Buset, kayaknya saya sudah lama juga nggak memakai istilah emansipasi nih. Habis, gimana ya, istilah itu selalu sukses membuat saya seperti tersedot dengan mesin waktu menuju ke masa-masa SD sampai SMU, duduk di kelas, mendengarkan guru-guru mendoktrin mendongeng tentang RA Kartini yang memperjuangkan emansipasi perempuan.
Cuma, berhubung besok tanggal 21 April, yang artinya frekuensi pemakaian istilah 'emansipasi' bakal meningkat, maka sekarang saya tulis dulu, untuk membiasakan diri supaya selama 24 jam besok, ketika mendengar atau membaca istilah ini, saya nggak perlu nyengir-nyengir karena getek [sunda, indonesia : geli]
Okay, emansipasi.. emansipasi...emansipasi.. emansipasi... emansipasi.
Cukup. Mudah-mudahan besok saya biasa-biasa saja ketika mendengar dan/atau membaca istilah ini. :P
Ya wis, kadung nyebut, mending mbahas sisan.
Saya percaya, besok, atau bahkan dimulai dari hari ini, orang-orang bakal membahas masalah emansipasi yang hanya dimaknai : perempuan boleh berkarya di luar ranah domestik, baik itu sekolah atau berkarir tinggi-tinggi [dan pastinya ditambah lagi dengan himbauan : asal tidak lupa dengan kodrat sebagai ibu, oceh deeeh!]
Padahal, kalau dilihat secara etimologis [halah], emansipasi [emancipation] berasal dari bahasa Latin, yakni
ex [bebas, keluar dari] + mancipum [kepemilikan]
atau
emancipare [membebaskan seseorang].
Sedangkan menurut American Heritage Dictionary:
e·man·ci·pate (ĭ-mān'sə-pāt')
tr.v. e·man·ci·pat·ed, e·man·ci·pat·ing, e·man·ci·pates
1. To free from bondage, oppression, or restraint; liberate
2. Law To release (a child) from the control of parents or a guardian.
e·man·ci·pa·tion (ĭ-mān'sə-pā'shən)
n.
1. The act or an instance of emancipating.
2. The condition of being emancipated.
Tapi gara-gara doktrin dongeng Kartini, istilah ini cuma dan cuma dikaitkannya dengan masalah boleh sekolah dan berkarir doang. Udah nggak update tuh! Iyalah, Kartini kan hidup sekitar akhir 1800 awal 1900-an. Tahun segitu, ya yang dipermasalahkan memang kesempatan untuk bisa berkarya di luar ranah domestik. Sekarang? 2007!
Jadi ingat, saya pernah mencuri dengar seseorang [perempuan] yang berada dalam sebuah kelompok berkata bahwa ia merasa beruntung hidup di masa sekarang, di masa ia bisa merasakan emansipasi sehingga dirinya dimungkinkan untuk bersekolah dan bekerja di luar rumah.
Sampai situ, saya masih tidak mempermasalahkan apa pun. Tapi yang nggak banget adalah kalimat tambahan : 'gue kasian deh sama si xxx, kok mau sih ngorbanin karirnya yang udah tinggi untuk menjadi full time housewife? Hari gini ya bo, kok masih ada aja yang gagap emansipasi?'
Nah di sini, saya mulai merasa perempuan tersebut aneh. Maksud saya, kalau ditilik dari definisi, emansipasi adalah : lepas dari ikatan dan tekanan, yang artinya bebas memilih dan menentukan jalan hidupnya. Kalau perempuan tadi menganggap kawannya yang mengorbankan karir karena menikah sebagai orang yang gagap emansipasi, kayaknya kurang tepat deh, siapa tahu kawannya itu memang memilih demikian dan ia melakukan hal tersebut dengan senang hati. Ya nggak? {saya bilang siapa tahu, bisa siapa tahu iya, siapa tahu nggak:P]
Dan, belum tentu juga perempuan-perempuan yang bekerja itu sudah sepenuhnya ber'emansipasi'. Ada sebuah komentar pada entri blog seseorang yang membicarakan masalah Kartini dan emansipasi mengatakan kurang lebih :
Emansipasi, emansipasi. Perempuan sih maunya enak-enakan aja, begitu yang ga enak, dilupain tuntutan emansipasi itu. Coba, buat yang udah menekankan isu-isu emansipasi, mau nggak jadi tukang becak?
Hhh.. kalau saya ditanya, mau nggak jadi tukang becak, tentu jawaban saya : Nggak mau. Pertama karena di Pangandaran saya pernah mencoba mengendalikan becak, susah dan berat bo, dan saya rasa, jika saya jadi tukang becak, kemungkinan keselamatan penumpang tidak terjamin saat jalan menurun . Kedua, karena saya punya pilihan untuk mengerjakan hal lain untuk menghidupi diri sendiri.
Saya pernah kok bertemu dengan perempuan tukang becak di suatu wilayah di Jawa Tengah sana, dari obrol-mengobrol, saya bisa mengetahui bahwa alasannya memilih profesi ini adalah terpaksa, suami [yang tukang becak] sakit keras tapi dapur harus tetap ngebul, sedangkan dia [menurut pengakuannya] tidak punya keahlian apa pun untuk mencari nafkah.
Pertanyaan saya, apakah itu bentuk emansipasi atau bentuk kebebasan? Menggenjot becak karena terpaksa, daripada tidak ada pemasukan? Jika diaplikasikan dengan perempuan-perempuan bekerja kantoran, apakah selalu betul, mereka bekerja karena pilihan, atau karena harus ikut tanggung jawab menghidupi keluarga, karena gaji suami tidak cukup?
Tinggal di rumah, menjadi dewi domestik bagi perempuan itu tidak selalu berarti nggak-melek-emansipasi. Keluar rumah untuk sekolah dan berkarir, belum tentu juga berarti sepenuhnya sudah mengalami emansipasi.
Dan tambahan, bagi saya, kalau ada posisi yang paling sial, adalah perempuan, menikah dan bekerja. Himbauan lingkungan sosial pasti nggak jauh-jauh dari : jangan lupakan kodratmu sebagai perempuan dan ibu yang kurang lebih berarti menuntut serta mengikat mereka untuk menjadi super women - becus di urusan domestik dan lihai di luaran. Repot ya bo. :) Salut aja deh.
Lha, kenapa jadi ngebahas soal bekerja dan tidak bekerja ya?
Balik lagi deh, emansipasi itu bukan masalah dimungkinkan bersekolah tinggi dan bekerja doang, tapi masalah membebaskan diri dari tuntutan serta bisa memilih jalan hidup.
Lepas dari soal boleh bekerja dan berkarir di luar rumah atau nggak, saya rasa perempuan-perempuan hare gene juga belum sepenuhnya bebas dari tuntutan dan memilih jalan hidup.
Apakah semua perempuan memiliki kebebasan memilih untuk tidak menikah tanpa harus mengalami proses panjang menyakitkan melawan lingkungan sosialnya? Percayalah, saya pernah berada dalam fase itu, dan akhirnya menyerah. Okay, saya akan menikah. Kapan? Mbuh. Apakah semua perempuan tidak menikah bisa menjalani hidupnya dengan tenang tanpa ada cap stereotyping : perawan tua?
Berapa banyak perempuan yang berhak untuk menentukan tubuhnya dalam segala hal, tanpa campur tangan dari lingkungan sosial? Misalnya, proses anak-beranak, bisa nggak sih perempuan bebas menentukan ingin punya anak atau tidak. Kalau iya, ingin hamil sendiri, adopsi atau memakai tubuh perempuan lain sebagai inang dari hasil pembuahannya dengan pasangan? Kalau belum menikah, tapi lupa ngangkat dan hamil, boleh nggak dia memilih jalan sendiri tanpa ikut campur sejuta umat dalam lingkungannya: entah itu jadi orangtua tunggal atau aborsi? Okay, untuk aborsi, itu hanya contoh ekstrim. Belum lagi penempatan mitos keperawanan yang bagi saya terlalu berlebihan.
Bisa nggak sih perempuan sepenuhnya bebas dari intimidasi konsep cantik media massa?
Berapa banyak perempuan yang tidak terikat dikotomi perempuan baik-baik dan perempuan tidak baik-baik? Bahwa perempuan baik-baik adalah yang tidak agresif dan tidak menampilkan seksualitas dan perempuan tidak baik-baik adalah yang agresif dan menggoda. Berapa banyak perempuan yang takut bertindak agresif atau menampilkan seksualitasnya karena takut dapat cap buruk?
Bahkan untuk baju juga diurusi, ada nggak sih perempuan yang tidak dilecehkan jika ia memakai baju terlalu minim?
Berapa banyak perempuan yang.... ah sudahlah, masih banyak contoh lain, yang membuat saya berkata : Emansipasi? Emang ada?
Bahwa emansipasi adalah pembebasan.
Sudahkan anda bebas hari ini?
Saya Minum dua! *halah*
BTW, 'saya minum dua' tuh iklan apa sih? Vitacharm ya?
Catatan Penutup:
Tulisan ini, setelah saya copy-paste ke word processor, mengandung 26 buah kata 'emansipasi', eh 27 deng, plus judul. Eh 28 , dengan yang ada dalam catatan penutup ini.
Saya rasa saya mulai terbiasa dan nggak bakal ngerasa geli-geli gimanaa gitu kalau mendengar istilah ini.
Selamat ber-emansipasi, Emansipasi! *maaf, ini untuk membulatkan jadi 30 kata*
Comments (32)
hey tukang becak clumsy..
terima kasih karena telah sukses membuat gue dan aldin ngusruk waktu itu... hahahahah
btw, sakit lho bo, jatuhnya...
Posted by nella | 20 april 2007 20:30
Posted on 20 april 2007 20:30
Banyak salah kaprah deh kayaknya 'Kke soal emansipasi ini.
Banyak juga penyalah gunaan, bukan oleh perempuan malahan, tapi justru oleh lawan jenisnya. Contoh mudahnya: sedihnya kalo lihat lelaki muda gagah dan sehat dengan santainya duduk nyaman di depan seorang perempuan hamil yang berdiri di dalam bis.
And I have to see that every single fucking day.
Di pikiran lelaki ini mungkin, "Lho ? Katanya minta emansipasi. Sama-sama punya hak untuk duduk dong."
Sementara di pikiran saya, "Kasihannya dia. Seumur hidupnya tidak ada yang pernah mengajari tata krama, etiket, dan respek terhadap tulisan --DAHULUKAN WANITA, ORANG SAKIT DAN LANJUT USIA --."
Belum lagi melepaskan kebiasaan memberi atribut untuk perempuan yang kebetulan punya kelebihan.
"Pasti pernikahannya gagal karena si istri terlalu dominan."
Lha ? Terus kalau suami yang dominan apa juga semua orang jadi bahagia? Bagaimana kalau memang si suami tidak punya kapasitas untuk jadi pemimpin, bahkan untuk memutuskan. Mau tidak mau toh, namanya juga kerjasama, bagi2 tugaslah ..
Atau ini ...
"Kalau cewek merokok itu seperti seorang berandal."
Ahem. Maaf ya, bukannya kita nggak tahu resiko merokok, tapi kalau laki-laki masih merokok (with a risk of being impotent !), tidak usah takut ada janin terganggu karena wanita merokok, karena tidak akan ada wanita hamil kalau laki2nya impoten kan ?
Ya, selamat hari Kartini ya 'Kke.
Mudah-mudahan interpretasi kata emansipasi segera kembali ke jalan yang benar.
Posted by Silverlines | 20 april 2007 20:43
Posted on 20 april 2007 20:43
Iklan Yakult bo ;)
(OOT) Getek tuh bukannya yang buat nyebrang sungai? Atau nama penjahat paedophilia (Robot Getek)?
Okaaay, serious, now.
.....
Kok blank, yaa?
Ah, sudahlah. Laper nih. Mau makan dulu pake tambel serasi.. *ngikuttt*
(maab ya.. lagi error hari ini)
Posted by JJ | 20 april 2007 21:22
Posted on 20 april 2007 21:22
hhmmmnnnn,,,,
sampeyan tiyang jawi tho mbak!! hehheheee,,,
well, salut bet dah buat perempuan zaman skarang,,, terkadang kaum laki2 pun kalah dlm beberapa hal dr perempuan, termasuk mslh penghasilan,,,,
Posted by bagoest | 20 april 2007 22:10
Posted on 20 april 2007 22:10
nella : yaaa.. setidaknya, nggak pake gegar otak,kan? Huahah..
silv : heheh, relax, Bun! Tapi emang banyak hal ngeselin sih di sekeliling kita.. ;)
jenny : Makan pake tambel serasi minumnya juk jerus?
bagoest : iya, tapi jamur [jawa murtad], anyway, kok jadi ngomongin kalah menang yaa? Kenapa kesannya ada kompetisi antara cowok dan cewek? eh gue mo buka blog lo kok blank sih;)
Posted by okke | 21 april 2007 00:33
Posted on 21 april 2007 00:33
Loe emang cocok sama "adik tiri" loe ;) Si Ima juga pernah nggenjot becak mini di Taman Mini dan... nggak mau berhenti! Buset, nyewa 15 menit terpaksa gw tambah 15 menit lagi ;)
BTW, loe konsisten ya, Kke?
Kalo gw gak salah itung, ini tahun ke-3 loe menurunkan karya bertajuk emansipasi menjelang 21 April.
Dumdidumdidum
*ohya, itu iklan Yakult ;) Kasihan Yakult, dia yg bikin iklan, yg nangguk brand awareness malah competitornya.. HAHAHA..*
Posted by -may- | 21 april 2007 14:35
Posted on 21 april 2007 14:35
@may :
kalo nyaring, jangan pake salah banget, dong.. kagak pernah kali bo gw ngebahas ginian. Sila dicek di toko lama ;-)
soal yakult, antara emang bukan gue TM-nya atau kegagalan positioning.. hahahah..
Posted by okke | 21 april 2007 14:53
Posted on 21 april 2007 14:53
well,,
terkesan ada kompetisi ya, hhmmmnn, bukannya realitanya kyk gitu???!!! hhehheheee...
tp, gue msh akui kok, perempuan itu adalah ciptaan Tuhan yg plg indah, stuju gak??!!!
blog gue emang gue bikin simple, ya cmn satu postingan aja,,,, bkn blank bgt,,,
Posted by bagoest | 22 april 2007 04:38
Posted on 22 april 2007 04:38
Sudut pandang yang menarik Mbak, soal supir becak perempuan. Kalau terpaksa (karena apapun), apa bisa disebut emansipasi ya?
Posted by Arya | 22 april 2007 17:16
Posted on 22 april 2007 17:16
Baru bisa relaks sekarang, karena udah ngebayangin besok makan siang ayam tangkap.
Nyam nyam nyam.
Tapi ya 'Kke, kenapa juga banyak yang takut sama implementasi emansipasi?
Posted by Silverlines | 22 april 2007 20:15
Posted on 22 april 2007 20:15
Eh? Emang gak pernah bahas Emansipasi ya? Tahun lalu menjelang 21 April loe bahas apaan ya? Bukan Emansipasi ya? Hehehe..
Yo wis kalo salah banget hehehe..
Posted by -may- | 23 april 2007 11:48
Posted on 23 april 2007 11:48
Eh, ternyata gw gak salah banget, cuma salah tanggal doang ;) Tahun lalu nulisnya setelah hari Kartini, bukan sebelum ;)
Nih, maksud gw emansipasi2an di hari Kartini
Dumdidumdidum lagi.. :)
Posted by -may- | 23 april 2007 12:00
Posted on 23 april 2007 12:00
ga baca komentar lain. can't agree more, kke. makanya gue heran, kenapa gak pernah ada yang ngangkat profil ibu rumah tangga yang "hanya" jadi ibu di hari kartini. terutama ketika ibu itu mengambil keputusan itu dengan sadar tanpa paksanaan. bukan sisi ibunya yang dilihat, tapi sisi bahwa dia bebas ambil keputusan ini. hiks.
emansipasi emang sih basi kalo hanya sekedar melihat cewek yang ngerjain kerjaan cowok. kamana waeeeeeee :)
Posted by melly | 23 april 2007 12:51
Posted on 23 april 2007 12:51
31 kali, dapet piring? ;)
Posted by snydez | 23 april 2007 14:30
Posted on 23 april 2007 14:30
kalo nonton di tipi, kayanya penjudulan hari kartini itu kurang tepat. gimana kalo diganti jadi hari kebaya?
kalo nih, dulu tuh kartini lebih suka pake celana panjang, mungkin skarang perayaannya bakal bertabur cewe-cewe berlenggak lenggok pake jins:D
Posted by nYam | 23 april 2007 14:43
Posted on 23 april 2007 14:43
@bagoest :
oh ada ya persaingan? hehehe
@arya:
jangan2 emansipasi emang ga ada, secara semua orang kerja karena BU, hari gini hahah..
@silv:
sesuatu yang pemaknaannya salah, penyampaiannya kadang2 ga simpatik, itu emang mengerikan ga sih?
@may:
itu tentang salah kaprah kodrat bukan salah kaprah emansipasi,say, klo mo dibilang sama, gw blg nggak. Dan gue baru sekali, jadi tetep, elo salah banget ;-)
@melly:
maneh tah, nu kamana waeeee... hahah anak bandung di jakarta yeuh? betah teu?
@snydez :
31 mah biasanya payung...
@nYam:
gimana kalo hari... mukti? *bletagh*
Posted by okke | 23 april 2007 16:12
Posted on 23 april 2007 16:12
Thanks atas pembahasan arti sec. etimologi-nya. Selama ini yang terbersit kalau ngomongin emansipasi, ya kesetaraan. Tapi ternyata kalau dibahas lagi, jauh juga bedanya, ya, Kke? *LOL*
Posted by indrasari | 23 april 2007 16:44
Posted on 23 april 2007 16:44
emansipasi?... kayaknya disaat cewe bisa mengerjakan kerjaan pria dan kerjaan wanita dengan sama baiknya... baru de bisa dibilang emansipasi wanita...
tapi... kalo cowo bisa mengerjakan kerjaan pria dan kerjaan wanita dengan sama baiknya... ko ga ada yang bilang emansipasi pria si... apa mereka segitu dominannya ya didunia ini... sampai-sampai mereka ga perlu menyesuaikan diri lagi...
sedangkan cewe?...
Posted by mela | 23 april 2007 18:55
Posted on 23 april 2007 18:55
nda pernah bosan sayah baca blog ini
sangat emansipatif *tuink*
[emang ada yah istilah ituhw? sayah mengada-ada kannya saja :D]
sangat membebaskan pemiliknya untuk menginspirasi orang laen, dan memberi pelurusan yang sedikit banyak tentang kesalahkaprahan yang mendarahdaging.. *sigh*
met hari kartini mbak okke ^_^
Posted by eva | 23 april 2007 20:01
Posted on 23 april 2007 20:01
@indrasari :
mayan, jauh juga hehehe
@mela:
seharusnya emansipasi itu buat pria dan perempuan kok, selama artinya pembebasan ;-)
eva: met hari kartini dan met hari senin, Va :)
Posted by okke | 23 april 2007 21:42
Posted on 23 april 2007 21:42
"itu tentang salah kaprah kodrat bukan salah kaprah emansipasi"
Lha, bahasan loe tahun lalu bukannya tentang emansipasi yang secara tidak langsung diartikan sebagai menyalahi kodrat? Sehingga hari Kartini (yang notabene diasosiasikan dengan hari emansipasi) harus dirayakan dengan lomba2 keputrian yang lebih sesuai kodrat ;)
Kalo kata biologi mah spesiesnya beda, tapi genusnya sama.. hehehe..
*boleh nyanyi lagi gak ;)?*
Posted by -may- | 24 april 2007 15:47
Posted on 24 april 2007 15:47
@may:
oh, jatuhnya jadi sama ya? Seperti tulisan2 iris mengiris kurva nilai yang dikemas beda2 ? ;-) ya wis, gue setuju deh, apa sih yang enggak buat jeng Maynot? hehe
Posted by okke | 24 april 2007 16:58
Posted on 24 april 2007 16:58
wah..
kalo gitu, koran2 dan tipi2 salah gitu dong ya?
salam kenal mbak!
Posted by aulia | 24 april 2007 17:02
Posted on 24 april 2007 17:02
Ha ha mbak okke baru tau ya bahwa hidup manusia itu udah dibikinin "Template" sama para leluhurnya jadi tinggal ganti ganti subyeknya saja persis seperti sinetron Indonesia yang cuma ganti judul sama nama peran, jalan cerita dan yang memerankan sama.
Kalau anda melawan Template yang sudah dibuat anda dianggap aneh. Anda memilih nggak kawin dianggap aneh, anda memilih meninggalkan kedudukan yang nyaman untuk sesuatu yang belum jelas dianggap aneh. "Template hidup yang ideal " sudah dibuat oleh para leluhur tinggal kita saja menjalani dan memilih mau tunduk atau melawan?
Posted by senopati | 24 april 2007 19:41
Posted on 24 april 2007 19:41
"oh, jatuhnya jadi sama ya? Seperti tulisan2 iris mengiris kurva nilai yang dikemas beda2 ? ;-)"
Hehehe.. kan komentar awal gw memang "loe BTW, loe konsisten ya, Kke?" Konsistensi itu sebuah komplimen buat loe.. hehehe.. karena berarti loe tahu apa yg loe tulis, benang merahnya jelas, gak mencla-mencle ganti haluan.
*makanya gw takjub kenapa loe malah mati2an bilang ngurusin "beda kemasan"nya ;) Dipuji kok ngamuk.. hehehe.. *
Posted by -may- | 24 april 2007 20:05
Posted on 24 april 2007 20:05
>Banyak salah kaprah deh kayaknya 'Kke soal emansipasi ini.
Banyak juga penyalah gunaan, bukan oleh perempuan malahan, tapi justru oleh lawan jenisnya. Contoh mudahnya: sedihnya kalo lihat lelaki muda gagah dan sehat dengan santainya duduk nyaman di depan seorang perempuan hamil yang berdiri di dalam bis.
And I have to see that every single fucking day.
Di pikiran lelaki ini mungkin, "Lho ? Katanya minta emansipasi. Sama-sama punya hak untuk duduk dong."
Sementara di pikiran saya, "Kasihannya dia. Seumur hidupnya tidak ada yang pernah mengajari tata krama, etiket, dan respek terhadap tulisan --DAHULUKAN WANITA, ORANG SAKIT DAN LANJUT USIA --."
mungkin bukan itu yg dipikir si lelaki tapi → kalo anda berdiri di kendaraan umum maka otomatis anda akan jadi lebih rentan untuk kecopetan. mungkin si lelaki juga punya istri yg tengah hamil tua dan simply can not afford to be kecopetan?
off the record : waktu itu apakah anda lantas berdiri dan mempersilahkan si ibu duduk?
Belum lagi melepaskan kebiasaan memberi atribut untuk perempuan yang kebetulan punya kelebihan.
"Pasti pernikahannya gagal karena si istri terlalu dominan."
menuding pihak lain sebagai biang kegagalan perkawinan ato apa pun jua bukan semata monopoli lelaki. gagal nya perkawinan (cerai?) lebih tepat dipandang sebagai suatu realita bahwa some people are simply not obsessed with the idea of being married.
>Lha ? Terus kalau suami yang dominan apa juga semua orang jadi bahagia? Bagaimana kalau memang si suami tidak punya kapasitas untuk jadi pemimpin, bahkan untuk memutuskan. Mau tidak mau toh, namanya juga kerjasama, bagi2 tugaslah ..
mungkin ada penjelasan yg lebih simpel : setelah menikah si suami baru sadar bahwa ternyata pernikahan nya tak seindah yg dibayangkan dan bahwa being single was the best thing that ever happened to him.
Atau ini ...
"Kalau cewek merokok itu seperti seorang berandal."
Ahem. Maaf ya, bukannya kita nggak tahu resiko merokok, tapi kalau laki-laki masih merokok (with a risk of being impotent !), tidak usah takut ada janin terganggu karena wanita merokok, karena tidak akan ada wanita hamil kalau laki2nya impoten kan ?
stereotipe sexist tsb bisa dirontokkan asal para tokoh wanita di segala bidang serentak pada mulai merokok sehingga nanti akan muncul stereotype baru : a smoking woman is a successful, cool, confident and mature woman.
Posted by nacho libre | 24 april 2007 20:16
Posted on 24 april 2007 20:16
@aulia:
salam kenal balik.. :)
@maya:
iya deeeehhhh......
@senopati:
oh dibikin template ya? Padahal setau gue manusia punya kebebasan untuk interpretasi dan nyari maksud Yang di Atas buat masing2 individu. :)
@nacho libre:
hueheu, dianya posting kemungkinan2 di sini. Mungkin aja sih, semua yang dijabarin adalah alasan2 dari kenapa pernikahan gagal, kenapa orang ga ngasih tempat duduk, atau cara agar perempuan merokok ga dpt cap buruk dst. Bebas, kan entri ini temanya membebaskan diri.. hehe
Posted by okke | 24 april 2007 21:29
Posted on 24 april 2007 21:29
"Template hidup yang ideal" sudah dibuat oleh para leluhur tinggal kita saja menjalani dan memilih mau tunduk atau melawan?
Kalo gue sih (jujur) bisa ngelawan kalo gak sejalan ama isi hati (cahhh..). Dan gue agak kurang sreg aja ama pemakaian kata 'tunduk' itu, hehe..
Ga mau ah bernasib kaya sinetron yang cuma ganti nama ama judul, soalnya yang kaya gitu biasanya paling banyak dicela, heheh.. (iya deh gue ngaku, gue sering nyela2 sinetron model begituan) *wink*
Posted by JJ | 24 april 2007 22:15
Posted on 24 april 2007 22:15
pernah nulis ttg hal yg sama di sini :D
Posted by yanti | 25 april 2007 10:33
Posted on 25 april 2007 10:33
Yang lebih menggelikan adalah apa yang didoktrinkan media tentang apa itu "Emansipasi wanita"?
Emansipasi wanita selalu dikaitkan dengan kemampuan wanita untuk bisa melakukan apa yang dikerjakan oleh laki-laki. Misalnya wanita yang nyopir bus, jadi kondektur, jadi pemanjat kelapa.. dll... "ih luthuna" media di negeri kita...
Setuju terhadap pendapat bu Okke, emansipasi adalah kebebasan dalam menentukan pilihan, khususnya pilihan dalam hidup... tanpa pengaruh orang lain...
Posted by sunardi | 26 april 2007 13:45
Posted on 26 april 2007 13:45
aku boleh tau ngga dimana alamat tuh tukangbecak????
tolong balas secepatnya...ya...cinta....
thanx...
btw..gw rizky
Posted by rizky | 11 mei 2007 12:40
Posted on 11 mei 2007 12:40
Kira-kira abad Enambelas adalah transisi antara post Middle Ages dan era liberalisasi pemikiran tentang berbagai konsep; kemanusiaan, agama, ekonomi, politik, dan realisasi indrawinya antara lain wujud kebudayaan.
Tokoh-tokoh motor dalam konteks ini antara lain, Spinoza, Moses Mendelsson, George Fox, Martin Luther King, John Lock, Montesque, Muhammad Abduh, Syeh Muhammad Rasyid Ridlo, Jamaluddin Al-Afghoni, dll.
Dalam konteks perkembangan sekte-sekte pada komunitas yahudi yang ada di zaman sekarang; orthodox Judaism, reform Judaism, conservative Judaism, reconstructionints, kabbalistic, dll -yang sebelumnya tidak ada sekte-sekte ini- adalah tidak terlepas dari hasil perhelatan transformasi pemikiran berawal di abad enam belas, yang berembrio dari revolusi pemikiran seorang akademisi Yahudi, judeo-komunism, Baruch Spinoza of the Netherland (1632 – 1677), kemudian dikembangkan oleh tokoh Modern Orthodox Jew, Moses Mendelsson di Jerman, ditambah dengan akulturasi kebudayaan pemikiran setempat di Eropa.
Maka muncullah identifikasi kolompok-kelompok, antara lain Askenazi Jewry Mainly di German. Sephardim jewry yaitu ex jews of spain yang tinggal di daratan northen Africa seperti tunis, aljazair, morocco, juga di Italia. Khasidic jewry yaitu group jews yang memertahankan traditional culture seperti jenggot panjang, rambut di atas telinga tidak boleh dipotong dan kelihatan kliwir-kliwir.
Sementara di eastern part of Europe dan Russia dimana terdapat mayoritas Yahudi di dunia pada saat itu adalah umatnya nabi Spinoza, nabi komunis, seperti yang di Hungaria, Romania Polandia, Ukraina dll. Tokoh yang menyebarkannya di daratan Russia, Spinoza mengajarkan sikap skeptis kepada “Tanach” (Torah Nevi’im u Ktuvim), istilah kitab suci yahudi yaitu Perjanjian lama menurut orang Kristen, di kemudian hari. Lantas Spinoza’s ideology seolah mendapatkan angin dari para akademisi lainnya seperti sang hypotheticiant, Darwin dengan teori evolusinya, dan para sekuler lainnya yang itu berakibat nyata terhadap perkembangan teologi sekular di berbagai komunitas penganut agama-agama.
Spinoza semangat mengajarkan ideologinya karena terinspirasi untuk mereformasi internal jewish tradition yang dianggapnya jumud (kaku), tidak tegar, sehingga Yahudi kerap dianggap kelas nomor dua di negeri perantauan, khususnya di tanah Eropa. Pada prinsipnya Spinoza bermaksud membuat rekonstruksi internal teologi dikomunitas yahudi yang menurutnya sangat kondusif dengan perjuangan Jews emancipation di tengah komunitas Eropa. Di kemudian hari disebut era enlightenment atau dalam bahasa popular orang Yahudi disebut era haskalah (bahasa ibrani).
Lahirnya istilah “Emansipasi” atau ”Khalachah” (syariahnya orang yahudi) pada dasarnya telah terbangun secara evolutif melalui waktu yang berabad-abad sejak biblical era jauh sebelum masehi, berlanjut dengan codification era di akhir pra masehi sampai kira-kira tahun 200 M, oleh Tanna’im Rabbis. Selanjutnya Khalachah berkembang pesat di era talmudic oleh Amora’im Rabbis, sampai kira-kira tahun 500 M, kemudian Khalachah berakulturasi dengan syari’ahnya orang Islam sejak abad tujuh masehi hingga terkodifikasi buahnya di kitab Misneh Torah oleh Rabi Maimonides (Musa Bin Maimun) of Spain di abad 13 yang later menjadi dokter istana di pemerintahan Jendral Sholahuddin al-Ayubi di mesir pada masa perang salib.
Khalachah ini selanjutnya dimusnahkan tradisinya oleh komunitas Yahudi komunis di bagian timur Eropa. Sedangkan Di bagian barat, Reformasi Judaism lahir sebagai respon traditional Judaism pada ajaran Khalachah yang sudah berabad-abad. Salah satu indikasinya antara lain; Saturday prayer congregation dilaksanakan dengan bahasa Jerman yang menurut tradisinya, berbahasa Ibrani, seperti orang Islam sholat berbahasa Arab. Bagi yang tidak ikut trend reform Judaism selanjutnya diidentifikasikan sebagai ortodoks.
Adapun bagi mereka yang tercap sebagai kaum ortodoks pun tidak merasa keberatan dan malah bangga, dari tengah-tengah mereka lahirlah cikal bakal Orthodox Judaism yang amat memertahankan tradisi. Sedangkan pihak-pihak yang tergabung di reform community, namun tidak puas dengan sekularisasi di dalamnya, walaupun sudah kadung bersitegang dengan kamu orthodoks, lalu memisahkan diri dan membuat kubu yang menamakan diri mereka grup konservatif. Conservative Judaism pun lahir.
Antara abad 16 dan 20, Yahudi Eropa dan Rusia berimigrasi ke Israel, demikian pula yang berasal dari Amerika Serikat, Argentina, dan negara-negara yang berada di daratan benua Amerika lainnya. Proses akulturasi bertambah luas.Tragedi Holocaust di abad 20 yang menimpa Jews, the chosen people, the special people of God menjadi preseden yang benar-benar menguncang konsep teologi Judaism, Yahudi semakin manggut-manggut kepada nabi Spinoza.
“What a God. How could, we as the chosen people has been exterminated nor the Bad people as what Hitler’s did was a victorious.”
Semua konsep tradisional pada masa awal para Rabi Judaism dikoreksi habis-habisan. Mosi tidak percaya. Segala sejarah masa lalu yang parallel dengan kisah Jews vs Hitler; seperti pengusiran Yahudi dari Spanyol oleh Kristen di tahun 1492 enam bulan setelah pengusiran umat Islam, Pemaksaan pemindahan agama oleh misi kristenisasi di tahun 300 - 400an, dan pada abad 12-13 di masa Gereja, diungkit semuanya secara detail di kampus-kampus, perpustakaan-perpustakaan, penelitian, Koran, dan media lainnya. Hasilnya antara lain kampanye kultur dereligiousisasi semua institusi yang dianggap potensi mengulang sejarah pahit akibat religious fanatism.
Bibit sekulerism pun muncul. Semua sekolahan di Amerika disekulerkan dari tingkat Kindergarthen (TK) sampai perguruan tinggi. Sistem negara diharamkan terkait dengan urusan agama, imbasnya juga kepada blue print peta politik international. Semua yang berbau religious diseluruh dunia didevinisikan sebagai ancaman. Fenomena khomaini naik mengalahkan boneka Pahlevi di tahun 1979 dan kemenangan partai Islam di Al-Jazair benar-benar dianggap ancaman yang bisa mentrigger lahirnya kekuatan keagamaan di seluruh dunia, begitu juga dalam dunia Islam. Sementara pada konteks lain berkembang di waktu yang sama ego kaum wanita yang merasa tereliminasi oleh kaum pria ketika menuliskan kembali sejarah, bangkit ikut meramaikan keruwetan dunia yang sedang berlangsung.
Literatur-literatur para Rabi (Rahib orang Yahudi) yang bersifat maskulin atau yang ditulis para Rabi laki-laki, -dan memang tidak pernah ada rabbi perempuan dalam sejarah sebelum modern, dimusnahkan. Karena perempuan menurut literatur sejarah dan ajaran khalachah adalah in state of peripheral dan marginal. Kebangkitan kaum perempuan pun juga ikut didengungkan. Istilah Emansipasi yang dulunya applicable untuk perjuangan pensetaraan kaum yahudi di tengah masyarakat eropa di era haskalah, sekarang istilah ini diadopsi kaum perempuan, dan ditambahi embel-embel wanita. Lahirlah bayi “Emansipasi Wanita”.
Noticeable event yang mengakomodasi perjuangan Emansipasi Wanita antara lain konferensi international tentang wanita diadakan di China, di Copenhagen, Den Mark. ICPD, International Conference on Population and Development yang diadakan di Kairo, Mesir. Norwegia adalah diantara yang paling vocal memerjuangkan kebebasan seks, kawin lesbian dan homosexual. Sementara Muhammad Ali Jaddul Haq, Syaikhul Azhar Ell-Syalthout (al-marhum) tetap berkomitmen dengan Paus Paulus of Roma, mengoposisi sikap arogan pihak Norwegia.
Sejalan pada era koreksi terhadap semua classical rabbinic literature yang sangat masculinist itu, para feminis Yahudi menggrupkan diri dalam sebuah sekte bernama reconstructionist Judaism. Fenomena baru bermunculan; Rabi wanita, bertugas memimpin doa di sinagog-sinagog, konsultan masalah-malah personal umatnya, dan sebagainya. Seperti layaknya Kiai. Di lain pihak sebagian Yahudi Amerika mendaur ulang dogma Spinoza dan menginstitusikan diri dalam sebuah agama baru Amerika, agama tanpa tuhan, dan tanpa konsep akhirat, yaitu the Ethical Society yang cabangnya ada seluruh kota di Amerika Serikat, dan berpusat di New York, The Ethical Union. Ajaran inilah yang sampai sekarang menjadi backbone dari invasi dan hegemoni politik dan budaya Amerika Serikat, masihkah Islam berdiam diri? Jika kita mampu membebaskan penjajahan ini dengan Islam, mengapa tidak?
Posted by kupret el kazhiem | 05 juni 2007 11:03
Posted on 05 juni 2007 11:03