[TAGS!] Yang Bikin Meleleh.

There is another side to chivalry. If it dispenses leniency, it may with equal justification invoke control.- Freda Adler

….Lagian percuma juga sih kalau punya kebiasaan membukakan pintu atau membawakan tas pasangan, tapi caranya bersikap pada orang dan mahluk hidup lain buruk. Ya nggak? :P

Okeh, ini sepertinya bakal jadi posting tags terakhir di tahun 2014. Buat yang baru mengunjungi blog saya sekarang, posting tag itu semacam tulisan bertema tertentu; jadi saya bakal menuliskan versi saya, kemudian teman-teman kalau mau, menuliskan tema yang sama, versi masing-masing dan tentunya di blog masing-masing. Kalau sudah, sila tinggalkan tautan di commenting system posting ini, nanti tautannya bakal saya masukkan ke dalam tulisan. Beberapa contoh posting kategori tag bisa di baca di : http://blog.sepatumerah.net/category/tags/

Temanya adalah : perlakuan cowok yang bikin kamu meleleh. Ihiy!

Kenapa saya memilih tema ini? Ya karena nggak sengaja baca satu artikel. Jadi, ceritanya di suatu malam yang iseng, tanpa sengaja saya menemukan seseorang membagikan sebuah artikel di wall-nya, artikel ini berjudul 9 Chivalrous Habits Of A True Gentleman That Make A Woman Melt, dengan komentar : Ah! Gara-gara cewek-cewek sok girl power, jadi banyak cowok yang ngelupain sikap gentleman seperti ini!

Biasanya sih saya nggak doyan artikel tentang bagaimana cara berkencan, bagaimana cara memesona lawan jenis dan sejenisnya, tapi salahin komentar orang yang membagi tautan tersebut,  gara-gara itu kan jadinya saya penasaran dan untuk membaca kontennya? Ada sembilan poin, seperti yang telah disebutkan pada judulnya, yaitu : Membukakan pintu, merelakan gigitan terakhir dari makanannya, menghabiskan waktu bersama keluargamu, rela menderita menemani menonton film girly, memberi bunga, berjalan di sebelah luar sidewalk, mencium kening, mengisikan bensin dan yang terakhir memakaikan jaket.

Terus terang, begitu selesai membaca artikel tersebut saya sempat berkerut kening dan berpikir ‘Ahelah, hari gini masih ada cewek yang meleleh-leleh kalo diginiin? Situ princess?’ *Disambit*. Lagipula menurut saya sih, beberapa tindakan di dalam artikel rada berbau  benevolent sexism(Eaa, udah ada yang rolling eyes? :D).

Tapi ya mungkin ini masalah selera sih ya. Bisa jadi beberapa perempuan meleleh-leleh jika dibukakan pintu, dibayari, diberi bunga dan lain sebagainya, tapi ada jenis perempuan lain yang enggak. Orang kan beda-beda. Makanya saya bikin posting tags bertema seperti ini.

Coba, coba, sekalian menulis posting tags dengan tema seperti ini,  sekalian mengingat-ingat hal-hal manis apa yang pernah dilakukan pasangan masing-masing. Buat yang lagi berantem sama pasangan, konon kalau kita ingat hal-hal manis tentang dia, sebelnya jad berkurang. Terus baikan deh. Ihiy!

Yuk ah, ini ini dia.  Versi saya.

 

1. Bisa Berempati.

Seseorang  yang mampu berempati itu mampu memahami perasaan, kebutuhan dan emotional state orang . Yang kayak gini ini sudah pasti berhati lembut dan  bersikap baik pada sesama manusia bahkan pada mahluk-mahluk lain. Bareng-bareng sama laki yang kayak begini perasaan kita bakal selalu merasa aman, adem, ayem dan tenteram.

Lebih meleleh mana, pasangan yang membukakan pintu untuk perempuannya, atau secara adil membukakan pintu bagi semua orang yang terlihat kesusahan? Lebih meleleh mana, tas ringan kita dibawakannya atau sang laki berhenti berjalan untuk membantu seekor anak anjing yang sedang susah payah melepaskan plastik yang tersangkut di mulutnya?

Lagian percuma juga sih kalau punya kebiasaan membukakan pintu tapi nggak perduli ada orang yang sedang kesusahan? Percuma juga membawakan tas pasangan kalau caranya bersikap pada orang (terutama orang-orang ‘kecil’) dan mahluk hidup lain buruk. Ya nggak? :P

Continue Reading

[Keseharian] Filosofi Kecoak

Philosophy:  A route of many roads leading from nowhere to nothing.  ~Ambrose Bierce, The Enlarged Devil’s Dictionary

….pernah kan mengejar kecoak, baik bersenjatakan sandal mau pun obat pembasmi serangga, tapi ternyata kecoaknya malah balik menyerang dan membuat kamu tunggang langgang ?

Jadi, satu malam, saya terbangun dari tidur gara-gara kebelet pipis. Maka buru-burulah saya keluar dari kamar, dan masuk ke kamar mandi yang jaraknya hanya dua langkah. Karena masih setengah mengantuk, maka saya pun melakukan segala hal dengan setengah sadar, dari membuka pintu kamar mandi, menutupnya, menguncinya, membuka celana dan duduk di toilet.

NAH, kesadaran saya kembali sepenuhnya ketika tanpa sengaja tatapan mata saya jatuh pada sosok kecoak yang merayap di pintu kamar mandi. Sebagai pembenci kecoak, lutut saya mendadak lemas. Entah mengapa sosok yang hanya sebesar jempol kaki tersebut berhasil mengintimidasi sebegitu rupa. Yang ada dalam pikiran saya hanyalah ‘jangan membuat gerakan mendadak, jangan membuat gerakan mendadak, jangan sampai kecoaknya terbang.’

Itu asli saya menyelesaikan hajat saya dengan tidak konsentrasi, mata saya terus menerus mengawasi pergerakan-pergerakan sang kecoak. Untung saja ketika waktunya saya keluar kamar mandi, kecoak tersebut menggeser ke arah tembok, sehingga saya bisa buru-buru melarikan diri dan masuk kembali ke kamar nyaman saya.

Karena baru saja mengalami hal yang menegangkan (lebay, Kke, lebayyyy), rasa kantuk saya pun hilang. Jadinya pikiran saya menerawang ke mana-mana dan membuahkan beberapa pemikiran yang filosofis…. berhubungan dengan kecoak (ALAH!)

Bahwa kita seharusnya selalu waspada dalam melakukan segala sesuatu dalam kondisi apa pun, kerahkan seluruh kemampuan panca indera untuk mengamati sekitar;  karena bahaya bisa ada di mana-mana dan dalam bentuk apa saja. Contohnya, gara-gara saya mengantuk, jadi saya nggak mengecek terlebih dahulu sehingga saya tidak menyadari bahwa ada kecoak di balik pintu. Masih mending kecoak, gimana kalau ular? Atau … yang lainnya? Seberapa sering kita terlalu asyik dengan ponsel masing-masing di tempat umum? Sadar nggak ada apa saja di sekitar kita? Seberapa sering para pelari hari gini memakai earphone dan mendengarkan musik keras-keras saat lari di jalan raya? Sadar nggak ada kendaraan apa saja di belakang mereka?

Continue Reading

[Keseharian] Beratnya Bikin PR Masa Kini

The man (or woman) who can make hard things easy is the educator. – Ralph Waldo Emerson

Pokoknya zaman saya SD, yang terjadi pada masa purbakala itu, semua terasa jauh lebih sederhana. Nah, anak SD sekarang kenapa berat banget ya, perasaan pelajarannya?

Lentik, putri sulungnya sahabat saya dua minggu sekali mampir ke kantor sepulang sekolah, karena ia harus les dan tempat lesnya dekat dengan kantor. Oh ya, Lentik ini kelas 3 SD ya? Kalau ia nggak ada PR dan saya tidak harus mengajar, biasanya kami mengobrol iseng, atau bermain. Kadang ada waktu kami tidak sempat berinteraksi sama sekali karena sama-sama sibuk, saya sibuk dengan mahasiswa yang bimbingan tugas dan/atau dia sibuk dengan PR-nya.

Satu hari, saat kami berdua sama-sama memiliki waktu luang, setelah bosan bermain domikado, ia mengajak saya main tebak-tebakan. Dalam pikiran saya, namanya tebak-tebakan ya pasti plesetan-lah ya. Ia menyuruh saya mulai duluan. Terus terang, dulu saya jago banget tebak-tebakan plesetan; cuma karena kurang diasah, jadinya banyak lupa.

“Lentik, siapa penyanyi yang jago basket?” itu pertanyaan dari saya. Soal tebak-tebakan, memang ini tebakan andalan saya…dulu.

Lentik berpikir keras. Satu menit, dua menit, akhirnya ia menggeleng.

“Hetty Koesslamdunk!” jawab saya bangga karena Lentik tidak bisa menjawab.

“Hetty Koeslamdunk itu siapa?”

Oke, melihat kerutan di keningnya tiba-tiba saya merasa bodoh. Manalah anak ini ngalamin zamannya Hetty Koes Endang? Akhirnya saya mencoba menjelaskan. Ya kalau tebak-tebakan atau jokes harus dijelaskan, sudah pasti nggak lucu kan? Dan saya baru ngeh juga, ternyata Lentik nggak tahu apa itu slam dunk. Oke, plesetan failed.

Sekarang giliran dia. Alih-alih langsung bertanya, dia malah mengeluarkan buku pelajarannya.

Mati. Ditanya soal pelajaran nih. Apa lagi setelah saya lihat sampul depan buku tersebut : Matematika. Sebagai pembenci matematikan sepanjang umur saya makan sekolahan, ditanya soal Matematika, ya sayonara aja.

“Apa yang dimaksud dengan sudut lancip?” Lentik mulai mengeluarkan pertanyaan pertama.

Oh, fiuh. Saya masih ingat itu. Pelajaran SMP!

Wait. Pelajaran SMP kenapa bisa ada di buku anak SD kelas 3?

“Sudut yang kurang dari 90 derajat.” jawab saya sembari terheran-heran,”Lentik udah belajar sudut-sudutan gitu ya?”

Anggukan Lentik membuat saya takjub. Setelah itu Lentik harus pergi ke tempat lesnya. Saya pikir permainan tebak-tebakan telah berakhir, tapi saya salah duga, karena tiba-tiba ibunya bertanya.

“Sudut itu apa sih?”

“Bidang yang ada di antara perpotongan dua garis. Kenapa sih?” ujar saya penasaran.

“Itu, Lentik nanya, dan gue nggak bisa menjelaskan dengan bahasa anak-anak. Gue udah jawab gitu, tapi Lentik nggak ngerti. terus, kalau derajat itu apa?”

Akhirnya saya, ibunya dan beberapa kawan lain yang kebetulan ada di sana pusing bareng, bagaimana menjelaskan ‘sudut’ dan ‘derajat’ pada seorang anak kelas 3 SD.

“Aku ada PR, disuruh bikin karangan deskriptif. Nah, karangan deskriptif itu apa sih, Mbu?” tanya Lentik pada ibunya, di salah satu hari ia harus berangkat les minggu lalu.

“Karangan deskriptif itu…. tanya tante Okke deh.” kata ibunya yang tampak sedang sibuk menilai tugas mahasiswa. Tinggal saya yang gelagapan mencoba mencari cara paling sederhana agar Lentik mengerti.

Continue Reading

[Keseharian] Diam-diam Nge-judge.

“We’ve spent so much time judging what other people created that we’ve created very, very little of our own.” – Chuck Palahniuk, Choke

…Ketika ada orang melakukan hal yang tidak sesuai dengan cara yang kita kenal, maka reaksi kita ‘Lho, kok?’

Nampaknya kalimat ‘sekejam-kejamnya ibu tiri, masih lebih kejam ibu kota’ itu sudah seharusnya diganti. Jadi apa? Jadi ‘sekejam-kejamnya ibu tiri dan ibu kota, masih lebih kejam ibu…ibu.”

*kemudian dislepet ibu-ibu senusantara*

Ya maab, Buibu. Soalnya dalam rentang waktu singkat, saya mengalami dua hal yang membuat saya berpikir demikian.

Jadi, dua kali dalam minggu ini saya janjian ketemu dengan dua orang ibu-ibu untuk satu urusan. Yang satu ibu-ibu pekerja kantoran, sementara yang satunya ibu-ibu penuh waktu. Setelah membicarakan urusan intinya, kemudian tibalah saat ngobrolin remeh-temeh sambil ngemil-ngemil lucu. Entah dari mana awalnya, pokoknya pada akhirnya keduanya curhat hal yang sama, padahal waktu pertemuan berbeda, tempat pertemuan berbeda dan kedua orang ibu tersebut tidak saling mengenal.

Sang ibu rumah tangga penuh waktu mengeluhkan sikap rekannya (ibu pekerja). Menurutnya ia sering merasa direndahkan oleh para ibu pekerja. Awalnya sih saya cuma bilang, mungkin itu perasaannya saja, tapi dia menyanggah. Menurutnya ada beberapa opini tentang ibu penuh waktu yang disampaikan oleh para ibu pekerja secara frontal, baik ketika bertemu langsung, melalui status media sosial atau di forum-forum ibu-ibu.

“Kesel deh gue, mereka suka nganggep kalau ibu-ibu rumah tangga itu adalah perempuan-perempuan yang di rumah kerjanya cuma nonton sinetron, baca tabloid, terus ngegosip pas jemput anak sekolah. Ih, nggak tau apa kalau jadi ibu rumah tangga itu repot, bukan pekerjaan 9 to 5, tapi 24 jam.” omel kawan saya ini, “Seharusnya kalau mereka nggak tau gimana sibuknya para ibu rumah tangga, jangan nge-judge lah. Bikin sakit hati aja.”

Di pertemuan dengan ibu-ibu pekerja, terjadi hal yang sama juga ;  setelah urusan utamanya beres, mengobrol ini itulah kami; sampai pada akhirnya ia curhat tentang sikap ibu-ibu full time yang terasa menyudutkan ibu pekerja.

“Gila ya, ibu-ibu full time itu, seneng banget nge-judge ibu-ibu yang bekerja sebagai ibu yang melupakan kewajiban utamanya sebagai istri dan ibu, ngebela-belain nyerahin urusan domestik ke ART, nitipin anak ke daycare semua demi ego. Males banget.”

Beneran kan, ibu-ibu itu kejam banget? :))

Anyway, dari curhat keduanya, ada harapan yang sama saya dengar : don’t judge. Jangan nge-judge. Jangan menghakimi. Konon menghakimi selalu menjadi sumber perseteruan.

Tapi, bisa nggak sih seseorang itu benar-benar tidak menghakimi orang lain -sama sekali? Mungkin ada yang bisa, mereka yang level kebijaksanaan dan spiritualnya sudah tingkat tinggi. Kalau saya? Terus terang enggak, rasanya sulit melepaskan judgement terhadap sesamanya. Saya rasa kebanyakan orang juga begitu sih *Ciye, saya cari teman*

Ketika melihat orang melakukan hal yang berbeda dengan saya, otomatis saya memberikan penilaian. Bahkan ‘ih kok gitu sih?’ – pun sudah merupakan judgement kan? :)

Continue Reading

[OnMedia] UWRF : Perempuan dan Konservasi Alam.

Tulisan saya untuk blog Ubud Writers and Readers Festival, hasil wawancara dengan Hayu Dyah Patria, seorang aktivis pangan & ecofeminist, dan Suzy Hutomo, CEO The Body Shop.

hayu1

Sudah sejak lama manusia bergantung pada alam untuk bertahan hidup. Kerusakan alam tentu saja sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan hidup manusia. Sayangnya semakin lama manusia semakin lupa bagaimana cara memperlakukan lingkungan.

Walaupun konservasi alam adalah tanggung jawab semua umat manusia, namun pada kenyataannya, sebagai pengelola rumah tangga dan komunitas, kaum perempuanlah yang lebih sering memanfaatkan  air, tanah, tumbuhan dan elemen alam lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya; sehingga mereka harus memiliki kearifan agar sumber kehidupan tersebut dapat berkelanjutan.

Selain itu, di berbagai budaya perempuan adalah edukator keluarga, mereka  bisa mendidik anak-anaknya untuk memedulikan lingkungan dan melakukan konservasi. Dengan peran-peran seperti itu, perempuan bisa menjadi agent of change yang mengubah perilaku masyarakat terhadap alam. Contoh yang pernah terjadi adalah Green Belt Movement yang digagas oleh Wangari Maathai, seorang perempuan Kenya, untuk menjawab permasalahan kekurangan air, suplai makanan dan kayu bakar karena penebangan hutan di Nairobi, Kenya. Green Belt Movement mendorong para perempuan daerah itu untuk mengolah bibit dan menanam kembali pohon-pohon yang berfungsi untuk mengikat tanah, menyimpan air hujan, menyediakan makanan dan kayu bakar.

Melalui wawancara singkat via surel, Hayu Dyah Patria dan Suzy Hutomodua dari sekian banyak perempuan yang peduli pada lingkungan hidup Indonesia, menceritakan tentang usaha mereka menyelamatkan alam.

Mengembalikan Perempuan Pada Alam

Ketertarikan Hayu Dyah Patria – seorang aktivis pangan dan ecofeminist – untuk meneliti berbagai tumbuhan liar yang bisa menjadi alternatif bahan pangan bermula sejak masa kuliahnya di jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Ia tersadar bahwa selama ini pangan selalu dilihat sebagai komoditas, bukan sebagai pemenuh kebutuhan hidup masyarakat. Penelitian skripsinya yang mengambil mangrove sebagai bahan pangan dikritik oleh dosennya karena dinilai tidak memiliki nilai ekonomi.

Hal yang membuatnya bertahan untuk mengembangkan penelitian tanaman liar untuk pangan adalah karena ia menemukan kasus-kasus malnutrisi di Indonesia akhir-akhir ini, padahal di alam banyak sekali tumbuhan yang dulu pernah dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi dan obat-obatan.

Menurutnya, pengetahuan, keterampilan dan kearifan untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki oleh perempuan-perempuan di zaman dahulu tidak menurun ke generasi selanjutnya. Penyebabnya tak lain karena perempuan-perempuan muda lebih memilih barang-barang ‘modern’ yang sifatnya instan dan praktis sehingga beban kerja domestik jadi ringan. Ironisnya, benda-benda ‘modern’ tersebut kemudian menjadi penyebab kerusakan alam.

“Untuk mencuci baju kita bergantung pada deterjen yang limbahnya mencemari air dan kemasan plastiknya mencemari tanah, padahal zaman dulu digunakan biji klerak yang ramah untuk lingkungan. Dulu nenek moyang kita menciptakan berbagai macam ramuan jamu untuk berbagai masalah kesehatan, misalnya kunyit asam. Kini, hanya sedikit yang tahu bagaimana membuatnya; sehingga akhirnya yang dikonsumsi adalah kunyit asam dalam botol atau karton yang penuh pengawet. Lalu kemasannya menambahi menjadi limbah.” Ujarnya.

Kesulitan utama yang dihadapinya adalah mengubah cara pandang seseorang akan tanaman liar. Masyarakat sudah melupakan berbagai jenis tanaman yang berguna; kini tanaman-tanaman tersebut dianggap sebagai tanaman pengganggu yang harus dienyahkan. Masyarakat lebih memilih untuk membeli sayuran di tukang sayur dan tidak berminat untuk mencari tahu lebih jauh lagi tentang tumbuhan liar di sekitar mereka.

Setelah melewati berbagai tantangan, kerja kerasnya tidak sia-sia, ia berhasil memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di Desa Galengdowo, Jombang untuk memanfaatkan tanaman-tanaman liar sebagai alternatif pangan. Karena usahanya ini, Hayu Dyah dianugerahi Satu Indonesia Award di tahun 2011.

hayu2

Selanjutnya bisa dibaca di : http://www.ubudwritersfestival.com/blog/perempuan-dan-konservasi-alam/

[Tags!] Basa yang Basi.

Don’t tell your friends about your indigestions: “How are you!” is a greeting, not a question. - Arthur Guiterman, A Poet’s Proverbs

…’Kapan ngundang-ngundang?’ atau ‘Kapan nyusul?’ atau (yang lebih parah) : why are you still single? Ah percaya deh, pertanyaan ini tuh mengganggu sejuta umat lajang.

Mumpung baru ngalamin banget, dan energi masih sisa beberapa persen sebelum akhirnya tumbang tidur, saya pengin bikin posting tag ah! Buat yang baru mengunjungi blog saya sekarang, posting tag itu semacam tulisan bertema tertentu; jadi saya bakal menuliskan versi saya, kemudian teman-teman kalau mau, menuliskan tema yang sama, versi masing-masing dan tentunya di blog masing-masing. Kalau sudah, sila tinggalkan tautan di commenting system posting ini, nanti tautannya bakal saya masukkan ke dalam tulisan. Beberapa contoh posting kategori tag bisa di baca di : http://blog.sepatumerah.net/category/tags/

Kali ini temanya tentang basa-basi.

Basa-basi termasuk phatic expression, yaitu ekspresi verbal (dan non verbal) yang content-nya nggak penting. Contohnya seperti ‘How are you?’ – bukan berarti sang penanya memang pengin tahu bagaimana kabar kita (jadi nggak usahlah ngejawab dengan curhatan panjang lebar baru putus, terus dipecat padahal kredit rumah belum lunas :D). Atau ‘Eh lagi sibuk apa nih?’ – bukan berarti penanya beneran pengin tahu kesibukan kita (jadi nggak usah juga langsung cerita kalau kehidupanmu ribet banget pagi kerja di kantor, sore ngelesin, malam ngeband.)

TAPI, biar pun content-nya nggak penting, fungsinya penting; yaitu untuk membuka saluran komunikasi. Dari obrolan remeh-temeh, kemudian beranjak ke topik yang lebih serius. Ya bayangin aja gimana jadinya persilatan pergaulan kalau nggak ada basa-basi. Misalnya, di reuni sekolah, ketemu teman yang sudah lama nggak ketemu, gimana coba mau buka pembicaraan tanpa basa-basi? Atau kalau misalnya lagi bosan menunggu di satu tempat, baterai hp meninggal, kamu bosan, kebetulan di sebelah ada orang – gimana cara kamu memulai pembicaraan tanpa basa-basi? Ada nih, saya pernah menulis soal phatic communication di sini.

Nah, walau pun penting, tapi ada juga basa-basi yang bikin saya sebal. Kamu juga punya kan? Ayo deh, ngaku deh. :))

Ini dia list basa-basi yang buat saya basi :

1. Ditanya kapan kawin (dan variannya)

Semacam ‘Kapan ngundang-ngundang?’ atau ‘Kapan nyusul?’ atau (yang lebih parah) : why are you still single? Ah percaya deh, pertanyaan ini tuh mengganggu sejuta umat lajang. Oke, saya tahu, itu cuma cara sang penanya membuka pembicaraan; tapi kerasa nggak sih, pertanyaan itu mengesankan bahwa yang ditanya impoten dalam mencari seseorang yang bisa dikawin? Nggak ya? Atau saya aja yang sensitit? :))

Kalau dulu sih saya sering denial, ah nggak apa-apa kok ditanya begitu; akibatnya saya suka sok tenang dan menanggapi dengan serius. Guess what? Kalau dijawab serius, malah jadi panjang!

‘Kapan nikah nih?’

‘Ah belum. Masih lama’

‘Kenapa belum?’

‘Masih mau [masukkan target kehidupan di sini]‘

‘Eh, jangan keasikan gitu ah, inget perempuan itu punya jam biologis. Lagian kan Tuhan menciptakan manusia berpasangan, lalala, lilili, lalala’

Sekarang-sekarang ini jawaban saya nggak pernah sok tenang atau sok serius, seringnya saya jawab ‘Ah, ganti pertanyaan, dong. Bosen.’ atau cuma nyengir aja.

Continue Reading

[Sosial Media] Kita Adalah Monster Online

 People demand freedom of speech as a compensation for the freedom of thought which they seldom use. – Soren Kierkegaard

…kalau membaca tulisan kasar di internet, suka kepikiran gini nggak sih : ini yang nulis manusia apa monster? Sama sekali nggak mikirin perasaan orang!

Jadi, hari gini, siapa yang masih baca surat kabar untuk mengikuti berita terkini? Saya masih sih, kadang-kadang, terutama kalau mau menonton film di bioskop (Tapi kadang ini pun saya ganti dengan mengintip jadwal bioskop yang tersedia secara online). Iya, saya lebih memilih mengikuti berita-berita hangat di dunia *tsah* lewat surat kabar online.

Ada hal yang menarik ketika saya membaca situs-situs berita semacam itu. Nggak, bukan beritanya; kalau itu sih, kayaknya satu memuat berita nganu, semua situs bisa dipastikan memuat berita yang sama, dengan redaksional yang berbeda. Yang menarik perhatian saya adalah komentar-komentar yang ditinggalkan oleh pembaca.

Berbagai macam opini ada di sana. Ada yang cerdas, kritis dan nyambung. Ada yang nggak nyambung (dan bikin saya ngomong dalam hati ‘Baca dan pahami konteksnya dulu, Nyet. Baru komentar’), ada yang… jualan. Iya, biasalah, spamming iklan gitu. Cara penyampaian opininya pun rupa-rupa, ada yang dengan kalimat yang teratur dan enak dibaca, ada yang minta ampun kasarnya, ada yang, ya ampun, ditulis seperti oleh orang yang baru belajar menulis; tahu dong : kyx c n13 or9 k4fir.

Pfft.

Ajaibnya nih, yang lebih sering saya baca adalah komentar minus yang disampaikan dengan bahasa kasar. Anjing, babi, perek dan lain-lain terlontar dengan mudahnya dalam komentar-komentar tersebut. Terus terang saat membacanya, saya sering merasa jengkel sendiri.

Kalau kata kawan saya sih…

boysEhe..ehehehe..

Iya sih, bener juga dia. Tapi kan, kadang suka gatel juga pengin baca. :))

Continue Reading

[GenderTalks] Feminism Itu (Nggak) Serem.

“It’s worth paying attention to the roles that are sort of dictated to us and that we don’t have to fit into those roles.We can be anybody we wanna be.” - Joseph Gordon-Levitt

Ketika laki-laki melakukan kekerasan terhadap perempuan, maka semua membela, sementara ketika perempuan melakukan kekerasan terhadap laki-laki, yang laki-laki diketawain dong! Adil?

“Lo feminist?”

Entahlah kesambet apa teman saya, nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba bertanya seperti itu. Saya hanya bisa terdiam sambil cengengesan. Pertanyaannya sangat sederhana, dan jawabannya pun seharusnya sederhana, tinggal bilang ‘iya’ atau ‘nggak’ kan? Tapi ternyata buat saya nggak sesederhana itu.

Nggak berani bilang iya, karena yang pertama : dalam pemikiran saya, seorang feminis adalah orang yang sangat aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang persoalan gender, melakukan advokasi perkara yang berhubungan dengan gender, khatam sejarah feminisme dan mengetahui kasus-kasus yang berakar dari permasalahan gender role di dunia. Saya? Saya sebatas berminat dengan persoalan gender dan sedang berusaha memahaminya serta mengaplikasikan pemahaman saya untuk kehidupan saya pribadi. Kalau pun berbagi, biasanya hanya saya lakukan via tulisan di blog ini, atau di beberapa mata kuliah yang memang ada topik mengenai sex & gender. Entahlah, apakah itu cukup untuk membuat saya menjadi seorang feminist?

Kedua, karena saya nggak nyaman dengan judgement masyarakat soal menjadi seorang feminis ini. Terlalu banyak stigma negatif yang menempel pada kata feminis(me), dari kelompok barisan sakit hati, perempuan jelek tukang protes, men-bashing/hating women, bra-burning activistsugly women with hairy armpits dan daftarnya masih panjang. Nggak sedep semua ya? :))

Pada saat yang bersamaan saya sedang dapat PR untuk menulis tentang eco-feminist. Ya sudah, sekalian saja saya iseng, bikin survey lucu-lucuan di Facebook; pertanyaannya : Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar kata feminist? Hasilnya di bawah ini. Sebelum meng-capture saya sudah meminta izin, dan yang di-blur adalah mereka yang tidak bersedia namanya dipublikasikan (dan yang belum konfirmasi, sih sebenarnya. Tapi saya butuh semua jawaban, jadi ya sudahlah, saya blur saja). Nggak usah nyari status ini di FB saya karena sudah saya sembunyikan ;-)

femme

Hasil survey itu. Kalau ingin melihat lebih jelas, klik ini

Oh ada tambahan nih dari teman saya yang menjawab via Whatsapp, dan wanti-wanti supaya saya nggak memasukan namanya di dalam blog post ini (haha!): cewek-cewek yang repot mencibir ke laki dan sibuk membela hak perempuan sampai lupa bahwa dua gender itu bisa kok kerja sama tanpa gontok-gontokan.

Ouch! Kan bener? Biarpun nggak semua, tapi apa yang saya sebutkan itu ada, walau dengan menggunakan susunan kalimat yang berbeda, ada yang halus, ada yang secara terbuka, yang intinya feminist adalah orang-orang yang melawan/membenci laki-laki.

Continue Reading

[OnMedia] UWRF : Perempuan dan Perdamaian

Ini cuplikan tulisan saya untuk blog UWRF hasil ngobrol saya dengan penulis emerging Indonesia terpilih 2014, Erni Aladjai dan ahli politik dan keamanan Indonesia, Jacqui Baker. Foto-foto yang ditampilkan adalah foto koleksi pribadi narasumber.

Jacqui-radio-1024x768

Novel ‘Kei : Kutemukan Cinta di Tengah Perang’ dan film Eat, Pray and Mourn : Crime and Punishment in Jakarta adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama adalah sebuah novel fiksi karya Erni Aladjai, penulis emerging Ubud Writers & Readers Festival 2014 yang meraih pemenang unggulan pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012, sementara yang lain adalah sebuah film dokumenter hasil kolaborasi dua orang antropolog, yakni Jacqui Baker (foto di atas) dan Siobhan McHugh. Yang pertama mengambil setting kepulauan Kei, Maluku Tenggara dengan latar belakang kejadian nyata kerusuhan Ambon tahun 1999, sedangkan yang lain mengambilsetting di sebuah kampung hunian kumuh di ibu kota dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi.

Berbeda, namun keduanya membicarakan hal yang sama: konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat di Indonesia.

Kita memang hidup dalam masyarakat yang memiliki beragam stratifikasi sosial. Adanya kelompok penguasa  (yang memiliki power secara sosial, ekonomi, hukum dan lain sebagainya) dan kelompok yang powerless dalam masyarakat adalah hal yang sulit dihindari. Konflik muncul sebagai reaksi hubungan antara kelompok penguasa dan kelompok lainnya tidak proporsional.

Konflik Ambon 1999 adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang jika dilihat oleh orang awam adalah peristiwa yang diawali oleh kasus kriminalitas biasa. Belakangan terlihat adanya skenario yang mempergunakan isu SARA dan faktor internal daerah, seperti kesenjangan ekonomi, diskriminasi di bidang pemerintahan dan lain sebagainya. Konflik ini berkelanjutan karena penanganan pengendalian keamanan oleh aparat tidak tuntas.

Sementara Eat, Pray and Mourn : Crime and Punishment in Jakarta menyoroti permasalahan Yeni (foto di bawah), seorang perempuan di salah satu kampung kumuh ibu kota. Yusli, adik laki-lakinya, diculik dan disiksa oleh polisi hingga meninggal dengan tuduhan pencurian sepeda motor. Dengan hukum yang tidak memihak orang kecil, maka birokrasi negara membuat polisi-polisi tersebut bebas dari hukuman.

Reporter-ya-2

Tulisan selengkapnya bisa diintip di sini : http://www.ubudwritersfestival.com/blog/perempuan-dan-perdamaian/

[Keseharian] Dangkalnya Fashion.

The most violent element in society is ignorance.  – Emma Goldman

Perempuan memakai war bonnet untuk  datang ke pesta kostum  diibaratkan memakai pakaian pendeta atau biarawati untuk berperan dalam film bokep.

Belakangan ini, dibandingkan menulis, saya (sedang) lebih suka menggambar. Maklum, lagi senang-senangnya dengan cat air, soalnya ternyata menyenangkan. Kalau mau lihat gambar-gambar yang saya bikin, intip aja instagram saya. Alah, promosi diri tanpa malu-malu :))

Anyway, sekitar minggu lalu, saya menggambar perempuan dengan war bonnet, alias headdress-nya native American. Yang terbayang di saya sih, pose mbak-mbak model majalah fashion glossy  yang memakai war bonnet. Buat saya, war bonnet itu asli keren, untuk digambar mau pun untuk dipakai. Kalau digambar, banyak bidang yang bisa diolah dan diberi pattern ala zentangle. Lalu, dari dulu saya sering membayangkan punya war bonnet lalu memakai benda tersebut di kepala dengan pelengkap dress katun putih dan sneakers. Saya tahu sih bahwa war bonnet itu adalah artefak kebudayaan native american, tapi pengetahuan saya sebatas itu saja dan alih-alih mencari tahu lebih banyak, saya memilih untuk ya sudahlah ya, keren ini.

warbonnet

War Bonnet & Teguran itu

Maka saya pun menggambar seorang perempuan, telanjang dada, dengan war bonnet seperti di samping ini. Saya suka dengan hasilnya, jadi saya upload pagi-pagi di Twitter dan Instagram. Eh, nggak sampai lima menit, kemudian ada seseorang yang merespon, ya seperti yang bisa dilihat di gambar sebelah. Waktu pertama membaca responnya, saya defensif. Terus terang aja sih, saya nggak senang apa yang saya sukai diprotes. Beberapa kali berbalas tweet, sambil sebel, akhirnya saya memutuskan untuk mendiamkannya. Iya, saya nyaris lupa dengan aturan yang saya buat sendiri : kalau sebal, jangan reaktif, hindari yang membuat sebal.

Saya pun melakukan aktivitas saya seperti biasa. Baru sore hari saya teringat bahwa saya punya handphone *alah*. Kemudian saya melihat mention teguran yang saya terima di pagi hari. Kali ini, alih-alih merasa sebal dan pengin menunjukkan sikap defensif, saya malah jadi mikir. Akhirnya googling-lah saya.

Lalu saya temukan beberapa artikel : This Means War : Why The Fashion Headdress Must Be Stopped.

Oh. Oops! Tiba-tiba saya merasa menjadi seorang bigot. Bego, bego, bego! Rasanya pengin menoyor-noyor diri saya sendiri.

Kemudian hasil penelusuran saya berlanjut ke sana dan ke mari. Dan saya pun menemukan banyak hal tentang war bonnet.

Continue Reading