« PENGALAMAN PERTAMA | Main | Pahlawan Dalam Diri Kita »

Surat Untuk Anak-anak...

Kali ini, saya merelakan lembar-lembar buku yang biasa saya pakai untuk mencatat disobek dalam jumlah banyak. Biar saja, tokh hari ini hari terakhir saya berada di tempat ini. Belum tentu bisa sebulan sekali datang kembali.

"Udah berapa?" tanya saya pada dua orang perempuan yang menjadi rekan perjalanan kali ini.
"Aku sepuluh..."
"Dua belas."
"Lelet banget sih.." saya mencela, bercanda tentunya. Kami bertiga berniat untuk menulis satu per satu surat bagi anak-anak desa yang sempat kami ajar. Ada 80 orang. Ide ini datang semalam sebelumnya, saat beromong kosong mengenai jaman dulu - kami sempat berbagi cerita bagaimana senangnya menerima surat dari sahabat pena; surat yang ditulis tangan.


Paginya, karena tidak ada kertas yang cukup layak, buku saya-lah yang jadi korban. beberapa relawan tertawa-tawa, sambil mengusulkan untuk pergi ke kota, mengetik surat tersebut, ditata sedemikian rupa dengan corel, diprint satu kali, kemudian difotokopi sebanyak jumlah anak yang ingin kami surati.

Ide tersebut ditolak dengan sombongnya.Kami ingin membuat 80 surat yang berbeda-beda untuk setiap anak. Niat yang terlalu ambisius dan kalau dipikir-pikir lagi sekarang, sangat konyol dan tidak praktis. Tapi waktu itu, kok sepertinya ide yang bagus ya?

"Memangnya Mbak udah nulis berapa?"
"Dua puluh lima!" ditanya begitu saya menjawab dengan bangga.
"Cepet amat?"
"Iya dong.. penulis cepat.."
"Mana?"
"Nih!" saya menyerahkan surat-surat yang sudah saya selesaikan selama satu jam.
"NGGAK BISA DIBACA! Tulisannya jelek banget!"
"Oh, nggak bisa ya?" saya nyengir."Jadi gimana dong?"
"Ulang!"
"Yah..."

Okay, satu pelajaran yang saya dapat, dalam mengerjaan segala sesuatu - daripada cepat tapi hasil tidak maksimal, mendingan pelan-pelan. Peribahasa biar lambat tapi selamat, saat itu terpaksa saya amini, padahal itu peribahasa yang saya benci.

Setengah hari, surat-surat tersebut selesai. Kami warnai dan beri gambar dengan crayon, dilipat dan diberi hiasan hati yang kami gunting dari sisa kertas lipat untuk kelas beberapa hari sebelumnya. Oh,ya.. kami sertakan juga permen.

Setelah itu kami memanggil seseorang yang menjadi 'ibu'nya anak-anak, memintanya agar memberi tahu yang lain supaya berkumpul. Ajaib! Dalam waktu lima belas menit, depan tenda kami sudah berisik dengan celotehan anak-anak. Yang membuat hati ini melonjak-lonjak adalah, mereka senang menerima surat-surat itu!

"Ah itu sih senengnya karena ada permennya.." celetuk seseorang.
"Bodo.." kami hanya mencibir.

Permen di makan dan surat dibaca oleh mereka di tempat. Anak-anak kecil yang belum bisa membaca, dibantu oleh kakak-kakaknya yang lebih besar, seru sekali suasana saat itu.

Entah siapa yang memulai, sepertinya kakak-kakak yang sudah SMP. Mereka tiba-tiba menyerahkan kembali kertas kami.

"Minta alamat sama nomer telepon,Mbak!"

Dan suasana pun menjadi lebih ribet, kertas dan alat tulis berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, saling menuliskan alamat dan nomor telepon di kertas yang anehnya sudah mengumal [padahal, perasaan baru lima belas menit dibagikan, deh. Kok bisa ya?].

"Kalau Mbak mau kirim balik surat gimana caranya?" teman saya mengajukan pertanyaan yang sedari tadi hendak saya tanyakan.
"Oh ini alamatnya. Adhi, di Desa Canden, Bantul."
"Loh? Emang nyampe?"
"Nyampe."
"Yakin?"
"Yakin."
"Udah pernah kirim-kiriman surat, memangnya?"
"Belum."
"LAH?"

Seketika kami bertiga cengar-cengir geli, sambil melanjutkan aktivitas bertukar alamat. Tapi ya itu, cara mereka menuliskan alamat masing-masing kurang lebih sama. Rini, di desa Canden, Bantul. Milu di desa Canden, Bantul. Mudji, Pudji, Lia juga. Dan semua juga mengaku, tidak pernah berkirim surat sebelumnya.

Nah lo.

Akhirnya, setelah agak sore, mereka pulang sambil nggak lupa bilang : "Jangan lupa kirim surat ya?"

....

Sampai saat ini, belum ada satu surat pun yang saya kirim. Bingung dengan alamatnya. Tidak yakin surat-surat yang akan dikirimkan sampai.

Tapi beberapa malam yang lalu, sebuah pesan pendek masuk ke dalam inbox saya. Nomor asing.

Mbae, ini Bekti dari Canden.Aq pk hp kkku. Kok ndak pernah kirim surat.Bls.
sender:
+812**********

Nah lo.

Tiba-tiba saya jadi nggak enak hati. Sudah janji, tapi belum sekali pun menepati. Beberapa menit saya berpikir, bagaimana cara mengirimkan surat itu.

Aha!

Kuh, kamu masih suka ke Canden ora?

send.

Pesan pendek saya kirimkan pada teman saya yang di Jogja.

Masih.Kenapa,Mbae?
sender.
Kukuh

Balasan itu datang dengan cepat.

Aku boleh nitip surat buat anak-anak ngga? Aku krm ke alamat kamu, trus kamu bawa,gitu?
maap ya ngerepotin :D

Saya tahu, jawabannya pasti 'Boleh'. Teman saya ini luar biasa baiknya ;)

Boleh aja.Aq msh suka ke sana kok.
Ini alamat asramaku.
Jl.************* no.**/**
DI Yogyakarta ****
sender:
Kukuh
.

Tuh kan? Apa saya bilang. Dia memang brondong yang baik [dumdidum]

Maturnuwun! ;-)

Segera setelah saya kirim pesan tersebut, saya langsung mengambil kertas.. dan... kembali mengulang pengalaman menulis surat untuk 80 anak. Tapi kali ini tentunya tidak terburu-buru, supaya tulisan saya jelas, dan bisa terbaca.

Tapi bo, pegel lho... padahal belum juga sampai lima belas. :D

Yang tertinggal dari Kadilobo, Canden, Juli 2006

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://sepatumerah.net/mt/mt-tb.cgi/34

Comments (13)

Biasanya di daerah pedesaan di Jawa (Jogja pada khususnya) alamat surat pada biasanya memang hanya terdiri dari nama lengkap yang bersangkutan, nama pedukuhan (dusun), nama desa (kelurahan), nama kecamatan, nama kabupaten, kemudian provinsi. Dan umumnya surat-surat tersebut akan sampai. Karena oleh pihak POS surat2 tersebut akan dihantarkan ke rumah kepada dusun/dukuh aka. Pak/Bu Dukuh. Kemudian beliau2 ini atau juga orang2 suruhan beliaulah yang akan menghantarkan surat sesuai nama masing2 orang yang tertera di amplop surat tersebut. Memang kurang efektif, tapi tetap tersampaikan... :D

Sampai sekarang gw juga masih kirim surat sesekali ke keluarga yg gw ikut tinggal di Gunung Kidul, pas live-in program SMA. Seperti kata temukonco di atas, alamatnya sederhana:

Nama Kepala Keluarga
Nama Dusun dan Desa
Ditambahi keterangan gak penting: masuk dari sebelah SMPN ******
Wonosari - Gunung Kidul

Suratnya sampai kok.. hehehe..

And, BTW, kalo untuk 80 anak, teteup menurut gw lebih efektif: diketik, copy paste, ubah dikit2 untuk anak ke-2, dst sampai 80 surat.. ;)

okke:

oh bisa ya? tapi aku.. gak tau nama lengkap anak2 itu :">. huehhehe... Soal ditulis tangan, udah 20 nih... nanggung *ngeyel*

kayaknya mang nulis surat ke desa alamatnya ya kayak gitu. Di bali sih plus ada banjarnya ajah. Ya mo gmana, wong no rumah gak ada gitu...hehehh :D

Hmm..surat utk sayah mana?.. :P

Hayu semangat terus bu. Kita terus semangati supaya bisa semua anak dapat surat wangi dari 'bu gurunya' :)

Salut banget ke, salam buat anak-anak disana ya...

Ha, jadi kangen surat-suratan euy...jangankan surat, jaman sekarang dapet kartu ulang tahun aja rasanya seneng banget (e-card itu lama2 asa ga ada seninya :D)
Btw jeung, poto Lentera lagi centil udah ada di blog gue ya :)

okke:

aprian : huhu, kemaren baru paket ya? belum surat?;) tapi kan paket bunga.. *alah!*

yudhis : ga seberapa om, kalo dibandingin sama yang udah om lakuin :)

pipit : lucuuuuuuu.... ayo, masih kecil jangan dijodoh2in ya :))

nYam:

biasanya ya, asal tau nama kepala keluarga, suratnya nyampe kok. cuma di desaku aja yang rada aneh. surat semua dikumpulin di kantor kecamatan, trus diambil ama petugas kantor desa (ga jelas kapan ngambilnya), baru diantar satu-satu. itulah kenapa bisa nyampe berbulan-bulan T_T

okke:

nah itu masalahnya gue ga tau boo :((

mela:

kayaknya cara yang lebih efektif biar langsung sampe ke alamatnya ada de mbak...
mbak langsung dateng aja ke sana... hehehe...
tapi aku heran de... kalo misalnya namanya ada yang sama... kayak adi ada 3 buah... apa ga ketuker-tuker ya kalo pake tukang pos... apa harus sama bin ato bintinya... ^_^
mbak... yang semangat atuh nulis suratnya... ntar kalo udah 79 buah... aku bantuin de ^_^...

untung okke ngeblognya ngga pake tulisan tangan -siul siul- , tetep semangat nulis suratnya ke!

Menulis surat.. memang pegel apalagi kalau jumlahnya sampai puluhan, kadang setengahjalan berhenti sejenak, menulis apalagi yah..:p belumlagi dari baris awalsampai ketengah si tulisan senantiasa mengalami degradasi.. sampai terus berubah menjadi tulisan pada selembar resep dokter :D

Namun demikian, nggak kebayang betapa senengnya si penerima surat di sebrang kampung sono.. saat memegang sepucuk surat berperangko dan pasti penasaran apa yah yang ditulis didalamnya [kecuali dapat surat tagihan].

Seneng bgt udh bisa mampir kesini lagi.. salam kangen dari negeri si bau kelek.

PS: Selain warung yang baru - toko yang lama juga dibuka kembali setealh di tinggal mudik...

galuh:

tante...soal surat menyurat d kampung ini jd teringat nasib sy..kel sy d kampung pst lama klo nrima surat dr ithb, krn yaitu suratnya musti mampir2 dl di kelurahan..hehe..

Post a comment

About

This page contains a single entry from the blog posted on 06 januari 2007 2:39 pm.

The previous post in this blog was PENGALAMAN PERTAMA.

The next post in this blog is Pahlawan Dalam Diri Kita.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31