« Tentang Takdir. | Main | Sok Wisata Kuliner »

Marco dan Tabitha.

Sekitar lima minggu yang lalu, Tabitha, menyampaikan berita ini dengan mata yang berbinar-binar dan wajah sumringah. Sebenarnya ini bukan berita yang mengejutkan - setidaknya buat saya. Kan selama tiga tahun ini, saya sudah menjadi sahabat baginya, tidak ada satu cerita pun yang terlewat.

Marco -abang saya- bermaksud melamarnya. Mereka akan menikah 6 bulan lagi. Sekali lagi, bukan hal yang mengejutkan, ketebak. Mereka sudah berpacaran selama tiga tahun. Yang mengejutkan justru kalau berita yang meluncur dari bibir mungil Tabitha adalah : mereka putus.

Iya, sih, waktu pertama kali Marco membawa Tabitha ke rumah untuk bertemu keluarga kami, sempat terlintas dalam benak saya bahwa hubungan mereka nggak akan bertahan lama.

Tabitha dan Marco berbeda. Bagai langit dan bumi. Abang saya bad boy. Agak liar. pemberontak. Ngeselin. Bikin pusing dan sejuta istilah lain yang saya rasa bisa mendeskripsikan bagaimana Marco itu. Sedangkan Tabitha adalah tipe perempuan rumahan yang manis dan penurut, sangat berbeda dengan mantan-mantan Marco yang sama liarnya dengan abangku.

Tapi mereka bertahan. 3 tahun adalah waktu yang spektakuler. Lucunya, saya yang awalnya merasa tidak akan cocok dengan Tabitha, eh kok ya malah jadi bersahabat baik. Sering saya geli jika Tabitha curhat soal si Abang pada saya.

Oh ya, setahun terakhir ini Marco berubah, tidak terlalu liar, tidak terlalu memberontak, tidak terlalu ngeselin, tidak terlalu bikin pusing. Dan yang ajaib, Abang saya yang saya pikir agak anti komitmen beberapa kali bertanya : "Vay, kalau gue nikah dengan Tabitha, menurut lo gimana?"

Semuanya menunjukkan fakta bahwa Marco serius mencintai Tabitha.

Jadi, apa yang disampaikan Tabitha, sekali lagi - bukan hal yang mengejutkan. Tapi demi melihat betapa bahagianya Tabitha, saya terpaksa berdrama, menampilkan wajah terkejut, berseru "Oh ya? Waaaah selamat yaaaaa.", lalu memeluk gadis bertubuh mungil dan berambut kriwil itu. Jangan salah, saya juga bahagia kok kalau Tabitha dan abang saya bahagia, cuma - ya itu, berita ini bukan kejutan sama sekali.

Itu lima minggu yang lalu.

Tapi hari ini, lima minggu kemudian, aku duduk di hadapan Marco. Laki-laki yang biasanya terlihat super duper cuek, kali ini terlihat sangat sedih. Gelisah. Marah.

"Tabitha membatalkan rencana pernikahan kami..." cetus Marco lirih.

Saya terperanjat. Membeku sesaat. Marco terus menunduk.

"Kenapa?" tanyaku, setelah kesunyian meliputi kami berdua selama beberapa saat.
"Dia ketemu orang lain."

Saya membeku lagi. Ini mengejutkan.Benar-benar mengejutkan.

"Udah berapa lama?" saya bertanya lagi.
"Baru dua minggu. Dan gue kenal orangnya."
"...."
"Gue tau banget, orang itu nggak sayang Tabitha, sesayang gue sama dia."

Ampun. Saya benar-benar mati kata.

"Setelah sekian lama gue berusaha untuk menjadi yang terbaik buat dia dan berusaha untuk nggak ngecewain Tabitha...." desah Marco.
"Berusaha menjadi yang terbaik gimana maksud lo?" tanya saya.
"Ya lo liat sendiri lah, Vay. Lo liat kan, gue berusaha berubah demi Tabitha." Marco mendongak.
"Iya, gue liat perubahan itu. Mmm.. lo yakin, perubahan itu yang terbaik bagi dia?"
"Ya iyalaaah. Selama bareng Tabitha, gue berusaha ngejaga perasaan dia. Gue nggak main cewek, gue nggak minum, gue mulai kerja tetap, gue mulai nabung. Pokoknya, gue mulai hidup nggak seenaknya. Karena gue ngerasa, hidup gue, bukan cuma buat gue doang, tapi buat Bitha juga."
"Iya sih, lo jadi lebih bertanggung jawab."

Marco mengambil kotak rokok dari jaket jinsnya, mengambil sebatang, menyelipkan di antara celah bibir, menyulut lalu menghisap asapnya dalam-dalam.

Saya memperhatikan. Ia menghempaskan nafas, mengeluarkan asap beracun tersebut kuat-kuat.

"Semua gue lakuin demi Tabitha. Gue jadi bingung, kurang apa lagi coba?" saya tahu itu adalah pertanyaan retorik, tapi saya tergoda untuk mempertanyakan kembali.
"Kurang apa lagi? Hmm.. justru gue mau nanya : apakah lo yakin, Bang.. apa yang lo lakuin cukup?"

Marco mendongak.

"Maksud lo?" tanyanya.
"Yah..mungkin aja apa yang lo lakuin nggak cukup, bukan cuma lo bertindak setia, bersikap baik atau bertanggung jawab dalam sebuah hubungan.. tapi..." saya menggantungkan kalimat.
"Tapi apa?"
"Ada kebutuhan-kebutuhan emosional lain yang diperlukan Tabitha. Mungkin?"
"Seperti apa?"
"Manalah gue tau. Harusnya kalian dong yang cari tau. Obrolin. Komunikasi, untuk nemuin apa yang dia mau, apa yang lo mau."

Marco membisu.

"Hubungan kalian gimana sekarang?" tanya saya hati-hati.
"Nggak jelas. Dia minta putus, gue minta dikasih kesempatan - gue pengen dia kasih tau gue, apa salah gue...kalo udah tau, gue bener-bener pengen memperbaiki hubungan kami."
"Oh."
"Dia bilang iya, dia setuju itu, tapi dari apa yang dia lakuin, nggak nunjukin bahwa dia pengen ada perbaikan. Tabitha jadi dingin."
"Dia masih berhubungan dengan orang ketiga itu?"
"Gue nggak tau, dia bilang enggak."
"Harus ada sesuatu yang bikin Tabitha gitu, Bang...Tabitha bukan cewek konyol, gue yakin itu."
"Gue juga yakin itu... tapi dia ga pernah ngomong alasannya..." nada suara Marco meninggi.
"Ssssh.. tenang napa, Bang?" aku mendelik.
"Iya, sorry.. emosi."

Marco membisu. Saya juga. Saya putuskan untuk tidak mengatakan apa-apa lagi.

"Ya ampun Vay. Lo boleh ngetawain gue. Yang jelas, gue patah hati..." Marco berseru pelan.

....

Seminggu kemudian

"Maafkan saya, Vay..." air mata Tabitha mengalir di pipinya.
"Untuk apa?" tanya saya sambil menatapnya.
"Karena saya udah ngecewain Marco. Kamu pasti benci dengan saya..." ia mulai terisak.

Saya terus menatapnya. Tidak, saya tidak marah sama sekali. Entah kenapa, saya lebih memihak pada Tabitha dibandingkan pada Marco. Entahlah, sejak ia masuk dalam keluarga saya, kami berdua seperti memiliki hubungan emosional.

Setelah tiga tahun saya kenal dan bersahabat baik dengan perempuan ini, saya yakin ia memang benar-benar perempuan yang baik, dan ia telah dengan tulus mencintai Marco.

Saya tidak akan pernah lupa bagaimana bersemangat dan sumringahnya Tabitha jika membicarakan Marco, binar matanya ketika ia berdekatan dengan Abangku, semu merah jambu di pipinya ketika seluruh anggota keluarga saya meledek mereka.

"Gue udah denger cerita Marco.Kenapa, Tha?" tanya saya. Sungguh, saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi orang lain. Tapi saya tergelitik untuk mencari tahu, karena apa yang terjadi, boleh dikatakan : sangat-bukan-Tabitha.

"Saya tau, ini bakal terdengar seperti pembelaan diri. Marco baik, luar biasa baik dan dia benar-benar cinta saya." Tabitha berkata perlahan.
"Lo? Lo cinta Marco?"

Tabitha mengangguk.

"Tapi Vay... Saya..." Tabitha mulai terisak.

Saya menunggu.

"...saya nggak bisa berkomunikasi dengan sehat dengan Marco."lanjutnya.
"..."
"Seharusnya saya dan Marco bisa ngobrolin apa aja, kan? Simply apa aja. Sama seperti saya dengan kamu - atau saya dengan sahabat-sahabat saya yang lain."
"..."
"Tapi ini nggak bisa. Our conversation runs dry. Kami berakhir dengan ngobrolin kejadian yang terjadi dengan kami masing-masing pada hari itu. That's all. Itu doang, Vay. Itu doang..." Tabitha menghela nafas.
"..."
"Itu ngebuat saya ngerasa ada benteng di antara saya dan dia. Saya ngerasa nggak lepas. Bahkan parahnya, saya ngerasa.. dia jadi orang asing. Okay, kamu boleh kutuk saya, Vay. Tapi saya ngerasa nggak nyaman kalau dekat-dekat dia."

Saya diam, tapi tiba-tiba terbersit dalam benak ini, jangan-jangan... Marco bersikap terlalu hati-hati memperlakukan Tabitha, sehingga membuatnya tanpa sadar justru membangun benteng di antara mereka berdua?

Ah entahlah. Saya tidak mau sok tahu.

"Saya kangen saat-saat dulu, di mana saya dan dia bagai partner in crime, membicarakan banyak hal, berdiskusi. Saya dan Marco benar-benar lepas. We were best friends back then." lanjut Tabitha.
"...."
"Dan tiba-tiba. Orang itu masuk dalam kehidupan saya. Sungguh, saya juga kaget - karena saya dan orang itu kok bisa ngobrol dengan enak. Sumpah, saya betah banget berdekatan dengan dia."
"..."
"...lalu itu membuat saya tiba-tiba takut akan keputusan saya menikahi Marco. Apakah nanti setelah menikah keadaan kami akan terus seperti ini? Kalau iya, betapa mengerikannya!"
"..."
"... saya.. bingung, Vay. Kok saya bisa jadi gini sih?"

Di tengah derai air matanya, aku masih bisa melihat cinta itu. Ah saya yakin, peristiwa ini juga cukup membuat Tabitha shock.

"Vay... maafkan saya ya?"Tabitha mendesah lirih.
"Lho? Kok minta maaf ke gue?" saya mengerutkan kening.
"..."
"Hmm, gue.. ngerti apa yang lo rasain, Tha..dan apa pun yang terjadi, lo tetap sahabat gue" jawab saya.

Saya mengembangkan tangan, lalu memeluknya dengan erat. Sama seperti waktu saya memeluknya saat mendengar rencana Tabitha dan Marco untuk menikah.

Satu hal yang saya yakin, pernikahan bukanlah hal main-main, butuh sebuah proses panjang untuk mencapai sana. Cinta tidak cukup. Mereka sedang berproses.

Dan mereka butuh waktu untuk itu.


Sebuah cerpen iseng dibuat siang jelang sore, dibantu bapak dodol surodol.

Dan ohya, buat yang terus-terusan nanya cracknya dinner dash gara-gara entri ini, satu kalimat dari saya : Cari ndiri napeeeeeeeee??? Pemalas! hehe.

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/63

Listed below are links to weblogs that reference Marco dan Tabitha.:

» Ada De Kagak from Ada De Kagak
kecoak belalang kupukupu, keciannn de luuuu. Audio Indonesia Community On [Read More]

Comments (24)

ini cerita bener atau cerpen?
*maaf kalo salah pertanyaanya*

okke:

pitik:
entri ini, di blog ini, dimasukin kategori fiksi, Say :)

ugh jd gemana gethoo...!!

tp iya sih nemuin orang yang bener2 buat kita nyaman itu ternyata bukan berarti orang yang kita cintai ya??

JJ:

Ini masih nyambung sama cerpen "Marco Ingin Bunuh Diri" ga?
:))

JJ:

Gue kok pengen nangis ya baca cerpen ini.. menyentuh :)

ichi:

wow...touchy!!!

trus...harusnya untuk nyari pasangan, harus yg dicintai ato yg bikin nyaman??
*retoris de... harusnya dua2nya kali yaa??

tapi kalo harus tetep milih... sebaiknya pilih yg mana??

Nisa tea euy:

Okke!!..Finally blog kamu bisa kebaca lagi dari Shanghai Yippii!!

titip bilang marco dan tabitha: semua akan lewat, tapi yang pernah dilewati mudah2an bisa selalu diinget dengan senyum dan bukan air mata :)

seperti elu bilang,"mereka sedang berproses". dan gue yakin, mereka pun pecinta proses dan bukan sekedar ujungnya, that is: pernikahan.

Vita:

hiks....idem nih, terharu dan jd inget pada diri sendiri.
@ichi, mungkin milih yang bikin nyaman tp dia cinta kita walau kita belum cinta. mungkin suatu saat kita bs cinta dia.
maybe lo ya, ku sendiri ga yakin klo berhadapan dg pilihan ini.

Nice story, sweet collaboration :)

BTW, kolaborasinya dalam hitungan beberapa hari ke belakang :-p ?

Q:

vay itu kayak gue manggil si vanya ... ada hubungan sama si nyanya suvanya?

Mela:

hmmm... mirip pengalaman pribadi aku beberapa waktu lalu...

kadang-kadang... orang baru merasakan bahwa kita sangaaat berarti setelah kita menghilang...

eh... nyambung ga ya... :P

imoy:

yaah...ketauan deh kalo gw pemalas.....

wongiseng:

"Conversation runs dry" mungkin gara-gara Marco & Tabitha sama-sama tense, mikirin rencana 6 bulan kedepan mereka. Titip bilangin Marco rencananya untuk sementara dilupakan dulu aja, biar ngga pusing, santai kaya Baruna & Olivia dulu.

cyn:

wuih.. gw suka cerpen lu yang ini.. hehehehe
eh cracknya gimana? wakakakakaka >> ngetes kesabaran

ngomong2 soal crack,,,,punya cracknya chocolatier ga? versi 1.0.0.88
heheheh ga ding bercanda,,,cm krn kesepet ajah mslh crack :P

nYam:

hmmm....et lis tabitha ga kabur ke Peru di detik-detik terakhir

*komen ga niat*

okke:

enon-enie & ichi :
hihi, ya mbuh :D sumpah ga tau...

JJ :
kagak ada hubungannya ma marco ingin bun-dir, namanya gw pake lagi doang :P How's the pdf business?

Nisa :
Selamat! ;-)

Melly:
Iya, proses, yang butuh waktu lama..:)

Vita:
:)

may:
sesuai dengan tanggal dipublikasikannya entri ini kok, bikin 2 jam sambil ceting dan dikritik bpk dodol sana-sini.. :)

Q:
kagak ada, Cong :D

Mela:
iya sih, biasanya kalo sesuatu itu masih ada kita taking it for granted, kalo ilang baru kelimpungan :)

imoy:
Ctuks! Awas kalo minta crack lagi.. ahhaha J/K

wongiseng:
siaaap!

cyn & pesona:
ARGGGHHHH! Jangan nanya soal crack! *pingsan*

nYam:
Maksyudnyaaah? :P

Setujuh sama Mela.... kalo udah tau seseorang atau sesuatu mau pergi baru deh kelimpungan. Kalo ada mah, yah... danggap sudah seharusnya :(

JJ:

PDF ngajak berantem. Pas gue dapet installernya, CPUnya dibawa pulang ma temen gue. :)

DW:

p r o s e s..., ;)

Dodol Surodol:

Cinta itu buta. Tapi dapat melihat dalam gelap.

*ini sebenernya ngetes SCode*

Critanya bagus. Teh Okke (padahal daku bukan org Sunda), blognya aku link ya... Dah lama pengen link tp ga jadi2. Klo ga bersedia pun, sudah terlambat krn udh daku lakukan :D.

yah..
kok ga ada hubungannya ama gw sih?
hehehehehe

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 29 mei 2007 1:09 pm.

The previous post in this blog was Tentang Takdir..

The next post in this blog is Sok Wisata Kuliner.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31