…ngapain susah-susah jawab mendalam dan panjang-panjang saat ditanya apa (makna) Hari Kartini (dan hari-hari besar lainnya)?
Keterlaluan banget ya, kalau sampai lupa password blog sendiri? Iya, saya lupa dong, saking lamanya nggak login. :D Maklum, sekarang sedang asyik mainan di blog yang onoh.
Kemana aja lama nggak ngeblog?
Sibuk.
Sibuk ngurusin alanaloka yang kebanjiran pesanan kebaya buat Kartinian. Oke, saya mendramatisir, cuma 4 pesanan kok. 4 kebaya-nggak-kebaya. Mereka menyebutnya kebaya kontemporer. Tapi ya cukup panik juga, karena empat-empatnya masuk sekitar 1 minggu sebelum hari-H. Ini kali pertama saya nerima pesanan; itu juga karena teman. Biasa, satu diiyain, yang lain-lain ikutan. :D
*ternyata nerima pesanan itu… panik ya boook*
Ngomong-ngomong soal Kartini, kenapa ya kalau Kartinian harus pakai Kebaya? Atau setidaknya ada lomba baju daerah (dengan pemenang : pemakai kebaya merah beludru, jarik sempit dan konde Jawa) ?
Kayaknya dari dulu tuh selalu begitu, dari zaman SD sampai sekarang kayaknya cara merayakan Kartinian pasti ada lomba berbusana (kebaya). Oh, waktu TK sih, saya memakai baju senam. Waktu SD saya memakai baju Cinderella *blah*, baru waktu SMP saya memakai kebaya merah beludru itu.
Dan kenapa juga pemenangnya HARUS mereka yang berbusana kebaya beludru merah – jarik sempit – konde Jawa?
Beberapa kali saya ditodong untuk menjadi juri lomba Kartinian anak-anak, ada yang ditodong-memelas oleh kawan, ada yang dibayar sih. Kali pertama saya menjadi juri, saya pengin bikin anak yang berbusana penari Saman Aceh dan Dayak sebagai pemenang, karena saya bosan banget dengan penampakan kebaya beludru merah – jarik sempit – konde Jawa. Eh tapi panitia ngasih titipan catatan, jangan dimenangin, karena tidak mirip Kartini.
Oke deh.
Sekali lagi, kenapa oh kenapa kebaya merah – jarik – konde Jawa? Coba deh googling dengan kata kunci RA Kartini, Yang banyak keluar Kartini berbusana kebaya putih. Nggak percaya? Lihat sendiri di sini.
Mungkin para panitia waktu itu nggak googling.
Eh iya, sebenarnya bukan cuma 4 pesanan saja sih, ada satu lagi.
Tiga hari yang lalu saya mendapat pesanan kebaya dengan tenggat Sangkuriang, maksudnya, pengin cepat-cepat jadi. Terpaksa saya tolak, karena kasihan dengan penjahit saya yang ngos-ngosan ngerjain 4 pesanan.
“Gue bayar lebih deeeh. Berapa juga, kasihan anak gue. Kainnya sudah ada kook.” begitu kata pemesan, yang kebetulan kawan saya. Oh dia memesan itu untuk putrinya yang masih TK. *hai kamyu!*






