Gara-gara memutuskan untuk menyicil sebuah barang yang saya pikir tidak bakal diperlukan, saya jadi panik. Bukan takut nggak bisa bayar, budget cukup kok. Cuma saya sangat tidak suka konsep barang ada, bayar belakangan. Walaupun partner bilang menyicil dan menghutang itu beda, apa boleh buat, saya tidak bisa melepaskan pola pikir seperti ini.
Kepanikan saya berujung pada obrol-obrol ringan di sebuah tempat. Saya mengajukan pernyataan, butuh side job. Teman saya bingung, karena sudah lama saya tidak menjadi peminta-minta kerjaan, mungkin terakhir tahun 2004, sebelum akhirnya saya mendapat pekerjaan tetap [yang artinya, sudah 3 tahun saya bekerja kantoran. Hm, waktunya terbang lagi,kah?]
“Gi nggak ada kerjaan. Kalo butuh duit lo jual apa kek…kayak dulu.” Serunya sambil meledek. Sialan, rupanya dia tidak pernah lupa masa-masa saya menjual arloji, yang dia sebut sebagai masa saya sebagai ‘Gengsianus bangetus’, artinya spesies yang kekeuh mencoba tidak minta-minta uang dari orang tua [padahal miskin].
Ketika saya tanya ‘Jual apa?’ jawabannya adalah ‘Jual apa,kek… hari gini apa sih yang nggak bisa dijual?’
Dia sangatlah benar. Apa coba yang nggak bisa dijual hari gini? Bahkan ‘ideologi’ pun dijadikan komoditas pencetak duit.
Saya ingat di masa-masa ketika terlalu banyak orang memakai aksesesories berpaku sekitar dua tahun lalu. Duh, sampai pusing melihat seluruh toko bahkan lapak kaki lima menjual aksesoris macam ini. Tambah puyeng lagi begitu mengintip majalah-majalah yang menampilkan aksesories macam ini di rubrik to-die-for dan diberi judul : Punk-licious.
Teteh dan Akang Punk Gaya. itu julukan saya pada mereka.
Yup, mereka memakai produk fashion hasil adopsi dari elemen kebudayaan subculture punk. Saya percaya, sama seperti saya, tidak semua pemakai sangat khatam mengenai subculture ini. Bahkan, mungkin saja ada yang sama sekali tidak mengerti bahwa apa yang mereka pakai adalah elemen hasil refleksi dari ideologi punk.
Jika ada tanya jawab, kemungkinan bentuknya akan seperti ini
T : Punk itu apaJ : Itu lho, mas-mas berambut warna-warni mohawk yang suka nongkrong dan ngamen di belakang Bandung Indah Plaza zaman dulu.
Lalu jangan lupa, ada salib. Bahwa salib adalah elemen ideologi umat pengikut Kristus, yang menyimbolkan pengorbanan, memberi teladan bahwa jika ingin seperti Kristus, maka yang harus dilakukan adalah mengorbankan diri.
Pada perkembangannya sekarang, salib dijadikan symbol identitas kelompok. Pemakai merasa bahwa dengan memakai salib, maka ia telah masuk menjadi kelompok Kristen. Kemudian, symbol pengorbanan tersebut dijadikan sebagai hiasan dinding, kalung, penghias sampul alkitab dan lain-lain.
Dan, ini dia, kasus terakhir, hari itu, sekitar awal tahun, saya berada di sebuah tempat penjualan produk-produk fashion bergaya, dengan maksud untuk membelikan sebuah tshirt bagi ABG favorit saya. Ketika sedang asyik memilih, tiba-tiba saya mendengar dialog antara sepasang remaja, kira-kira masih SMP.
“Ini tshirt, lucu banget ya?”
“Iya, tapi itu gambar siapa sih?”
“Ini tuh Che, tauu..”
“Itu teh siapa?”
“Gue juga nggak yakin, tapi kalo ditaro di tshirt gitu, biasanya berhubungan dengan musik.”
“Kayaknya sih, penyanyi reggae ya?”
“Iya kali… gue beli ah, tshirt ini.”
“Gue juga, keren.”
Okay, kalau saja salah satu dari remaja tersebut tidak menyebut Che [Guavara], mungkin saya bisa berpikir positif [yang mana adalah salah satu resolusi tahun baru saya : berpikir positif], mungkin dia kleru dengan Bob Marley.
Iya sih, waktu seumur mereka, saya juga tidak tahu siapa itu Che Guavara, dan sempat juga terlintas bahwa Che yang ada di t-shirt orang-orang adalah musisi entah apa. Tapi setidaknya saya tidak berminat membeli t-shirt yang bergambar orang yang tidak saya kenal.
Akhirnya, untuk menghindari rusaknya resolusi tahun baru lain [yang mana adalah : berhenti mencela orang yang dikenal maupun tidak secara verbal, gesture maupun dalam hati], saya cuma menggigit bibir, menahan tawa yang nyaris menyembur.
Aduh, tobaaat.. tobaaat…
Begitulah, ketika semua elemen ideologi diadopsi oleh kelas-kelas tertentu yang dominan aka industri kapitalis, maka elemen tersebut akan berubah menjadi sesuatu yang centil, nan to-die-for atau must-have.[ Tapi jika permintaannya menurun akan menjadi sesuatu yang oh-so-last year.]
Dan saya rasa, bukan hanya aksesories berpaku, salib dan Che saja yang jadi centil, tapi semua hal!
Saya membayangkan jika muncul di majalah-majalah mungkin akan disertai tulisan-tulisan macam ini:
Ikat pinggang berpaku? It’s oh so last year.
Oh My God! Kalung salib perak imut centil is really to-die for
T-shirt Che pas badan emang must-have, lagiii…
Lihatlah, kalau ideologi saja bisa jadi duit, apa yang enggak?
*Hela nafas panjang*.
Oh iya, balik lagi. Ingin tahu apa yang saya jual untuk mendapatkan uang demi cicilan? Nggak ada. Sekali lagi, budget cukup, saya Cuma panik dan tidak suka ‘merasa’ berhutang.
Sial.. dengan mempublikasikan entri ini, berarti rusak sudah dua di antara sekian resolusi tahun baru saya. Padahal ini baru bulan Maret!
Ya sudah, sekarang saya harus pergi, menghukum diri.
HAPPY WEEKEND!
Comments (26)
Ya sudah, sekarang saya harus pergi, menghukum diri...dengan indehoyyy!! lah gua juga tahu!!....halaahh.it's sooo last year..jaman emak masih muda...:p
Posted by emak#2 | 01 maart 2007 17:57
Posted on 01 maart 2007 17:57
ini kan baru hari kamis mbak okke.... Enaknya udah liburan...
Posted by swad | 01 maart 2007 20:09
Posted on 01 maart 2007 20:09
Cuma saya sangat tidak suka konsep barang ada, bayar belakangan. Walaupun partner bilang menyicil dan menghutang itu beda -->
Tah kenapa.. saya kok selalu merasa, mau judulnya nyicil, kredit atau apapun, selama masih belom lunas ya artinya teteup NGUTANG.. Jadi bawaannya males kalo mo nyicil. Seringnya saya milih nabung sampe duitnya cukup (dan biasanyaaa, pas uangnya udah kekumpul, gue udah gak pengen lagi saking kelamaan - hehe)
Believe it or not, sampe umur 23 gini gue belom pernah punya credit card! Kadang tergoda juga pengen bikin, masalahnya gue tuh termasuk spesies langka yang ga bisa tidur kalo inget utang, terutama utang duit...
Posted by JJ | 01 maart 2007 21:15
Posted on 01 maart 2007 21:15
emak#2 : aduuh, bisa ga sih ga pamer indehoy di depan gue?
TRIVIA
Indehoy berasal dari bahasa belanda, in het hooi, artinya dalam gudang jerami. Jadi orang belanda ngaps ya di gudang jerami? dan omong2, dikau gak di gudang jerami kan?
swad : kan mau menghukum diri?
JJ : hehe, kalo sistemnya nyicil tanpa bunga, emang lbh untung nyicil daripada bayar lunas *ehm, ini pembenaran bukan ya?*
Posted by okke | 01 maart 2007 22:33
Posted on 01 maart 2007 22:33
Untung nggak sampai harus jual diri demi tidak berhutang ya, Kke ;)
Che, Che.. I used to love him.. until a bunch of distros turn him into nothing more than just another pop icon :(
Posted by -may- | 02 maart 2007 10:39
Posted on 02 maart 2007 10:39
inget komentar seseorang yang terkaget-kaget karena gue kagak pake kartu kredit, tapi waktu kemaren itu gue nyicil satu barang itu (taulah elu yang mana!), dan pembenaran lain buat elu: nyicil itu membuat gue nabung dan sadar gue bisa nabung
namanya juga pembenaran, kke
Posted by melly | 02 maart 2007 11:41
Posted on 02 maart 2007 11:41
gw 27 tahun. dan masi belom punya dan belom mau punya credit card. penting ga sih? speaking of Che. Di film the lost city Che nya bikin ilfeel...
Posted by swad | 02 maart 2007 13:49
Posted on 02 maart 2007 13:49
may : Biasanya sih gue jual [kemampuan] diri semaksimal mungkin sampe sakit.. tapi kapok..huehe.. BTW,tetep cinta walopun orang2 menjadikannya sebagai ikon pop... :D
melly : barang itu milikmu yang bikin mupeng? Haha..pembenaran itu melegakan emang :D
swad : sama aja lah, kayak hp, penting ga sih hp? Semua hal bs jadi penting dan ga penting, tergantung orang n kebutuhan :) BTW, aduh, terkutuklah film2 yang bikin tokoh2 keren jadi bikin ilfil. hehe..
Posted by okke | 02 maart 2007 14:29
Posted on 02 maart 2007 14:29
mungkin Che bakalan bangkit dari kubur kalo dia ternyata dipake jualan buat kaum kapitalis
hihihi
Posted by yoyok | 02 maart 2007 18:06
Posted on 02 maart 2007 18:06
pada awalnya, saya [juga sempat] mengira bahwasanya che itu seseorang seperti bob marley *wink* tapi lantaran penasaran, menanyakan pada orang-orang disekitar saya bukan hal yang memalukan, dan lebih lengkapnya lagi, pengguna internet kok, ogah-ogahan menggunakan search engine yang ada di internet.. maka jadilah.. akhirnya saya ngerti, paling nda, che guevara tidak seperti bob marley :D
met wiken mbak.. ^_^
Posted by eva | 02 maart 2007 18:36
Posted on 02 maart 2007 18:36
adohw, keselip huruf e dan a nya, guavara deunk.. mudah-mudahan bapak che ga bangkit dari kubur gara-gara saya salah ketik.. maafkan...
Posted by eva | 02 maart 2007 18:55
Posted on 02 maart 2007 18:55
Nenekku ampe meninggal di umur 81 taon seumur idup nggak pernah punya kartu kredit dong, canggih!
Tapi lebih canggih lagi Nabi Musa. Ampe umur 120 taon nggak pernah punya kartu kredit.
Biarpun itu masih nggak ada apa-apanya dibandingin Methuselah, 969 taon tanpa punya kartu kredit, 'bo!
Posted by Dodol Surodol | 03 maart 2007 00:07
Posted on 03 maart 2007 00:07
"Sial.. dengan mempublikasikan entri ini, berarti rusak sudah dua di antara sekian resolusi tahun baru saya. Padahal ini baru bulan Maret!"
Loe sih, dulu bikin resolusinya gak pakai kartu kredit. Kalo pakai cicilan setahun, dan baru 3 bulan rusak, barang boleh kembali.. HAHAHAHA..
Posted by -may- | 03 maart 2007 09:10
Posted on 03 maart 2007 09:10
yoyok dan eva : kalo che bangkit dari kubur, mungkin bakal muncul film horor 'Kembalinya Che' yang dikasih label : berdasarkan kisah nyata. :D
Dodol : Yoi, umur nyaris 30-an blom dan ngerasa ga perlu pake kartu kredit sih bukan kabar spektakuler ya? *wink*. BTW, thanks udah masangin captcha...
may : resolusi gue dibayar pake kesadaran bo. Kan blom ada kartu kredit kesadaran. :D
Posted by okke | 03 maart 2007 15:56
Posted on 03 maart 2007 15:56
Yang spektakuler itu kalo jelang 30, belon pengen punya kartu kredit tapi udah jadi juara dunia bultang. Nah, boleh deh bangga.
Posted by Dodol Surodol | 03 maart 2007 20:15
Posted on 03 maart 2007 20:15
"Yang spektakuler itu kalo jelang 30, belon pengen punya kartu kredit tapi udah jadi juara dunia bultang. Nah, boleh deh bangga."
Doyan bultang ya? hehe..
"Sial.. dengan mempublikasikan entri ini, berarti rusak sudah dua di antara sekian resolusi tahun baru saya. Padahal ini baru bulan Maret!"
Haha... AWAL Maret pula!
Eniwei, bukannya resolusi itu emang untuk dilanggar? :P
Posted by JJ | 03 maart 2007 23:31
Posted on 03 maart 2007 23:31
gimana kalo eskrim aja!? guilty as charged! lhoo... lhoo... ini komen kok makin ngga nyambung ya teh? hehehe!
Posted by dodY | 06 maart 2007 00:52
Posted on 06 maart 2007 00:52
tiap kali gw baca postingan elo, gw kok ngerasa postingan elo itu 'dalem'-'dalem' semuanya ya? tapi enak dibaca...
Posted by roi | 06 maart 2007 19:14
Posted on 06 maart 2007 19:14
gw abis baca Da Peci Code... intinya tentang yang kamu bilang ini. orang seringkali terjebak pada simbolisasi ;)
Posted by yanti | 07 maart 2007 13:35
Posted on 07 maart 2007 13:35
dodol : atau yang belum 30 tapi.... *dibahassss*
JJ : oh iya ya? harusnya dilanggar? Klo gt gue bener dong hehe
dody : ogah ah es krim, lagi dingin2 gini.. *ga nyambung juga teteub ditanggep* :D
roi : ha? serius? Ahh, saya harus liburan sepertinya... :D
yanti : Oooooh.. Da Peci Code tuh itu isinya! Gw pas baca judulnya udah males aja, kirain plesedan *pake d* gitu hehe
Posted by okke | 07 maart 2007 14:32
Posted on 07 maart 2007 14:32
gimana kalo mbak okke nyiptain tren... siapa tau pada ikutan...
lumayan atuh... bisa dapet royalti... hehehe
Posted by mela | 07 maart 2007 19:17
Posted on 07 maart 2007 19:17
ikutan nimbrung yah..
gw juga ampe se-gede ini blm pernah punya yg namanya CC...padahal tmn" gw udh pd punya aja gt..kadang suka mupeng juga si..kmn mana tinggal gesek ajah..walopun klo udh mereka menjerit-jerit bayar tagihannya..:):)
Posted by ael | 08 maart 2007 11:07
Posted on 08 maart 2007 11:07
Setelah nonton Oprah ttg kebohongan2 CC, gw berniat gak bakal pakai CC. Kartu kredit kan arti harfiahnya kartu utang. Gak lah yaw!
Posted by mirna | 09 maart 2007 20:41
Posted on 09 maart 2007 20:41
mela : jalo ada royalti menjadi trend-setter, lucu juga. Eh tapi trend kan gak ada yang baru, siklus doang... :D
ael & mima : laaahhh, jadi ngebahas kartu kredit.. :D ya wis, bebas lah...
Posted by okke | 10 maart 2007 11:38
Posted on 10 maart 2007 11:38
blom punya kartu kredit, tapi keknya kalo udah nikah dan berumah tangga punya kartu kredit mesti jadi kewajiban ya,, secara bakal banyak kredit buat rumah, mobil hehehe
Posted by mutiaramaya | 23 maart 2007 15:22
Posted on 23 maart 2007 15:22
klo liburan aku mo ikut
Posted by putra | 25 april 2007 15:55
Posted on 25 april 2007 15:55