Ketika Kartini Dijual

ngapain susah-susah jawab mendalam dan panjang-panjang saat ditanya apa (makna) Hari Kartini (dan hari-hari besar lainnya)?

Keterlaluan banget ya, kalau sampai lupa password blog sendiri? Iya, saya lupa dong, saking lamanya nggak login. :D Maklum, sekarang sedang asyik mainan di blog yang onoh.

Kemana aja lama nggak ngeblog?

Sibuk.

Sibuk ngurusin alanaloka yang kebanjiran pesanan kebaya buat Kartinian. Oke, saya mendramatisir, cuma 4 pesanan kok. 4 kebaya-nggak-kebaya. Mereka menyebutnya kebaya kontemporer. Tapi ya cukup panik juga, karena empat-empatnya masuk sekitar 1 minggu sebelum hari-H. Ini kali pertama saya nerima pesanan; itu juga karena teman. Biasa, satu diiyain, yang lain-lain ikutan. :D

*ternyata nerima pesanan itu… panik ya boook*

Ngomong-ngomong soal Kartini, kenapa ya kalau Kartinian harus pakai Kebaya? Atau setidaknya ada lomba baju daerah (dengan pemenang : pemakai kebaya merah beludru, jarik sempit dan konde Jawa) ?

Kayaknya dari dulu tuh selalu begitu, dari zaman SD sampai sekarang kayaknya cara merayakan Kartinian pasti ada lomba berbusana (kebaya). Oh, waktu TK sih, saya memakai baju senam. Waktu SD saya memakai baju Cinderella *blah*, baru waktu SMP saya memakai kebaya merah beludru itu.

Dan kenapa juga pemenangnya HARUS mereka yang berbusana kebaya beludru merah – jarik sempit – konde Jawa?

Beberapa kali saya ditodong untuk menjadi juri lomba Kartinian anak-anak, ada yang ditodong-memelas oleh kawan, ada yang dibayar sih. Kali pertama saya menjadi juri, saya pengin bikin anak yang berbusana penari Saman Aceh dan Dayak sebagai pemenang, karena saya bosan banget dengan penampakan kebaya beludru merah – jarik sempit – konde Jawa. Eh tapi panitia ngasih titipan catatan, jangan dimenangin, karena tidak mirip Kartini.

Oke deh.

Sekali lagi, kenapa oh kenapa kebaya merah – jarik – konde Jawa? Coba deh googling dengan kata kunci RA Kartini, Yang banyak keluar Kartini berbusana kebaya putih.  Nggak percaya? Lihat sendiri di sini.

Mungkin para panitia waktu itu nggak googling.

Eh iya, sebenarnya bukan cuma 4 pesanan saja sih, ada satu lagi.

Tiga hari yang lalu saya mendapat pesanan kebaya dengan tenggat Sangkuriang, maksudnya, pengin cepat-cepat jadi. Terpaksa saya tolak, karena kasihan dengan penjahit saya yang ngos-ngosan ngerjain 4 pesanan.

“Gue bayar lebih deeeh. Berapa juga, kasihan anak gue. Kainnya sudah ada kook.” begitu kata pemesan, yang kebetulan kawan saya. Oh dia memesan itu untuk putrinya yang masih TK. *hai kamyu!*

Continue reading

Menjajah Kanak-Kanak

…Eh, sang nanny bilang ‘Kamu salah, mana ada beruang warna biru. Ini, coklat.”. Si nanny memaksa sang anak untuk menggenggam pensil warna coklat.

Saya selalu senang terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan kanak-kanak. Itu sebabnya, Sabtu kemarin (10/4) saya menerima tawaran untuk menjadi juri lomba menggambar, mewarnai, melukis dan 3M (mewarnai, menggunting dan menempel) yang diadakan sebuah sekolah pra-TK dan TK di Bandung. Padahal kemarin Sabtu, hari di mana biasanya saya lebih memilih untuk leyeh-leyeh dan pacaran dari pagi sampai malam *eh*.

Ya, seperti acara kanak-kanak lain, acara ini pun heboh. Yang lomba siapa, yang panik siapa, ruangan dan luar ruangan dipenuhi oleh para mahmud alias mamah-muda dan para nanny anak-anak tersebut. Dibutuhkan usaha membujuk tersendiri untuk membuat anak-anak mau mulai melakukan aktivitas yang diperintahkan. Dan harus bersiap kalau sewaktu-waktu anak-anak menangis karena kecapekan dan bosan.

Asyik Mewarnai Sendiri, tanpa Interupsi Siapapun :)

Asyik Mewarnai Sendiri, tanpa Interupsi Siapapun :)

Bete Karena Haus

Bete Karena Haus

Di lomba mewarnai untuk anak Pra-TK, dari sekian banyak anak-anak peserta lomba, ada satu anak yang mencuri perhatian saya dan Ella, sahabat saya yang juga sama-sama diminta sebagai juri.

Seorang anak kecil, yang sejak masuk ruangan, duduk, menghadap alat gambar dan kertas mewarnainya, tidak mengerjakan apa-apa. Alih-alih mulai bekerja seperti anak-anak lain, ia malah sibuk mengeksplorasi segala lubang yang ia temui. Lucu deh, anak tersebut mengintip melalui lubang nametag-nya. Setelah bosan, nametag tersebut ia gulung dan dijadikan teropong. Itu sudah 15 menit sendiri. Nah, apakah setelah itu ia mulai mewarna? Nggak. Setelah bosan, ia membuka wadah karton pensil warnanya. Kirain akan memulai mewarnai, taunya, kembali ia mengeksplorasi lubang di sana. Nggak cukup sampai situ, dari wadah karton pensil warna, ia menjelajah ke lubang kursi, meja, termos, tas dan lain sebagainya.

Yang ada saya cekikikan. Lucu banget. Sayang usaha saya mengambil fotonya gagal terus.

15 menit jelang selesai lomba, datanglah  sang nanny. Dan saya mendadak kesal, karena perempuan muda berseragam biru muda tersebut mulai memaksa Si Lubang Explorer ini untuk mewarnai. Saya bisa melihat bahwa si anak merasa tertekan. Mukanya itu lho. Dan, bukan hanya memaksa mewarnai, tapi juga mengatur si anak, harus memakai warna apa.

Kebetulan gambar yang diberi adalah gambar beruang. Si anak hendak mewarnainya dengan warna biru. Eh, sang nanny bilang ‘Kamu salah, mana ada beruang warna biru. Ini, coklat.”. Si nanny memaksa sang anak untuk menggenggam pensil warna coklat.

‘Biar aja lah Mbak, bebasin.’ saya sempat nyeletuk. Eh, si Mbak nanny cuma menatap saya, kemudian mengabaikan.

*jitak*

Dulu saya pernah menjadi seorang guru les privat gambar para krucil, nah, biasanya sih, kalau di urusan menggambar dan mewarnai, saya lebih cenderung untuk membiarkan sang anak memakai warna apapun. Bebas,lah. Tema juga suka-suka. Yang saya ajarkan adalah teknik penggunaan dan memperlakukan alat gambar saja. (tapi saya sering dipecat oleh ortu, karena menganggap nggak ngajarin apa-apa/terlalu membebaskan. Ya nasib :D )

Continue reading

Gila Belanja Murah.

Saya penganut hukum ekonomi ‘dengan modal sekecil-kecilnya mendapat untung sebesar-besarnya’. Dan hukum ini saya terapkan terutama kalau lagi shopping. Ada 3 cara nih yang saya lakukan dan sesuai dengan hukum ekonomi tersebut :

Katakan ya, untuk 2nd hand items.

Bisa didapat dengan dua cara:

  • Cek berbagai blog dan forum di mana banyak beauty atau fashion blogger berkumpul maya, kadang mereka suka menjual barang preloved, yang nyaris baru dengan harganya jauh di bawah harga counter.
  • Pasar barang bekas. Banyak items keren di pasar barang bekas. Tips untuk belanja di pasar barang bekas bisa dilihat di sini : http://www.looxperiments.com/2012/01/tips-belanja-di-flea-market.html . Panas dan desak-desakan bikin keringetan? Eh no pain no gain, kali.
untitled-3

Cardigan (foto kiri) dan shawl segitiga yang dijadikan ‘rok’ saya dapat di pasar barang bekas

Mengejar Sale

Jelang hari-hari besar, mall sering mengadakan sale besar-besaran. Sebagai orang yang senang belanja murah, seringnya ketika naksir satu barang, saya bersabar menunggu sampai musim sale tiba. Kalau kehabisan sih risiko ya.

Tapi belanja saat sale membutuhkan trik khusus, supaya nyamannya dapat, barangnya dapat. Yang pertama, jangan ceroboh.

Ada satu pengalaman konyol gara-gara saya ceroboh nih; jadi setelah mendapat barang yang saya inginkan, saya pun mengantri di kasir. Begitu tiba giliran saya, baru saya nyadar kalau…Saya. Lupa. Bawa. Dompet.

Nggak enak banget, diliatin oleh petugas. Lalu beberapa orang yang mengantri di belakang saya mulai mengeluarkan suara berdecak. Asli saya keringetan nervous habis. Teman ‘seperjuangan belanja’ saya sampai ngeledek , belanja di mall yang ber-AC kok nggak beda dengan belanja di pasar barang bekas yang gerah, sampai keringetan.

Heu, siapa bilang keringetan itu kalau kepanasan doang? Ada kondisi lain di mana kita bisa keringetan juga walau nggak kepanasan/beraktivitas banyak, entah karena nervous, takut, gelisah, merasa malu. Namanya emotional sweat. Baru tahu, lho ada istilah ‘emotional sweat’ pas saya lagi browsing.

Belanja Gratis.

Ada dong ternyata. Kemarin saat saya lagi baca majalah, saya baru tahu kalau Rexona mengadakan event belanja GRATIS ke Hongkong. Dan beneran gratis. Sudah transport beserta akomodasi ditanggung, dapat uang saku pula. Ada 10 orang yang bakal di’kirim’ untuk berbelanja ke sana. Juga hadiah hiburan 500 buah tas eksklusif Charles & Keith.

Belanja di Hongkong, yang katanya The Shopping Paradise dan GRATIS? Siapa coba yang mau nolak. Langsung kebayang Cheung Sha Wan Road Fashion Street , Ladies market, Stanley Market, Temple Street. Buat informasi lengkap tempat-tempat belanja di Hongkong, bisa dilihat di sini : http://www.orientaltravel.com/China/HongKong/Shopping.htm

Udah mulai ngiler seperti saya belum? Yang sudah, bisa dapatkan informasi lebih lanjut di : http://www.facebook.com/rexonaid

Sampai ketemu di Hongkong! :D

Pada Mulanya Hanya Bersenang-Senang

AlanaLoka adalah pengikat antara dua perempuan berbeda generasi, untuk mengerjakan hal yang menjadi hasrat kami.

Masih ingat dengan ‘anak’ saya dan ibu saya? Yang sudah lupa, boleh baca ceritanya di sini. Iya pada mulanya, saya dan ibu saya hanya bermaksud untuk bersenang-senang dengan apa yang menjadi passion kami berdua : fashion. Ihiy, passion – fashion. Berima. Muncullah sebuah ide selewatan untuk membuat sebuah toko online mungil. Kami beri nama : The Wardrobe Project. Proyek lemari, karena waktu itu kami memproduksi busana yang kami suka dan yang sudah pasti masuk ke lemari kami. (Iya, tiap produksi, kami lebihkan satu, untuk… dipakai sendiri :D)

Namun pada perkembangannya, apa yang kami berdua buat sudah tidak bisa dianggap lagi ‘ide selewatan’, banyak hal baru yang kami alami dan kami jadikan pembelajaran dalam urusan menjalankan usaha. Maka kami berdua sampai pada satu keputusan, akan menjalankan apa yang kami cintai ini secara lebih serius.

Selain itu, seiring dengan berjalannya waktu, kami merasa apa yang kami buat, semakin mendekatkan hubungan kami, sebagai ibu dan putri-nya. Maka di tahun 2012, tercetus nama AlanaLoka. Alana, berarti ‘ikatan’ (Sansekerta), dan Loka berarti ‘dunia’. AlanaLoka adalah pengikat antara dua perempuan berbeda generasi, untuk mengerjakan hal yang menjadi hasrat kami.

Dan juga ‘ikatan’ komitmen kami untuk mempersembahkan yang terbaik untuk anda.

alanaloka

Mari, Selamat mengunjungi :

http://www.alanaloka.com.


#Gawean : Graphic Designer @RumahPhoto7

Mungkin ada yang tertarik? :)

We are a well-established photography studio based in Bandung looking for a young Graphic Designer to work across various projects including photography design, web design, marketing materials (print or digital such as HTML newsletters or banners).

Required Skills:
• A good Diploma in Graphic Design
• Excellent working knowledge in Adobe Creative Suite (InDesign/Illustrator/Photoshop)
• Practical Experience in developing websites and/or key web technologies (HTML, JavaScript, CSS)
• Excellent creative and visual skills
• Ability to work under pressure on several projects at any one time and meet deadlines
• Fine attention to detail
• A desire to innovate
• Ability to take constructive criticism and feedback with a positive frame of mind
• Friendly and pleasant to work with
• Excellent written and verbal communication skills


Desired Skills:
• Experienced with Flash based animation and illustration skills
• Knowledge of current web design trends and techniques
• Commercial print management experience or knowledge of offset printing techniques.
• Experience with a 3D package (Cinema 4D, Bryce, etc.)
• Working knowledge in Adobe Premiere


If you think that these requirements would suit you well, please send your details (CV and Portfolio) across to marketing@rumahphoto.com or by post to Jalan Cihapit 7, Bandung.

Salah Saya? Salah Pakaian Saya?

….. Ia mengeluarkan pernyataan lain ‘Pakaian minim itu merangsang kaum Adam untuk melecehkan kita, kaum Hawa….

Dua hari yang lalu, seusai menjalankan ritual jogging pagi, saya menjebakkan diri dalam ‘diskusi’ sambil berdiri di depan sebuah supermarket. Iya, saya bilang ‘menjebakkan diri’, karena kalau dipikir-pikir, waktu itu sebenarnya saya bisa menghindar, tapi tokh alih-alih berlalu, saya malah meladeni sang pencetus diskusi.

Waktu itu saya perlu membeli pembalut. Baiklah, ini informasi nggak penting; tapi ini alasan kenapa seusai jogging, masih keringetan dan masih bercelana pendek saya tidak langsung pulang.

Di supermarket, ada seorang perempuan berpakaian serba tertutup. Di tangannya terdapat setumpukan kertas. Ia memerhatikan saya, dari atas lalu ke bawah. Karena merasa diperhatikan, akhirnya saya pun ‘menangkap’ tatapan matanya.

Nggak diduga, perempuan tersebut menghampiri saya. Ia menyerahkan selembar dari setumpukan kertas yang ada di tangannya. Ternyata itu selebaran. Ketika saya baca isinya, pada intinya adalah permohonan dukungan terhadap gerakan anti pakaian minim.

Saya kembalikan kertas tersebut sambil berkata ‘Nggak, Mbak. Terima kasih.’

Dan dari situlah ‘diskusi’ kami berawal.

Ia mempertanyakan alasan saya menolak mendukung gerakan tersebut.

Yaaa, terus terang saya tidak pernah merasa menjadi orang yang anti pakaian minim. Ya, masa saya mendukung gerakan ‘anti’ terhadap sesuatu yang saya tidak ‘anti’ ?

Ketika saya kemukakan alasan tersebut, ia kemudian mengeluarkan satu pernyataan, yang menggelitik naluri keminter saya. :D

Menurutnya, gerakan anti pakaian minim ini bertujuan untuk melindungi perempuan dari pelecehan seksual.

Er, kata saya, itu statemen yang Jaka sembung makan lodeh, gak nyambung deh.

Continue reading

52 Wednesdays. Patah Hati Yang Berujung Pameran.

Suatu hari, di bulan November tahun lalu, Lioni Beatrik ( @deliriumerotica) mengajak saya ketemuan. “Pengin ngobrol” – katanya. Maka berjanjianlah kami di satu Selasa sore yang cerah di Warung Ngebul.

Ternyata dia akan mengadakan pameran foto. 52 Foto Rex.

Oh, buat yang tidak tahu Rex, itu adalah salah satu karakter dari film animasi Toy Story, favoritnya Lioni.

sumber gambar : mommyniri.com

sumber gambar : mommyniri.com

Awalnya saya belum mengerti. Kenapa Rex?

Akhirnya keluarlah cerita tentang Alex. Seorang pria yang berhasil membuat Lioni jatuh cinta dan patah hati pada saat yang bersamaan.

Perasaan kangen yang muncul setelah patah hati memang ngehe banget. Hayo, ngaku deh. Bikin rungsing. Tapi Lioni punya caranya sendiri. Ia memotret boneka Rex ini dengan selembar post-it bertuliskan ‘I miss you’. Foto itu ia kirimkan melalui e-mail di satu hari Rabu, setahun yang lalu.

Ternyata, perasaan kangen tidak berhenti sampai di hari Rabu tersebut. Sejak saat itu, di setiap hari Rabu, untuk mengobati kekangenannya dengan sosok Alex ini, Lioni memotret dan mengirimkan serial foto boneka Rex dalam berbagai pose bercerita. Maksudnya hanya sekedar menyapa.

Ada 52 hari Rabu, dengan 52 foto Rex yang akan dipamerkan dalam  52Wednesdays, a photo exhibition by Lioni Beatrik.

Saya ternganga : 52 minggu? Ini anak gilaaaaa… :D

Satu sisi saya bilang gila, tapi satu sisi saya mengagumi ide dan cara Lioni. Oh, mungkin bagi yang mendengar cerita ini bakal berpikir bahwa apa yang dilakukan Lioni adalah bentuk teror. Tapi, dari sana pembicaraan berlanjut; bahwa mengirimkan foto setiap hari Rabu ini menjadi semacam terapi-nya untuk mengobati kekangenan dan menyembuhkan patah hati.

Selaras dengan apa yang dituliskan oleh Irma Chantily, kurator pameran ini, bahwa memikirkan foto seperti apa yang dikirimkan tiap pekan bisa membuat ia (Lioni) bisa membuat ia sebentar saja memikirkan hal lain, selain perasaannya yang tak berbalas itu, Lioni memang masih memikirkan sang pemuda, hanya saja bukan dengan cara yang bisa semakin melukai perasaannya, Tiap hari ada saja beberapa jam yang ia habiskan untuk merancang kelanjutan ‘cerita’ Rex.

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengobati patah hati dan perasaan-perasaan marah, kangen, kesal dan lain-lain yang menyertainya. Ada yang menenggelamkan diri dalam kesedihan, ada yang mendadak produktif menulis (ini saya sih), ada yang mendadak senang bersosialisasi di mana saja, ada yang mengikuti macam-macam kegiatan. Ada yang iris-iris nadi. #eh

Pameran ini adalah cara Lioni. Buat yang lagi patah hati sekarang, ini ada alternatif lain dari mengobati patah hati, bisa dicontoh, mungkin, daripada nangis-nangis menghabiskan tissue berkotak-kotak. :D

Caramu bagaimana?

Oh, semalam saya dan partner mampir melihat pamerannya. Setelah selama sebelum pameran saya hanya mendengar ‘cerita verbal’ dari visual foto-fotonya (Ada si Rex lagi kelindes mobil, ada si Rex di pantai, ada si Rex di Dekat Patung Pancoran dan seterusnya), akhirnya saya melihat dengan mata kepala sendiri, wujud dari foto-fotonya.

Bagus ya boook! :)

Semalam saya bilang pada Lioni, beberapa foto itu harus dibikin postcard. Soalnya keren.

Buat yang pengin lihat 52Wednesdays, a Photo Exhibition by Lioni Beatrik, bisa langsung datang ke CommonRoom, Jl. Kyai Gede Utama no. 8 Bandung. Masih sampai tanggal 21 Januari 2012 ini.

Oh, selain berpameran, Lioni juga mengajak semua orang untuk curhat galau berjamaah berbagi cerita tentang kehilangan dan patah hati, di sini : http://52wednesday.blogspot.com/, siapa saja boleh ikutan, kirim saja ceritamu ke : lionibeatrix@gmail.com

Ih saya agak bego deh, lupa bawa kamera, jadi saya terpaksa memotret dengan kamera hp. Hasilnya gelap-gelap nggak jelas gitu deeh. :(

Lioni dan 52 Foto Rex-nya :)

Lioni dan 52 Foto Rex-nya :)

(Melewatkan) Perayaan Persahabatan

Yang mana yang terbaik. Kalau mbak Okke ngerasa nggak damai pergi, ya jangan.

Itu bunyi SMS yang saya terima di suatu siang beberapa hari yang lalu. Saya menghela napas, berkali-kali.

Belum sempat saya membalas, muncul lagi SMS lain, dari orang lain.

Jangan pergi. Kalau hati lo udah ngerasa nggak enak, bisa jadi itu pertanda. Jangan sampai lo nyesel atau kenapa-kenapa.

Ke-dua pesan tersebut datang dari dua sahabat saya. Rencananya kami berjanji bertemu di hari Selasa kemarin, bersama satu orang lagi yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Pertemuan berempat seperti ini adalah peristiwa langka. Bisa setahun sekali saja syukur.Kali ini saja susah sekali menentukan jadwal — salah satu dari kami harus kembali ke Indonesia Timur, sehari setelah pertemuan ini.

Dan saya sangat menantikannya. Kami sangat menantikannya.

Namun, sehari sebelum perjumpaan kami, ibu saya jatuh sakit. Beliau tahu saya akan pergi, untuk bertemu mereka; di tengah sakitnya beliau bilang : ‘Pergilah! Kapan lagi?’. Iya, kapan lagi? Setahun lagi, dua tahun lagi, tiga tahun lagi? Mungkin. Tapi ada rasa mengganjal di hati, yang memberatkan kaki saya untuk melangkah.

Saya percaya pada proses dalam segala hal, termasuk soal persahabatan. Seseorang mungkin bisa langsung merasa ‘klik’ dengan orang lain dalam waktu singkat, tapi yang saya tahu, akan selalu ada friksi, ujian persahabatan adalah, apakah setelah melewati segala bentuk gesekan, kecil dan besar, kita masih terus bertahan?

Berawal dari krisis identitas di masa muda (ha!) dan terus menerus mempertanyakan ‘Tujuan hidup apa sih? Masa iya cuma lahir-sekolah-lulus-kuliah-kerja-kawin dan beranak?’, kami sama-sama berakhir di satu organisasi nirlaba yang bergerak di bidang perdamaian, dan bekerja di daerah-daerah pasca konflik dan bencana. Satu keputusan besar yang tidak mudah dan tentunya mendapat banyak tentangan dari orang sekitar.

Tapi passion yang sama tidak berarti membuat persahabatan kami berjalan dengan mulus-mulus saja, banyak banget friksi yang terjadi. Apalagi kami berada di situasi yang tidak nyaman, sehingga sangat memungkinkan terjadi saat-saat masing-masing dari kami ‘keluar asli’nya, dan melukai yang lain.

Teori saya sih, salah satu parameter cocok atau tidaknya seseorang dengan orang yang lain — selain periode berinteraksi yang intensif dan lama — juga lokasi yang tidak menyamankan. Kalau bisa bertahan, ke depannya pasti akan baik-baik saja menghadapi apapun.

Pada akhirnya kami bertahan. Menghadapi konflik intern alias satu sama lain. Menghadapi konflik beneran konflik gara-gara daerah yang tak aman. Menikmati hari-hari terpapar sengat matahari. Pantai. Hidup semi nomaden. Mengajar. Berbagi dengan sahabat-sahabat Timur yang luar biasa. Betah. Tidak mau berakhir.

Tapi kami sadar, kami tidak mungkin selamanya seperti ini; satu saat kami harus berhenti. Entah karena umur, atau hal-hal lain. Dan di satu malam gila di loteng rumah sewaan kami, sempat tercetus, kami harus menyempatkan seperti ini, setidaknya setahun sekali, pergi ke daerah berpantai.

Dan memang, kegilaan masa muda di jalan tersebut harus berakhir dengan alasan yang bermacam-macam. Namun persahabatan kami tidak berakhir, tentunya. Walaupun bertemu setahun sekali di daerah berpantai itu semacam ambisius juga kali yaaaa :))

…..

Saya memutuskan untuk tidak menemui mereka. Saya cinta mereka, saya mencintai ibu saya. Tapi, hidup itu selalu soal memilih, kan?

Saya berharap, akan ada perayaan lain, di lain waktu. Di mana kami bisa pergi ke tempat berpantai, sejenak ‘mengulang’ kegilaan masa muda — dengan cara yang lebih bijaksana.

Hey, kalian! Kangen kalian!

Hari Ini, Satu, Dua, Tiga, Empat Tahun Yang Lalu.

Hari ini setahun yang lalu.

Hari ini, dua tahun yang lalu.

Hari ini, tiga tahun yang lalu.

Hari ini, empat tahun yang lalu.

Kamu tetap hadiah natal buat saya :)

Terima kasih, karena sudah bertahan selama empat tahun.

(err, ‘bertahan’? Kok kesannya menderita banget ya, bareng saya? :D)

youme1

Kamu dan Saya. Di Satu Lampu Merah. Wih, betis saya besar! Salah sudut pengambilan gambar ituuu :D *gapenting*

Eh, Selamat natal buat yang merayakannya.

Selamat liburan, semua! ;-)

Hadiah Yang Menyentuh Hati

Oh, memberi sesuatu ‘dari hati’ itu terjadi hanya ketika kita sayang pada orang yang akan diberi hadiah.Ya iya,dong, kalau tidak sayang, ya ngapain repot-repot.

Nggak tau ya yang lain, tapi kalau saya sih nggak suka hadiah yang terlalu mahal dari toko. Kenapa? Karena saya sering merasa ‘dibeli’ ketika menerimanya; kadang-kadang kalau ada yang memberi saya hadiah terlalu mahal, saya sering berpikir ‘Ni orang ada maksud apa sih?’. Ya, sebut saja saya berpikiran negatif.

Tapi saya suka kok menerima hadiah. Siapa sih yang enggak?

Hadiah-hadiah yang ‘menyentuh’ hati saya adalah hadiah yang diserahkan dengan hati; jadi sang pemberi mencurahkan seluruh usaha dan perhatiannya untuk memberi hadiah tersebut.

Hadiah-hadiah handmade, sering bikin saya terharu, karena artinya, sang pemberi rela menyisihkan waktu untuk membuat hadiah tersebut.

Hadiah-hadiah barang yang saya butuhkan, juga menyentuh hati saya, apalagi kalau sebelumnya saya nggak pernah bilang kalau saya butuh barang tersebut. Artinya, sang pemberi rela meluangkan waktu untuk mencari tahu.

Hadiah-hadiah barang yang saya inginkan/butuhkan yang susah dicari. Iye, kadang-kadang saya suka nganeh-nganehi pengin barang yang susah dicari. Kalau sampai ada orang yang memberikan barang yang susah dicari tersebut, bisa-bisa saya mbrebes mili, soalnya membayangkan, betapa ribetnya sang pemberi memburu barang tersebut. Ya memang saya kadang-kadang cengeng sih :D

Dan, beneran, barang-barang yang diberi dengan hati itu ‘energi’-nya beda. Saya bisa merasakannya (atau mungkin ini saya yang drama). Ketika menerimanya, saya sering merasa merinding.

Kenapa saya menulis tentang hadiah? Karena kemarin, saya baru dapat hadiah dari Yanah yang dikirimkan ke kantor saya. Saya mengenal Yanah ketika ia mengirimkan pesan maya yang mengomentari salah satu novel saya. Sejak saat itu, beberapa kali kami bertukar sapa di kanal cakap maya.

Beberapa hari sebelumnya Yanah memang sempat sih mengirimkan pesan via Facebook, menanyakan alamat. Ketika saya membalas, ia bilang ‘Nanti kalau sudah jadi, saya kirim ya Mbak…’

Heh? Kalau sudah jadi?

Saya penasaran, berarti Yanah membuat sendiri hadiahnya dong? Dan, ketika bingkisan saya buka…..

Continue reading