« Penantian Jodoh | Main | Punk, Salib dan Che Yang Centil »

Meme* Dan Isu Persamaan Hak

*Peringatan : Jangan pikir karena saya pernah membahas masalah perkelaminan, lalu dengan membaca judul di atas, mengira bahwa saya akan beromong kosong tentang itu lagi,ya? Lagian, judul yang saya bintangi di atas tidak diakhiri dengan huruf ‘k’, ya tokh? Ya tokh?


Dan sebelum Ibu Tiri dan Vanya mencela ‘Kayak déjà vu’ atau ‘ini repost,ya?’, saya bakal mengaku, entri ini adalah hasil pengeditan dari tulisan online saya di tempat lain.[Jadi, bu May dan Vanya, saya tidak terima komen bertema ‘kayak pernah baca.’]

Saya selalu merasa bahwa isu-isu persamaan hak antara laki-laki dan perempuan itu, dalam penerapannya cenderung bias.

Ide-ide heroik, yang menyebutkan bahwa selayaknya perempuan jangan mau dijadikan subordinate, bahwa perempuan –seperti halnya laki-laki- harus menguasai ranah non domestic juga, jangan melulu jadi domestic-goddess dan seterusnya dan seterusnya memang mempesona.

Tapi diantara histeria persamaan hak, selalu ada nada keberatan ketika ide tukar peran diajukan. Kan persamaan hak, jadi posisi bisa saja dong dibalikkan.

Bagaimana jika perempuan yang mengerjakan ‘kewajiban’ [yang dituntut lingkungan terhadap] laki-laki, karena laki-laki juga punya hak untuk tidak mengerjakan ‘kewajiban’nya.

Gimana, kalau kemudian perempuanlah yang harus menggantikan ‘peran sosial’ laki-laki dalam masyarakat?

Ide macam ini kadang-kadang nggak kebayang.

Karena sejak kecil saya sudah dicekoki oleh system pembedaan hak dan kewajiban berdasarkan gender yang formatnya begitu itu. Dan saya pikir banyak orang juga terbiasa seperti itu. Makanya, walaupun menggelikan, tapi selalu ada pembenaran ‘kembali ke kodrat’ yang membuat bias.

Jadi lucu nggak sih, kalau berkoar-koar soal persamaan hak, tapi siapa yang harus membayar pada kencan pertama saja diributkan.

Makanya, nggak heran kalau sering muncul protes ‘Perempuan sih, sok-sok mau persamaan hak, tapinya khusus untuk yang enak-enak aja’.

Saya jadi bertanya-tanya, kenapa walaupun keadaan telah berubah, walau pun aturan pembagian peran berdasarkan gender tidak sekolot ‘perempuan harus berada dalam sangkar madu ruang domestik dan hanya laki-laki yang boleh berkarya di ruang publik’, tapi tetap saja ada pemikiran-pemikiran yang bertahan, tidak berubah.

….

Jika melihat konsep evolusi dan bertahannya mahluk hidup, yang terlalu sering dibahas adalah permasalahan genetis saja, bahwa gen itu bereplikasi alias berkembangbiak, yang mampu bertahan [dengan menyesuaikan diri] akan terus berkembang biak, yang tidak mampu akan tersingkir.

Kalau tidak salah ingat, dalam buku pelajaran Biologi semasa SMP di tahun 90-an, ketika membahas masalah evolusi mahluk hidup, terdapat ilustrasi Jerapah berleher pendek yang bermutasi menjadi Jerapah berleher panjang. Dalam penjelasan ilustrasi tersebut dikatakan bahwa Jerapah sebenarnya berleher pendek, tapi sumber makanannya berada di tempat tinggi [pohon]. Gen mendorong mahluk hidup yang bersangkutan tersebut bermutasi, berubah menjadi berleher panjang untuk meraih sumber makanannya. Seleksi alam terjadi di sana; yang tidak bisa menyesuaikan diri, maka akan tersingkir; maka lenyaplah Jerapah berleher pendek.

Gen bertahan dan berubah pada kasus di atas adalah masalah genetis. Tapi kemudian terpikir, apa kabar dengan manusia? [Baik-baik saja, terima kasih]

Apakah perubahan-perubahan yang terjadi pada manusia itu hanya perubahan genetis seperti pada Jerapah? Apakah manusia cuma berubah dari monyet ke manusia seperti kata Oom Darwin?

Padahal manusia itu lebih kompleks. Manusia diklaim sebagai mahluk yang memiliki akal-budi yang melahirkan berbagai macam kebudayaan, maka pasti perubahan bukan terjadi secara biologis thok, tapi juga secara kultural.

Nah, sekitar setahun yang lalu, saat membahas hal ini dengan seorang teman, tiba-tiba ia nyeletuk ‘Itu Meme’. Dan itulah pertama kalinya saya mendengar istilah ini. Ternyata Meme adalah analogi kultural dari gen.

Jika ruang kerja gen adalah kromosom dalam diri manusia, maka ruang kerja Meme adalah ide-ide kebudayaan yang bercokol dalam otak manusia.

Jika bentuk pertahanan dan perubahan gen terjadi secara biologis, seperti memanjangnya leher Jerapah serta memanusianya monyet dari teori Darwin, maka pertahanan dan perubahan Meme terjadi secara kultural dalam satuan unit budaya yang ada, entah itu teknologi, pemikiran spiritual, arsitektur, seni rupa, bahkan hal-hal yang sederhana seperti lagu-lagu pop, kata-kata popular, jargon-jargon iklan, mode, trend rambut dan seterusnya.

Dalam proses perkembang biakannya, jika gen terjadi dalam individu, maka meme bereplikasi secara sosial . Manusia yang satu belajar atau meniru dari manusia yang lain, informasi yang didapatnya kemudian di simpan di otak masing-masing, begitu terus.

Sama juga seperti gen, ada yang bereplikasi lalu bertahan lama, tapi ada juga langsung mati dalam jangka waktu pendek karena tidak mampu beradaptasi, Meme juga demikian, ada yang bertahan lama bahkan sampai ribuan tahun, seperti pemikiran tentang agama, tapi ada juga yang bertahan dengan sangat sebentar, seperti kata-kata popular ‘Nih ye’, ‘ngeceng’, ‘memble’ dan ‘kece’ di tahun 80-an atau lagu ‘Aku tak Biasanya’ Alda di tahun 90-an.

….

Jadi, kembali ke soal isu persamaan hak, pemikiran yang tidak berubah tentang perempuan dan laki-laki adalah Meme yang lolos seleksi budaya sehingga mampu bertahan dalam otak manusia, terus bereplikasi dari satu otak ke ribuan otak lain secara turun temurun.

Biarpun jika dipikir-pikir dengan akal sehat, pemikiran laki-laki dan perempuan macam ini menurut saya pribadi agak tidak konsisten dengan ide ‘persamaan hak’, tapi apa boleh buat, ia adalah meme yang sangat kuat, mungkin sekuat seperti gen kulit pucat kurang pigmen yang dimiliki ras Kaukasian.

Yang jelas, jujur saja, alih-alih merasa dirugikan, saya kok selalu merasa diuntungkan dengan meme pembedaan apa pun berdasarkan gender seperti yang ada sekarang ini,ya?

Dum di dum..

*siul-siul gembira*

Dih, kenapa jadi serius gini sih?
Udah ah, met wiken semua…

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/45

Comments (25)

iyaa serius amaat...nggak cape tuh pikiranmu nak..? nyantei dikit napa..? Yeuh, yang penting mah kompromi diantara dua org yang berkomitmen menjalani hidup bareng..soal pembagian kerja domestik dan non domestik kek atau apalah..jangan dipersulit dgn gimana kalo dibalik perannya..? hese..hesee...! yang penting mah saling menghargai..ngasih kesempatan kedua pihak untuk berkembang optimal jd seseorang yang lbh baik.....(meureun..eta ge..)

okke:

emak : haha.. ya maab... konsep meme terlalu menarik untuk dilewatin buat ditulis, tapi baru sempat sekarang.. :D

JJ:

"Gimana ya rasanya, kalau perempuan yang harus menggantikan ‘peran sosial’ laki-laki dalam keluarga – di mana pemasukan utama adalah dari sang perempuan?" --> ADA, Mbak! Sumpah!!!
Temen baik gue, lebih tua 6 tahun dari suaminya (makanya gue baca kisah Ratu ama Troy cuma nyengir kuda, hehe). Berhubung suaminya masih kuliah sampe sekarang, jadilah sobat cantik gue ini membiayai seluruh pengeluaran rumah tangga mereka. Asli, semua-muanya. Everything, you name it. Jadinya mereka hidup sangat sederhana, tinggal pun di rumah tipe 4L (lu lagi lu lagi). They're happy though... :)

BTW denger2 'Aku Tak Biasa' sekarang ngetop lagi?! Bener ga se? Katanya recording companynya ngeluarin lagi - lantaran sejak si penyanyi meninggal, orang pada heboh nyari lagu itu lagi...

Dodol Surodol:

Aku Tak Biasa itu emang siapa yang nyanyi sih? Kok bisa meninggal?

dwi:

Emmm, saya lebih suka dengan konsep "laki-laki tetap mengerjakan kewajibannya sekaligus turut andil dalam pekerjaan domestik rumah tangga", seperti yang saya jalani sekarang. Kebetulan swami saya berprinsip mencintai saya apa adanya termasuk kekurangan saya yang malas melakukan pekerjaan domestik.

Kewajiban swami tuk mencari nafkah plus dengan senang hati setiap hari dia membuatkan saya kopi di pagi hari-memandikan anak kami-beres beres rumah (smuanya dilakukan sebelum ngantor),memasak (saat libur), dan jadi babby sitter anak kami (saat mom's night out).

Caranya, pinter pinter kita mengatur dan mengkondisikan siyyy. Pada dasarnya laki laki memang "dominan" dalam segala hal... tapi jangan lupa kalau laki-laki slalu "tekuk lutut" dibawah kerling wanita.

JJ:

Dodol : Yang nyanyi Alda Risma :)

okke:

JJ : Bo, gue mikir lo, Troy siapa dan Ratu siapa... hahaha.. aish bloonnya gue :D

Dodol : tuh, terjawab..:D

Dwi : Pada dasarnya laki laki memang "dominan" dalam segala hal... tapi jangan lupa kalau laki-laki slalu "tekuk lutut" dibawah kerling wanita ;)---> ini salah satu unit budaya yang jadi Meme :D

Dodol Surodol:

Ooohhh!!! Maklum, kuper :">

monic:

Keruwetan meme yang dibahas juga di 'Virus Akal Budi', kayaknya bisa jadi jawaban tentang masalah-masalah sosial (apalagi berkaitan dengan Indonesia) kayak gini. Dan setelah tau meme, masalah seperti ini jadi tampak wajar. (walau memang sebenarnya tidak menjawab. hehe)

Waktu loe post di tempat lain gw gak baca. Jadi sekarang gw jamais-vu, bukan deja-vu.. hehehe..

Dan karena gw lagi pusing, kayaknya kalo ntar loe repost lagi, gw tetap nggak ngerti meme itu apaan.

BTW, tanda * tidak menggantikan huruf S ya? Tadinya gw kira loe mau nulis Memes (as in Ny Addie MS), atau Memes (dalam arti banyak meme).. HAHAHAHA..

rudy:

mbuh ra mudheng ..

okke:

dodol : hehe.. emang ga penting juga sih :))

monic : emang nggak nyelesain masalah sih, tapi demen ga sih ngeribetin diri dengan ngebahasnya? hihihi

maya : hhh.. susah amat sih nerangin Meme... ya wis lah..

rudy : ya sudahhh... *pasrah*

ngeribetin diri dengan ngebahas masalah yang ga selsai? itulah kenikmatan hidup..... hehe

mela:

wah mbak... kalo aku...
pembedaan apa pun berdasarkan gender... di saat menguntungkan buat aku sebagai cewe... pasti aku dukung... nah disaat merugikan... pasti ditolak... hehehe...
ga jelas gini si... :D

intan:

In my opinion.. memetics and cognitive science ce-es are *a* way to understand seluk-beluk manusia. And who knows where science may go...

Yg penting bisa membuat Jeng Okke siul-siul gembira, toh? =)

nella:

tetttoooot...
lo gagal menjelaskan konsep meme.. hhahaha..
told ya', it's not easy :P

eva:

maaf mbak.. postingannya berat sekwintal euyh.. jadinya nangkepnya dikit dikit gituhw deh.. yah untung klo yang ketangkep itu bener.. nah klo ga.. *wink*

jadi meme itu tradisi yang turun menurun kah? warisan sejarah? hmm....

-hwaduh, maafkan atas kebolotan sayah-
correct me if i'm wrong...
*doenk*

okke:

monic & intan : yup, yang penting hepi n nikmat *halah*

nella : iya lo menang, puas?

eva : ga melulu tradisi/budaya/kebudayaan doang sih, dan nggak selalu warisan sejarah tapi satuan unit budaya yang kecil2 juga, macam 'si Jablay', atau 'capee deeeh'. Tapi iya, dia menyebar.

nophie:

judulnya persamaan hak kan?

jadi kalimat yang ini sedikit out of topic:
"Gimana ya rasanya, kalau perempuan yang harus menggantikan ‘peran sosial’ laki-laki dalam keluarga – di mana pemasukan utama adalah dari sang perempuan?"

klo ini terjadi...namanya bukan persamaan hak dunk...tapi "kenaikan" hak wanita dan "penurunan" hak pria...jadi deh masuk ke jaman dimana pria dianiaya oleh kehadiran makhluk hawa ^^

jadi konsepnya...sama2 saling toleransi dan mencukupi...karena diciptanya pria dan wanita itu untuk saling melengkapi...yang artinya juga, berjalan berdampingan, bukan satu depan satu belakang

okke:

nophie : ngga, gue ngomong soal Meme kok, Say ;), relasi gender cuma contoh... dan gue ga ngomong soal cewek nyari duit, cowok tinggal di rumah. Tapi oceh deh, anggaplah pemasukan [?] adalah bagian dari pembagian peran. Yang jd pertanyaan besar pagi gue kenapa lo mikir 'penurunan' kalo cowok tinggal di rumah, cewek di luar nyangkul? ;) Meme tuh,bo..

iya, kenapa penurunan kalo cowok jadi domestic god dan cewek jadi breadwinner? terus kenapa kalo itu terjadi berarti masuk era di mana cowok dianiaya cewek? apakah ini juga berarti kalo cowok jadi breadwinner dan cewek jadi domestic goddess, terjadi penganiayaan terhadap cewek?

rie,,,beeettt euy!!

uhgg capeee deee [itu meme y?]

swad:

walaupun saya tertarik dengan topik gender tapi saya sangat susah berkonsentrasi karena kata meme*.
bawaannya pengen ngikik terus...

enihei, gw dan temen gw adalah pendukung berat emansipasi wanita loh!

Para wanita berjuanglah! Kami dukung!
Bekerjalah dengan giat! Carilah uang yang banyak! Kami akan menunggumu pulang sambil maen catur di kebun gele.
Cita-cita Oh, cita-cita....

huihihihi... meme*....

novryan:

laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sam dalam pembangunan.INI JELAS DIAKUI.Namun masalahnya, perempuan (walaupun tidak semua) malah tetap menganggap dan menempatkan dirinya sendiri sebagai warga negara kelas dua.Freedom of fear, confidence, dan kesadaran hak wanita seharusnya ada dalam jiwa mereka untuk terus berkarya.
diharapkan perempuan dapat terus berkarya tanpa ada sekat budaya yang kuno dan tidak wajar.
Georg Washington,Soekarno dan history makers lainnya were raised by woman juga loh
AYO BANGKITLAH WANITA INDONESIA!

weLL:

Gw ga mau comment.......
tp gw mau kenal siapa yang bikin blog ini....
tulisan-tulisannya menarik......
itu juga klo gw boleh kenal...
thx................

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 24 februari 2007 3:54 pm.

The previous post in this blog was Penantian Jodoh.

The next post in this blog is Punk, Salib dan Che Yang Centil.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31