Pernah kepikir untuk menangkapi PSK, kemudian mengkhotbahi mereka masalah moral, karena berdasarkan nilai-nilai yang anda anut, profesi PSK itu amoral lalu anda melepas mereka kembali ke jalan dan berharap agar mereka tidak melakukan pekerjaan semula dan menjadi orang baik-baik [lagi-lagi subjektif, berdasarkan nilai-nilai anda]? :D
Ada yang pernah dan saya cuma bisa menatap mereka keheranan sambil berkata dalam hati 'Yaellahh....'
Lupakan mereka, orang-orangnya nggak asik juga kok. Tapi analogi tentang PSK ini tiba-tiba terlintas ketika seorang kawan dalam keisengan kami sore-sore mengeluarkan pertanyaan : ‘Kenapa banyak kerajinan Indonesia yang mati suri? Apa nggak ada lagi yang tertarik untuk melestarikannya?’
Pertanyaan klasik, kalau nggak mau disebut klise sih.
Tapi biar pun klasik nan klise seperti itu, ternyata berhasil membuat saya teringat dengan salah satu perjalanan yang saya lakukan dengan bapak yang bukan petinggi NGO lagi ini [hehe, damai ah!] ke sebuah daerah di Nusa Tenggara Timur untuk keperluan riset mengenai tenun ikat.
Katanya sih, budaya menenun ikat itu berlangsung secara turun temurun yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Nusa Tenggara Timur, bahkan dari sebuah buku karangan seseorang, disebutkan bahwa menemukan perempuan sedang menenun ikat di teras rumah masing-masing bukanlah hal yang sulit. Kesimpulannya sih : menenun ikat itu sudah seperti menghirup oksigen bagi perempuan NTT.
Tapi mau tahu apa yang terjadi ketika kami berdua berada di desa tujuan?
Nggak ada lho, perempuan yang sedang menenun ikat! Mudah ditemukan dari Hong Kong? Susah banget.
Perempuan-perempuan yang seharusnya menenun ikat itu malah ada di perkebunan jambu mente milik mereka. Saya pikir, mungkin saya datang salah waktu, yaitu musim panen mente, tapi setelah tanya sana sini, yah memang sudah lama sekali tidak ada perempuan yang bertenun ikat, bahkan remajanya pernah bilang ‘Ngapain juga menenun ikat, kalau kita bisa beli kaus dan celana di kota.’ – Oceh deh, sebuah pemikiran praktis.
Dari hasil penyelidikan lebih lanjut [tsah], sebenarnya ada usaha dari ‘pihak yang berkepentingan’ untuk melestarikan budaya menenun ikat, salah satunya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengembangkan skill atau memperkenalkan material kimiawi baru baik untuk zat warna maupun serat yang dipakai yang mempersingkat proses pembuatan. [sebagai informasi, pembuatan tenun ikat tradisional, dari memintal sampai membuat zat warna dibutuhkan waktu berbulan-bulan, sampai 6 bulan kalau nggak salah ingat]
Lalu kenapa semua program nggak jalan? Setelah tanya sana sini, ternyata nggak ada saluran distribusi yang pasti. Akhirnya saya mengerti, kenapa menenun ikat ditinggalkan. Iya lah, yang penting adalah bertahan hidup, ngapain juga menenun ikat kalau masih belum jelas bakal menghasilkan atau nggak. Mending berada di kebun Mente-nya yang jelas-jelas menghasilkan dalam waktu cepat, hanya dengan menjual ke tengkulak [yang permintaannya selalu ada], mereka bisa langsung dapat uang.
Eh, ngomong-ngomong soal NTT, jadi ingat.. dua dari sahabat saya di Kupang baru menikah,lho! Hai Olyvianus dan Yeanny, selamat menikah ya! Maaf beta sonde bisa datang di busong pung acara, tapi God bless you.
Bentar, kalau mengucapkan selamat buat orang menikah tuh seharusnya gimana sih? Selamat menikah kok kayaknya aneh ya? :D
Anyway, balik lagi, di kesempatan lain, saat saya menjadi tim penggembira yang membantu teman untuk mengadakan pelatihan pengembangan kerajinan batik di sebuah daerah di pulau Jawa, ‘pihak yang berkepentingan’ juga menceritakan hal yang sama. Di daerah tersebut kerajinan batik mulai mati suri, para pengrajin lebih memilih untuk mengirim diri sendiri keluar negeri sebagai TKI dan TKW.
Ketika ditanyakan, setelah pelatihan bagaimana, jawabannya idem, mereka disuruh kembali membatik, kan sudah diberi bekal pengetahuan yang cukup. Untuk distribusi hasil kerja? Katanya sih dibawa setiap ada pameran daerah setahun sekali [doang!].
Kalau sudah begitu, seharusnya nggak ditanya lagi kan, kenapa setelah mengikuti pelatihan, pengrajin bukannya jadi bersemangat membatik, tapi teteub, memilih menjadi TKI dan TKW.
Dan dari cerita beberapa teman, kasus-kasus serupa juga terjadi di beberapa tempat sumber kerajinan yang pernah mereka tangani.
Saya pikir semua itu sangat wajar. Masalah perut itu penting, Kamerad. Kalau tidak ada aktivitas atau kegiatan lanjutan setelah pelatihan-pelatihan pengembangan tersebut, ya sampai kapan pun, aktivitas rajin-merajin pengrajin itu nggak akan pernah menarik hati.
Saya nggak pernah menjadi pihak berkepentingan yang khusus menangani semua permasalahan macam ini, contoh yang saya lihat pun belum terlalu banyak, siapa tahu di tempat lain tidak seperti ini.
Tapi dari yang sudah saya lihat membuat saya berpikir, emangnya kalau bikin program-program kerja, nggak dipikir jangka panjangnya atau follow upnya seperti apa, gitu?
Okay, mungkin kerjaan ‘pihak yang berkepentingan’ sudah banyak dan cukup kompleks bikin kepala sukses senut-senut. Dan saya cuma blogger yang bisanya ngomong nulis doang *kedip-kedip pada semua blogger yang pernah mengkritik atau setidaknya mencela pihak mana pun di blog masing-masing. Hi, Mbak Maya!*. Hehe.
Saya cuma kepikiran ini setelah kawan saya berandai-andai muluk membuat program-program pelatihan ini-itu yang mengawang-awang demi melestarikan kerajinan atau unsur kebudayaan Indonesia,. Dan saya pun merusak imajinasinya dengan satu pertanyaan: Gimana mau melestarikan kerajinan atau unsur kebudayaan kalau perut lapar? ;-)
Ya itu, seperti yang saya sebutkan di awal entri ini, kayak kita menangkap seorang PSK, mengkhotbahi masalah moral lalu melepasnya kembali ke jalan. Setali tiga uang* juga seperti program pendidikan anak-anak jalanan, diberi skill tanpa pengetahuan membuka lapangan pekerjaan sendiri. kemudian dilepas kembali ke jalan, sedangkan kalau mau cari pekerjaan hari gini, susahnya setengah mampus.
Eh sebentar, ada nggak ya yang nggak mau melakukan kerajinan, tetap jadi PSK dan anak jalanan cuma karena malas, padahal ‘yang berkepentingan’ sudah menyediakan fasilitas atau solusi bagi mereka?
Au ah. Ribet… untuung, saya cuma seorang blogger. Amin.
Oh ya, buat pelanggan setia sebuah lokalisasi PSK di satu kota di Jawa Barat, jangan terlalu takut lah mendengar bahwa tempat ini akan ditutup dan disegel, soalnya dari koran yang saya baca, yang berkepentingan bilang ‘..kita tutup dan segel dulu, masalah sosial dan ekonomi yang terjadi sebagai dampaknya dipikirkan belakangan..’
Yaa, siapa tahu, ntar gimana-nya lupa diurus... jadi buka lagi atau pindah lokasi deh..hehe.
Ampun bapak/ibu/saudara/i yang berkepentingan, becanda bo! Jangan disetrap ya, kan saya cuma rakyat yang ngeblog. :D
Dum di dum.
*eh buset, istilah ‘setali tiga uang’ tuh jadul banget ya?
Comments (19)
mau di tutup ye saritem ? mau di bikin tempat parkir buat mobil2 dr jakarta kalo weekend ye kke ??? atau mau di bikin rumah mode plus :P
Posted by Junk | 15 april 2007 06:56
Posted on 15 april 2007 06:56
menangkapi PSK n menutup lokalisasi? n berharap utk menghilangkan aktivitas PSK? wow, suatu misi yg tak akan bisa terwujud, well, emang serba susah en dilematis, hari gini tu org udah serba konsumtif (red: terutama buat para wanita), cara yg plg praktis buat dpt duit ya slh satunya lwt jalur PSK itu, hhhmmmnn...
Posted by bagoest | 15 april 2007 08:40
Posted on 15 april 2007 08:40
Kke, istilah sekarangnya "Setali tiga uang": "Sebelas dua belas".. :). Atau "Cape dehhhh" (kalo kata anak ABG, kata2 ini bisa menggantikan kata apapun huehehehe..)
Posted by Katrin | 15 april 2007 17:13
Posted on 15 april 2007 17:13
joneeh : gue kagak tau mo dijadiin apa nek..:D BTW oh BTW, situ kenapa nyimpulin bahwa itu Saritem? huhaha..
bagoest : soal konsumtif penyebab timbulnya PSK kejauhan kalee, walopun bisa juga, ini aja nih yang lbh basic : selama ada demand, selama itu pula usaha yang bersangkuan terus ada..
Katrin : Aha... sebelas dua belas... cape deeeh *halah!*
Posted by okke | 15 april 2007 19:57
Posted on 15 april 2007 19:57
ya ya, saya mengikuti jejak anda, pensiun berurusan dengan 'yang berkepentingan'.. hihih..
btw, talking about jadul, 'senut-senut' tuh lebih jadul tauu.. hahahah
Posted by nella | 15 april 2007 21:55
Posted on 15 april 2007 21:55
kutipan:
"Pernah kepikir untuk menangkapi PSK, kemudian mengkhotbahi mereka masalah moral, karena berdasarkan nilai-nilai yang anda anut, profesi PSK itu amoral lalu anda melepas mereka kembali ke jalan dan berharap agar mereka tidak melakukan pekerjaan semula dan menjadi orang baik-baik [lagi-lagi subjektif, berdasarkan nilai-nilai anda]? :D"
lah gue kok malah jadi teringat satu episode "Tujuh Hari Menuju Taubat" Lativi yg konon (konon sih, secara gue kagak pernah nonton acara gituan) yah gitu deh... *haduh komen gak mutu neh* oh iya, satu episode yg juga banyak diprotes adalah "penobatan" seorang lesbian agar ia kembali pada jatidirinya sebagai seorang wanita (lah lesbian itu kan tetap seorang wanita ya, trus wanita yg mencintai sesama wanita itu ya masih tetap berjatidiri sebagai wanita, trus...)
stop ah. udah OOT nih yah.
Posted by aj's lover | 16 april 2007 17:32
Posted on 16 april 2007 17:32
lah... truss gimana dong..
apa kita kembangkan dan kita lestarikan aja ya... anggap aja sebagai kebudayaan... hehehe...
hidup saritem... eh salah ding... hahaha...
Posted by mela | 16 april 2007 19:47
Posted on 16 april 2007 19:47
lah truss kita mesti gimana...
apa kita lestarikan dan kembangkan aja... anggap aja sebagai kebudayaan... hehehe...
hidup saritem... eh salah ding... hahahaha...
Posted by mela | 16 april 2007 19:48
Posted on 16 april 2007 19:48
Btw, kenapa sih "mereka" sekarang disebut PSK? Saya koq kurang setuju dengan istilah ini. Terlalu memperhalus; mereka disejajarkan dg org2 yg melakukan pekerjaan halal - sebagai pekerja konvensional atau pelaku aktivitas komersial (baca: pedagang).
Saya lebih suka dengan istilah WTS (Wanita Tuna Susila), atau "pelacur" saja.
Posted by dhani | 16 april 2007 23:52
Posted on 16 april 2007 23:52
Lho, emang sengaja, kan, bikin program kerja yang gak ada follow-upnya? Biar bisa dilaporkan ke atasan bahwa programnya gagal, peserta masih belum pinter, sehingga bisa minta dana lagi untuk program lanjutan ;)
*sarkastik mode: ON*
Posted by -may- | 17 april 2007 06:39
Posted on 17 april 2007 06:39
kek nya udah modus operandinya 'orang yang berkepentingan' untuk selalu begitu, seperti kata mbak may..
Posted by eva | 17 april 2007 21:29
Posted on 17 april 2007 21:29
iya sejak ada internet plus hobi blogging.. jd jarang banget yg hobi bikin kerajinan.. capee deeee, he3x
Posted by tjahaju | 17 april 2007 22:49
Posted on 17 april 2007 22:49
Bentar, kalau mengucapkan selamat buat orang menikah tuh seharusnya gimana sih? Selamat menikah kok kayaknya aneh ya? :D
Mbak Okke, pakai "Selamat Menempuh Hidup Baru" kaliiiiiii :)
Posted by nita | 18 april 2007 03:32
Posted on 18 april 2007 03:32
mela : ini ngomongin apa dulu? kerajinan apa lokalisasi?
aj's lover : nggak nonton kok tau episodenya :D hehe... iyaa..iya, sama gue juga suka 'ga sengaja' liat.
dhani : Ah, buat gue mereka sama kok sama pedagang lain, yang beda komoditi yang dijualnya. Lha wong tujuannya sama, duit2 juga :P
may & eva : hehe, desy ratnasari deh gue : No comment!
tjajaju : :))
nita : oh iya, ya.. tapi ada yang lain ga? :D Gue bosen juga pake itu.
Posted by okke | 18 april 2007 11:03
Posted on 18 april 2007 11:03
"oh iya, ya.. tapi ada yang lain ga? :D Gue bosen juga pake itu."
--> "Semoga Berbahagia Selalu..."
*bosen juga gak?*
Posted by JJ | 18 april 2007 12:24
Posted on 18 april 2007 12:24
perasaan waktu gue nikah,lo ngomong gini deh : "selamat karena anda telah naik level..score gue blom cukup euy..." hahaha
well, life is just a game kan?
Posted by nella | 18 april 2007 13:25
Posted on 18 april 2007 13:25
'Lalu nanti bagaimana' ?
paling jawabannya :
'ya bagaimana nanti aja'
Posted by rudy | 21 april 2007 00:51
Posted on 21 april 2007 00:51
eh saritem itu apa sih ?
Posted by rudy | 21 april 2007 00:58
Posted on 21 april 2007 00:58
kalo soal PSK, selama ada demand yah ada supply , sola tempat itu bisa diatur hehehe
o iyah, met kenal yah ke :)
Posted by maya | 27 april 2007 11:35
Posted on 27 april 2007 11:35