Segera Edar : ‘Lajang dan Nikah, Sama Enaknya, Sama Ribetnya’

Lajang & Nikah, Sama Enaknya, Sama Ribetnya oleh : Nita Sellya & Okke 'Sepatumerah'. Penerbit : Sheila, Andi Publisher.

Yes, it’s my 6th book.  Sejarah terulang kembali, dari proyek ngeblog bareng, terbit jadi buku. Anyway, tapi jangan kuatir, ada cerita baru kok, di dalam buku ini. :)

Sambil menunggu, mari dimari menyimak apa kata mereka tentang buku ini :

Apakah kata “LAJANG” dan “PERNIKAHAN” kamu highlight tebal-tebal di kepala? Maka kisah si Single dan warna warni rumahtangga bisa kamu lahap tanpa sensor disini. Lebih menarik lagi jika kamu berlagak gila, seolah olah sedang ikut nimbrung di setiap kejadiannnya (seperti yang saya lakukan). Seru! Karena hidup harus dilihat dari berbagai point of view.
–Sogi ‘Extravaganza’ Indra Dhuaja, Entertainer.

“Lajang dan Menikah bia dikatakan buku paling entertaining dan dinamis yang pernah saya baca. Narasi yang sangat lugas namun lucu dan terkadang tragis tapi penuh passion, mampu menseparasi sekaligus mengkombinasi gap antara kehidupan urban perempuan lajang dan menikah. Obsessive-compulsively page turner!”
Ika Natassa, penulis novel A Very Yuppy Wedding dan Divortiare

Very insightful! Seharusnya buku ini berjudul How To Read Single and Married Woman’s Mind. PENTING dibaca oleh laki-laki! WAJIB dibaca oleh perempuan!
Pribadi Prananta - part-time husband, full-time lover, overtime copywriter.

Lajang & menikah, sebuah tema yang menarik untuk dibahas secara bersamaan karena pasti kita berada pada salah satunya. kalau di kehidupan sehari-hari biasanya saling mencela dan saling iri, alex & adisti malah membuatnya menjadi cerita yang lucu.
alaya, blogger

Pertama kali membaca ‘Lajang dan Menikah’, saya langsung menebak bahwa blog ini akan menjadi sebuah buku. Semacam panduan non-konvensional untuk para perempuan yang sedang bingung menentukan pilihan hidup, termasuk saya sendiri *cough*. Lugas, cerdas, tajam, dan tanpa menggurui, buku ini tidak menjanjikan jawaban, namun cerita-cerita di dalamnya dijamin membuat kita merenung dan berpikir dua kali. Tentang mengambil keputusan. Tentang menjalani hidup. Hidup memang cuma sekali. Nggak ada salahnya dinikmati, lengkap dengan segala pilihan dan konsekuensinya. Dan untuk yang satu ini, ‘Lajang dan Menikah’ bisa jadi pilihan tepat.
Jenny Jusuf , novelis, blogger

Girls, don’t you dare to get married before you read this book!!!
Ayang Cempaka, seniman

Rumput tetangga selalu lebih hijau: Yang lajang sirik sama yang nikah, yang nikah sirik sama yang lajang. Daripada sirik-sirikan, baca deh potret-potret dari dua sisi kehidupan ini, dituturkan secara bergantian oleh dua pelakunya: si lajang dan si ibu-ibu muda. Rasanya seperti mendengarkan ocehan teman baik yang sedang menyodorkan renungan-renungan lugas, jujur, dan yang penting, tidak menggurui maupun menghakimi! Ditanggung bakal ketawa-ketiwi sambil ikutan nyeletuk…

Herdiana Hakim. Salah satu dari si lajang (yang nggak ikut-ikutan sirik sama yang nikah, beneran!), penulis dan penerjemah

Illustration Friday : Drifting

Another illo for Illustration Friday this week. Gosh, I couldn’t resist the temptation to apply Photoshop’s filter when i was resizing the image :D

Drifting (Original), Ink, pencil & water color pencil.

Drifting (retouched)

Which one do you like better?

;-)

Mereka memanggilnya ‘Perawan Tua!’

Perawan tua. Terakhir saya pakai sekitar enam bulan yang lalu, untuk guyonan dengan teman-teman lain, yang masih lajang dan berusia tiga puluh lebih

Seorang teman menelepon saya sekitar awal minggu lalu. Ia perempuan lajang, nyaris kepala empat dan bisa dikatakan memiliki posisi cukup tinggi di tempat kerjanya. Satu hal yang khas dari dirinya adalah, kalau ngomong super saklek. To the point banget. saya sering mencelanya dengan ‘(nama suku dengan karakter stereotipe saklek) banget sih lo!’. Dan setiap saya malas mengemukakan pendapat demi menghindari friksi, maka dia pun bilang ‘Jawa bener sih lo..’ :) Dan satu lagi yang annoying bagi orang-orang yang clumsy setengah mati seperti saya, dia perfeksionis.

Anyway, kembali lagi. Saat bertelepon saya bisa mendengar kegusaran dalam nada suaranya. Katanya, entah karena apa sejak awal tahun 2009, sebagian besar tim kerja lamanya dipecah belah ke tim lain, sebagai gantinya, masuklah beberapa fresh-graduate (banget).

“Lo tau dong ya, fresh-graduate itu gimana, masih bawa-bawa sikap kampus banget. Nggak bisa dong kayak gitu ya? Dan gue, berhubung dititipin pesan buat ngebimbing, ya gue coba dong, bikin semacam orientasi kerjaan buat mereka. Dan ngebimbing lah.”

Saya terus mendengarkan apa yang dia lakukan pada anak-anak baru tersebut, yang menurut saya, ya khasnya dia banget. Hanya orang-orang yang sudah mengenalnya yang menganggap hal tersebut biasa dan tidak pernah memasukkan perkataannya ke hati. Rugi dimasukkan ke hati, dan dipendam lama-lama, lha wong bisa dipastikan, sejam kemudian — apalagi jika sudah di luar lingkup pekerjaan — dia sudah lupa kok

“Dan gue denger dengan kuping gue sendiri, pas jam makan siang, anak-anak itu bergerombol ngomongin gue, mereka pikir gue lagi keluar kali ya. Mereka ternyata sebel sama cara gue. Tapi yang bikin gue sebel banget, mereka bilang : dasar perawan tua…”

Lanjut membaca.

Mari Menjadi Fashion Stylist.

Punya selera fashion yang baik? Mengikuti perkembangan tren fashion? Dan pernah bermimpi untuk menjadi fashion stylist ?

Mari bergabung di looklet!

Lanjut membaca.

Big, Big Hair.

Big, Big Hair (ink & pencil on paper, with a little magic from photoshop's filter)

I’ve just had my hair permed a couple days ago. Now it  looks exactly like this. No kidding.

How can i live my life, now?

:D

Illustration Friday : Unfold.

Unfold (others' secrets). Pencil Color on paper.

A ‘less-than-5-minutes’  illo for Illustration Friday’s topic this week before going out.

–quick update–

Oops, sorry, just realized that I picked the wrong illo medium !

I supposed to choose pencil color instead of water color, and it can’t be corrected. :-(

Gotta go now. Have an enjoyable  Saturday nite, folks.

Self-Help Tips (Hahaha!) : Membuat Blog Anda ‘Dilirik’.

Dan yang terakhir, ini cara instan, jadi seleb dulu, baru ngeblog di blog yang disediakan oleh situs infotainment…

Menjawab pertanyaan Galuh di Twitter, kadang-kadang (berasa) iya. Suka ada beberapa e-mail yang masuk menanyakan ini itu. Contohnya adalah e-mail yang — berdasarkan tanggal sih —- masuk sekitar tiga hari yang lalu, namun baru saya buka sekitar satu jam yang lalu. Yang menemukan juga bukan saya, tapi Nella, teman saya. Duh. terima kasih deh buat segala notifikasi situs jejaring pertemanan, resume berita segala mailing list, para tukang jualan dan seterusnya, sampai-sampai e-mail personal terdesak dan nyaris terlewat.

Anyway, isi dari e-mail tersebut adalah :

Mbak, kunjungi blog aku ya,
nggak ada yang komen, nih.
Oh ya nanya dong, gimana siy, biar blog kita dikunjungi orang?

Nella — teman saya yang kekeuh ‘tidak mau mengikuti euphoria blogging‘ tapi rajin blogwalking ini. Doh!— mengangkat topik tersebut dalam sesi ngobrol ngalor-ngidul ngulon ngetan kami sampai bibir kiwir-kiwir dan perut mules karena ketawa-ketawa, ditemani berbagai cemilan tak sehat.

Saya dan Nella sepakat bahwa akan terlalu naif dan menggampangkan jika jawaban untuk pertanyaan tersebut seperti ini adalah demikian : “Jika ingin blog anda dikunjungi (dan lebih jauh lagi; diapresiasi), maka kita harus membuat entri yang berarti, kontemplatif, mengandung pencerahan, inspiratif, mengandung insight, lucu mampus, keren mati, dan seterusnya”. Apalagi, kalau misalnya ditambahkan dengan ‘Sudah, nggak usah mikirin mau ada pengunjung atau nggak. Lo menulis aja, dengan sepenuh hati. Pembaca lambat laun akan mengapresiasi juga, itu sebagai satu akibat dari kualitas tulisan lo.” Hmpf.

Sekarang masalahnya, gimana juga mau diapresiasi, kalau pengunjungnya nggak ada dan kalau nggak ada yang tahu bahwa anda itu eksis di dunia blogging?

Jadi yang pertama harus dilakukan adalah ‘menyadarkan’ dunia blogging, bahwa anda itu ada.

Lanjut membaca.

Menguping Teman Semeja.

…Saya mah, mereun (mungkin) dapet pahala karena niat nolong

Teman mengobrol saya sedang pergi sebentar. Katanya ingin memesan sayur asam lagi. Saya tetap melanjutkan makan. Ini adalah sebuah rumah makan murah meriah di bilangan jalan Diponegoro Bandung. Saking murahnya, pengunjung selalu meriah alias ramai. Sekarang saja, walaupun sudah lewat dari jam makan siang, masih tetap penuh. Pengunjung yang baru saja membayar di kasir, seringnya harus menyipitkan mata dan memanjangkan leher untuk mencari-cari kursi kosong.

Agar semua hepi, dibutuhkan kerelaan untuk berbagi meja. Seperti yang saya dan teman makan saya lakukan. Meja yang dilengkapi oleh bangku panjang yang saya duduki cukup untuk empat orang duduk normal, bisa sampai enam atau delapan kalau duduk rapat-rapat ala bangku angkot. Tapi kami hanya berempat. Saya, teman makan saya yang sedang pergi, seorang perempuan dan seorang laki-laki berusia kira-kira berusia awal empat puluhan. Mungkin suami istri. Soalnya, berdasarkan hasil saya sesekali menguping, mereka membahasakan diri mereka dan pasangannya sebagai ‘Papah’ dan ‘Mamah’. Bukan Pipi dan Mimi, itu sih Krisdayanti.

“Terus Papah ngasih ke orang itu?” cetus sang perempuan.
“Iya.” Jawab sang pria dengan suara super santai.
“Atuh, si papah teh kumaha (gimana). Sekarang udah banyak tau, penipuan kayak gitu. Kebiasaan deh. Jangan terlalu gampang kasian lah…”
Lanjut membaca.

Kayak Orang Hamil Aja…

Sudah saya bilang, saya bakal sering pamer. :P

Ini adalah hasil sewing project terakhir saya.

Dan begitu keluar dengan memakainya, saya disambut dengan: ” Pake ini lo jadi kayak orang hamil.”

Iya, kali ya, memang seperti baju hamil. hehe.  Saya cuma membalas, fotografer dilarang bawel. Iye,  pada akhirnya, tidak seperti project yang ini, di mana saya mengandalkan ember dan timer, kali ini akhirnya ada yang mau saya mintai untuk memotret dengan imbalan tertentu (hi there. *wink*). Hhh, menolong sukarela memang sudah nggak jaman kayaknya, tapi biarlah, daripada repot motret sendiri seperti kemarin.

Sepatumerah's Sewing Project : Green Flowers Batik Dress

Anyway, saya suka dengan dress ini. Sebenarnya bahannya sama sekali nggak mahal, selembar kain panjang yang saya temukan di kios batik mungil yang berada di Pasar Baru, Bandung. Kurang lebih Rp. 27.500-an. Ukuran kain ini kurang lebih 2.5 x 1.25 meter dan lagi ragam hiasnya bunga-bunga searah, yang membuat saya terpaksa berhati-hati saat memotong.

Kain Panjang berborder.

Kain panjang ini kayak dibingkat motif border di keempat ujungnya. Saya menyatukan kedua ujung horizontal di bagian depan rok dan satu ujung vertikal sebagai ujung keliman.

Bagian tengah yang merupakan sambungan ujung kain panjang,plus bagian bawah juga.

Lanjut membaca.

Hal Baru? Coba Aja.

Versi Indonesia Butterflies - Susanne Gervay

Neng, ada dua kiriman, satu dari gramedia, satu dari Melly.

Begitu SMS yang saya terima saat sedang tidak berada di rumah. Saya langsung meminta si pengirim SMS -ibu saya — untuk membuka kedua paket tersebut.

‘Yang dari Melly kue putri salju, yang dari Gramedia lima biji novel judulnya Butterflies.’

Wah. Saya jadi nyengir sendiri mendengar bahwa isi paket dari Gramedia adalah lima eksemplar novel berjudul Butterflies karya Susanne Gervay. Salah satu dari novel yang pernah saya terjemahkan. Novel  ini adalah kiprah pertama saya di dunia penerjemahan fiksi komersial *tsah*. Biasanya sih, proyek terjemahan saya selalu ‘proyek tolong’ (eh tolong terjemahin ini dong, ntar gue traktir deh lu’. Atau, ‘eh tolong terjemahin dong. Thanks yah’. Begitu kira-kira.) Dan selalu menerjemahkan segala teks non-fiksi.

…Kapan bisanya, kalau nggak pernah mulai? Dan kapan coba kita bisa tahu batas kemampuan kita, kalau tidak mencoba?

Sudah lama juga sih saya mengerjakannya, kalau nggak salah, sekitar bulan Oktober 2008. Novel ini mengisahkan seorang remaja yang bagian wajahnya rusak karena pernah terbakar semasa kecil dan bagaimana ia menghadapi masa remajanya. Ceritanya bagus, menurut saya. Inspiratif buat remaja.

Saat ada yang tahu bahwa saya sedang ”mencoba untuk menjadi penerjemah’, saya sempat menerima tanggapan : “Lu kan ga pernah menerjemahkan secara profesional? Kok berani-beraninya terima kerjaan ini.”

Saya bilang, justru karena belum pernah coba, kenapa nggak?

Kemudian mereka bilang lagi, bahwa mengalih bahasa itu tidak hanya membutuhkan kemampuan berbahasa tertentu, tapi ada tata caranya tersendiri dan lalala, endeswey endeskoy.

Bagi saya, mereka lebay. Yang saya lakukan, mengalih bahasa, yang saya percaya, biar pun tidak memiliki pengalaman, tapi saya bisa belajar sambil jalan . Lagi pula, saya sudah mendapat rambu-rambu teknis melalui e-mail . Kalau mereka bereaksi demikian saat saya bilang saya akan — oke, istilah ini pernah saya pakai — menerbangkan pesawat fokker, ya masih wajar.

Tapi ini (cuma) menerjemahkan kok. Dan tolong, istilah ‘cuma’ yang saya pakai, bukan bermaksud untuk menggampangkan aktivitas menerjemahkan. Nggak kok, tapi kalau dibandingkan dengan menerbangkan pesawat fokker?

Fokker gitu lho.

Lah dibahas.

Tsk, orang-orang nih ya.

Lanjut membaca.

  • Meta

  • Sepatumerah di Facebook