« Punk, Salib dan Che Yang Centil | Main | Gara-gara Lift Yang Anjlok »

Konversasi Sambil Menunggu Si Bocah Petualang

“Cantik yang putih, rambut panjang dan langsing lagi musim ya?” Celetuk teman saya, beberapa waktu yang lalu, pada jeda iklan pada acara si Bocah Petualang favorit, ketika melihat tayangan iklan yang menggunakan sosok perempuan.

Saya langsung menyetujuinya begitu melihat iklan-iklan lain, yang kebanyakan juga memakai sosok perempuan dengan tampilan sejenis : kulit putih, langsing, rambut panjang terurai, hidung mancung dan sebagainya dan sebagainya. Dan kalau dilihat-lihat lagi, bukan hanya iklan saja, tapi juga sinetron, majalah, film layar lebar, dan entah apa lagi….semua beramai-ramai menampilkan perempuan dengan standar kecantikan demikian.

Biasanya tidak berhenti sampai menampakkan sosok-sosok macam itu, tapi sering diiringi dengan pesan : bahwa perempuan-perempuan macam ini lah yang diminati di segala bidang, kalau penampakannya tidak demikian, modar lah kau, wahai perempuan, di segala urusan, mulai dari percintaan, pergaulan bahkan sampai karir.

Ingat iklan Pond’s, versi seorang ballerina tidak lolos audisi karena kulitnya tidak putih? Atau iklan Tropicana Slim untuk jenis produk yang saya lupa apa tepatnya, pokoknya menampilkan seorang perempuan yang sedang mengepas baju, sedangkan pasangannya membaca majalah, karena tubuh sang perempun dianggap tidak terlalu sempurna, maka sang laki-laki melihat si perempuan sambil ‘memasangkan’ tubuh model dalam majalah? Memberi pesan bahwa ia sama sekali tidak berminat dengan pasangannya,

Kami berdua menyebut putih-langsing-rambut-panjang sebagai trend cantik terkini, karena pada dasarnya konsep cantik itu bisa berubah. Tubuh manusia, bukanlah tubuh fisik secara biologis saja, tapi juga sebagai artefak simbolis yang diatur oleh budaya. Dalam kebudayaan ada kekuasaan yang mampu mengatur segala nilai dalam masyarakat; mulai dari politik, ekonomi, social, budaya, agama dan seterusnya dan seterusnya. Yang perlu diingat adalah bahwa kebudayaan tersebut bersifat dinamis, bisa terus berubah --termasuk nilai-nilai kecantikan

Contohnya : Pada era Victoria, perempuan dituntut untuk memakai korset yang menyiksa untuk mengecilkan perut sehingga membuat dada serta bokong terkesan lebih bervolume. Sedangkan beratus-ratus tahun setelah itu, pada era 70-an, yang disebut tubuh indah adalah kurus tak berdada macam Twiggy. Kemudian sempat juga yang disebut cantik adalah yang atletis.

Di Indonesia sendiri, sempat juga ada masa di mana wajah kebule-bulean, tergeser oleh wajah-wajah oriental. Atau, satu saat rambut kriwil ala Rachel Maryam jaman dulu dianggap keren dan lucu, saat lain rambut bob ala DiSas. Atau, satu saat 'alis heran' [alis yang dicukur habis lalu digambari oleh pinsil alis dengan letak di atas alis yang asli – membuat yang memakainya seperti sedang mengangkat alis keheranan terus menerus, seperti gaya dandan Aming di Extravaganza], di saat lain alis jaman kegelapan Krisdayanti yang berbentuk seperti sperma di buku-buku biologi.

Nilai cantik itu Cuma trend.

……

Eh, tiba-tiba saya teringat dengan proses eyel-eyelan saya dengan seseorang di suatu tempat tentang konsep cantik. Mas-mas itu keukeuh bahwa dari zaman pra-sejarah [atau mungkin saya terlalu hiperbola, pokoknya sejak zaman dahulu] sampai sekarang, di mana pun, konsep cantik itu ya sama saja seperti sekarang, putih, langsing, berambut panjang dan seterusnya-dan seterusnya.

Padahal saya percaya, bukan hanya berdasarkan periode, tapi sebenarnya di setiap kebudayaan memiliki nilai kecantikan fisik tersendiri. Misalnya di Kamerun dan beberapa daerah di Afrika, perempuan pemilik tubuh obesitas-serba besar, terutama untuk bagian bokong. Kenapa? Karena hal ini bagi kebudayaan mereka melambangkan fertilitas. Bahkan di Nigeria, ada sebuah kegiatan menaikkan berat tubuh.

In a rite of passage, some Nigerian girls spend months gaining weight in what is known as ‘the fattening room’. In this culture. A woman’s rotundity is a sign of good health, prosperity and charm. ‘Beauty is in the weight’, says a defender of the practice. ‘To be called a slim princess is an abuse’ [Angeloni, 2001]


Ini saya nyontek dari salah satu situs antropologi yang sumpah lupa. Tapi saya kan memberi kredit pada orang yang mengeluarkan pernyataan ini? Mudah-mudahan saya tidak dikutuk atau dicela-cela seperti saya mencela Monica Wijaya *Hi, Neng Monic cantik!*

Atau perempuan Padaung, di Thailand, yang dikenal dengan leher panjangnya. Pada kebudayaan ini, gelang-gelang leher terus di tambah sehingga merubah bentuk tubuh bahkan susunan tulang si pemakai. Lalu ada juga beberapa kebudayaan di wilayah Afrika di mana piring dimasukkan ke dalam mulut, sehingga bibir perempuan-perempuan itu melar.

Tapi keunikan nilai cantik masing-masing budaya seperti terbabat habis oleh ideologi kebudayaan global dan sangat kuat, yang di dalamnya tidak dikenal nilai kecantikan adanya bibir piring atau leher gelang. :P

Tanpa bermaksud menyalahkan kekuatan media [boong banget], nilai-nilai tersebut bisa disampaikan ke seluruh dunia, dan secara ‘sukarela’ [atau tidak sadar?] menggiring konsep berpikir manusia mengenai definisi cantik, yang kemudian disetujui sebagai suatu konvensi.

Pada akhirnya, hilanglah keunikan tersebut, semua nilai menjadi seragam [nyaris] di seluruh bagian bumi.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan mas-mas yang ngeyel nggak jelas dalam forum tersebut, karena mungkin ia melihat dengan kacamata kekinian dan berpikir dengan pola pikir kekinian pula, ketika terlalu banyak media yang membombardir masyarakat dengan nilai kecantikan yang kebetulan sedang menjadi trend sekarang.

Anyway, saya tidak pernah melihat bahwa trend yang mengglobal itu adil bagi semua orang. Trend cantik yang dipercaya oleh masyarakat global telah memarjinalkan perempuan-perempuan yang tidak memiliki fisik sesuai dengan trend di masa tertentu. Coba deh, ketika gendut tidak menjadi trend, maka orang-orang gendut dengan tidak adilnya tersingkir, tidak diminati – bahkan jadi bahan dagelan.

Akibatnya, tidak sedikit pula orang yang menjadikan nilai-nilai kecantikan kekinian tersebut menjadi obsesi. Dengan pemikiran, semuanya akan lebih baik jika memiliki bentuk fisik demikian..

Dulu saya kerap mencela perempuan-perempuan yang terobsesi macam itu, sekarang, setelah pernah melihat sebuah acara TV : The Swan, di mana para peserta merasa jauh lebih baik setelah operasi plastik, saya jadi tidak berani berkomentar.

Bagaimana mungkin saya membodoh-bodohi mereka karena secara sukarela mau mengikuti nilai yang ditetapkan industri ke-cantik-an, kalau saya sendiri tidak pernah merasa seperti mereka : berada dalam keadaan benar-benar merasa termarjinalkan, terabaikan, terhina bahkan sampai tidak percaya diri dengan keadaan fisik saya yang sekarang?

Satu peristiwa yang pernah menohok saya adalah perkataan seorang teman yang masuk rumah sakit gara-gara terlalu giat berdiet, dia bilang “ emang lo tau rasanya jadi gue? Dicela waktu pengen ikut ekskul dance waktu SMA, dihindari cowok-cowok yang gue suka, lalu kalau ada pementasan teater, gue selalu jadi tokoh pelengkap penderita?” ketika saya mengajukan argumen agar dia tidak terlalu banyak berpikir tentang keadaan fisiknya. Ooops. Kalau sudah demikian, bahkan ucapan ‘beauty is not skin deep’ akan menjadi percuma, filosofi ‘inner beauty’ juga ke laut aja.

Anyway lagi, untung siklus trend kecantikan tidak secepat trend mode [fashion, kosmetik dan tata rambut] yang setiap musim [di Negara 4 musim] berubah. Repot kan kalau harus merubah-rubah bentuk tubuh agar sesuai dengan trend cantik, setahun 4x?

Pada akhirnya, dari perbincangan panjang lebar di sore itu, kami mendapatkan dua hal krusial:

Pertama, nilai-nilai cantik itu sebenarnya tidak pernah absolute, tapi memiliki kemungkinan untuk berubah, tergantung pada ideologi kebudayaan yang global dan sangat kuat itu.

Sebenarnya ini juga bukan sebuah simpulan yang baru, tapi mungkin sangat baru bagi mas-mas yang ngeyel di forum itu ;) *Hai Mas*

[BTW, ditengah-tengah perbincangan sempat samar-samar, dari salah satu ruangan di rumah teman saya, terdengar suara seorang cowok –abangnya- berkomentar “Emang! Cantik itu emang relatif tapi jelek itu mutlak..” halah!].

Dan dua : kami sama-sama berpikir, bahwa untuk menikmati sebuah acara TV, jangan sambil ngobrol, karena bisa keasyikan dan lupa bahwa sedang menonton.


Halah…

Terakhir, sangat out of topic, foto ini saya masukkan bukan sebagai contoh billboard dengan model yang memiliki standar cantik hari gini [walaupun pada kenyataannya iya], Cuma saya ingin tahu, apa sih kesan kalian ketika melihatnya?

Soalnya saya dan beberapa teman beranggapan bahwa itu lebih cocok sebagai iklan pembesar payudara, dibandingkan iklan shampoo. Lebih jauh lagi, saya sempat menangkap kesan bahwa tangan si Mas-mas berada dalam baju si Mbak-mbak. Dan oh ya, teman saya malah membuat percakapan imajiner

Mbak : Mas, ih ngapain sih?
Mas : nggak papa dik, dikit aja..
Mbak : Malu tau..
Mas : nggak ada yang liat kok, tenang aja!


TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/47

Comments (44)

ddee:

Wakaka...kocak2 yg bagian akhirnya. Well, bener bgt articlenya...

Beauty is in the eyes of the beholder, but now majority of the beholders have the same taste...who to blame?

Cantik itu memang persepsi yang berbeda2 budaya. Tapi tugas iklan2 itu memang membentuk persepsi baru yang seragam untuk mempertebal kantong perusahaan kliennya ;) Dan "vanity" adalah sebuah celah kelemahan manusia yang paling gampang diserang untuk tujuan ini :)

heheh, conversation yang terakhir yang seru ..

:D

*ih pake security code sekarang? ;9

wekekekekek...lucu beneran yang terakhir. pikiran kita jadi melayang kemana2..;-)

eh..lam kenal mbak...

Dian:

setujuhhhhhhh, cantik ituw mah relatif
eneg emang kalo ngeliatin iklan2 yg berseliweran plus lagi kasian ama orang2 kecuci otaknya yg amat yakin kalo memakai produk tersebut mereka bisa secantik sang bintang iklan

setuju, kecantikan itu berbeda2 di periode tertentu :)

waktu itu pernah ke Rembrandthuis (rumah rembrandt) dan liat patung2 cewek telanjang disana digambar perutnya endut :D dan itu ga cmn satu (kalo satu, kali aja si rembrandt lagi iseng mahat patung cewe hamil :P)

ak sampe heran ngeliatnya, dulu, kok bisa ya co2 liat itu sebagai wanita cantik :p

:D

mela:

cantik itu mah relatif...
buktinya... di jalan sumatra bandung aja... banyak waria-waria yang cantik...
jadi cantik-cantik ga mesti cewe kan... hahaha...
eh... gpp ya mbak komennya ngaco gini... :P

yg baju ungu cantik deh... :D

JJ:

"Ingat iklan Pond’s, versi seorang ballerina tidak lolos audisi karena kulitnya tidak putih? Atau iklan Tropicana Slim untuk jenis produk yang saya lupa apa tepatnya, pokoknya menampilkan seorang perempuan yang sedang mengepas baju, sedangkan pasangannya membaca majalah, karena tubuh sang perempun dianggap tidak terlalu sempurna, maka sang laki-laki melihat si perempuan sambil ‘memasangkan’ tubuh model dalam majalah? Memberi pesan bahwa ia sama sekali tidak berminat dengan pasangannya"

kurang asem emang..

Bener gak sih pendapat gue: 'eksploitasi' model gitu bukannya jadi makin mengukuhkan paham 'perempuan adalah OBJEK belaka'?

BTW.. si Bocah Petualang tuh di channel mana & main jam berapa? Kok ga pernah denger yaa.. jadi tertarik ^_^

hehehe....
gak sadar si bolangnya dah selesai, keasyikkan ngebahas 'perempuan cantik'.

tapi,
out of topic-nya sip tenan!
malah dugaanku dia bukan mbak2 beneran...

Tegar:

apa sih kesan kalian ketika melihatnya?

ehm.. ehmm.. sayah ngilu ngebayanginnya.. hehehehe... seperti ngilunya sayah melihat board besar di lampu merah dengan "oknum" TK dan tag line,.. "megang bangeeeeeet" sambil nyedot sesuatu.. (mie maksudnya) juga Oknum LM dengan tag line ,.. "dari aroma terbayang kelejatannya".. juga masih sambil nyedot.. (yang kebayang kok bukan prodaknya yah.. tapi malah oknum LM nya..)
doooooooooooh ini bener2 out of topic...

hehehehe

topik bahasan kayak gini udah sering dibahas ya.

tapi tetep aja gak ada yang bisa menampik kenyataan bahwa cantik itu penting untuk segala bentuk urusan di dunia, bahkan mungkin akhirat juga (males aja kan liat bidadari mukanya jelek. eh ada yang bajunya bagus, indah, bisa terbang, suaranya merdu, tapi gendut dan jelek, ya amplop...).

bagaimanapun berusaha untuk mengubah pandangan itu, ya susah, itu udah mendarah daging, udah kayak naluri aja.

tergantung gimana pinter2 kita menyiasati aja kali ya. dan tentunya, gimana pinter2 kita menilai orang lain juga.

kalo konsep "tampan" yg lagi "musim" gimana? kenapa orang cenderung ngebahas yg cantik2 ajah dan melupakan si tampan :)

salam kenal.

OOT: kenapa judulnya kagak dibikin simpel "Percakapan Sambil Menunggu...", apa karena serapan kata asing lebih keren ketimbang bahasa negri? *hehehe bukannya nyela, secara di blog gue juga bertaburan kata asing, tapi itu kannn...*

coky:

wew............lagi blogwalking nih !!!

okke:

ddee : gak ada yang bisa disalahin, lingkaran setan bo... 'penguasa kebudayaan', media, masyarakat :lol:

may : iklan cuma salah satu elemen kok djeng :)

snydez : iyah biar aman.. *apa coba*

cahyo : melayang kemana coba? ;)

dian : heheh, gue ga berani bilang kasian..:) karena gue ga tau gimana prasaan mereka ;) jangan2 malah setelah ngikutin 'trend cantik' mereka jadi beneran lebih bahagia?

bulan : karena waktu itu yang jadi 'trend' yang begitu dan semua orang rame2 setuju bahwa apa yang seperti rembrandt bikin adalah cantik. Jadi kalo mo liat kecantikan patung2 itu, jangan liat pake kacamata sekarang :)

mela : hueheh, iya, cantiknya juga sama2 putih,tinggi n seksi ye?

aprian : makasih... :"> *halah*

jj : ampir tiap siang jelang sore, TV7 bo. Tapi sayang sekarang udah diulang2 dari yang dulu..

imeng : hahaha...waria maksudnya? ;)

tegar : oknum LUNA MAYA dan TITI KAMAL maksudnya? huahahah...

manda : :D hehe, emang diakhirat ada bidadari bo? ;)

aj's lover : hahah.. iya ya? kenapa ga percakapan ya? :D maab... waktu nulis keilangan kata2 itu. Cakep hari gini ya sama aja lah,liat gimana bentuk/tampilan kebanyakan model yang dipake di media massa -- dan yang bukan cowok yang jadi dagelan ya? tapi jadi idola haha

coky : hai! selamat mampir! ;)


rudy:

ah anda aja yang sirik ... karena .. ngga ...
*kabur*

nella:

hueheh.. bo, lo makin lama kalo nulis temanya makin dalem ya? :))

@ mba Okke :

Eh? bukannya emang bidadari tempatnya di akhirat? entah kenapa saya berpikir bidadari tuh sepaket ama malaikat, setan, dan kawan2nya.
Kalo salah, maaf deh yaa :D yang penting, u know what I mean laaah... hehehe.

okke:

rudy :lempar komen trus kabur emang lagi musim kok.. :))

nella : pertanda harus liburan? atau resign? hehehe

manda : emang malaikat cewek cantik pake halo sama sayap? *dibahassssss*

aDHe:

hwahaha..
before read untill the end of this entry,saya juga kepikiran yang sama waktu liat foto itu. gede bow..
salam kenal mbak *walau nge-link nya udah dari kapan2 hehehe..*

berarti yang di film Shallow Hal itu mustahil banget yak :D
jadi inget ucapannya Nirina waktu di film 30 Hari Mencari Cinta ... "trus, apa kabar Inner Beauty?"
trus si Aldo jawab .. "maksud kamu, salon?"
hehehe ... ikutan ngawur :P

*numpang lewat ... :D

Mei:

ada iklan dove yang gak memakai persepsi cantik seperti kebanyakan iklan yang lain, tapi perusahaan ini malah mencari perempuan dari berbagai background dan juga umur, yang memang PD dengan dirinya sendiri.

Iklan itu keren banged!

swad:

Hiks... maafkan saya...
saya ternyata seorang antitrend yang kelibas trend wanita jaman sekarang.

btw, mengenai billboard diatas, sebelumnya saya cuma mikir "nih cewe agak berisi ya buat model. biasanya kan lebih kurus dari ini."
Thanks 2 u, sekarang saya melihat iklan tsb dari perspektif yg jauh lebih menyenangkan. huehehe... entar lewat rasuna said ah...

PS : security code? buat apaan mbak?

iYuz:

gua rasa tuh cewe toket nya ditiup ya? gede amat?? ( ih siriikk..:p)

okke:

adhe : salam kenal balik juga ;)

kinkin : monggo, monggo, silahkan lewat :)

Mei : eh, gue ketinggalan, blom liat, yang gw tau pemilihan foto bersama temen baik gt deh.. itu dove bukan? salah ya?

swad : security code arti harafiahnya sih kode keamanan :P, tp gw pake buat ngehindarin spam macam di sini

iyuz : hehe.. emang balon!

rudy:

hehe soal billboard cewek, jadi inget billboard di jalan progo deket Jonas, yang di taon ...92-93 an di kabarkan ada setannya, sampe banyak yang minta nomor buntut ..

JJ:

"billboard di jalan progo deket Jonas, yang di taon ...92-93 an di kabarkan ada setannya, sampe banyak yang minta nomor buntut .."

Hah?? Serius??!

Lah jadi ngebahas setan...

mkp:

Pangeran Charles cerai dari cewek yang dianggap cantik oleh masyarakat dan jatuh kepelukan cewek yang dijuluki masyarakat sebagai nenek sihir. Siapa yang mewajibkan kita memilih yang dianggap masyarakat cantik? memilih itu yang kita anggap cocok bukan memilih pilihan masyarakat apalagi pilihan kapitalis. Jadi buat yang tidak mempunyai kriteria cantik menurut industri nggak usah kecil hati karena orang tidak selalu memilih yang tercantik tetapi kadang memilih yang tercocok.

Lebih suka kampanye gaya DOVE. Dimana kecantikan itu adalah keunikan yang atraktif dan relatif bagi setiap individu. Yang mbak okke ceritakan barusan adalah cantik yang didikte oleh mode. Maka yang membenarkannya tentu yang terikut juga oleh mode.
Dan jangan percaya laki-laki tentang makna kecantikan itu seperti apa. Karena saat dihadapkan dengan kenyataan, jarang laki-laki yang menjawab dengan benar tentang kecantikan. Laki-laki lebih dapat dipercaya matanya daripada kata-katanya mengenai kecantikan. :)

okke:

Rudy & JJ : Mbuh, soalnya itu lokasi blom pernah masuk acara macam 'Dunia Lain'..

mkp & sunardi : Sampe skrg saya emang ga pernah percaya bahwa fisik segitu pentingnya. Saya, mereka dan semua orang atraktif dengan cara sendiri2. Nah masalahnya, ga semua orang percaya itu. :D

eva:

Tubuh manusia sebagai artefak simbolis yang diatur oleh budaya

kerenn.. bahasanya canggih *wink* :D

uhhmm, apa mungkin lantaran posisi mbak-mbak nya menyamping yah makanya jadi keliatan membalon? -hayah, mbahas-

met wiken mbak! ^_^

Arti:

Don't look at the book just from the cover....icon budaya pop dengan kesan ndeso-nya selalu mengucapkan itu pada saat dia terpojok dan diolok-olok....Mr. T pada trans7 senin-jumat 9.30 malam sampai dengan selesai...mewakili juga untuk image..cantik atau handsome yang menurut saya relatif...Masih terkenang pada tahun sekitar 2002-an tentang kampanye the body
shop...dengan gambar image seorang wanita yang gemuk....kecantikan itu relatif, tergantung siapa,bagaimana, untuk kepentingan apa ...hayah..koyok produk wae yo...!! Produk tuhan yang jelas...!!!....sebenarnya nyesek juga dengan penggambaran wanita cantik yang putih,tinggi, langsing, mulus....heuheueheuheu soale merasa jauh dari kriteria.....heuehueheuheu...Terkutip dari Majalah Tiara edisi 120 Okt. 1998
...Setiap orang memiliki keunikan dalam berbagai bentuk ukuran, warna,kulit dan aneka budaya. Yang dihadapi tak selalu seperti harapan....dsb
good luck mbak okke..

dhian:

uwaaah ...ternyata teteh suka nonton bolang yah. senengnya ....
episode barunya hari rabu & sabtu. 2minggu sekali hari senin ... kritik dan saran ditunggu ya (halah!!)

eh, ga nyambung sama topiknya yah. salam kenal ya teh ... aku seneng baca tulisan teteh dari jaman blog yang dulu lo ...

@ mba okke :

(jadi tambah gatel pengen mbahas)loh? bukannya emang gitu ya? malaikat cewek alias bidadari, di cerita2 digambarkan cantik, item-nya halo ma sayap, dijanjikan akan menemani orang2 baik di akhirat.(ok deehh....teorinya makin ngasal aja)

hoho. udah ah. jadi aneh. hohoho. salam kenal mba okke. postingannya keren2, bagus untuk nutrisi otak. yukk aaah...

nita:

ah monyong... gue jadi inget lagi soal cetingan kita soa Monica.


ARRRGGHH!!

Bayangkan anda terjebak di antara berbagai cowok dengan berbagai ras, warna kulit, dan latar belakang. Tiba-tiba batasan cantik akan begitu blur. Apa kabar inner beauty? maksud lo gw? atau Jabul alias jatah bule?
hehehe... happy weekend lagi yah..

kekekekek!!

iya tuh baru nyadar kalo model iklam shhampoo itu berdada montok *sambil mbayangin tangan si model cowok gerayangan di balik baju si embak* :P

nacho libre:

>“Cantik yang putih, rambut panjang dan langsing lagi musim ya?” Celetuk teman saya, beberapa waktu yang lalu, pada jeda iklan pada acara si Bocah Petualang favorit, ketika melihat tayangan iklan yang menggunakan sosok perempuan.

IMHO, cuma sekedar putih, langsing dan rambut panjang tidak lantas berarti cantik, contoh : serena/venus williams akan tetap bermuka jelek (again, IMHO) biar selangsing, seputih dan serambut panjang seorang anne hathaway.

>Dan kalau dilihat-lihat lagi, bukan hanya iklan saja, tapi juga sinetron, majalah, film layar lebar, dan entah apa lagi….semua beramai-ramai menampilkan perempuan dengan standar kecantikan demikian.

karena perempuan yg demikian lah yg kebanyakan diidamkan oleh laki2. bikin iklan sinetron, majalah, film layar lebar membutuhkan biaya, supaya biaya yg dikeluarkan bisa ketutup dan dapat profit maka para kreator ybs harus tau apa yg diinginkan pasar. kalau pasar menginginkan perempuan bertanduk ato bermata 9 maka itulah yg akan ditampilkan.

>Kami berdua menyebut putih-langsing-rambut-panjang sebagai trend cantik terkini, karena pada dasarnya konsep cantik itu bisa berubah.

Tidak demikian hal nya menurut sebagian besar kebudayaan2 mainstream seperti Mesir, Yunani, Cina, Anglo-Saxon tapi entah kalo kebudayaan2 "alternatif" seperti milik suku2 kanibal di amazon ato afrika.

>Tubuh manusia, bukanlah tubuh fisik secara biologis saja, tapi juga sebagai artefak simbolis yang diatur oleh budaya.

you get it backwards, budaya itu lahir karena manusia : great man begets great civilization, not the other way around. budaya itu diadakan oleh manusia untuk meningkatkan kemampuan survival manusia dan untuk memperindah hidup sehingga bukan hanya cuma sekedar survive tapi bagaimana agar "life more worth living."

>Dalam kebudayaan ada kekuasaan yang mampu mengatur segala nilai dalam masyarakat; mulai dari politik, ekonomi, social, budaya, agama dan seterusnya dan seterusnya.
Yang perlu diingat adalah bahwa kebudayaan tersebut bersifat dinamis, bisa terus berubah --termasuk nilai-nilai kecantikan

"...kekuasaan yg mengatur segala nilai..."→ benar kalau kita hidup di bawah pemerintahan tirani. adakah undang2 di Indonesia yg MELARANG DENGAN ANCAMAN HUKUMAN PIDANA pemuatan cewek gembrot/hitam/kribo/mata juling/hidung pesek/gigi mancung sebagai model iklan/film/cover girl/ratu kecantikan???

>Contohnya : Pada era Victoria, perempuan dituntut untuk memakai korset yang menyiksa untuk mengecilkan perut sehingga membuat dada serta bokong terkesan lebih bervolume. Sedangkan beratus-ratus tahun setelah itu, pada era 70-an, yang disebut tubuh indah adalah kurus tak berdada macam Twiggy. Kemudian sempat juga yang disebut cantik adalah yang atletis.

seorang wanita langsing dengan dada rata akan jadi LEBIH menarik kalau berdada montok, dengan catatan dia tetap langsing.

>Di Indonesia sendiri, sempat juga ada masa di mana wajah kebule-bulean, tergeser oleh wajah-wajah oriental. Atau, satu saat rambut kriwil ala Rachel Maryam jaman dulu dianggap keren dan lucu, saat lain rambut bob ala DiSas. Atau, satu saat 'alis heran' [alis yang dicukur habis lalu digambari oleh pinsil alis dengan letak di atas alis yang asli – membuat yang memakainya seperti sedang mengangkat alis keheranan terus menerus, seperti gaya dandan Aming di Extravaganza], di saat lain alis jaman kegelapan Krisdayanti yang berbentuk seperti sperma di buku-buku biologi.

anda melupakan 1 hal : alis dan rambut hampir2 tidak ada pengaruhnya terhadap seorang wanita dengan kecantikan sejati (bukan "cantik" gara2 ikut fashion dan pakai barang serba glamour). seorang natalie portman yg gundul dan tanpa alis mata akan tetap kelihatan cantik (apalagi kalo tanpa busana sekalian, kelipatan cantik!).

soal wajah2 oriental yg anda singgung itu mungkin wajah2 F4 ato artis2 drama korea?
*sigh*, wajah2 oriental yg digandrungi di indonesia JUGA digandrungi di negara asalnya jadi sifat nya cross-culture dan cross-country→ di taiwan dan korea pun wajah2 oriental itu dianggap menarik oleh orang2 sana.

karena pasang surut trend maka memang bisa di suatu saat wajah bule digemari dan satu saat wajah oriental digemari tapi bukan berarti kalo misal nya pas wajah oriental sedang digandrungi terus lantas Tom Cruise ato Orlando Bloom jadi dianggap jelek tokh?

>Nilai cantik itu Cuma trend.

ya untuk perempuan yg tak memiliki kecantikan sejati dan mengandalkan kosmetik serta aksesoris glamour.

>Eh, tiba-tiba saya teringat dengan proses eyel-eyelan saya dengan seseorang di suatu tempat tentang konsep cantik. Mas-mas itu keukeuh bahwa dari zaman pra-sejarah [atau mungkin saya terlalu hiperbola, pokoknya sejak zaman dahulu] sampai sekarang, di mana pun, konsep cantik itu ya sama saja seperti sekarang, putih, langsing, berambut panjang dan seterusnya-dan seterusnya.

sebenarnya yg ngeyel itu anda karena setelah argumen2 anda daku sanggah di blog nya mbak mer, anda bukan nya mencoba berargumen lagi dengan logis tapi cuma melempar kata kosong tanpa makna (kenisbian budaya) dan gurauan ABCD. satu lagi, daku tidak pernah bilang bahwa cantik itu harus putih,langsing, rambut panjang→ dian sastro dan beyonce knowles cantik biar tidak berkulit putih, natalie portman (dalam "V") cantik biar gundul, Monica Bellucci cantik (buanged!) biar tak selangsing kate moss.

>Padahal saya percaya, bukan hanya berdasarkan periode, tapi sebenarnya di setiap kebudayaan memiliki nilai kecantikan fisik tersendiri. Misalnya di Kamerun dan beberapa daerah di Afrika, perempuan pemilik tubuh obesitas-serba besar, terutama untuk bagian bokong. Kenapa? Karena hal ini bagi kebudayaan mereka melambangkan fertilitas. Bahkan di Nigeria, ada sebuah kegiatan menaikkan berat tubuh.

kalo itu cantik bagi mereka, silakan saja asal jangan lalu menuding orang2 yg gak setuju sebagai di-brainwash media massa.

apakah anda bukan lesbian karena dibrainwash media massa? ato karena anda memang "sudah dari sono nya" tidak memiliki bibit2 lesbian? apakah anda tidak tertarik secara seksual terhadap male non-human species karena di-brainwash media massa ato karena memang sudah dari sono nya anda cuma bisa tertarik secara seksual terhadap male human species?

>In a rite of passage, some Nigerian girls spend months gaining weight in what is known as ‘the fattening room’. In this culture. A woman’s rotundity is a sign of good health, prosperity and charm. ‘Beauty is in the weight’, says a defender of the practice. ‘To be called a slim princess is an abuse’ [Angeloni, 2001]

those slim princess are more welcomed in more walks of life in more parts of the world than any of those "beauty is in the weight" gluttons can ever hope to aspire.

>Atau perempuan Padaung, di Thailand, yang dikenal dengan leher panjangnya. Pada kebudayaan ini, gelang-gelang leher terus di tambah sehingga merubah bentuk tubuh bahkan susunan tulang si pemakai. Lalu ada juga beberapa kebudayaan di wilayah Afrika di mana piring dimasukkan ke dalam mulut, sehingga bibir perempuan-perempuan itu melar.

media massa kah yg menyebabkan leher gelang dan bibir piring itu dianggap cantik? ato lebih karena "beauty is in the eye of the beholder"? kalo anda menyatakan setuju bahwa "beauty is in the eye of the beholder" seyogyanya anda tidak bersikeras lagi bahwa "beauty is determined by mass-media"

>Tapi keunikan nilai cantik masing-masing budaya seperti terbabat habis oleh ideologi kebudayaan global dan sangat kuat, yang di dalamnya tidak dikenal nilai kecantikan adanya bibir piring atau leher gelang. :P
Tanpa bermaksud menyalahkan kekuatan media [boong banget], nilai-nilai tersebut bisa disampaikan ke seluruh dunia, dan secara ‘sukarela’ [atau tidak sadar?] menggiring konsep berpikir manusia mengenai definisi cantik, yang kemudian disetujui sebagai suatu konvensi.
Pada akhirnya, hilanglah keunikan tersebut, semua nilai menjadi seragam [nyaris] di seluruh bagian bumi.

untuk bisa sampai "disetujui", nilai2 yg "disetujui" tsb memang pada dasar nya sudah harus punya suatu kelebihan, kelebihan di sini adalah pengakuan dari laki2 : "oh ternyata perempuan2 dari negeri seberang itu jauh lebih cantik dari perempuan2 kita sendiri."

>Saya tidak sepenuhnya menyalahkan mas-mas yang ngeyel nggak jelas dalam forum tersebut, karena mungkin ia melihat dengan kacamata kekinian dan berpikir dengan pola pikir kekinian pula, ketika terlalu banyak media yang membombardir masyarakat dengan nilai kecantikan yang kebetulan sedang menjadi trend sekarang.

kalo anda masih ngeyel bahwa manusia selain anda bukan mahluk yg punya kehendak bebas dan bahwa semua nilai2 yg mereka anut adalah hasil bombardiran media massa maka secara tidak langsung anda sudah mengklaim bahwa diri anda superior karena manusia lain mempan dibombardir media massa tapi anda tidak. kalo pengakuan dari orang lain akan superioritas anda itu adalah yg anda cari, ada cara/media lain yg lebih positif untuk mendapatkan nya.

>Anyway, saya tidak pernah melihat bahwa trend yang mengglobal itu adil bagi semua orang. Trend cantik yang dipercaya oleh masyarakat global telah memarjinalkan perempuan-perempuan yang tidak memiliki fisik sesuai dengan trend di masa tertentu. Coba deh, ketika gendut tidak menjadi trend, maka orang-orang gendut dengan tidak adilnya tersingkir, tidak diminati – bahkan jadi bahan dagelan.

anda bicara soal keadilan tanpa konsep yg jelas apa itu adil dan apa itu tidak adil. selama orang2 gendut itu dihormati hak2 azasi nya maka keadilan itu sudah dilaksanakan. maybe this is a totally alien thing for you but : seorang pria yg tidak meminati cewek gendut bukan lantas berarti si pria melanggar hak azasi si cewek gendut.

>Akibatnya, tidak sedikit pula orang yang menjadikan nilai-nilai kecantikan kekinian tersebut menjadi obsesi. Dengan pemikiran, semuanya akan lebih baik jika memiliki bentuk fisik demikian..

obsesi itu sah2 saja sepanjang tidak melanggar hak2 azasi orang lain.

>Dulu saya kerap mencela perempuan-perempuan yang terobsesi macam itu, sekarang, setelah pernah melihat sebuah acara TV : The Swan, di mana para peserta merasa jauh lebih baik setelah operasi plastik, saya jadi tidak berani berkomentar.

kenapa anda mesti mencela mereka?

>Bagaimana mungkin saya membodoh-bodohi mereka karena secara sukarela mau mengikuti nilai yang ditetapkan industri ke-cantik-an, kalau saya sendiri tidak pernah merasa seperti mereka : berada dalam keadaan benar-benar merasa termarjinalkan, terabaikan, terhina bahkan sampai tidak percaya diri dengan keadaan fisik saya yang sekarang?

kenapa harus merasa termarjinalkan, terabaikan, terhina, tak percaya diri?? apakah human rights para peserta The Swan tsb dilanggar oleh negara mereka (dalam hal ini USA)??

>Satu peristiwa yang pernah menohok saya adalah perkataan seorang teman yang masuk rumah sakit gara-gara terlalu giat berdiet, dia bilang “ emang lo tau rasanya jadi gue? Dicela waktu pengen ikut ekskul dance waktu SMA, dihindari cowok-cowok yang gue suka, lalu kalau ada pementasan teater, gue selalu jadi tokoh pelengkap penderita?”

Tobat! tidak pernahkah terpikir kan oleh teman anda tsb (dan juga diri anda) bahwa cowok2 yg dia suka itu juga punya hak azasi untuk suka balik ato tidak terhadap dia?? apa ada hukum yg mengharuskan seorang cowok harus suka balik ato tidak boleh menghindar kalo ada cewek (gendut ato tidak) yg suka duluan???

>ketika saya mengajukan argumen agar dia tidak terlalu banyak berpikir tentang keadaan fisiknya. Ooops. Kalau sudah demikian, bahkan ucapan ‘beauty is not skin deep’ akan menjadi percuma, filosofi ‘inner beauty’ juga ke laut aja.

definisi inner beauty itu apa? inner beauty apaan yg bisa diharap dari seorang cewek yg punya pikiran kalo cowok tidak punya hak azasi untuk suka balik ato tidak sama diri si cewek?

>Anyway lagi, untung siklus trend kecantikan tidak secepat trend mode [fashion, kosmetik dan tata rambut] yang setiap musim [di Negara 4 musim] berubah. Repot kan kalau harus merubah-rubah bentuk tubuh agar sesuai dengan trend cantik, setahun 4x?

cantik dari sudut pandang kebanyakan laki2 tidak ada hubungan nya sama sekali dengan musim tapi ke apakah si wanita itu punya sexy body, beautiful face, youthful flawless skin.

>Pada akhirnya, dari perbincangan panjang lebar di sore itu, kami mendapatkan dua hal krusial:
Pertama, nilai-nilai cantik itu sebenarnya tidak pernah absolute, tapi memiliki kemungkinan untuk berubah, tergantung pada ideologi kebudayaan yang global dan sangat kuat itu.

Berubah dalam batasan2 tertentu tapi tidak akan extreme sampai seorang dorce gamalama dianggap lebih cantik dari seorang wulan guritno.

>Sebenarnya ini juga bukan sebuah simpulan yang baru, tapi mungkin sangat baru bagi mas-mas yang ngeyel di forum itu ;) *Hai Mas*

tidak ada yg baru sama sekali, para wanita2 di belahan dunia barat lah yg pertama kali melontarkan nonsense2 yg anda beo kan di sini

Cantik itu relatif, kayak gua bilang pacar saya cantik. Tetapi, bagi sebagian orang, penilaian nya mungkin berbeda. Dan, gua juga setuju kalo cantik itu ada tren tersendiri, kayak Tren rambut Demi Moore dalam Ghost, dan lainnya. Gua juga jadi ingat iklan pewarna rambut Sunsilk, "jadilah trendsetter"... Seharusnya, pertanyaan nya adalah, "kenapa iklan seperti itu ada?" Hanya untuk mengiklankan produk tertentu?Tidak. Masih ada faktor lainnya, yaitu keinginan dari konsumen untuk tampil cantik. Sepertinya, pemakaian model2 yang cantik hanya untuk memberikan dampak psikologis " pakailah produk ini dan kamu akan cantik seperti aku". Sebuah Pembohongan? Hanya wanita yang tahu.
Akhir kata, "ingin tahu wanita yang paling cantik? Lihatlah wanita yang baru bangun pagi."

dika:

> Berubah dalam batasan2 tertentu tapi tidak akan extreme sampai seorang dorce gamalama dianggap lebih cantik dari seorang wulan guritno. (nacho libre)

well, gak terlalu juga ^^;;

cantik bener2 sesuai budaya. di sini mah, item tu cantik. produk2 kecantikan bener2 ga ada yg buat pemutih kulit. adanya juga penghitam kulit :p

dan, di eropa, mungkin dorce bisa dianggap lebih cantik dari wulan guritno (sambil melihat, ehm, mbak2, yg.., ehm, eniwei, lihat sendiri di schiphol ah, nti saya dikira ngeledekin :p)

nacho libre:

>Cantik itu relatif, kayak gua bilang pacar saya cantik. Tetapi, bagi sebagian orang, penilaian nya mungkin berbeda.


saya selalu setuju dengan konsep "beauty is in the eyes of the beholder". And in this beholder's eyes (me), the Hilton sisters (Paris & Nicky) are insanely beautiful.


>Dan, gua juga setuju kalo cantik itu ada tren tersendiri, kayak Tren rambut Demi Moore dalam Ghost, dan lainnya.


tren itu sempat ada karena faktor Demi Moore nya yang sudah cantik dari sono nya → kalo leading actress nya si Whoopie Goldberg maka tren rambut itu gak bakal laku.


>Gua juga jadi ingat iklan pewarna rambut Sunsilk, "jadilah trendsetter"... Seharusnya, pertanyaan nya adalah, "kenapa iklan seperti itu ada?" Hanya untuk mengiklankan produk tertentu?Tidak. Masih ada faktor lainnya, yaitu keinginan dari konsumen untuk tampil cantik.


menurut pendapat anda kenapa para konsumen itu punya keinginan untuk tampil cantik?


>Sepertinya, pemakaian model2 yang cantik hanya untuk memberikan dampak psikologis " pakailah produk ini dan kamu akan cantik seperti aku". Sebuah Pembohongan? Hanya wanita yang tahu.


para pria yang melihat juga tau kalo apakah wanita2 itu akhir nya jadi "lebih cantik" setelah memakai produk2 tsb.


>Akhir kata, "ingin tahu wanita yang paling cantik? Lihatlah wanita yang baru bangun pagi."


tergantung wanita nya dulu....Scarlett Johansson? hmm, love to check her out. Tika Panggabean? No, thanks.


>>Berubah dalam batasan2 tertentu tapi tidak akan extreme sampai seorang dorce gamalama dianggap lebih cantik dari seorang wulan guritno. (nacho libre)
>well, gak terlalu juga ^^;;
cantik bener2 sesuai budaya. di sini mah, item tu cantik. produk2 kecantikan bener2 ga ada yg buat pemutih kulit. adanya juga penghitam kulit :p


menarik, bisa kah anda beritahu kan nama produk kecantikan penghitam kulit tsb? any website where we may verify that such product DO exist?


>dan, di eropa, mungkin dorce bisa dianggap lebih cantik dari wulan guritno (sambil melihat, ehm, mbak2, yg.., ehm, eniwei, lihat sendiri di schiphol ah, nti saya dikira ngeledekin :p)


yg menganggap Dorce lbh cantik dr Wulan itu mungkin saja ada karena hampir dalam setiap hal ada yang namanya faktor kelainan, sama seperti diri Dorce sendiri yang mempunyai kelainan dalam hal kejiwaan (pria ingin jadi wanita).


dian:

cewek cantik (mnrt presepsi media) : ah cantik itu relatif n media emang gak punya etika ngasih standar kecantikan dengan standar fisik yang gak dimiliki oleh banyak cewek ! (komentar org: oh cewek itu bijaksana bgt en berwawasan luas)

cewek jelek (mnrt presepsi media :ah cantik itu relatif n media emang gak punya etika ngasih standar kecantikan dengan standar fisik yang gak dimiliki oleh banyak cewek ! (komentar org : cewek itu gak trima kalo dia jelek!)

nah lo!

So, emang bencana kok terlahir jadi cewek jelek (mnrt presepsi media) la seluruh manusia diatas planet bumi mengamini presepsi media itu

terlahir cewek jelek (mnrt presepsi media) emang harus berjuang jauh lebih keras untuk mendapatkan apapun dibanding cewek cantik mnrt presepsi media)

mengalami penghinaan, penolakan, pelecehan, peremehan, en dicaci maki gak tau diri adalah beberapa hal dari banyak hal yang dialami cewewk jelek (mnrt presepsi media). Lebih parah lagi kalo cewek jelek (mnrt presepsi media) itu penderita obesitas. wow... jadi makin lengkap penderitaannya.

apa hidup ini gak adil?, ya iyalah takutnya kampanye penolakan cewek jelek (mnrt presepsi media) merupakan propaganda cewek cantik (mnrt presepsi media) untuk tetap mempermudah hidupnya karena mereka gak bisa survive tanpa stempel cewek cantik (mnrt presepsi media) itu ya?

wakakakak....:D. How knows?

MAS:

kenapa tak bincang tentang pengeluaran product dove dan company mana yang sponsors product dove .

dee:

bahwasanya...

pretty made by people, beauty made by nature

change is certain

ddalam setiap evolusi ada revolusi ddalamnya

[hadow, apalagi yak?! wes entek kabeh filosofi andalane]

mmmm, kpn y Preity Zinta berubah jd Pretty Asmara... dan begitupun sbaliknya :p

~ wait, apa kata Diandra Sastrowardoyo yg konon skripsinya ngomongin soal kcantikan ????

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 11 maart 2007 6:06 pm.

The previous post in this blog was Punk, Salib dan Che Yang Centil.

The next post in this blog is Gara-gara Lift Yang Anjlok.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31