« januari 2007 | Main | maart 2007 »

februari 2007 Archives

10 februari 2007

Peduli kalau [terasa] Dekat, Peduli setelah Akibat

Selama dua minggu saya tidak mengupdate blog, ada beberapa pesan pendek masuk dalam inbox yang menuduh bahwa saya sedang berenang-renang di kolam renang besarnya Bapak Sutiyoso, alias menjadi relawan. Halah. Relawan dari Hong Kong. Yang ada saya terkapar sakit, demam, pusing, mual, letih dan lesu.

Diagnosa awal dokter : radang tenggorokan. Tapi yang sempat bikin panik adalah saran beliau untuk periksa darah jika lewat dari 4 hari demam tidak turun, takut jika ternyata demam saya adalah awal dari demam berdarah atau flu burung.

Dua penyakit yang disebutkan itu begitu sering saya dengar dan baca. Bahkan seorang teman berolok-olok bahwa dua penyakit tersebut adalah trend penyakit terakhir, terkini. Saya pikir, olok-olok teman saya tidak lucu; tapi berhubung waktu itu saya sedang sehat sesehat-sehatnya, saya cuma bilang 'Hush!'

Sampai....Demam kemarin.

Asli saya takut. Yang jelas, jika sebelumnya tidak terpikir sedikit pun bahwa orang-orang di sekitar [bahkan saya sendiri] memiliki kemungkinan terkena wabah flu burung dan demam berdarah, saat sakit, dua penyakit tersebut jadi terasa sangat dekat.

Continue reading "Peduli kalau [terasa] Dekat, Peduli setelah Akibat" »

19 februari 2007

Antara Penis dan Vagina

Berawal dari tugas menyusun sebuah topik makalah untuk menjelaskan perbedaan antara seks dan gender, yang tentunya memuat sedikit istilah-istilah alat kelamin, saya jadi terpikir, sebenarnya bahasa Indonesia sendiri punya atau tidak istilah tersendiri untuk alat kelamin laki-laki dan perempuan? Kenapa juga di setiap artikel, essay dalam text-book, bahkan sampai jawaban dr.Boyke dan dr. Naek dalam rubrik seksologi di majalah-majalah, yang sering tersebut adalah serapan bahasa asingnya : penis dan vagina?

Kemudian, saya mulai bertanya pada teman-teman, sebuah pertanyaan sederhana “ Alat kelamin cowok sama cewek apaan sih, bahasa Indonesianya? Bukan penis dan vagina ya, itu kan serapan…”

Pertanyaan macam itu disambut dengan pelototan, bahkan ada pula yang berkata ‘hush!’.

Saya terheran-heran. Kenapa ‘Hush!’?

Kata mereka, karena saya menyebut penis dan vagina.

Kenapa ‘penis’ dan ‘vagina’ di’hush’?

Karena itu alat kelamin.

Okay, sampai sana saya tidak bertanya ‘kenapa?’ lagi. Walaupun sebenarnya agak heran juga. Penis dan vagina kan salah satu bagian tubuh yang ada pada manusia normal, sama seperti ‘tangan’ dan ‘kaki’ – kenapa dalam penyebutannya harus di’hush’, sedangkan jika kita menyebut ‘tangan’ dan ‘kaki’, tidak ada yang melotot atau meng’hush’ ?

Continue reading "Antara Penis dan Vagina" »

22 februari 2007

Penantian Jodoh

Jika aku disuruh memilih, kapan waktu yang paling kusukai dalam sehari, tidak pernah aku meragu untuk memilih pagi hari, tepatnya antara jam sembilan kurang lima belas, sampai jam sembilan lewat lima belas.

Karena dalam 30 menit itu, pasti akan ada seorang gadis, melintas di luar jendela rumahku. Gadis yang aku yakini adalah jodohku.

Dan siapa bilang menunggu itu adalah pekerjaan yang membosankan? Tidak. Tidak sama sekali. Buktinya, sepanjang 30 menit itu aku merasa lebih hidup. Darahku mengalir lebih deras, jantungku berdenyut lebih cepat.

Menunggu jodoh, si gadis bermata sipit, berkulit putih mulus bagai porselen itu, telah berhasil membuatku sangat bergairah. Hey, buat anda semua yang selalu mencemooh cinta pada pandangan pertama, percayalah - itu ada, bukan sekedar kebohongan publik yang yang dibesar-besarkan. Sumpah! Itu ada.

Aku langsung jatuh cinta begitu melihatnya untuk pertama kali. Hari itu, jam sembilan kurang lima belas - ia melintasi jendela rumahku. Aku terpesona, waktu terasa melambat, dunia berpusat padanya, sedangkan hal-hal lain adalah latar belakang yang bergerak slow motion. Aku melongo bodoh, tidak mampu melepaskan pandangan dari dirinya.

Wajah yang dibingkai oleh rambut lurus mengkilat itu mengintip melalu jendela, menatapku langsung! Iya langsung. Matanya berbinar-binar. Ia menempelkan telapak tangan pada kaca - lalu aku bisa melihat jelas ujung-ujung bibirnya tertarik ke samping, membentuk sesungging senyum. Ah manisnya.

Tapi itu tidak lama, setelah melirik ke arah arloji yang meliliti pergelangan tangan kirinya, ia melangkah menjauh dengan enggan. Enggan meninggalkanku mungkin.

Kupikir itu adalah pertemuan terakhir kami. Tapi aku salah, esoknya, esoknya lagi, esoknya lagi, minggu depannya, minggu depannya lagi, pagi-pagi antara jam sembilan kurang lima belas sampai sembilan lewat lima belas, ia selalu melintas di depan jendela rumahku, berhenti sejenak, menatapku dengan pandangan penuh cinta bahkan kadang penuh hasrat. Dan berlalu. Kurasa ia pun jatuh cinta padaku.

Pertemuan pandang ini menjadi ritual setiap pagi dan sudah berlangsung selama nyaris tiga minggu. Sejak saat itu, resmilah sudah, aku kecanduan pagi hari, antara jam sembilan kurang lima belas sampai sembilan lewat lima belas. Aku sebut kegiatan ini sebagai : Menunggu Jodoh.

Oh ya, walaupun aku tidak pernah berkenalan langsung dengannya, aku tahu bahwa namanya Mentari, itu tertulis di name tag yang tersemat di dada kiri seragamnya.

Ngomong-ngomong soal seragamnya. Aduh, seragam itu jelek sekali, terdiri dari tiga warna primer, biru, merah dan kuning.

Tiga warna primer yang kuat dalam satu baju? Ah, itu benar-benar hal yang harus dihindari. Di bagian kanan tertera banyak logo provider GSM Nasional serta nama toko telepon seluler [aku menebaknya demikian, karena seperti nama-nama toko telepon seluler lainnya, 3 huruf belakang nama itu juga terdiri dari S, E dan L ‘-sel’] - aku menduga, itu adalah toko tempatnya bekerja sebagai pramuniaga.

Tak apa, walaupun mengenakan seragam jelek, celana jeans dan sepatu datar yang tak kalah jeleknya, ia tetap terlihat cemerlang kok. Ia memang Mentari, mentariku, di jam sembilan kurang lima belas sampai sembilan lewat lima belas dan meninggalkan sinarnya pada sisa hariku.

Sebut aku tolol, karena tidak berani mendekati terlebih dulu. Biarlah, masa bodoh, aku tetap setia menunggunya untuk menghampiriku, menyentuhku, membelaiku serta mencumbuku. Yang kuyakin, kalau ia tak kunjung juga mendekat di minggu ke tiga ini, aku tahu, ada sesuatu yang menghalanginya. Entah apa. Yang jelas ku kan sabar menunggu, sampai ia terlebih dulu mendekat dan meraihku.

Dan sangat yakin bahwa saat itu akan benar-benar terjadi, kami jodoh, ingat?

...

Continue reading "Penantian Jodoh" »

24 februari 2007

Meme* Dan Isu Persamaan Hak

*Peringatan : Jangan pikir karena saya pernah membahas masalah perkelaminan, lalu dengan membaca judul di atas, mengira bahwa saya akan beromong kosong tentang itu lagi,ya? Lagian, judul yang saya bintangi di atas tidak diakhiri dengan huruf ‘k’, ya tokh? Ya tokh?


Dan sebelum Ibu Tiri dan Vanya mencela ‘Kayak déjà vu’ atau ‘ini repost,ya?’, saya bakal mengaku, entri ini adalah hasil pengeditan dari tulisan online saya di tempat lain.[Jadi, bu May dan Vanya, saya tidak terima komen bertema ‘kayak pernah baca.’]

Saya selalu merasa bahwa isu-isu persamaan hak antara laki-laki dan perempuan itu, dalam penerapannya cenderung bias.

Ide-ide heroik, yang menyebutkan bahwa selayaknya perempuan jangan mau dijadikan subordinate, bahwa perempuan –seperti halnya laki-laki- harus menguasai ranah non domestic juga, jangan melulu jadi domestic-goddess dan seterusnya dan seterusnya memang mempesona.

Tapi diantara histeria persamaan hak, selalu ada nada keberatan ketika ide tukar peran diajukan. Kan persamaan hak, jadi posisi bisa saja dong dibalikkan.

Bagaimana jika perempuan yang mengerjakan ‘kewajiban’ [yang dituntut lingkungan terhadap] laki-laki, karena laki-laki juga punya hak untuk tidak mengerjakan ‘kewajiban’nya.

Continue reading "Meme* Dan Isu Persamaan Hak" »

About februari 2007

This page contains all entries posted to blog.sepatumerah.net in februari 2007. They are listed from oldest to newest.

januari 2007 is the previous archive.

maart 2007 is the next archive.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31