accepted was once eccentric. " Bertrand Russell

hokage:

ada 3 hal yang membedakan manusia dari makhluk lain, 3 hal tersebut yang membuat posisi manusia lebih unggul dari makhluk lainnya :

#1 Moral

#2 Rasio

#3 Hukum

tanpa ke3 atau salah satu hal tersebut, kedudukan manusia tidak lebih tinggi dari makhluk lainnya...

mereka mewakili keadilan, kejujuran dan kebeneran ...

#1 tidak ada yang manusia bener, yang ada hanya mendekati kebeneran...

#2 Manusia bukan sebagai keadilan maupun hukum tetapi manusia hanya sebagai "kompas keadilan"

#3 Setiap manusia memiliki pengalaman hidup yang berbeda2 atau pun keyakinan hidup yang berbeda..apa kamu berani berkata "aku benar!" dan kamu memaksa kebenaran "keyakinan versimu" sendiri dan mengabaikan itu semua...

okke:

wongiseng:
yap, terbahas di YM :D

hokage:
Siappp! ntar gw sampein ya bo ke temen gw :)

ceetoot:

hi okke...lam kenal ya. ceritanya bagus.emang nyebelin ketemu orang kebanyakan, ketauan banget ga mau pake otaknya...hehehe..gw pernah ngalamin soalnya.

some people just think they know everything.
and to make it even worse, they won't listen. all mr. and mrs. smarty pants should just stfu. lol

mereka yang bilang gt adalah mereka yg bnr ga tau takdir itu apa. klo mereka pikir takdir itu ada template nya mereka juga perlu tau klo template buat orang yg nerima2 aja sm template buat org yg berusaha itu beda. :)

dee:

life is about chooisng...

TAKDIR adalah memilih diantara yg telah digariskanNYA...

suka2 dech, kan dpertanggungjawabkan...

life is what we make it 'aight?!

~ be a better of urself lah pokoke :p

SEMANGATZ

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 27 mei 2007 5:40 pm.

The previous post in this blog was Kekuatan 'Mendengar'.

The next post in this blog is Marco dan Tabitha..

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31