#Gawean : Graphic Designer @RumahPhoto7

Mungkin ada yang tertarik? :)

We are a well-established photography studio based in Bandung looking for a young Graphic Designer to work across various projects including photography design, web design, marketing materials (print or digital such as HTML newsletters or banners).

Required Skills:
• A good Diploma in Graphic Design
• Excellent working knowledge in Adobe Creative Suite (InDesign/Illustrator/Photoshop)
• Practical Experience in developing websites and/or key web technologies (HTML, JavaScript, CSS)
• Excellent creative and visual skills
• Ability to work under pressure on several projects at any one time and meet deadlines
• Fine attention to detail
• A desire to innovate
• Ability to take constructive criticism and feedback with a positive frame of mind
• Friendly and pleasant to work with
• Excellent written and verbal communication skills


Desired Skills:
• Experienced with Flash based animation and illustration skills
• Knowledge of current web design trends and techniques
• Commercial print management experience or knowledge of offset printing techniques.
• Experience with a 3D package (Cinema 4D, Bryce, etc.)
• Working knowledge in Adobe Premiere


If you think that these requirements would suit you well, please send your details (CV and Portfolio) across to marketing@rumahphoto.com or by post to Jalan Cihapit 7, Bandung.

Salah Saya? Salah Pakaian Saya?

….. Ia mengeluarkan pernyataan lain ‘Pakaian minim itu merangsang kaum Adam untuk melecehkan kita, kaum Hawa….

Dua hari yang lalu, seusai menjalankan ritual jogging pagi, saya menjebakkan diri dalam ‘diskusi’ sambil berdiri di depan sebuah supermarket. Iya, saya bilang ‘menjebakkan diri’, karena kalau dipikir-pikir, waktu itu sebenarnya saya bisa menghindar, tapi tokh alih-alih berlalu, saya malah meladeni sang pencetus diskusi.

Waktu itu saya perlu membeli pembalut. Baiklah, ini informasi nggak penting; tapi ini alasan kenapa seusai jogging, masih keringetan dan masih bercelana pendek saya tidak langsung pulang.

Di supermarket, ada seorang perempuan berpakaian serba tertutup. Di tangannya terdapat setumpukan kertas. Ia memerhatikan saya, dari atas lalu ke bawah. Karena merasa diperhatikan, akhirnya saya pun ‘menangkap’ tatapan matanya.

Nggak diduga, perempuan tersebut menghampiri saya. Ia menyerahkan selembar dari setumpukan kertas yang ada di tangannya. Ternyata itu selebaran. Ketika saya baca isinya, pada intinya adalah permohonan dukungan terhadap gerakan anti pakaian minim.

Saya kembalikan kertas tersebut sambil berkata ‘Nggak, Mbak. Terima kasih.’

Dan dari situlah ‘diskusi’ kami berawal.

Ia mempertanyakan alasan saya menolak mendukung gerakan tersebut.

Yaaa, terus terang saya tidak pernah merasa menjadi orang yang anti pakaian minim. Ya, masa saya mendukung gerakan ‘anti’ terhadap sesuatu yang saya tidak ‘anti’ ?

Ketika saya kemukakan alasan tersebut, ia kemudian mengeluarkan satu pernyataan, yang menggelitik naluri keminter saya. :D

Menurutnya, gerakan anti pakaian minim ini bertujuan untuk melindungi perempuan dari pelecehan seksual.

Er, kata saya, itu statemen yang Jaka sembung makan lodeh, gak nyambung deh.

Lanjut membaca.

52 Wednesdays. Patah Hati Yang Berujung Pameran.

Suatu hari, di bulan November tahun lalu, Lioni Beatrik ( @deliriumerotica) mengajak saya ketemuan. “Pengin ngobrol” - katanya. Maka berjanjianlah kami di satu Selasa sore yang cerah di Warung Ngebul.

Ternyata dia akan mengadakan pameran foto. 52 Foto Rex.

Oh, buat yang tidak tahu Rex, itu adalah salah satu karakter dari film animasi Toy Story, favoritnya Lioni.

sumber gambar : mommyniri.com

sumber gambar : mommyniri.com

Awalnya saya belum mengerti. Kenapa Rex?

Akhirnya keluarlah cerita tentang Alex. Seorang pria yang berhasil membuat Lioni jatuh cinta dan patah hati pada saat yang bersamaan.

Perasaan kangen yang muncul setelah patah hati memang ngehe banget. Hayo, ngaku deh. Bikin rungsing. Tapi Lioni punya caranya sendiri. Ia memotret boneka Rex ini dengan selembar post-it bertuliskan ‘I miss you’. Foto itu ia kirimkan melalui e-mail di satu hari Rabu, setahun yang lalu.

Ternyata, perasaan kangen tidak berhenti sampai di hari Rabu tersebut. Sejak saat itu, di setiap hari Rabu, untuk mengobati kekangenannya dengan sosok Alex ini, Lioni memotret dan mengirimkan serial foto boneka Rex dalam berbagai pose bercerita. Maksudnya hanya sekedar menyapa.

Ada 52 hari Rabu, dengan 52 foto Rex yang akan dipamerkan dalam  52Wednesdays, a photo exhibition by Lioni Beatrik.

Saya ternganga : 52 minggu? Ini anak gilaaaaa… :D

Satu sisi saya bilang gila, tapi satu sisi saya mengagumi ide dan cara Lioni. Oh, mungkin bagi yang mendengar cerita ini bakal berpikir bahwa apa yang dilakukan Lioni adalah bentuk teror. Tapi, dari sana pembicaraan berlanjut; bahwa mengirimkan foto setiap hari Rabu ini menjadi semacam terapi-nya untuk mengobati kekangenan dan menyembuhkan patah hati.

Selaras dengan apa yang dituliskan oleh Irma Chantily, kurator pameran ini, bahwa memikirkan foto seperti apa yang dikirimkan tiap pekan bisa membuat ia (Lioni) bisa membuat ia sebentar saja memikirkan hal lain, selain perasaannya yang tak berbalas itu, Lioni memang masih memikirkan sang pemuda, hanya saja bukan dengan cara yang bisa semakin melukai perasaannya, Tiap hari ada saja beberapa jam yang ia habiskan untuk merancang kelanjutan ‘cerita’ Rex.

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengobati patah hati dan perasaan-perasaan marah, kangen, kesal dan lain-lain yang menyertainya. Ada yang menenggelamkan diri dalam kesedihan, ada yang mendadak produktif menulis (ini saya sih), ada yang mendadak senang bersosialisasi di mana saja, ada yang mengikuti macam-macam kegiatan. Ada yang iris-iris nadi. #eh

Pameran ini adalah cara Lioni. Buat yang lagi patah hati sekarang, ini ada alternatif lain dari mengobati patah hati, bisa dicontoh, mungkin, daripada nangis-nangis menghabiskan tissue berkotak-kotak. :D

Caramu bagaimana?

Oh, semalam saya dan partner mampir melihat pamerannya. Setelah selama sebelum pameran saya hanya mendengar ‘cerita verbal’ dari visual foto-fotonya (Ada si Rex lagi kelindes mobil, ada si Rex di pantai, ada si Rex di Dekat Patung Pancoran dan seterusnya), akhirnya saya melihat dengan mata kepala sendiri, wujud dari foto-fotonya.

Bagus ya boook! :)

Semalam saya bilang pada Lioni, beberapa foto itu harus dibikin postcard. Soalnya keren.

Buat yang pengin lihat 52Wednesdays, a Photo Exhibition by Lioni Beatrik, bisa langsung datang ke CommonRoom, Jl. Kyai Gede Utama no. 8 Bandung. Masih sampai tanggal 21 Januari 2012 ini.

Oh, selain berpameran, Lioni juga mengajak semua orang untuk curhat galau berjamaah berbagi cerita tentang kehilangan dan patah hati, di sini : http://52wednesday.blogspot.com/, siapa saja boleh ikutan, kirim saja ceritamu ke : lionibeatrix@gmail.com

Ih saya agak bego deh, lupa bawa kamera, jadi saya terpaksa memotret dengan kamera hp. Hasilnya gelap-gelap nggak jelas gitu deeh. :(

Lioni dan 52 Foto Rex-nya :)

Lioni dan 52 Foto Rex-nya :)

(Melewatkan) Perayaan Persahabatan

Yang mana yang terbaik. Kalau mbak Okke ngerasa nggak damai pergi, ya jangan.

Itu bunyi SMS yang saya terima di suatu siang beberapa hari yang lalu. Saya menghela napas, berkali-kali.

Belum sempat saya membalas, muncul lagi SMS lain, dari orang lain.

Jangan pergi. Kalau hati lo udah ngerasa nggak enak, bisa jadi itu pertanda. Jangan sampai lo nyesel atau kenapa-kenapa.

Ke-dua pesan tersebut datang dari dua sahabat saya. Rencananya kami berjanji bertemu di hari Selasa kemarin, bersama satu orang lagi yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Pertemuan berempat seperti ini adalah peristiwa langka. Bisa setahun sekali saja syukur.Kali ini saja susah sekali menentukan jadwal — salah satu dari kami harus kembali ke Indonesia Timur, sehari setelah pertemuan ini.

Dan saya sangat menantikannya. Kami sangat menantikannya.

Namun, sehari sebelum perjumpaan kami, ibu saya jatuh sakit. Beliau tahu saya akan pergi, untuk bertemu mereka; di tengah sakitnya beliau bilang : ‘Pergilah! Kapan lagi?’. Iya, kapan lagi? Setahun lagi, dua tahun lagi, tiga tahun lagi? Mungkin. Tapi ada rasa mengganjal di hati, yang memberatkan kaki saya untuk melangkah.

Saya percaya pada proses dalam segala hal, termasuk soal persahabatan. Seseorang mungkin bisa langsung merasa ‘klik’ dengan orang lain dalam waktu singkat, tapi yang saya tahu, akan selalu ada friksi, ujian persahabatan adalah, apakah setelah melewati segala bentuk gesekan, kecil dan besar, kita masih terus bertahan?

Berawal dari krisis identitas di masa muda (ha!) dan terus menerus mempertanyakan ‘Tujuan hidup apa sih? Masa iya cuma lahir-sekolah-lulus-kuliah-kerja-kawin dan beranak?’, kami sama-sama berakhir di satu organisasi nirlaba yang bergerak di bidang perdamaian, dan bekerja di daerah-daerah pasca konflik dan bencana. Satu keputusan besar yang tidak mudah dan tentunya mendapat banyak tentangan dari orang sekitar.

Tapi passion yang sama tidak berarti membuat persahabatan kami berjalan dengan mulus-mulus saja, banyak banget friksi yang terjadi. Apalagi kami berada di situasi yang tidak nyaman, sehingga sangat memungkinkan terjadi saat-saat masing-masing dari kami ‘keluar asli’nya, dan melukai yang lain.

Teori saya sih, salah satu parameter cocok atau tidaknya seseorang dengan orang yang lain — selain periode berinteraksi yang intensif dan lama — juga lokasi yang tidak menyamankan. Kalau bisa bertahan, ke depannya pasti akan baik-baik saja menghadapi apapun.

Pada akhirnya kami bertahan. Menghadapi konflik intern alias satu sama lain. Menghadapi konflik beneran konflik gara-gara daerah yang tak aman. Menikmati hari-hari terpapar sengat matahari. Pantai. Hidup semi nomaden. Mengajar. Berbagi dengan sahabat-sahabat Timur yang luar biasa. Betah. Tidak mau berakhir.

Tapi kami sadar, kami tidak mungkin selamanya seperti ini; satu saat kami harus berhenti. Entah karena umur, atau hal-hal lain. Dan di satu malam gila di loteng rumah sewaan kami, sempat tercetus, kami harus menyempatkan seperti ini, setidaknya setahun sekali, pergi ke daerah berpantai.

Dan memang, kegilaan masa muda di jalan tersebut harus berakhir dengan alasan yang bermacam-macam. Namun persahabatan kami tidak berakhir, tentunya. Walaupun bertemu setahun sekali di daerah berpantai itu semacam ambisius juga kali yaaaa :))

…..

Saya memutuskan untuk tidak menemui mereka. Saya cinta mereka, saya mencintai ibu saya. Tapi, hidup itu selalu soal memilih, kan?

Saya berharap, akan ada perayaan lain, di lain waktu. Di mana kami bisa pergi ke tempat berpantai, sejenak ‘mengulang’ kegilaan masa muda — dengan cara yang lebih bijaksana.

Hey, kalian! Kangen kalian!

Hari Ini, Satu, Dua, Tiga, Empat Tahun Yang Lalu.

Hari ini setahun yang lalu.

Hari ini, dua tahun yang lalu.

Hari ini, tiga tahun yang lalu.

Hari ini, empat tahun yang lalu.

Kamu tetap hadiah natal buat saya :)

Terima kasih, karena sudah bertahan selama empat tahun.

(err, ‘bertahan’? Kok kesannya menderita banget ya, bareng saya? :D)

youme1

Kamu dan Saya. Di Satu Lampu Merah. Wih, betis saya besar! Salah sudut pengambilan gambar ituuu :D *gapenting*

Eh, Selamat natal buat yang merayakannya.

Selamat liburan, semua! ;-)

Hadiah Yang Menyentuh Hati

Oh, memberi sesuatu ‘dari hati’ itu terjadi hanya ketika kita sayang pada orang yang akan diberi hadiah.Ya iya,dong, kalau tidak sayang, ya ngapain repot-repot.

Nggak tau ya yang lain, tapi kalau saya sih nggak suka hadiah yang terlalu mahal dari toko. Kenapa? Karena saya sering merasa ‘dibeli’ ketika menerimanya; kadang-kadang kalau ada yang memberi saya hadiah terlalu mahal, saya sering berpikir ‘Ni orang ada maksud apa sih?’. Ya, sebut saja saya berpikiran negatif.

Tapi saya suka kok menerima hadiah. Siapa sih yang enggak?

Hadiah-hadiah yang ‘menyentuh’ hati saya adalah hadiah yang diserahkan dengan hati; jadi sang pemberi mencurahkan seluruh usaha dan perhatiannya untuk memberi hadiah tersebut.

Hadiah-hadiah handmade, sering bikin saya terharu, karena artinya, sang pemberi rela menyisihkan waktu untuk membuat hadiah tersebut.

Hadiah-hadiah barang yang saya butuhkan, juga menyentuh hati saya, apalagi kalau sebelumnya saya nggak pernah bilang kalau saya butuh barang tersebut. Artinya, sang pemberi rela meluangkan waktu untuk mencari tahu.

Hadiah-hadiah barang yang saya inginkan/butuhkan yang susah dicari. Iye, kadang-kadang saya suka nganeh-nganehi pengin barang yang susah dicari. Kalau sampai ada orang yang memberikan barang yang susah dicari tersebut, bisa-bisa saya mbrebes mili, soalnya membayangkan, betapa ribetnya sang pemberi memburu barang tersebut. Ya memang saya kadang-kadang cengeng sih :D

Dan, beneran, barang-barang yang diberi dengan hati itu ‘energi’-nya beda. Saya bisa merasakannya (atau mungkin ini saya yang drama). Ketika menerimanya, saya sering merasa merinding.

Kenapa saya menulis tentang hadiah? Karena kemarin, saya baru dapat hadiah dari Yanah yang dikirimkan ke kantor saya. Saya mengenal Yanah ketika ia mengirimkan pesan maya yang mengomentari salah satu novel saya. Sejak saat itu, beberapa kali kami bertukar sapa di kanal cakap maya.

Beberapa hari sebelumnya Yanah memang sempat sih mengirimkan pesan via Facebook, menanyakan alamat. Ketika saya membalas, ia bilang ‘Nanti kalau sudah jadi, saya kirim ya Mbak…’

Heh? Kalau sudah jadi?

Saya penasaran, berarti Yanah membuat sendiri hadiahnya dong? Dan, ketika bingkisan saya buka…..

Lanjut membaca.

Selamat Jalan, Hiram Sidharta

Tadi pagi saya mendapat pesan pendek dari Ella, sahabat saya, yang mengabarkan bahwa Hiram Sidharta, yang menyebut dirinya SicSid, salah seorang mantan mahasiswa kami meninggal dunia, Sabtu malam. Antara percaya dan tidak percaya.

Malam ini, saya mendaratkan diri di profile Facebook-nya.Membaca ucapan-ucapan kawan-kawan di wall-nya, keterkejutan mereka, kesedihan mereka, rencana-rencana yang belum kesampaian.

Dan pada saat yang bersamaan, lagu ‘Gone Too Soon’-nya Michael Jackson terdengar dari MP3 Player  .

Like a comet
Blazing ‘cross the evening sky
Gone too soon

Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon

Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night

Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon

Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon

Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too soon

Born to amuse, to inspire, to delight
Here one day
Gone one night

Like a sunset
Dying with the rising of the moon
Gone too soon
Gone too soon

Rasanya seperti ada yang lepas dari rongga dada saya. Lamanya hidup memang tidak ada yang bisa menebak. Sepertinya memang kita semua harus selalu siap, ditinggalkan dan meninggalkan.

383950_2551143427603_1524409039_2749676_883931862_n

Selamat Jalan, Hiram Sidharta — SicSid! Kamu pergi terlalu cepat, terima kasih karena pernah bersilangan jalan dengan kami semua, walau cuma sekejap. Kalau ketemu lagi, mungkin kita bisa bikin film lagi. :)

Daripada Nantinya Susah.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kabar buruk. Suami kawan saya meninggal mendadak. Umurnya masih muda, 33 tahun, ia lebih muda 6 bulan dari saya. Saat melayat, saya mendengar cerita seorang kawan yang lain, yang menemani suami kawan saya sampai ia meninggal. Katanya, ia meninggal karena sakit, yang disebabkan pola hidup yang nggak beres.

Jujur saja, itu sempat menimbulkan rasa takut dalam diri saya. Iya, pola hidup saya sembarangan banget; olahraga jarang — oke, ngaku deh, tidak pernah. Tidur selalu lewat tengah malam, bahkan terkadang tidak tidur. Pola makan kacau, empat sehat lima sempurna yang dipelajari semasa SD menjadi hanya teori bagi saya.

Saat mendengar cerita tersebut, hal pertama yang terpikir oleh saya adalah olahraga.

Saya memutuskan untuk jogging. Awalnya memang malas, tapi ketakutan rupanya tanpa sadar telah menjadi motivasi bagi saya untuk memaksakan diri jogging tiap sore jelang maghrib seusai beraktivitas harian ( tentu saja karena saya tidak suka bangun pagi. :D)

Berhasil. Selama 3 bulan, 4x seminggu saya rutin jogging,

Bagi saya saat itu, jogging rutin adalah prestasi. Dari yang olahraganya hanya olahraga jari-jemari (twitteran, gitu maksudnya), ke jogging, Keren dong ya?

Saya pun merasa menjadi manusia-paling-sehat-sedunia, biarpun pola makan masih tetap kacau; tapi saya berpikir, kalau sudah jogging, ya sudah sehat. Bahkan saya sempat bertingkah bak anggota MLM Jogging yang mencari downline. Iya, setiap bertemu dengan teman, saya selalu mengajak mereka untuk berolahraga – jogging, tentunya.

Cuma, kebelaguan saya terhenti. Di satu sore sekitar sebulan yang lalu, saat saya sedang bersiap untuk jogging, mendadak saya merasa kedua lutut saya nyeri luar biasa. Waktu itu tetap saya paksakan untuk berlari dengan pemikiran, mungkin ini efek belum biasa. Hasilnya, di tengah jalan, lutut saya semakin nyeri. Terpincang-pincang saya pulang. Nyeri itu tidak berkurang, jangankan berlari, bahkan berjalan pun susah. Saya berhenti jogging selama nyaris dua minggu, berharap rasa nyeri berkurang.

Minggu ketiga saya menyerah. Saya ke dokter keluarga.

Lanjut membaca.

Fokeus dong! Fokeus!

…katanya : Hari gini? Multitasking dong. Fokus sama dunia nyata, fokus juga sama dunia maya.

Siang itu saya terpaksa mengantri untuk mengambil uang di butik ATM di sebuah mal. Di depan saya terdapat seorang ibu dan anaknya yang cerewet. Antrian cukup panjang dan tidak maju-maju, tampaknya  orang yang sedang di dalam bilik ATM sedang  sibuk membayar seluruh tagihannya dan mungkin tagihan bapak, ibu, nenek, kakek, bude, pakde dan lain-lain. Soalnya lama bianget. Lebih lama dari ‘banget’.

Seperti layaknya anak-anak kecil lain, si anak sibuk bertanya-tanya ‘Kok ngantri, Bunda?’,'Nanti kartunya dimasukin terus uangnya keluar ya,Bunda?’,'Di dalem mesinnya ada orang, Bunda?’ dan sejuta pertanyaan lain. Sang Bunda hanya menjawab pertanyaan bertubi-tubi tersebut dengan ‘Hm’,'He-eh’, ‘Iya’ dan  - ia tampak asyik dengan telepon genggamnya. Namanya anak kecil, ya tentu saja pertanyaan tak berhenti sampai di situ.

Jawaban finalnya ‘Ssst, ah. berisik!’. Dan ia terus asyik dengan telepon genggamnya.

Suatu hari, sekitar seminggu yang lalu, saya membaca kicauannya @benzbara di twitter, saya lupa isi tepatnya seperti apa, pokoknya intinya, @benzbara protes dengan tuduhan orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang aktif di media sosial itu tidak punya kehidupan sosial di dunia nyata. Karena saya tidak pernah benar-benar mengenal orang yang saya ‘temui’ di dunia maya, ya saya nggak tau juga ya, apa memang benar demikian atau nggak. Lah sama orang yang benar-benar ketemu di dunia nyata aja kita suka salah penilaian, gimana sama yang nggak kenal, nggak pernah sering-sering berinteraksi di luar teks?

Dan saya pun membalas tweet-nya @benzbaramungkin bukan nggak punya kehidupan sosial, tapi kalau lagi aktif di dunia maya, dari yg gw perhatiin sih, jadi kurang fokus sama kehidupan nyata.

Pendapat saya memang tidak ditanggapi oleh @benzbara, tapi disambar oleh orang lain, katanya : Hari gini? Multitasking dong. Fokus sama dunia nyata, fokus juga sama dunia maya.

Saya pribadi nggak pernah percaya dengan keterampilan multitasking. Sepiawai-piawai-nya seseorang melakukan banyak hal secara bersamaan, tapi pasti perhatiannya ke banyak hal tersebut tidak maksimal. Ke sana setengah-setengah, ke sini setengah-setengah. Serba nanggung.

Saya pernah memerhatikan seseorang yang memang nggak bisa lepas dari alat telekomunikasi canggihnya. Kamu juga pernah dong ya? Hari gini masa nggak pernah? Perhatikan saja bagaimana orang tersebut memberi respon, saat ia berinteraksi dengan telepon genggam dan saat ia melepas telepon genggamnya.

“Oh ya? Trus, trus? Trus?” ini kurang lebih respon saat ia sedang berinteraksi dengan telepon genggam. Pandangannya berpindah-pindah, dari kita ke telepon genggamnya. Saya nggak yakin orang tersebut sepenuhnya mencurahkan perhatian dalam interaksi dunia nyatanya. ‘Mengerti’ topik pembicaraan dunia nyata bukan jaminan bahwa ia terlibat dan fokus sepenuhnya. Yang geli nih, di satu waktu mendadak dia bilang ‘Ah shit! Gue salah tweet!’.

Saya tertawa, sudah nggak fokus dengan obrolan di dunia nyata, nggak fokus juga dengan obrolan di dunia maya. :))

Saya nggak memungkiri bahwa ada satu titik di mana dunia maya itu terasa mengasyikkan dan rasanya sayang untuk ditinggalkan; topik tweet yang mendadak seru, misalnya. Rumpian di kanal maya yang heboh. SMS-SMS yang rame. E-mail-email yang panas. *alah panas*.

Lanjut membaca.

‘Belajar’ Agama. Penting?

Ih ya ampun, saya punya blog ini ya? Keasyikan main-main di project yang ono, sampai lupa punya blog ini. :)) Eh iya, mumpung nyebut-nyebut project yang ono, sekalian yuk, ikutan Make Up Challenge-nya, berhadiah lho! Untuk detil lihat di sini ya : http://looxperiments.blogspot.com/2011/09/make-up-challenge-contest-before-and.html

*sempeeet, pengumuman.*

—————

…biarpun nggak ngerti, nilai agama saya bagus terus loooh! Kan waktu kecil saya jagoan menghapal ;-)

Terus terang, biasanya mau ada tayangan apa pun di TV (setelah ada satu atau dua hal yang bisa dicela; terutama untuk infotainment dan sinetron *teteub*) pasti saya akan segera berlalu. Cuma beberapa waktu yang lalu, ada satu tayangan yang berhasil membuat saya berhenti dan menonton selama 5 menit. Dan tayangan itu adalah tayangan lomba dakwah bocah-bocah cilik.

Buat saya, berdakwah itu bukan ‘jatah’nya anak kecil; dan saya agak serem mendengar isi dakwah mereka. Maksudnya anak-anak tersebut menggunakan istilah-istilah orang dewasa. Target, dosa, keresahan dan ada beberapa kosa kata lain yang kayak saya ‘keberatan’ kalau dipakai oleh anak kecil. Sedangkan seingat saya (koreksi ya kalau salah) para peserta lomba dakwah tersebut berusia di bawah 10 tahunan. Kanak-kanak umur segitu kan belum paham benar dengan konsep-konsep abstrak? Target? Dosa? Keresahan? Abstrak banget.

Jadi ingat, salah satu bocah cilik yang saya kenal, pernah memenangkan lomba mendongeng, bagus banget cara mendongengnya, dan ceritanya pun mengandung kata-kata canggih dan kalimat indah. Ketika ditanya, ternyata dongeng yang membuatnya menang itu dibuatkan oleh gurunya, ia sendiri tidak begitu mengerti soal isinya.

Ya maab kalau saya suudzon, tapi saya jadi berpikir, jangan-jangan di lomba dakwah ini naskah dibuat oleh orang dewasa (orangtua atau guru), kemudian sang anak tinggal menghapal. Dan  anak-anak peserta lomba dakwah tersebut nggak ngerti dengan apa yang mereka khotbahkan.

Lalu ada orang dewasa yang mengomentari dakwah si anak, yang memberi komentar tambahan yang kurang lebih menyatakan, bahwa anak-anak adalah generasi penerus bangsa, lomba dakwah seperti ini baik untuk membina para generasi penerus bangsa supaya menjadi manusia-manusia berakhlak.

Maaf kalau menyinggung, tapi… apa benar dengan menghapal bisa membentuk seseorang menjadi manusia berakhlak?

Lanjut membaca.