[GenderTalks] Feminism Itu (Nggak) Serem.

“It’s worth paying attention to the roles that are sort of dictated to us and that we don’t have to fit into those roles.We can be anybody we wanna be.” - Joseph Gordon-Levitt

Ketika laki-laki melakukan kekerasan terhadap perempuan, maka semua membela, sementara ketika perempuan melakukan kekerasan terhadap laki-laki, yang laki-laki diketawain dong! Adil?

“Lo feminist?”

Entahlah kesambet apa teman saya, nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba bertanya seperti itu. Saya hanya bisa terdiam sambil cengengesan. Pertanyaannya sangat sederhana, dan jawabannya pun seharusnya sederhana, tinggal bilang ‘iya’ atau ‘nggak’ kan? Tapi ternyata buat saya nggak sesederhana itu.

Nggak berani bilang iya, karena yang pertama : dalam pemikiran saya, seorang feminis adalah orang yang sangat aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang persoalan gender, melakukan advokasi perkara yang berhubungan dengan gender, khatam sejarah feminisme dan mengetahui kasus-kasus yang berakar dari permasalahan gender role di dunia. Saya? Saya sebatas berminat dengan persoalan gender dan sedang berusaha memahaminya serta mengaplikasikan pemahaman saya untuk kehidupan saya pribadi. Kalau pun berbagi, biasanya hanya saya lakukan via tulisan di blog ini, atau di beberapa mata kuliah yang memang ada topik mengenai sex & gender. Entahlah, apakah itu cukup untuk membuat saya menjadi seorang feminist?

Kedua, karena saya nggak nyaman dengan judgement masyarakat soal menjadi seorang feminis ini. Terlalu banyak stigma negatif yang menempel pada kata feminis(me), dari kelompok barisan sakit hati, perempuan jelek tukang protes, men-bashing/hating women, bra-burning activistsugly women with hairy armpits dan daftarnya masih panjang. Nggak sedep semua ya? :))

Pada saat yang bersamaan saya sedang dapat PR untuk menulis tentang eco-feminist. Ya sudah, sekalian saja saya iseng, bikin survey lucu-lucuan di Facebook; pertanyaannya : Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar kata feminist? Hasilnya di bawah ini. Sebelum meng-capture saya sudah meminta izin, dan yang di-blur adalah mereka yang tidak bersedia namanya dipublikasikan (dan yang belum konfirmasi, sih sebenarnya. Tapi saya butuh semua jawaban, jadi ya sudahlah, saya blur saja). Nggak usah nyari status ini di FB saya karena sudah saya sembunyikan ;-)

femme

Hasil survey itu. Kalau ingin melihat lebih jelas, klik ini

Oh ada tambahan nih dari teman saya yang menjawab via Whatsapp, dan wanti-wanti supaya saya nggak memasukan namanya di dalam blog post ini (haha!): cewek-cewek yang repot mencibir ke laki dan sibuk membela hak perempuan sampai lupa bahwa dua gender itu bisa kok kerja sama tanpa gontok-gontokan.

Ouch! Kan bener? Biarpun nggak semua, tapi apa yang saya sebutkan itu ada, walau dengan menggunakan susunan kalimat yang berbeda, ada yang halus, ada yang secara terbuka, yang intinya feminist adalah orang-orang yang melawan/membenci laki-laki.

Continue Reading

[OnMedia] UWRF : Perempuan dan Perdamaian

Ini cuplikan tulisan saya untuk blog UWRF hasil ngobrol saya dengan penulis emerging Indonesia terpilih 2014, Erni Aladjai dan ahli politik dan keamanan Indonesia, Jacqui Baker. Foto-foto yang ditampilkan adalah foto koleksi pribadi narasumber.

Jacqui-radio-1024x768

Novel ‘Kei : Kutemukan Cinta di Tengah Perang’ dan film Eat, Pray and Mourn : Crime and Punishment in Jakarta adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama adalah sebuah novel fiksi karya Erni Aladjai, penulis emerging Ubud Writers & Readers Festival 2014 yang meraih pemenang unggulan pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012, sementara yang lain adalah sebuah film dokumenter hasil kolaborasi dua orang antropolog, yakni Jacqui Baker (foto di atas) dan Siobhan McHugh. Yang pertama mengambil setting kepulauan Kei, Maluku Tenggara dengan latar belakang kejadian nyata kerusuhan Ambon tahun 1999, sedangkan yang lain mengambilsetting di sebuah kampung hunian kumuh di ibu kota dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi.

Berbeda, namun keduanya membicarakan hal yang sama: konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat di Indonesia.

Kita memang hidup dalam masyarakat yang memiliki beragam stratifikasi sosial. Adanya kelompok penguasa  (yang memiliki power secara sosial, ekonomi, hukum dan lain sebagainya) dan kelompok yang powerless dalam masyarakat adalah hal yang sulit dihindari. Konflik muncul sebagai reaksi hubungan antara kelompok penguasa dan kelompok lainnya tidak proporsional.

Konflik Ambon 1999 adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang jika dilihat oleh orang awam adalah peristiwa yang diawali oleh kasus kriminalitas biasa. Belakangan terlihat adanya skenario yang mempergunakan isu SARA dan faktor internal daerah, seperti kesenjangan ekonomi, diskriminasi di bidang pemerintahan dan lain sebagainya. Konflik ini berkelanjutan karena penanganan pengendalian keamanan oleh aparat tidak tuntas.

Sementara Eat, Pray and Mourn : Crime and Punishment in Jakarta menyoroti permasalahan Yeni (foto di bawah), seorang perempuan di salah satu kampung kumuh ibu kota. Yusli, adik laki-lakinya, diculik dan disiksa oleh polisi hingga meninggal dengan tuduhan pencurian sepeda motor. Dengan hukum yang tidak memihak orang kecil, maka birokrasi negara membuat polisi-polisi tersebut bebas dari hukuman.

Reporter-ya-2

Tulisan selengkapnya bisa diintip di sini : http://www.ubudwritersfestival.com/blog/perempuan-dan-perdamaian/

[Keseharian] Dangkalnya Fashion.

The most violent element in society is ignorance.  – Emma Goldman

Perempuan memakai war bonnet untuk  datang ke pesta kostum  diibaratkan memakai pakaian pendeta atau biarawati untuk berperan dalam film bokep.

Belakangan ini, dibandingkan menulis, saya (sedang) lebih suka menggambar. Maklum, lagi senang-senangnya dengan cat air, soalnya ternyata menyenangkan. Kalau mau lihat gambar-gambar yang saya bikin, intip aja instagram saya. Alah, promosi diri tanpa malu-malu :))

Anyway, sekitar minggu lalu, saya menggambar perempuan dengan war bonnet, alias headdress-nya native American. Yang terbayang di saya sih, pose mbak-mbak model majalah fashion glossy  yang memakai war bonnet. Buat saya, war bonnet itu asli keren, untuk digambar mau pun untuk dipakai. Kalau digambar, banyak bidang yang bisa diolah dan diberi pattern ala zentangle. Lalu, dari dulu saya sering membayangkan punya war bonnet lalu memakai benda tersebut di kepala dengan pelengkap dress katun putih dan sneakers. Saya tahu sih bahwa war bonnet itu adalah artefak kebudayaan native american, tapi pengetahuan saya sebatas itu saja dan alih-alih mencari tahu lebih banyak, saya memilih untuk ya sudahlah ya, keren ini.

warbonnet

War Bonnet & Teguran itu

Maka saya pun menggambar seorang perempuan, telanjang dada, dengan war bonnet seperti di samping ini. Saya suka dengan hasilnya, jadi saya upload pagi-pagi di Twitter dan Instagram. Eh, nggak sampai lima menit, kemudian ada seseorang yang merespon, ya seperti yang bisa dilihat di gambar sebelah. Waktu pertama membaca responnya, saya defensif. Terus terang aja sih, saya nggak senang apa yang saya sukai diprotes. Beberapa kali berbalas tweet, sambil sebel, akhirnya saya memutuskan untuk mendiamkannya. Iya, saya nyaris lupa dengan aturan yang saya buat sendiri : kalau sebal, jangan reaktif, hindari yang membuat sebal.

Saya pun melakukan aktivitas saya seperti biasa. Baru sore hari saya teringat bahwa saya punya handphone *alah*. Kemudian saya melihat mention teguran yang saya terima di pagi hari. Kali ini, alih-alih merasa sebal dan pengin menunjukkan sikap defensif, saya malah jadi mikir. Akhirnya googling-lah saya.

Lalu saya temukan beberapa artikel : This Means War : Why The Fashion Headdress Must Be Stopped.

Oh. Oops! Tiba-tiba saya merasa menjadi seorang bigot. Bego, bego, bego! Rasanya pengin menoyor-noyor diri saya sendiri.

Kemudian hasil penelusuran saya berlanjut ke sana dan ke mari. Dan saya pun menemukan banyak hal tentang war bonnet.

Continue Reading

[Tags!] Happiness Project : 3 On 3

It is not how much we have, but how much we enjoy, that makes happiness. - Charles Spurgeon

… setiap weekend saya baru mikir ‘Ya ampun, sudah weekend, saya seminggu ini udah ngapain aja ya?’

E ya ampun! Saya lupa deh pernah berniat untuk bikin posting berkategori [tags!] sebulan sekali. Itu lho, posting dengan tema tertentu dan saya mengajak siapa pun yang mau untuk ikut mem-posting tulisan dengan tema yang sama dengan yang sudah saya tulis. Laluuu, ntar yang sudah selesai, boleh meninggalkan komentar berupa tautannya, supaya bisa saya masukkan dalam posting saya. Kalau mau melihat postingan berkategori [tags!] bisa klik ini.

Kebetulan, beberapa hari yang lalu, Mbakdos mencolek saya untuk mengerjakan PR melalui postingnya yang berjudul Happiness Project : 3 on 3. Buat saya, project ini menarik, karena kita diminta untuk menuliskan 3 hal baik/menyenangkan, yang dialami pada 3 hari berturut-turut, kemudian menularkannya pada 3 orang lain. Harus saya akui, saya sering melewatkan hari begitu saja, tanpa memikirkan apa saja yang membuat saya senang (dan sedih). Iya, i take things for granted. Everyday. Ini kerasa banget karena setiap weekend saya baru mikir ‘Ya ampun, sudah weekend, saya seminggu ini udah ngapain aja ya?’

Padahal nih, seharusnya setiap hal yang terjadi, sekecil apa pun, dalam hidup kita itu bukan hal yang percuma ; ya bahkan masih bisa bangun pagi dalam keadaan sehat itu juga sudah anugerah. Ciye.

Continue Reading

[Keseharian] Jaga Perasaan Atau Makan Hati?

Because no matter what they say, you always have a choice. You just don’t always have the guts to make it.
- Ray N. Kuili, Awakening

…seberapa sering kita membiarkan diri makan hati demi menjaga hubungan baik dan perasaan orang?

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan mengeluh, katanya sejak masa-masa pilpres ini, atmosfer di media sosial terasa sangat negatif. Ia bilang, sulit rasanya untuk nggak ikut kesal membaca teks yang penuh kebencian bertebaran di depan mata. Saya cuma ketawa-ketawa geli menanggapi omelannya, sampai pada akhirnya dia bertanya, apa saya nggak pernah merasakan hal yang sama?

Ya memang iya sih, saya pernah merasakan hal yang sama, nggak pendukung capres no.1, nggak nomor 2, sama saja, cara menyatakan dukungannya sama-sama njelehi. Sulit rasanya untuk nggak ikut kesal membaca teks yang penuh kekerasan.

Iya, pernah. Sekarang sudah tidak lagi.

Ada satu titik di mana teks negatif itu terasa menghantui, sampai-sampai saya merasa sesak napas *lebay*, sedih, marah, bete kemudian bertanya-tanya : ini orang-orang ngomongnya pada nggak pake filter kenapa sih? Saya kenal sebagian dari mereka, dan saya tahu mereka termasuk orang yang berpendidikan tinggi. Duuh.

Serangan teks negatif itu begitu sistematis, terstruktur, masif dan traumatis *ALAH*. Untuk menenangkan situasi, rasanya ya jadi mission impossible doang. Sempet kok beberapa kali saya menyatakan nggak usah berantem, nggak usah nganu-nganu, tapi ya apa sih artinya perkataan seorang saya? Nah saat itu saya jadi berpikir, kalau nggak bisa mengubah keadaan, ya tinggalin, nggak usah mengeluh. Saya pun mengambil keputusan : unfriend manusia-manusia yang terlalu negatif di FB, unfollow akun-akun provokatif tanpa saya seleksi,mau kenal nggak kenal, mau teman/saudara atau bukan. Kelar. Dan benar, kehidupan kemudian jadi tenang.

Kawan saya kemudian bilang, apa yang saya lakukan itu sama saja dengan memutus tali silaturahmi dengan orang-orang tersebut. Ia bilang ia tidak/belum mau melakukan yang saya lakukan demi menjaga hubungan baik dan perasaan orang lain.

Ya tadinya saya berpikir yang sama, sempat sih ragu-ragu; ntar kalau orangnya kemudian kesal lalu memusuhi? Ntar gimana kalau orangnya sakit hati? Ntar orangnya jangan-jangan jadi mikir saya nggak bisa menerima perbedaan pendapat, mentang-mentang saya memilih capres yang tidak sama dengan mereka (well, padahal pada kenyataannya, mau pilih capres mana pun, kalau cara penyampaiannya violent, ya saya buang juga. HA!). Tapi karena waktu itu saya sudah ngerasa kelewat sumpek, ya sudah saya bulatkan tekad.

Nggak, saya nggak mau ngomongin copras-capres sih, tapi saya jadi berpikir, seberapa sering kita membiarkan diri makan hati demi menjaga hubungan baik dan perasaan orang (atau minimal membuat orang lain happy)?

Continue Reading

Katanya : ‘Saya Benci Orang Indonesia. Pembunuh!’

He who passively accepts evil is as much involved in it as he who helps to perpetrate it. He who accepts evil without protesting against it is really cooperating with it. – Martin Luther King, Jr.

…Bagi orang-orang tertentu mungkin memang nyawa manusia itu murah (dan saya masih tidak mengerti), tapi rasa sakit korban tentunya tidak bisa dibayar berapa pun…

Sebenarnya, sejak tersisa dua calon presiden, saya sudah tahu mau memilih siapa : pasangan Jokowi dan JK. Namun selama ini saya memilih bersikap netral dan diam, tidak terlalu menggebu menunjukkan dukungan kepada pilihan saya. Saya masih berpikir, pilihan saya, ya urusan saya. Namun semakin ke sini, saya merasa perlu untuk menyuarakan ke mana saya berpihak dan alasannya.

Bahwa saya berpihak pada Jokowi bukan seperti nge-fans mati-matian pada selebritas, sehingga apa pun yang dilakukannya selalu benar. Bukan. Kalau pun nanti misalnya ia melakukan penyelewengan, tentu akan saya kritisi. Saya memihak pada Jokowi justru karena rasa ngeri. Iya ngeri. Dan saya pikir tidak ada salahnya saya menceritakan alasan saya merasa demikian.

Di tahun 1998, saya bukanlah aktivis politik yang sangat frontal dan lantang mengkritisi penyelewengan yang dilakukan pemerintah. Satu-satunya kontribusi saya hanyalah bergadang di studio kampus, membantu menyablon banyak lima jari merah pada bandana yang akan dipakai oleh kawan-kawan saya yang pemberani. Namun saya tidak buta dan tidak juga tuli, saya melihat betapa chaos-nya kondisi di masa itu, saya mendengar begitu banyaknya nyawa manusia melayang. Saya juga nggak mungkin lupa bagaimana saya merasa sangat ketakutan. Saya sama sekali tidak mengerti, mengapa ada manusia yang begitu tega pada sesamanya manusia. Seolah-olah nyawa begitu murah.

Tahun 2002 adalah pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Timor Leste (dulu, sewaktu masih menjadi bagian Indonesia bernama Timor-Timur), mengikuti Peace Camp yang diadakan oleh sebuah LSM. Tugas saya dan peserta Peace Camp adalah membuka kelas-kelas psikososial, sekaligus menyampaikan peace education, bagi anak-anak kecil seusia SD yang baru saja mengalami kondisi konflik. Mulut-mulut anak-anak tersebut menceritakan bahwa mereka menyaksikan kekerasan terhadap anggota keluarga atau kenalannya; orang-orang tersebut disiksa, ditembak dan dibunuh dihadapan mereka. Banyak juga cerita kehilangan, istri kehilangan suami, suami kehilangan istri, anak kehilangan orangtua. Saya masih tidak mengerti, mengapa ada manusia yang begitu tega pada sesamanya manusia. Seolah-olah nyawa begitu murah.

Timor Leste telah mencuri hati saya, akhirnya tahun 2007 saya kembali lagi, untuk tinggal dalam jangka waktu yang lebih lama. Cerita-cerita tentang kekerasan dan kehilangan masih saya dengar; bahkan induk semang tempat saya tinggal di salah satu bairo (desa) di Dili, ibukota Timor Leste, tidak pernah melihat suaminya lagi setelah laki-laki tersebut pergi di suatu pagi. Namun ada satu hal yang menohok saya, seorang remaja Timor Leste pernah memaki saya : ‘Saya benci orang Indonesia, pembunuh!’. Walaupun saya bisa membela diri ‘Tidak semua orang Indonesia jahat dan suka membunuh, saya tidak.’, tapi entah kenapa lidah saya kelu. Akhirnya saya hanya menghela napas dan tidak berkata apa-apa. Luka yang terjadi akibat kejahatan kemanusiaan akan lama sembuh, bahkan mungkin tidak akan sembuh. Bagi orang-orang tertentu mungkin memang nyawa manusia itu murah (dan saya masih tidak mengerti), tapi rasa sakit korban tentunya tidak bisa dibayar berapa pun.

Semua yang pernah saya rasa, lihat dan dengar membuat saya memutuskan untuk memilih Jokowi, karena saya hanya ingin menutup kemungkinan kembalinya Indonesia ke masa di mana manusia begitu tega terhadap sesama manusia dan nyawa menjadi begitu murah.

Iya, saya ngeri itu terjadi lagi.

Saya tidak mau ada kekerasan terjadi di mana pun, siapa pun, tidak pada minoritas, tidak pada mayoritas. Tidak pada perempuan, tidak pada laki-laki. Tidak pada si miskin, tidak pada semua orang.

Salam dua jari!

 

 

[Travelinsight] Proses Vs Hasil

There is no end to education. It is not that you read a book, pass an examination, and finish with education. The whole of life, from the moment you are born to the moment you die, is a process of learning. – Jiddu Krishnamurti

IMG_2813Bagian belakang main stage.

…alih-alih memikirkan bagaimana asyiknya menggambar di media baru, mereka malah memikirkan gimana kalau salah. Belum mulai sudah takut duluan..

Foto di atas adalah main stage untuk acara Coral Day 2014 yang saya ceritakan di posting sebelumnya, masih setengah jadi sih. Jadi ceritanya saya dan partner semacam bertugas untuk menggambari bilah-bilah kayu ini. Proses menggambarnya seharian, lalu ditunda beberapa hari karena kami harus ke Manado untuk beberapa urusan, kemudian finishing satu hari sebelum hari H; finishing-nya dilakukan oleh partner. Sementara saya ngebungkusin kado untuk lomba-lomba anak-anak di hari H.

Anyway, ada cerita menarik saat proses menggambarnya. Jadi saya, partner dan Mazmur, seorang kawan, mulai menggambarinya pagi-pagi. Tidak ada orang lain lagi selain kami bertiga. Eh ada ding, ada Sky, anak kedua dari pemilik resort Mimpi Indah, tempat kami menginap selama di Bangka.

100_2645-(2)

Partner, saya dan Sky. Sky suka banget memakai baju ala Princess dan peri. Kali ini dia pakai baju pink fairy, lengkap dengan sayapnya. Cantik ya? Cantik dan ngangenin. :D

Lalu, kegiatan cat mengecat dijeda oleh makan siang. Setelah makan siang Mazmur pun pergi ke Lihunu, desa yang menjadi venue event ini. Tinggallah saya berdua dengan partner — eh, setidaknya saya pikir kami cuma berdua; saya baru ngeh bahwa sedari tadi ada yang memerhatikan kegiatan kami, untung kami nggak ngapa-ngapain. *eh*. Iya, ada tiga orang anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Nama mereka Maissy, Rini dan Deflin.

Continue Reading

[Travelinsight] Pendidikan Lingkungan, Bukan Pelajaran Biologi

Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed.Mahatma Gandhi

…Makanya banyak banget kan pihak-pihak yang mengeksploitasi alam demi keuntungan sebesar-besarnya? Kapitalis abitch.

Eh ke mana aja saya? Ada. Dari tanggal 4 Juni sampai 17 Juni saya berada di Bangka; tapi bukan Belitung. Ini sebuah pulau yang ada di sebelah utara pulau Sulawesi. Iya, jadi yang namanya Bangka bukan yang di Sumatera aja (ini pernyataan antisipasi banget yak? Maab, soalnya setiap saya jawab ‘dari Bangka’, pasti pertanyaan selanjutnya adalah ‘Oh, Bangka Belitung?’ :D).

Bagaimana saya bisa ke sana, sebenarnya gara-gara partner saya. Suatu hari kawannya meminta dia membantu menyiapkan event Coral Day 2014 yang akan diadakan di Lihunu, sebuah desa tepi pantai pulau Bangka. Kebetulan saat itu saya sedang pusing-pusingnya karena baru usai menghadapi minggu sidang mahasiswa; saya pikir keluar Bandung lucu nih. Akhirnya saya pun ikut(-ikutan), ya siapa tahu saya bisa membantu juga (padahal motivasinya liburan Hihi.).

100_2833

Saya, partner dan Mazmur Wira Semesta saat hari H. Ke mana-mana bertiga selama kerusuhan pre event, pas event dan post event. Foto oleh Sammy Mamoto.

Namanya juga mempersiapkan event yang lumayan besar, tegang, rusuh tapi sekaligus juga seru. Buat yang pernah jadi panitia event pasti mengerti rasanya, seperti naik roller coaster. Atau seperti menunggu bisul pecah — begitu acaranya lewat, legaaaa.

Continue Reading

[Keseharian] Curhat di Media Sosial? Yakin?

Just because you can say or do whatever you want doesn’t always mean you should. Freedom comes with a price. make sure you can afford it. - Rachmat Lianda

…Naif kalau berpikir bahwa kita bisa sepenuhnya percaya dengan orang-orang di media sosial, termasuk Path.

Sekitar dua malam yang lalu, kalau tidak salah, saya melihat sliweran (hasil captureupdate Path seseorang yang mengeluhkan tentang ibu hamil. Waktu saya membacanya untuk pertama kali, saya cuma mikir ‘Dih, gitu bener sama ibu hamil’, sempat sebal juga sih. Tapi berhubung banyak banget yang merespon (negatif) update-nya,  pemikiran saya mendadak berubah; dari sebal, jadi kasihan. Ya gimana nggak, saya sih mikir, gimana kalau saya yang dicecar oleh ribuan jemaat Twitter seperti itu? Pasti rasanya ih banget. Dijamin deh, pasti ia diserang dan di-judge bertubi-tubi berhari-hari karena saya lihat beberapa yang ikut serta menyebarkannya adalah nabi-nabi Twitter yang punya pengikut puluhan sampai ratusan ribu.

Mungkin inilah salah satu kelemahan INFP, gampang kasihan dan nggak suka konflik. *halah*

Untuk yang nggak tahu gimana beritanya, bisa dicek di sini (gile ya bok, sampai masuk koran, padahal itu ‘cuma’ masalah keluhan pribadi yang nggak sensitif dari seorang perempuan muda belia. :D)

Anyway, bukannya kemudian saya jadi membenarkan si Pengeluh tersebut ya? Tapi rada memihak sih iya. Dan ini bukan masalah karena saya belum pernah ngerasain gimana susahnya jadi buibu hamil ya, bok. Tapi, sebenarnya, etis nggak sih menyebarkan update dari akun seseorang dengan cara meng-capture-nya?

Selama ini kita menganggap bahwa Path adalah salah satu media sosial yang lebih private, dengan kapasitas berteman yang cuma 150 orang saja, tentu para pemilik akun bakal menyeleksi siapa-siapa saja yang akan dijadikan teman. Saya percaya banget, salah satu pemikiran seseorang ‘berteman’ dengan pemilik akun lain adalah kepercayaan. Dengan rasa ‘percaya’ itu pemilik akun Path kemudian merasa ‘aman’ untuk membagi apa pun di sana, termasuk pemikiran atau foto-foto yang provokatif.

Sejujurnya saya memang merasa sedikit lebih aman sharing hal-hal yang lebih private di Path, dengan ke-60 orang ‘teman Path’ saya, soalnya memang benar-benar saya seleksi. Cara saya menyeleksi? Ya hanya pakai intuisi; selain memang (kebanyakan sudah) teman beneran, ada juga yang cuma selewatan ketemu, tapi saya merasa orangnya aman dan nggak bakal reseh.

Kata kunci : sedikit lebih aman dan merasa orangnya aman.

Continue Reading

[Keseharian] INTROVERTS JANGAN DIBECANDAIN! :D

“Leave an extrovert alone for two minutes and he will reach for his cell phone. In contrast, after an hour or two of being socially “on,” we introverts need to turn off and recharge. My own formula is roughly two hours alone for every hour of socializing. This isn’t antisocial. It isn’t a sign of depression. It does not call for medication. For introverts, to be alone with our thoughts is as restorative as sleeping, as nourishing as eating. Our motto: “I’m okay, you’re okay—in small doses.” – Jonathan Rauch

…Baru beberapa tahun belakangan saya menyadari bahwa orang yang introvert itu bukan orang sakit mental, dan introversion bukan kelainan mental…

Eh tahu Myers-Briggs Type Indicator, nggak? Yah, semacam personality test, gitu deh. Saya mengenal dan menjalani personality test ini pertama kali di tahun 2006, sebelum saya menjadi relawan untuk sebuah LSM. Waktu itu, hasil tesnya  INFP (introversion, intuition, feeling, perception) disebut juga The Idealists atau The Dreamers. Setelah tes pertama  tersebut, setiap saya ikuti tes tipe ini di kesempatan lain, hasilnya selalu sama, mau pertanyaannya beda atau sistem tes serta cara penghitungannya beda, ya tetap INFP.

Konon profesi yang cocok bagi saya penulis, pekerja sosial, guru/dosen, psikolog, psikiater, musisi, pemuka agama. Pantas saya happy terus mengerjakan pekerjaan (pekerjaan) saya, pas sih, sama personality saya.

Lalu selebritas bertipe INFP adalah George Orwell, Virginia Woolf, Antoine de Saint-Exupery, J.K Rowling. Wah tos, atuh, Om George, Tante Virginia, Mas Antoine dan Teteh J.K Rowling! *akrab*

Kalau penasaran pengin nyoba apa tipe personality kamu, bisa cobain di http://www.humanmetrics.com/cgi-win/jtypes2.asp

Nggak, saya nggak mau membahas soal INFP ini, tapi saya ingin ngomongin soal introversion, lebih tepatnya, menjadi seseorang yang introvert. Kayaknya istilah ‘introvert’ nggak asing ya? Seingat saya, sejak kecil saya sudah kenal dengan istilah ini. Cuma dulu, definisi introvert yang saya dapat dari lingkungan adalah ‘penyakit kuper’, dengan ciri-ciri orangnya penyendiri, nggak suka bergaul, nggak suka orang lain atau nggak suka bersosialisasi.

Karena saya sering merasa lebih nyaman sendiri, hal ini membuat saya ketakutan setengah mati, jangan-jangan saya terkena ‘penyakit kuper’ introvert ini? Nah lo! Sempat lho saya merasa ada yang salah dengan diri saya.

Konon perbandingan manusia introvert dan ekstrovert dalam masyarakat adalah 1 : 3, jadi, iya, kita hidup di dunia yang ekstrovert; sehingga apa yang dianggap ideal adalah orang-orang yang memiliki karakter extroversion. Kacian deh para introvert, mereka kemudian dipaksa-paksa untuk ‘sembuh’ dan menyerupai para ekstrovert.. Malah ada yang dengan jahatnya melabeli orang yang introvert itu sebagai seorang yang menderita (penyakit mental) anti sosial. Padahal anti-sosial itu maknanya sudah berbeda. Baca di http://psychcentral.com/disorders/antisocial-personality-disorder-symptoms/ . Ini celaka banget bagi para introvert, karena pada akhirnya mereka jadi percaya bahwa dirinya ‘tidak normal’, ya seperti yang pernah saya rasakan itu sih.

Baru beberapa tahun belakangan saya menyadari bahwa orang yang introvert itu bukan orang sakit mental, dan introversion bukan kelainan mental. Introvert vs ekstrovert ini adalah perkara bagaimana mereka memperoleh energi (mental). Orang-orang yang ekstrovert memperoleh energinya dari interaksi dengan banyak orang, mereka bakal kayak handphone yang baru di-charge atau mainan yang baru ganti baterai kalau berada di tengah orang banyak; nah ketika sendirian, mereka jadi lemah letih lesu. Sementara orang-orang introvert sebaliknya, kalau berada di tengah orang banyak akan kehabisan energi, mereka selalu butuh waktu sendirian untuk me-recharge baterainya. Iya, cuma masalah sumber energi.

Untuk lebih detilnya tentang introvert dan ekstrovert bisa dibaca di http://www.mypersonality.info/personality-types/extraverted-introverted/ 

Sayangnya yang beredar di masyarakat mengenai introverts, seringnya ya mitos, mulai dari ‘introvert itu weirdo’ sampai yang lain-lain, seperti yang disebutkan di sini : http://lonerwolf.com/15-myths-about-introverts/

Dan karena introvert itu bukan penyakit, maka seharusnya sih, janganlah memaksa orang untuk ‘sembuh’ dari sifatnya, itu udah cetakan. Ada lho penelitian  ilmiah kenapa seseorang bisa menjadi introvert : http://www.livescience.com/8500-brains-introverts-reveal-prefer.html

Anwaay, kalau dari pengalaman pribadi sih, saya sering menerima persepsi yang salah mengenai saya yang introvert.

  • Tidak ramah/judes. Introvert membutuhkan waktu lebih panjang untuk bisa ‘lumer’ dan kita (atau saya deh) nggak suka small talks-basa-basi atau meaningless conversation ; yang pertama karena introvert lebih sering mengobservasi orang lain serta kondisi terlebih dahulu plus lebih sering berpikir dulu sebelum berbicara. Mungkin introvert lain sering dianggap pemalu atau pendiam. Saya lebih sering dianggap tidak ramah dan judes. Ya, sepertinya ini efek ekspresi wajah yang pada dasarnya galak. Sudah introvert, muke gitu pula. Sial.  :))

Continue Reading