Update postcard project ada di blog postmeacard.blogspot.com
...
Lo harus baca Momo-nya Michael Ende. Jedang Mbak, Jedang. Sender: Obey
Itu adalah secuplik pesan pendek yang dikirimkan oleh Obey, teman saya, istri mantan pemain band hardcore pengusung lagu 'bakterimukaantiagnesmonika' *gusrak*, sekitar sebulan setengah yang lalu.
Secara selera saya dan anak ini cenderung sama, maka besoknya saya langsung berburu, mencari buku yang disebut oleh doski *alah, doski*
Yes, I'm a slow reader, buku itu baru beres kemarin, pembelaan diri saya pada orang banyak adalah : sibuk. Ada teman yang bilang, saya lebih cepat mengetik dibandingkan membaca dan dia, yang kebetulan pernah meminjamkan buku selama setahun [!] memberi solusi, agar semua buku yang saya beli, dibaca sambil diketik ulang, supaya cepat beres.
Saya harus bilang, Momo itu : highly recommended. Bahkan saya sudah terpesona pada bab-bab awal, yang menceritakan betapa berartinya Momo buat lingkungan sekitar, bukan karena dia kaya, bukan juga karena pintar lagipula rajin menabung, bukan karena pintar ngomong lagipula rendah hati. Dia hanya berada di sisi orang-orang tersebut dan mendengarkan masalah mereka.
Karena kemampuannya itu, banyak masalah selesai karena orang yang 'didengar' menemukan sendiri solusi atau mendapatkan ide-ide brilian untuk membuat kehidupan menjadi lebih hidup *tsah*.
Hanya dengan mendengar, maka masalah pun beres.
Saya jadi berpikir, apa iya, 'mendengar' saja bisa memberi perubahan? Maksud saya, ketika orang membicarakan suatu masalah pada orang lain, tentunya dia membutuhkan masukan atau bahkan solusi, ya nggak sih? Mendengar thok itu tidak cukup.
Kemudian saya mulai mengingat-ingat, apa yang saya perbuat ketika teman-teman datang untuk curhat.
Hmm, biasanya sih, memberi masukan berdasarkan pendapat saya, melarang ketika mereka hendak melakukan perbuatan bodoh, ikut marah, Ikut sebal, ikut bingung, ikut menangis, ikut mengutuk, atau.. bolak-balik melihat pergantian angka digital pada arloji saya -- ini khusus untuk orang-orang yang curhatnya yang tidak berubah dari musim ke musim. *maab! maab!*
Tapi saya selalu menghindari ketika ada orang yang menangis datang pada saya. Males dan bingung bo! Malas merasa canggungnya.
Pada akhirnya saya menyimpulkan, bahwa 'mendengar' thok, hanya ada di cerita fiksi.
....
Tepat kemarin, ketika saya sedang cekikikan gila dengan Ella, di tengah preview Tugas Akhir mahasiswa [jangan kuatir, Luthfi, kami nggak ngetawain kamu kok... hehe], tiba-tiba ponsel saya berdering.
Nama yang tertulis pada layar adalah nama sahabat saya. Buru-buru saya tekan tombol bergambar ikon gagang telepon warna hijau.
"Ya, Nyet?" seru saya.
"Hmm.. bisa minjem kuping lo bentar nggak?"
Ha?
Saya sempat berpikir bahwa sahabat saya - yang memang pada dasarnya sarap - makin parah saja kecacat-mentalannya.
"Please..." serunya lagi.
Mendengar suaranya yang sangat pelan, saya tersadar bahwa ini bukan main-main.
"Bentar.. gue keluar ruangan dulu..." jawab saya sambil beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan sidang.
"Kenapa?" tanya saya setelah berada di tempat yang aman, sudut dekat toilet. Dia diam, lama.
"Kenapa sih lo?" tanya saya lagi setelah beberapa menit tidak terdengar suara, tapi....isak tangis!
O-ow. Ingat bahwa saya sangat merasa tidak nyaman berhadapan dengan orang nangis? Nah, saya langsung kelimpungan.
"Lo kenapa sih? Mau cerita?" saya panik, berharap agar pertanyaan yang ini membuat dia bercerita, supaya saya bisa memberi masukan berdasarkan pendapat saya, melarang ketika ia hendak melakukan perbuatan bodoh, ikut marah, Ikut sebal, ikut bingung, ikut menangis, ikut mengutuk, atau.. bolak-balik melihat pergantian angka digital pada arloji saya *piss ah, Neng!*
Tapi ia terus menangis.
Mampus dah!
Karena bingung, saya hanya bilang,"Ya udah, nangis aja, abisin segala sebel lo..."
Selama beberapa menit, suasana terasa sangat mencekam [drama queen mode on], saya berpindah duduk di ujung tangga, handset menempel di telinga dan terdiam. Sementara di seberang sana hanya terdengar isak tangis.
Saya menunggu, sampai ia selesai. Dan jujur saja, situasi demikian, selain membuat canggung, juga membuat saya merasa aneh [untuk menggantikan kata tolol..hihi]
Beberapa jenak kemudian, hening. Tidak terdengar apa-apa lagi.
"Udah.." itu katanya dengan isak yang tersisa.
"Hehe... yakin? Kalo masih mau nangis, monggo lho... gue mendengar..."
"Nggak ah. Udah kok, serius. Lagian, I feel stupid.. nelepon lo cuma buat nangis."
Saya mulai cengengesan, karena dia merasakan hal yang sama.
"Ini.. ehm, situasinya rada tolol ya?" tanyanya.
"Yaaa.. gimana ya... hihihi... iya sih..." saya mencoba menahan diri untuk tidak terkekeh. Nggak lucu banget, sementara sahabat saya bermasalah, masak saya cekikikan?
Tapi apa daya, saya tidak tahan. Saya merasa situasi itu memang aneh sekali. Baru sekali lho, ada orang yang menelepon untuk menangis doang, tanpa menceritakan masalah dan membiarkan saya garuk-garuk kepala kebingungan. Akhirnya meledaklah tawa saya.
"Sorry, sorry. Ini kayaknya ga pantes banget. Sumpah ga pantes untuk ketawa di saat lo lagi punya masalah. Tapi bo, gue... ga nahan." saya menggigit bibir, untuk menghentikan tawa saya. Tapi lagi-lagi tidak berhasil.
"Nggak papa bo, emang stupid kok." ia mulai tertawa. Saya lega, ia tidak kesal.
Kemudian ia pamit, masih tanpa menceritakan apa masalah yang membuatnya menangis, dia bilang, bossnya pasti curiga kalau ia berlama-lama menghilang dari ruangan.
Dan telepon pun berakhir.
Malamnya saya menerima SMS dari sahabat saya.
Thanks ya, udah ngedengarin. Gue jadi lega
Sender:
sahabat.
Saya balas.
Tapi kan bo, gw ga ngapa-ngapain. Ga ngasih solusi, ga ngehibur, malah ngetawain lo.
Dan balasan SMSnya membuat saya tertegun.
It doesn't matter! ;-) Orang yang bisa ngehibur dengan kata-kata manis udah banyak bo. Gw tau lo tuh ga terlalu comfortable ama orang yang nangis2, tapi toh lo tetep mau nemenin gue dan nyediain waktu buat dengerin gue.That's what MATTERS MOST to me,really! Thanks ya.
sender:
Sahabat
Saya salah. Michael Ende dalam Momo benar. Mendengar itu ternyata memiliki kekuatan, mampu memberi perubahan, setidaknya untuk satu orang, sahabat saya - yang ternyata merasa lega, setelah melakukan adegan bodoh: menelepon interlokal saat krisis pulsa untuk menangis doang.
Ehm, mungkin, mulai sekarang, saya harus mulai berlatih mendengar jika ada yang datang pada saya, bukannya memberi masukan berdasarkan pendapat saya, melarang ketika mereka hendak melakukan perbuatan bodoh, ikut marah, Ikut sebal, ikut bingung, ikut menangis, ikut mengutuk, atau.. bolak-balik melihat pergantian angka digital pada arloji saya.
Selama beberapa saat, bahkan sampai saya mempublikasikan entri ini, saya merasakan sesuatu yang ajaib dalam hati saya. Entah apa, mungkin perasaan.. bahagia karena berhasil membuat perubahan -walau kecil- bagi seseorang?
Au ah.
Eh buset.Kenapa ya nulis entri ini jadi mellow?
Comments (23)
"Eh buset.Kenapa ya nulis entri ini jadi mellow?"
Bacanya juga jadi mellowy... ;)
Posted by JJ | 17 mei 2007 19:55
Posted on 17 mei 2007 19:55
Mellow Sumellow.
Posted by Dodol Surodol | 17 mei 2007 23:23
Posted on 17 mei 2007 23:23
gw baca itu sekitar setahunan lalu dan gw juga sukaaaaaa bgt. sederhana bgt ya, tapi menyentuh gituh. itu sebenernya buku anak2 apa nggak sih? gw nemunya di rak bacaan anak2 soalnya. gw rasa, buku itu buat semua umur deh. *apa sih gw?* btw, tattoo punggung atas gimana kelanjutan storynya bo?
Posted by dinda | 18 mei 2007 00:28
Posted on 18 mei 2007 00:28
gue juga matigaya klo ketiban cewek nangis. mo dipeluk, takut salah tafsir. akhirnya yo wis, gue diem dan ngerokok aja ampe temen gue puas ato capek nangis. berasa main sinetron deh.
tapi sumpeh, mendengar (doang) itu bikin capek! :D capek menahan nafsu menasihati, melarang, mengecam, mendukung dan segala me- lainnya...
Posted by aj's lover | 18 mei 2007 17:33
Posted on 18 mei 2007 17:33
ah ya situasi yg sama sering terjadi mbak, ada jg yg minjem kuping gue utk dengerin dia marah2. Ye ah.. kata orang londo, thats what friend a for.... ya begitulah, maaf2 salah grammar.. :P
Menurutku, mungkin bukan mendengar, tapi memperhatikan lebih tepatnya sih mbak.. :D
Posted by aprian | 18 mei 2007 22:07
Posted on 18 mei 2007 22:07
saya jd melow bneran mbak. saya baru saja kehilangan sahabat karna kehilangan kemampuan "mendengar" saya...
Posted by eNdaH | 18 mei 2007 22:39
Posted on 18 mei 2007 22:39
mau mendengar brarti mau memperhatikan. pada saat susah seseorang sangat berterimakasih kalo diperhatikan. tapi kalo curhatnya begitu2 aja males juga dengernya :(
Posted by Linda | 19 mei 2007 06:02
Posted on 19 mei 2007 06:02
bukan mellow nak, tapi hatimu cukup halus dan lembut untuk tersentuh. Hanya orang berhati cukup halus dan lembut lah yang mau mendengarkan orang lain, meski cuma mendengarkan nangis doang.
iraha ka Papua nyai..?? ditungguan ku emak.
Posted by emak#2 | 19 mei 2007 15:24
Posted on 19 mei 2007 15:24
"saya baru saja kehilangan sahabat karna kehilangan kemampuan "mendengar" saya..."
Sedih banget... :(
Posted by JJ | 19 mei 2007 16:03
Posted on 19 mei 2007 16:03
Kke, gue bisa pinjam kuping lo juga ngga? (Jangan bilang lagi dipinjam sama si anu, ntar gue ngiri, nangis lo kelimpungan deh :-p )
Omong2, pas baru baca entri yg ini gue malah langsung inget TNT-nya supernova yg dicari-cari Rana di dunia maya. hihi..
Posted by indrasari | 19 mei 2007 18:22
Posted on 19 mei 2007 18:22
Dari kemarin mau kasih komentar, security code gak muncul di layar kompie (rumah) gw. Ntah kenapa.. :)
Gw baca Momo beberapa bulan lalu, dan.. mengingatkan gw pada satu mata kuliah dulu: Mendengar Aktif. Hehehe.. iya, mata kuliah gw emang aneh2 namanya. Nah.. di mendengar aktif ini kita diajari teknik2 untuk mendengar dengan lebih baik (baca: menggiring si pengeluh untuk menemukan solusi masalahnya). Mendengar is a good thing, dan itu sudah cukup karena kadang orang cuma perlu didengar.
Posted by -may- | 21 mei 2007 15:00
Posted on 21 mei 2007 15:00
kadang-kadang... kita cuma perlu didenger...
bukan dimarahin... didukung...
dan biasanya dengan didengar aja... sudah cukup membuat kita didukung habis2 an... :D
Posted by Mela | 21 mei 2007 15:57
Posted on 21 mei 2007 15:57
iya mbak okke, bener :-) untuk mendengarkan, itu butuh konsentrasi besar! juga harus mampu meredam keinginan untuk memotong pembicaraan, merubah topik, atau kehilangan interest pada hal yang lagi dibicarain.
pernah ada kejadian begini: ada cewe baru di kantor. lehernya kayaknya baru patah, jadi pake perban gitu. gw tanya satu kalimat doang, "what happened to your neck?" terus dia ceritaaaaaa... ada kali setengah jam. gw cuman dengerin aja dia cerita ttg car accident dia, sampe ke keluarga dia, ke anak2 dia, ke masa kecil dia, wah! merambah kemana2. dan setelah ceritanya selesai, dia bilang, "very nice talking to you!" - padahal gw kagak ngomong apa2. cuman dengerin!
emang bener kok pepatah dulu yang sering kita denger: kita dikasih 2 kuping dan 1 mulut - slow to speak, quick to listen :) senengnya bisa buat orang hepi, walopun dikittt hehe.
Posted by nita | 22 mei 2007 01:05
Posted on 22 mei 2007 01:05
Pada dasarnya kita dianugrahi 2 telinga dan 1 mulut kan berarti kita disuruh untuk lebih banyak mendengar. Bukan begitu Mbak Okke?
Salam kenal,
Sari
Posted by sari | 22 mei 2007 09:11
Posted on 22 mei 2007 09:11
belum baca momo, padahal udah masuk must-buy-book sejak tahun lalu
mendengarkan orang curhat itu menyenangkan. bisa jadi bahan mikir sepanjang perjalanan. en bisa jadi bahan omelan buat diri sendiri kalo suatu saat kita ada di posisi sang pencurhat, dan ga bisa nerapin solusi yang sama baiknya.
Posted by nYam | 22 mei 2007 16:22
Posted on 22 mei 2007 16:22
JJ : ah lo mah suka ikut2an :P hahah
dodol : mellow sumellow goeslow? *ga mau kalah garing*
dinda : gw lagi binun bo sama desainnya, biar ga nabrak sama yang lowerback. :D
linda & aj's lover : hmm, pelajaran satu lagi, selektif menerima orang yang pengen curhat.. hehe
endah : *hugs*
aprian : iya ya, mendengarkan sambil memperhatikan :D
emak#2 : edaaan, hati urang cukup halus hihihi... ntar lah Mak, gw pasti menyambangimu ke Papua sana.
indrasaree : :P
maynot : kuliah mendengar? Kalo itu boleh dikit2 diktahui sama awam [non psiko] ga? kynya gw tertarik neh..
mela : betul, ternyata :) sederhana ya?
nita : hehe, kalimat bokap gw tuh : slow to speak, quick to listen. :)
sari : salam kenal balik :)
nYam : Beli, beli, beli!
Posted by okke | 23 mei 2007 11:27
Posted on 23 mei 2007 11:27
Boleh, boleh aja.. itu bukan kuliah rahasia kok. Hanya ketrampilan pendukung untuk "dengerin curhat". Ntar gw kirim bahannya, atau gw tulis di blog aja ya? Hehehehe...
Posted by -may- | 23 mei 2007 15:34
Posted on 23 mei 2007 15:34
Idih, siapa yang garing?!
Posted by Dodol Surodol | 23 mei 2007 17:31
Posted on 23 mei 2007 17:31
mellow..mellow..sekali2 perlu. bikin hidup makin berwarna,pastinya!!
Posted by enny | 24 mei 2007 12:04
Posted on 24 mei 2007 12:04
Momo is one of my favorite book ;)
bagus ya caranya Pak Ende menyampaikan pesan
Posted by atta | 25 mei 2007 12:16
Posted on 25 mei 2007 12:16
Mendengar adalah proses yang sangat membutuhkan kesabaran dan mentak yang kuat... untuk menahan diri nggak ikut nyela dan maki-maki he he...
Posted by Erly | 26 mei 2007 08:01
Posted on 26 mei 2007 08:01
kl kita pengen "de dengarkan" tp orangnya ga mau "mendengarkan", gmn tuh caranya biar kita di dengarkan dan dia mendengarkan???
Posted by pina | 20 juni 2007 16:01
Posted on 20 juni 2007 16:01
kalau menurut saya, tetap.. semua indera harus dimaksimalkan, termasuk mulut. sebagai rasa syukur kita pada Tuhan.
slow to speak, quick to listen itu masih lemah teorinya, belum pernah teruji secara ilmiah. hanya keluar dr orang yg suka berfilosofi saja, dgn mengandalkan perasaan/hati manusia yg banyak lemahnya.
Contoh, Galileo dihukum mati krn lantang menyampaikan kebenaran dgn mulutnya ttg bumi mengitari matahari, dan itu lebih layak dan dihargai manusia sejagad raya, ketimbang hanya diam.
Diri manusia ditentukan oleh apa yang mereka "baca" (baca buku, baca makhluk, baca lingkungan)
Posted by Dewo | 11 juli 2007 23:31
Posted on 11 juli 2007 23:31