Jika aku disuruh memilih, kapan waktu yang paling kusukai dalam sehari, tidak pernah aku meragu untuk memilih pagi hari, tepatnya antara jam sembilan kurang lima belas, sampai jam sembilan lewat lima belas.
Karena dalam 30 menit itu, pasti akan ada seorang gadis, melintas di luar jendela rumahku. Gadis yang aku yakini adalah jodohku.
Dan siapa bilang menunggu itu adalah pekerjaan yang membosankan? Tidak. Tidak sama sekali. Buktinya, sepanjang 30 menit itu aku merasa lebih hidup. Darahku mengalir lebih deras, jantungku berdenyut lebih cepat.
Menunggu jodoh, si gadis bermata sipit, berkulit putih mulus bagai porselen itu, telah berhasil membuatku sangat bergairah. Hey, buat anda semua yang selalu mencemooh cinta pada pandangan pertama, percayalah - itu ada, bukan sekedar kebohongan publik yang yang dibesar-besarkan. Sumpah! Itu ada.
Aku langsung jatuh cinta begitu melihatnya untuk pertama kali. Hari itu, jam sembilan kurang lima belas - ia melintasi jendela rumahku. Aku terpesona, waktu terasa melambat, dunia berpusat padanya, sedangkan hal-hal lain adalah latar belakang yang bergerak slow motion. Aku melongo bodoh, tidak mampu melepaskan pandangan dari dirinya.
Wajah yang dibingkai oleh rambut lurus mengkilat itu mengintip melalu jendela, menatapku langsung! Iya langsung. Matanya berbinar-binar. Ia menempelkan telapak tangan pada kaca - lalu aku bisa melihat jelas ujung-ujung bibirnya tertarik ke samping, membentuk sesungging senyum. Ah manisnya.
Tapi itu tidak lama, setelah melirik ke arah arloji yang meliliti pergelangan tangan kirinya, ia melangkah menjauh dengan enggan. Enggan meninggalkanku mungkin.
Kupikir itu adalah pertemuan terakhir kami. Tapi aku salah, esoknya, esoknya lagi, esoknya lagi, minggu depannya, minggu depannya lagi, pagi-pagi antara jam sembilan kurang lima belas sampai sembilan lewat lima belas, ia selalu melintas di depan jendela rumahku, berhenti sejenak, menatapku dengan pandangan penuh cinta bahkan kadang penuh hasrat. Dan berlalu. Kurasa ia pun jatuh cinta padaku.
Pertemuan pandang ini menjadi ritual setiap pagi dan sudah berlangsung selama nyaris tiga minggu. Sejak saat itu, resmilah sudah, aku kecanduan pagi hari, antara jam sembilan kurang lima belas sampai sembilan lewat lima belas. Aku sebut kegiatan ini sebagai : Menunggu Jodoh.
Oh ya, walaupun aku tidak pernah berkenalan langsung dengannya, aku tahu bahwa namanya Mentari, itu tertulis di name tag yang tersemat di dada kiri seragamnya.
Ngomong-ngomong soal seragamnya. Aduh, seragam itu jelek sekali, terdiri dari tiga warna primer, biru, merah dan kuning.
Tiga warna primer yang kuat dalam satu baju? Ah, itu benar-benar hal yang harus dihindari. Di bagian kanan tertera banyak logo provider GSM Nasional serta nama toko telepon seluler [aku menebaknya demikian, karena seperti nama-nama toko telepon seluler lainnya, 3 huruf belakang nama itu juga terdiri dari S, E dan L ‘-sel’] - aku menduga, itu adalah toko tempatnya bekerja sebagai pramuniaga.
Tak apa, walaupun mengenakan seragam jelek, celana jeans dan sepatu datar yang tak kalah jeleknya, ia tetap terlihat cemerlang kok. Ia memang Mentari, mentariku, di jam sembilan kurang lima belas sampai sembilan lewat lima belas dan meninggalkan sinarnya pada sisa hariku.
Sebut aku tolol, karena tidak berani mendekati terlebih dulu. Biarlah, masa bodoh, aku tetap setia menunggunya untuk menghampiriku, menyentuhku, membelaiku serta mencumbuku. Yang kuyakin, kalau ia tak kunjung juga mendekat di minggu ke tiga ini, aku tahu, ada sesuatu yang menghalanginya. Entah apa. Yang jelas ku kan sabar menunggu, sampai ia terlebih dulu mendekat dan meraihku.
Dan sangat yakin bahwa saat itu akan benar-benar terjadi, kami jodoh, ingat?
...